----- Original Message ----- From: K. Prawira Sent: Tuesday, August 31, 2004 2:05 PM Subject: [cari] TANGGAPAN ATAS TANGGAPAN:"PASPOR" HANYA SEBAGAI KERTAS
TANGGAPAN ATAS TANGGAPAN:"PASPOR" HANYA SEBAGAI KERTAS (Re: Budhisatwati KUSNI: CATATAN SEORANG KLAYABAN: TENTANG PERTEMUAN LINTAS GENERASI DI MAASTRICHT 2004 [6- SELESAI]) Saya pertama-tama ingin mengucapkan kegembiraan saya, bahwa tulisan pendek saya berkaitan dengan pertemuan yang diadakan oleh PPI Maastricht y.l., mendapat sorotan/tanggapan dari Bung B. Kusni, yang penanya selalu tajam mengena. Kali ini sasaran penanya mengena pada tulisan saya. Meski demikian tidaklah membuat saya kesakitan, bahkan sebaliknya menimbulkan gairah dan harapan mendapatkan pelurusan atas hal-hal yang mungkin bengkok dalam tulisan pendek saya berkaitan tanggapan atas tulisan saya tersebut. Perlu mendapatkan kejelasan, bahwa tujuan pokok dari tulisan saya sesungguhnya hanya untuk mengingatkan bahwa hubungan KBRI di Den Haag dengan "orang-orang yang terhalang pulang" sudah dirintis dengan sukses oleh Dubes A.Irsan. Sehingga dubes-dubes penggantinya tidak usah payah-payah "membabat hutan" untuk merintis jalan. Jalan sudah ada, tinggal menyempurnakan bagian-bagian mana yang perlu disempurnakan. Sedang mengenai masalah bahasa, paspor sebagai "kertas", separatisme dll , meskipun juga sangat penting, tidaklah dominan dalam tulisan pendek saya. Kembali kepada tanggapan Bung Kusni terhadap pernyataan Dubes Irsan bahwa "paspor hanya sebagai kertas belaka", yang saya gelindingkan dalam tulisan pendek saya. Bahwasanya paspor <<"hanya kertas belaka", tetapi ketika ia dicabut dari sejumlah warga RI menyusul Tragedi Nasional September 1965, ribuan orang jadi klayaban dan terhalang pulang sampai sekarang>>, saya sependapat sepenuhnya dengan Bung Kusni. Saya kira Bp. Dubes A.Irsan demikian juga. Hal itu adalah bagian dari kebenaran umum yang berlaku di mana saja. Jelasnya, bahwa paspor adalah kertas/dokumen yang perlu dimiliki seseorang dan mempunyai arti penting bagi pemiliknya (terutama di LN). Tanpa memiliki kertas tersebut(karena dicabut atau kehilangan) mereka akan mendapat bermacam-macam masalah (baik di tanah air, maupun di LN) dan akan berurusan dengan polisi. Demikianlah akibat-akibat yang menimpa warganegara Indonesia di LN yang dicabut paspornya atau dinyatakan paspornya tidak berlaku lagi oleh rejim Suharto. Tapi yang dimaksud paspor sebagai "kertas belaka" dalam pernyataan Dubes A.Irsan ialah paspor negara asing (Belanda, Jerman dll) yang terpaksa dimiliki oleh kawan dialognya (dalam hal ini penulis sendiri), setelah dicabut "kertas"nya yang tertera kata Republik Indonesia dengan gambar Garuda Pancasila. Paspor semacam tersebut di atas itulah yang menjadi obyek pernyataan Dubes A.Irsan. Paspor macam itulah yang dianggap kertas belaka dari titik pandang jiwa patriotisme sipemegang paspor. Sejatinya pemilikan mereka paspor negara asing tidak dengan sertamerta menghilangkan jiwa keindonesiaannya, apalagi menggiring kepada pengkhianatan kepada RI. Dan kenyataannya memang orang-orang yang kelayaban, yang karena situasi terpaksa memiliki paspor asing, tetap tidak berobah kecintaannya dan kepeduliannya terhadap bangsa dan negara Indonesia yang mengalami keterpurukan dari akibat kekuasaan rejim Suharto. Jiwa mereka tak kunjung padam dalam membela RI, ikut menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam usaha-usaha memajukan demokrasi, menegakkan hukum, keadilan dan HAM di Indonesia. Saya kira, hal-hal itulah yang melatar belakangi pernyataan A.Irsan. Dan saya tetap berpendapat gombal kepada para pemegang kertas/paspor RI yang justru tindakannya jauh dari nilai-nilai patriotisme Indonesia. Saya memberikan salut setinggi-tingginya dan bangga kepada kawan-kawan yang walaupun telah kehilangan paspor-RInya, kehilangan kewarganegaraannya dan terpaksa menjadi orang kelayaban di LN, kehilangan masa emasnya untuk ikut membangun tanah airnya dan membangun karier pribadi, yang kini rata-rata mereka ini sudah menjadi manula, tetapi jiwa patriotismenya masih tetap kental dan tidak luntur, bahkan tidak kalah dengan mereka yang pegang paspor RI. Mengenai kaitannya dengan masalah separatisme, politik kewarganegaraan dan lain-lainnya, seyogyanya secara khusus Bung Kusni memaparkan pikirannya dalam milis Nasional-list dan milis-milis lainnya, sehingga bisa menjadi mata diskusi yang terarah. Akhirnya harapan saya kepada PPI Maastricht, yang telah melakukan kegiatan sangat positif, semoga terus maju dan sukses. Di samping itu, sekali lagi, perlu diketahui bahwa di Nederland terdapat beberapa organisasi, di mana banyak "orang-orang terhalang pulang" menjadi anggotanya, misalnya: Vereniging Persaudaraan (Perhimpunan Persaudaraan) yang sangat besar jumlah anggotanya, Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia, Lembaga Pembela Korban 1965 yang baru saja terbentuk, dll. Kalau PPI Maastricht sebelumnya mengadakan kontak dengan organisasi-organisasi tersebut (mis. paling tidak dengan Vereniging Persaudaraan), saya kira akan mendapatkan masukan-masukan berharga yang akan membuat Pertemuan Maastricht hasilnya lebih bagus lagi. Salam; M.D.Kartaprawira Nederland, 31.08.2004 --- HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ----- Original Message ----- > From: Budhisatwati KUSNI > To: koransastra ; sastra_tki ; PENGARANG > Sent: Friday, 27 August, 2004 22:40 > Subject: [koran-sastra] CATATAN SEORANG KLAYABAN: > TENTANG PERTEMUAN LINTAS GENERASI DI MAASTRICHT 2004 > [6- SELESAI] > > > Catatan Seorang Klayaban > > > > TENTANG PERTEMUAN LINTAS GENERASI DI MAASTRICHT 2004 > [6 SELESAI]. > > Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku masih ingin > menanggap ucapan mantan Dubes A. Irsan: > > "Paspor itu kan hanya kertas belaka, yang penting > jiwa setiap orang yang menamakan dirinya Indonesia". > > > Dan K Prawira: > > Saya kira pernyataan tersebut benar sekali!!!. > Sebab, meskipun seseorang memegang paspor Indonesia, > tetapi kalau mengkhianati NKRI, mendukung > separatisme, melakukan korupsi terhadap kekayaan > negara, menginjak-injak HAM, menjadi alat > kepentingan negara asing yang merugikan Indonesia, > maka mereka itu nilainya tak lebih dari pada > gombal". > > Pertama-tama, perlu aku katakan bahwa aku menyenangi > Dubes A.Irsan sebagai pribadi. Karena beliau adalah > seorang yang bisa mendengarkan orang lain sampai > selesai dan bisa diajak berdiskusi. Beliau juga > tajam dalam merumuskan serta mengetengahkan > permasalahan. > > > Yang paling berkesan bagiku sampai sekarang adalah > pertanyaan beliau ketika pada jam 23H00 malam datang > secara khusus dari Belanda untuk mengunjungi > Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia Paris. > Pada pertemuan itu beliau mengajukan pertanyaan: > "Apa sekarang yang bisa menjadi perekat bangsa > kita?". Pertanyaan yang kukira sangat hakiki dan > menjadi renunganku sampai sekarang. Terhadap > pertanyaan ini, secara kebetulan di milis > [EMAIL PROTECTED], pernah disiarkan sebuah > artikel yang mengatakan bahwa NU dengan ide-ide > kandungannya mungkin menjadi perekat bangsa. > Barangkali memang mungkin, tapi tentu saja bukan NU > dengan ide-ide yang sektaris, tapi tanggap dan > aspiratif dengan keadaaan negeri dan bangsa yang > majemuk sehingga Islam tidak lain darinama lain dari > Indonesia yang tanggap dan aspiratif. Bahwa dari NU > memang kulihat terdapat hal-hal yang unik -- seperti > yang kudapatkan pada Partai Sosialis Perancis -- > yaitu tumbuhnya kemajemukan. > > A. Irsan dalam mengajukan pandangan-pandangannya > sangat terbuka, demikian pula dalam pergaulan beliau > dengan semua warga Republik. Lebih menarik lagi > bagiku bahwa dalam mengajukan pendapat-pendapat, > beliau bisa mendengar sanggahan terhadap > pendapat-pendapatnya. Dalam mengajukan pendapat, > beliau lebih terkesan sebagai seorang pemikir > daripada seorang Dubes.Pemikir adalah seorang > penanya dan penanya adalah seorang pencari. Seorang > pencari tidak segan mengkoreksi pendapatnya karena > yang paling penting bagi seorang pencari adalah > kebenaran dan obyektivitas. Dari apa yang beliau > ucapkan di atas, sikap pencari ini pun sangat > kentara. > > "Paspor itu kan hanya kertas belaka, yang penting > jiwa setiap orang yang menamakan dirinya Indonesia", > ujar A. Irsan > > Benar, bahwa paspor "hanya kertas belaka", tapi > justru karena "kertas" yang bernama paspor ini pula > ketika ia dicabut dari sejumlah warga RI menyusul > Tragedi Nasional September 1965, ribuan orang jadi > klayaban dan terhalang pulang sampai sekarang. Oleh > hilangnya "kertas" itu maka perjalanan hidup > sejumlah warga RI yang tidak kecil jumlahnya jadi > terpengaruh dan menempuh jalan lain di luar dugaan. > Artinya patut dipertanyakan benarkah cara pandang > melihat "paspor" hanya dari bentuk fisik padahal di > balik kertas yang bernama "paspor" itu tersimpul > banyak soal besar? Jika mengikuti pola pikir A. > Irsan bahwa "Paspor itu kan hanya kertas belaka, > yang penting jiwa setiap orang yang menamakan > dirinya Indonesia", artinya yang terhalang pulang > dan klayaban bisa pulang dan mendapatkan kembali > kewarganegaran RI yang hilang tanpa kesulitan. Tapi > kenyataan telah membantah A. Irsan. Oleh bantahan > keras dari kenyataan ini, A.Irsan dengan > pendekatannya telah lupa akan faktor imbangan > kekuatan politik di negeri yang mengambil bentuk > negara Republik. Beliau terbuai oleh pertanyaan > beliau sendiri tanpa memberikan jawab. > > Tapi dengan adanya diplomat-diplomat seperti > A.Irsan, A.Silalahi,Moh. Yusuf, L.Rustam, A. > Sitepu,Yuli Mumpuni dan lain-lain... barangkali > mereka bisa mengedor pintu kesadaran manuasiawi dan > republiken pemegang kekuasaan tertinggi di > Jakarta.Paling tidak mereka adalah modal manusia > bagi Republik. Karena apa yang diajukan oleh > A.Irsan,ditambah dengan praktek yang beliau lakukan > selama menjadi Dubes, sesungguhnya tidak lain dari > sekaligus merupakan kritik terhadap politik > kerwarganegaraan , khususnya terhadap mereka yang > terhalang pulang dan klayaban dewasa ini. > > > Jika pemegang kekuasaan politik negeri paska pemilu > benar-benar republiken dan Indonesia, ingin > terciptanya kerukunan nasional, semestinya mereka > mengembalikan hak kewarganegaraan anak negeri, > bangsa dan Republik yang telah direnggut oleh Orba > Soeharto tanpa embel-embel "sesuai prosedur" seperti > yang dilakukan oleh Megawati yang presiden RI dan > Ketua PDIP [Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan -- > kugarisbawahi kata-kata Demokrasi, Indonesia dan > Perjuangan!]. Jika mereka tidak melakukannya, maka > dari patokan nilai-nilai republiken dan > keindonesiaan, kukira, kebohongan pertama sudah > dilakukan. Kebohongan pertama tidak ayal akan > disusul oleh kebohongan kedua dan seterusnya > sehingga negeri, bangsa dan negara lagi-lagi > dipimpin oleh kebohongan. Untuk mendorong PDIP setia > pada prinsip dan namanya, kukira Konwil PDIP Eropa > bisa memberikan sumbangan dan tidak seperti yang > dilakukan oleh sementara orang dari mereka sekarang > yang hanya berangkat dari fanatisme, dan serta-merta > menolak kritik, seakan-akan PDIP adalah simbol > kebenaran. Tidak punya kemampuan mendengar orang > lain kecuali sibuk dengan suara fanatisme. Apa > bedanya orang yang tidak mampu mendengar orang lain > dengan gila kekuasaan dan otoritarianisme? PDIP > pernah jadi alternatif serta gantungan harapan. > Orang-orang sanggup mati untuk alternatif ini. Tapi > karena ulahnya sendiri sekarang PDIP tidak sedikit > kehilangan kepercayaan dan posisi alternatif ini. > > Melalui komentar terhadap pendapat Dubes A.Irsan di > atas, aku sekaligus telah menjawab sebagian dari > pendapat K.Prawira, tokoh simpatik, sopan selalu > yang bisa mendengar orang lain, bisa diajak diskusi > secara sehat. Karena belum tersentuh secara khusus > maka aku ingin menyinggung masalah "separatisme" > yang diangkat oleh K.Prawira dalam menanggap > pendapat A.Irsan. > > Terhadap masalah ini, aku ingin mengajak kita > melihatnya dari pendekatan sejarah.Untuk ini aku > ingin mengajukan pertanyaan: Mengapa sekarang > separatisme atau hasrat keluar dari RI meningkat, > padahal dahulu daerah-daerah yang ingin merdeka > dengan kegairahan tinggi mengibarkan dan membela > Sang Saka. Pesawat pertama RI didapatkan dari > sumbangan rakyat Aceh, daerah yang sekarang > berontak. Di hadapan situasi begini semestinya > pertanyaan yang diajukan: Mengapa mereka berontak > dan ingin merdeka, dan bukan serta-merta mengirimkan > tentara untuk melancarkan perang penindasan atas > nama Republik dan Indonesia. Pemberontakan dan ingin > merdeka membuktikan bahwa "there is something wrong > in the state of Danemark" jika menggunakan ungkapan > Shakespeare. Sebab pertama-tama persoalan kukira > tidak terletak di daerah tapi di Jakarta. Jika > berbicara tentang separatisme, maka pengusung ide > separatisme dan kemerdekaan adalah Jakarta sendiri. > Tapi karena tidak mampu melihat wajah bopeng diri di > kaca maka daerah-daerah yang disalahkan. Aku tidak > ragu mengatakan bahwa selama ini daerah-daerah > dijadikan daerah jajahan model baru oleh bangsa kita > sendiri.Separatisme dan ide keluar dari RI hanya > reaksi atas pilihan politik Jakarta. Apakah dengan > ini aku dituduh separatis juga? Tapi inikah NKRI > itu.Aku menolak NKRI model begini! Tapi aku juga > tetap masih membela Indonesia sebagai konsep besar > dan indah serta tanggap zaman. Aku ingin dalam > bicara soal separatisme, kita selayaknya > mempertimbangkan apa yang dilakukan selama ini, > mempertimbangkan apa bagaimana konsep NKRI dan > Indonesia, menghitung apa yang jadi buah pikiran > para pendiri Republik. Penindasan berdarah hanya > memperdalam dendam dan menambah rumit > persoalan.Emosi tidak selayaknya menggantikan nalar > dalam berpolitik. Konsep tentang politik pun perlu > kita koreksi.Siapa "gombal" dan tidak, tentu ada > ukurannya. Siapa yang setia pada ukuran yang > disepakati bersama sejak Republik didirikan bisa > kita telusuri karena kita masih dari satu angkatan > yang === message truncated === [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

