Koran Tempo, Sabtu, 28 Agustus 2004
Bila Pesantren Menolak Propaganda Amerika
Aparat Korem 062/Taruma Nagara punya pekerjaan baru.
Sejak Rabu (18/8) lalu, mereka disibukkan oleh
para pengurus pondok pesantren di sekitar Kabupaten
Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat, yang datang
menyerahkan setumpuk buku kiriman dari Badan
Penerangan Amerika Serikat (USIS).
Buku-buku itu antara lain tentang pemerintahan Amerika
Serikat, Kesusastraan Amerika, Ekonomi
Amerika, Geografi Amerika, dan Sejarah Amerika. Buku
Sejarah Amerika yang tebalnya hampir 500
halaman, misalnya, menjelaskan sejarah Amerika awal,
periode kolonial, jalan menuju kemerdekaan
Amerika, Amerika pascaperang, hingga Amerika menuju
abad ke-21. Buku itu diterjemahkan oleh mantan
wartawan Yusi Avianto Pareanom.
Karena isinya sama sekali tak ada sangkut-pautnya
dengan nilai-nilai agama Islam yang dikembangkan
di pesantren, menurut Komandan Korem Taruma Nagara
Kolonel Osaka Meliala, mereka curiga pemberian
buku itu sebagai upaya propaganda Amerika. "Kami
tinggal di kampung, tapi kok dikirimi buku-buku
seperti itu. Apa relevansinya?" kata Osaka, mengutip
pernyataan para pengurus pesantren.
Buku yang dikirim melalui pos itu, menurut Osaka,
jumlahnya mencapai ribuan eksemplar. Meski
beberapa pesantren telah menolak, dia tak berniat
meminta kantor pos menghentikan pengiriman
buku-buku ke pesantren tujuan. Pihak Korem juga telah
memutuskan untuk tidak melarang atau menarik
buku itu secara aktif dari pesantren-pesantren. "Biar
saja, mereka yang keberatan yang mengirimkan
ke kami," katanya.
Dia menjamin, institusi di bawah komandonya (Kodim dan
Koramil) akan menerima pengembalian buku-buku
itu. "Pada waktunya nanti kami lanjutkan ke Kodam
Siliwangi. Biar Kodam yang mengirimkan ke Mabes
Angkatan Darat," ujar Osaka.
Langkah para pengurus pesantren itu disokong Forum
Ulama Umat Indonesia (FUUI). Menurut Koordinator
FUUI KH Athian Ali, prasangka buruk harus diterapkan
setiap kali berhadapan dengan Amerika, sebab
setiap kali Amerika melakukan gerakan atau manuver,
selalu saja ada udang di balik batu. "Kembalikan
saja. Toh tidak diwajibkan dalam kurikulum pesantren.
Isinya hanya membaik-baikkan Amerika," kata
Athian.
Meski memiliki kecurigaan yang sama, Encep Romly,
Sekretaris Pondok Pesantren Miftahul Huda,
Manonjaya, Tasikmalaya, mengaku tak mau ribu-ribut.
Agar para santrinya tidak menyentuh buku-buku
itu, dia memutuskan menyimpan saja buku-buku itu di
gudang. "Pesantren Miftahul Huda di daerah lain
sih sudah mengembalikan, tapi kami memutuskan untuk
menyimpannya saja," kata Encep.
Tampaknya buku-buku itu hanya beredar di basis
pesantren pedesaan di Jawa Barat. Buktinya, Pondok
Pesantren Al-Basyariah di Bandung, yang memiliki
ribuan santri, misalnya, tak menerima kiriman
serupa. Padahal, pesantren pimpinan KH Saeful Azhar
itu tergolong yang berada di perkotaan, justru
tidak mendapat kiriman serupa. "Kalaupun dibagikan di
Bandung, pasti kami memperolehnya," kata
Saeful.
Selain di Jawa Barat, pihak USIS rupanya juga
menyebarkan berbagai bahan bacaan ke 50 pesantren di
Jawa Timur. Mereka yang menerima antara lain Pondok
Pesantren Ikhyaus Sunnah, Kedung Sroko, dan
Al-Hakiki di Surabaya, Rajadu al-Jannah di Pacet,
Mojokerto, Lirboyo di Kediri, dan Pesantren
At-Tarroqi milik kiai kharismatis Alawi Muhammad di
Sampang, Madura.
Bahan bacaan yang dikirimkan ke pesantren di bawah
naungan Rabithah Ma'had Islamiyah (RMI), lembaga
koordinasi pondok pesantren Nahdlatul Ulama, berupa
majalah yang mengupas isu seputar terorisme.
Majalah itu, menurut Sekretaris RMI KH Ghozali Said,
berisi ungkapan dan pendapat para ulama di
Timur Tengah dan kalangan Islam di Barat tentang
teroris. Soal prinsip aksi teroris itu bertentangan
dengan Islam, Ghozali sependapat. Hanya saja, dalam
majalah itu terjadi pemelintiran seakan-akan
semua gerakan Islam adalah teroris. "Perjuangan jihad
rakyat Palestina misalnya, juga dianggap
teroris," katanya.
Dalam salah satu majalah yang terbit setelah serangan
ke gedung World Trade Center, 11 Oktober 2001,
misalnya, di dalamnya tertulis pandangan dan pendapat
Syeikh Yusuf Qardawi, cendekiawan muslim dari
Qatar, dan Syeikh Mohammed Sayyed al-Tantawi dari
Masjid dan Universitas Al-Azhar, Mesir, yang
mengecam serangan itu.
Pernyataan senada disampaikan Dewan Hubungan Islam
Amerika Cabang Kanada dan Asosiasi Kebebasan
Warga Muslim Kanada. Juga, ada petikan pendapat dari
politikus Partai Kebangkitan Bangsa KH Yusuf
Muhammad. "Membunuh yang tak bersalah untuk mencapai
tujuan tidak pernah ada di inti agama,"
katanya. Pada halaman lain, dari 25 halaman majalah
itu, ada potret seorang muslimah Amerika
berkerudung hitam tampak khusyuk berdoa di tempat
Masyarakat Islam di Nevada.
Dengan materi seperti itu, Ghazali tak ragu menilai
pembagian majalah itu sebagai propaganda Amerika
untuk mengubah wacana umat Islam di Indonesia tentang
teroris dan Amerika. Namun, dia percaya hal
itu tak akan menarik minat kalangan pesantren sehingga
berhasil mencapai sasaran. "Paling dibuat
bundel kacang, karena isinya mempengaruhi pesantren
dan pembentukan opini," kata Ghozali.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Abdul
Wahid Asa, yang menerima kiriman majalah serupa,
sependapat dengan pengasuh pesantren An-Nur, Surabaya,
itu. Dia menilai apa yang ditulis dalam
majalah mirip newsletter itu hanya permukaan,
sedangkan kondisi sebenarnya tak pernah diungkap.
Dengan demikian, dia menangkap kesan dari empat atau
lima edisi majalah yang dicetak dalam bahasa
Inggris dan Indonesia: Amerika tak memusuhi Islam.
Sayangnya, tokoh-tokoh yang berkomentar dalam
majalah itu hanya warga Amerika yang berasal dari
Asia, Timur Tengah, Mesir, dan Afrika. Tak satu
pun warga kulit putih yang tampil berkomentar.
Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat sudah tahu kabar
soal pengembalian buku-buku oleh kalangan
pesantren di Jawa Barat. Namun, Atase Pers M. Max Kwak
tak terlalu merisaukannya. Sebab, selain ada
yang menolak, ada juga pesantren yang justru
menyampaikan terima kasih atas kiriman buku yang
diterimanya. "Jika mereka tidak suka, ya tidak usah
dibaca," katanya.
Aksi bagi-bagi buku ke sekolah maupun pesantren, kata
dia, bukan baru kali ini saja dilakukan
pemerintahnya, namun sudah berjalan puluhan tahun.
Jumlah buku atau barang cetakan lain yang
dibagikan per tahun mencapai ribuan eksemplar. "Saya
pikir, kedutaan Anda (Indonesia) di Washington
juga melakukan hal yang sama," kata Kwak.
sudrajat/bobby gunawan/adi mawardi/nurkhoiri
__________________________________
Do you Yahoo!?
Y! Messenger - Communicate in real time. Download now.
http://messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/