inilah masalahnya apakah demokrasi dapat mewujudkan kebebasan dalam segala

hal ?

dinegara-negara yang pemahaman demokrasi semakin maju ternyata dapat

menempatkan

perkembangan agama tertentu semakin maju ?



salam

Yustam















dalam negara demokrasi tidak beragamapun merupakan sesuatu yang legal

karena

agama hanya berlaku untuk pribadi tidak dalam ruang publik





----- Original Message -----

From: "Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]>

To: <[EMAIL PROTECTED]>

Sent: Friday, August 27, 2004 8:13 PM

Subject: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama





>

>

>

>

> Sebuah tulisan dari Sukidi Mulyadi Kader Muhammadiyah; Alumnus Ohio

University; dan Mahasiswa Teologi di Harvard Divinity School, Harvard

University, Cambridge, Amerika

>

> Survei Kebebasan Beragama

>

> TEMA penting yang luput dari perhatian kita, terutama pasangan capres dan

cawapres, adalah bagaimana menyajikan model cetak biru tentang format

kebebasan beragama dan usaha merajut kerukunan beragama di tengah kenyataan

pluralisme agama dewasa ini.

>

> Pada awal 1990-an kita sempat menerima pujian dari sarjana dan pemimpin

agama tentang terbentuknya model jalan tengah kerukunan beragama di

Indonesia. Namun, tidak lebih dari satu dekade kemudian, model itu ternyata

berwatak semu dan rapuh seketika. Konflik memuncak di Ambon di mana

variabel

agama bertemu dengan struktur sosial-ekonomi dan politik yang timpang.

>

> Relatif minimnya perhatian pemimpin agama dan politik terhadap penembakan

Pendeta Susianti Tinulele di Palu pada saat menyampaikan misi profetik

keagamaan di Gereja Efatha, justru semakin menegaskan bahwa kita bukan saja

miskin cetak biru kebebasan beragama, tapi juga sudah kehilangan rasa

kepekaan kemanusiaan kita terhadap pelanggaran hak asasi manusia, terutama

hak asasi dalam ekspresi keberagamaan.

>

> Padahal, jika sepenuhnya kita sadari, masa depan kita sebagai bangsa yang

plural, lebih-lebih dari segi agama, antara lain akan sangat ditentukan

oleh

sejauh mana kita bersikap bijak dan tepat dalam mengelola kebebasan dan

kerukunan beragama secara demokratis. Hanya saja, selama ini kita belum

mendapatkan gambaran besar yang utuh tentang sejauh manakah peringkat

kebebasan beragama di Indonesia dibandingkan, misalnya, dengan dunia Islam

dan negara-negara Eropa dan Amerika. Sejauh manakah, misalnya juga,

korelasi

antara penganut agama di suatu negara dengan peringkat kebebasan beragama.

>

> SEJAUH kita belum memiliki indeks peringkat kebebasan beragama yang

kredibel, maka, suka tak suka, kita hanya bisa merujuk pada data Freedom

House yang dikenal memiliki reputasi internasional dalam menyurvei

peringkat

demokrasi negara-negara di dunia. Freedom House memiliki divisi Center for

Religious Freedom yang bertugas, salah satunya, menyurvei peringkat

kebebasan beragama negara-negara di dunia. Iran, Arab Saudi, dan Sudan,

misalnya, menempati peringkat "tidak bebas" (unfree) dalam hal kebebasan

beragama. Indonesia, berdampingan dengan Turki dan Mesir, sedikit lebih

baik

dengan menduduki posisi "bebas sebagian" (partly free). Dua negara

Skandinavia, Norwegia, dan Finlandia, bersama Amerika dan negara-negara

Eropa seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan seterusnya, menempati peringkat

"bebas" (free) dalam hal kebebasan beragama.

>

> Data Freedom House melalui Center for Religious Freedom menunjukkan,

dunia

Islam secara umum masih relatif rendah peringkat kebebasan beragama; jauh

tertinggal dengan negara Amerika, Eropa, dan Skandinavia yang "bebas" dalam

indeks kebebasan beragama. Negara-negara ini umumnya didominasi oleh

Protestan dan Katolik. Secara akademis, bisa diajukan pertanyaan; apakah

nilai-nilai dan kultur Protestan dan Katolik memiliki pengaruh signifikan

terhadap kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi ketimbang kultur Islam?

>

> Jika kultur toleransi dan kebebasan diletakkan dalam kerangka turunan

dari

nilai-nilai demokrasi, maka nilai-nilai Protestan dan Katolik memang

memiliki kontribusi signifikan terhadap indeks kebebasan beragama. Studi

klasik Alexis de Tocqueville (1969) tentang demokrasi di Amerika abad ke-19

secara jelas menunjukkan bahwa Kristen, baik dari segi nilai-nilai dan

asosiasi-asosiasi sosial-keagamaannya memiliki peran signifikan dalam

pengembangan kultur toleransi dan demokrasi di Amerika. Ketika warga negara

menjadi individu yang otonom dan aktif, maka gereja berperan sebagai

asosiasi-asosiasi sipil yang menjadi wadah kolektif keterlibatan sipil

(civic engagement) dalam isu-isu publik. Gereja perlahan-lahan

mensinergikan

ritus-ritus keagamaan dengan isu-isu publik secara terpadu.

>

> Pengalaman saya dalam panel diskusi di the King Church di Ohio, 13 Mei

2003, bersama sejumlah aktivis gereja dan sosial sekaligus, malah sudah

bergerak jauh mentransendensikan iman untuk aksi toleransi, pluralisme, dan

kemanusiaan. Meski George W Bush begitu beringas menyerbu Irak, tapi pada

kutub lain aktivis gereja melakukan aksi kemanusiaan dan perdamaian secara

masif. Agama berubah menjadi identitas sosial, dan gereja, dengan demikian,

menjadi wadah asosiasi sosial yang berdampak positif terhadap pengembangan

kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi.

>

> Ketika Harvey Cox menulis The Secular City tahun 1965, dia memang mulai

merekam bahwa kota sekuler menjadi medium perayaan makna kebebasan sipil.

Institusi-institusi pendidikan perlahan-lahan terbebas dari intervensi

lembaga keagamaan; peradaban kota mulai bangkit bersamaan dengan kematian

agama-agama tradisional; dan nilai-nilai manusia mengalami relativisme

akibat sekularisasi yang berjalan masif. Namun, dua dekade kemudian,

tepatnya 1985, Harvey Cox buru-buru merevisi tesisnya dengan menulis

"risalah revisionis" sejarah kebangkitan agama justru di dunia sekuler,

Religion in the Secular City, (1985).

>

> Kematian agama di era sekuler memang terlampau prematur diumumkan. Agama,

institusi, dan elitenya justru menjadi kampiun konsolidasi demokratisasi di

berbagai belahan dunia; Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Dalam

studinya yang sangat berpengaruh, The Third Wave: Democratization in the

Late Twentieth Century (1991), Samuel P Huntington mendokumentasikan bahwa

di antara 30 negara yang bertransisi menuju demokrasi antara tahun 1974 dan

1990, sekitar tiga perempat justru didominasi Katolik. Dan Katolik kemudian

mencatat tinta emas dalam menempati peringkat "bebas" dalam indeks

kebebasan

beragama. Ini memang pola umum dalam membaca Katolik dalam kaitannya dengan

indeks kebebasan beragama dan demokratisasi.

>

> Tentu saja, ada studi-studi kecil yang tak terekam dan atau sengaja

dikesampingkan. Misalnya, riset ilmuwan politik Putnam di Italia

berkesimpulan bahwa Katolik mempunyai pengaruh negatif terhadap penampilan

demokrasi.

>

>

>

> MEMANG, Freedom House, dalam hal ini Center for Religious Freedom,

mengakui adanya sejumlah kritik dalam surveinya, terutama menyangkut soal

metodologi, standar dan isi pertanyaan, dan bias imperialistik terhadap

dunia Islam. Survei ini dituduh sebagai modus terbaru cara bekerjanya

pengetahuan dan kekuasaan Barat dalam pencitraan dunia Islam. Rendahnya

indeks kebebasan beragama di dunia Islam, dengan menggunakan logika ini,

dipakai Barat sebagai "instrumen ilmiah" untuk melakukan stereotyping

terhadap dunia Islam sebagai tidak toleran dari segi kebebasan beragama dan

relatif absen dalam sumbangsih terhadap demokratisasi.

>

> Tesis Edward Said tentang orientalisme sejak 1978 seolah masih berlaku

dan

malah benar adanya bahwa orientalis adalah agen dan instrumen imperialisme,

dan ketertarikannya terhadap pengetahuan, terutama dunia Timur dan Islam,

dipakai sebagai sumber kekuasaan untuk memberikan stereotip negatif dan

kemudian menjajahnya, entah dalam bentuk kolonialisme, imperialisme, maupun

globalisasi. Karena itu, apa yang disebut Said (2003: 316) sebagai "skandal

kesarjanaan" sebenarnya merujuk pada perselingkuhan intelektual, terutama

di

Perancis, Inggris, dan Amerika, yang mengabdikan pengetahuannya kepada

penguasa untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme di Timur Tengah

sejak

akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.

>

> Namun, jika kita mau lebih adil, kritik itu muncul juga tak terlepas dari

tingkat rendahnya peringkat kebebasan beragama di dunia Islam. Terlepas

dari

adanya bias imperialistik terhadap dunia Islam, tapi akal sehat kita akan

berkata yes bahwa Norwegia mempunyai kebebasan beragama yang jauh lebih

baik

 dibandingkan dengan, misalnya, Sudan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia

sekalipun. Karena itu, kita sebaiknya memosisikan survei itu sebagai bahan

introspeksi ke dalam bahwa ada sesuatu yang sangat mendasar, terkait dengan

toleransi dan kebebasan beragama yang harus segera kita benahi

bersama-sama.

>

>

>

















~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Disclaimer :

This email and any file transmitted with it are confidential and are

intended solely for the use of the individual or entity whom they are

addressed, if you are not the original recipient, please delete it

from your system. Any views or opinions expressed in this email are

those of the author only.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke