Pesan : jangan kita justru kian mundur. Salam

--- 
Barangkali ada yang belum sempat baca ini.
Sosok dan sikap hidup Haji Agus Salim, seorang tokoh yang patut 
selalu kita hormati dan kenang, sebagaimana juga atas Ki Hadjar 
Dewantara, I.J.Kasimo, Sjahrir, para proklamator dsb.

nk

------

KOMPAS - Sabtu, 21 Agustus 2004  
 
Demokrasi, Dinamika Islam, serta Islam dan Negara 

LIMA puluh tahun setelah Haji Agus Salim meninggal, November 1954, 
banyak
dari pemikirannya yang masih relevan dengan soal-soal yang sekarang 
membelit
bangsa Indonesia. Penerbitan ceramahnya tentang Islam di Universitas 
Cornell
(1953) pada tahun ini oleh perguruan tinggi papan atas Amerika 
Serikat dan
pernah jadi pusat kajian terbaik tentang Indonesia yang berada di 
Ithaca itu
menambah satu lagi atribut bagi Bapak Bangsa ini: perintis pemikiran
neomodernisme Islam di Indonesia. Yang lazim dianggap Sang Pemula 
dalam
neomodernisme Islam di sini adalah nama-nama yang lahir kemudian: 
Nurcholish
Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid.

EMIL Salim, ekonom dan pembicara dalam diskusi Kompas kali ini, 
meringkus
tiga hal dari pemikiran Agus Salim yang beresonansi dengan: kehidupan 
partai
di Indonesia yang sampai saat ini tidak beranjak dari keadaan di tahun
1950-an dan pemikiran neomodernisme Islam yang kini digagaskan tokoh 
muda
dalam gerakan Islam liberal di Indonesia, seperti Ulil Abshar-Abdalla,
Luthfi Assyaukanie, Hamid Basyaib, dan Ahmad Sahal. Ketiga hal itu
menyangkut demokrasi, dinamika Islam, serta Islam dan negara.

Komitmennya terhadap demokrasi diperlihatkan Emil dengan contoh 
gamblang:
Agus Salim menolak permintaan pemimpin kongres Partai Syarikat Islam
Indonesia (PSII), Maret 1950, supaya mau jadi ketua umum partai.

Alasan pertamanya, seperti dalam suratnya kepada M Zein Arief tanggal 
26
Maret 1950, ngeri menyaksikan partai politik menggunakan jumlah 
anggota
untuk memperoleh kursi di kabinet. Jadi, lebih kurang seperti 
sekarang,
partai-partai menuntut bagian dalam kabinet agar memberi dukungan di 
Dewan
Perwakilan Rakyat tanpa memandang kecakapan dan pengalaman mereka. 
Tuntutan
itu sering disertai dengan demonstrasi, rapat raksasa, atau tekanan 
politik
lain.

Keberatan Agus Salim adalah mengapa tuntutan partai ditekankan kepada
kuantum anggota, bukan usaha menaikkan mutu anggota. Ia tidak melihat
pengurus partai mendidik ranting, pemimpin cabang, atau pemimpin 
daerah.
Kuantum anggota, bagi pemimpin partai, adalah alat merebut jabatan 
politik.
Agus Salim tidak setuju sebab dengan itu rakyat tidak jelas mau 
diapakan dan
demokrasi mau dikemanakan.

Baginya, demokrasi adalah rakyat bersuara. Maka, didiklah rakyat dan 
gali
pemahamannya supaya aspirasinya tertampung ke atas. Bukan sebaliknya,
seperti yang saat itu-anehnya, masih berjalan sampai sekarang-
berlangsung di
PSII maupun partai lain: para pemimpin partai selalu menggunakan dalih
disiplin partai untuk memecat anggota yang ingkar terhadap keputusan 
pucuk
pemimpin tanpa mengindahkan hak anggota menyatakan pendapat dan 
aspirasi.

Agus Salim berpendapat, dalam negara demokratis, faham politik mesti
disiarkan di kalangan rakyat. Untuk menampung berbagai ragam faham 
ini,
partai berlaku sebagai pelopor mewujudkan cita-cita rakyat. Karena 
Indonesia
baru mengembangkan demokrasi, rakyat sangat perlu memperoleh 
penerangan dan
pencerahan yang mendidik tentang kehidupan demokrasi. Tugas 
pencerahan itu
tak mungkin dikerjakan oleh seseorang yang bergabung dalam partai dan
cenderung hanya memperjuangkan kepentingan partainya.

Alasan berikutnya berkait dengan faham inklusifnya. Meski sebagian 
besar
rakyat memeluk agama Islam, baginya tidak perlu semua partai bersifat 
Islam.
Soalnya telah terbukti, kebanyakan anggota masyarakat Islam yang masuk
partai nir-Islam tetap berpegang pada keyakinan agamanya. Atas 
pertimbangan
itu, Agus Salim merasa lebih tepat berada di luar struktur kehidupan 
partai
supaya lebih leluasa mengusahakan pencerahan masyarakat lewat 
pemahaman
Islam dan pengembangan kehidupan demokrasi bangsa.

Sudah sejak dasawarsa 1930-an, ketika aktif terjun dalam gerakan 
politik,
ujung tombak kegiatannya mengutamakan pemberdayaan rakyat kecil. 
Ketika ia
dipisahkan dari Partai Syarikat Islam dan membentuk Partai Penyadar 
(1936),
misi partai adalah menyadarkan umat manusia berpegang teguh pada Al 
Quran
dan sunah Rasul, memberdayakan kelompok masyarakat untuk membangkitkan
kemampuannya melalui Persatuan Pedagang Pasar, Persatuan Sopir Oplet,
Perkumpulan Buruh Batik, dan seterusnya. Tidak ada kata Islam di sini.

Ia tidak membuat Persatuan Pedagang Islam, Persatuan Sopir Islam, 
misalnya,
sebab baginya "penyerahan diri secara total pada kehendak Allah" 
menjiwai
usaha-usaha membangkitkan kemampuan rakyat. Jadi, isi lebih penting 
daripada
botol. Sikap ini kira-kira paralel dengan Bung Hatta dan Bung Sjahrir.
Hasrat memberdayakan anggota masyarakat sebagai perwujudan demokrasi
dihayatinya sebagai bagian integral dari pengembangan kehidupan Islam.

Dinamika Islam

Islam macam apa yang diperjuangkan Agus Salim?

Ceramah di Cornell itu adalah kesempatan bagus melihat cara Agus Salim
memandang Islam secara holistik. Di situ ia menjelaskan agama Islam 
kepada
orang-orang nir-Islam Amerika yang menurut Moeslim Abdurrahman, sang 
pemandu
dalam diskusi ini, sampai sekarang pun tidak mengenal Islam dengan 
baik.
Sebagai ilustrasi mengenai ini, Moeslim mengisahkan pengalamannya 
sewaktu
belajar di Amerika Serikat.

Sekali peristiwa, ia bersama kawannya asal Indonesia jalan melintasi 
pompa
bensin di sebuah kota di negeri Uda Sam itu. Jam menunjukkan waktu 
magrib.
Kawannya bergegas untuk salat di sebidang lantai di sekitar pompa 
bensin.
Moeslim menunggui kawannya. Seorang Amerika menghampiri Moeslim dan
menanyakan ihwal kawan yang tengah salat itu, "Is he okay?" Sikap ini,
menurut Moeslim, dengan jelas memperlihatkan ketidakmengertian orang 
Amerika
mengenai Islam: bahwa salat bisa di mana saja.

Dengan audiens yang lebih kurang setara, Agus Salim menjelaskan Islam 
dalam
kuliah itu tanpa menyinggung pihak nir-Islam. Terselip pertanyaan di 
situ
apa beda Islam dan Kristen, katakanlah dalam konteks kurban: Ishak 
atau
Ismail. Juga beberapa hal yang membingungkan karena kejadian serupa 
di kedua
kitab suci masing-masing secara tekstual memang berbeda. Agus Salim 
menjawab
pertanyaan demikian secara holistik tanpa menyinggung pihak nir-Islam 
yang
berada di ruang kuliah. Pemimpin seperti itu di Indonesia sekarang, 
menurut
Emil, sangat langka sebab yang terjadi: orang berusaha memperkenalkan 
Islam
bukan dengan menaikkan Islam, tetapi dengan menurunkan atau 
menjatuhkan
agama lain.

"Saya tidak mengerti kenapa kalau menghadiri ceramah saya selalu 
dititipi
pesan tak boleh kasih salam kepada orang Kristen. Itu omong kosong," 
kata
Emil. "Tidak akan muncul sikap seperti itu dari seorang Agus Salim."

Penerbitan ceramah Haji Agus Salim itu, menurut Emil, sangat baik 
untuk
menapaki kemunculan gagasan neomodernisme Islam di Indonesia. Di situ
diperlihatkan pemahaman seorang Islam 50 tahun lalu yang jernih sekali
mengenai Islam. Tidak ada serangan kepada pihak lain. Tidak ada 
pengagungan
bahwa "kami lebih hebat daripada kamu".

Agus Salim yang ulama itu malah bertolak dari suatu ayat yang 
mengatakan
bahwa Al Quran mengakui segala nabi dan kitab-kitabnya: "kami akui 
kitab
Taurat" dan seterusnya. Maka, ketika ada pertanyaan kenapa terjadi
pengulangan di dalam kitab itu, Agus Salim menjawab, "Al Quran bukan 
buku
saintifik, tetapi tentang apa yang Tuhan mau. Kalian harus mengulang-
ulang
seperti mendengar radio untuk memahami suatu masalah. Jadi, jangan kau
anggap Quran sejajar dengan buku ilmu Einstein."

Agus Salim mengungkapkan pemahaman yang salah itu berkaitan dengan 
soal di
Indonesia ketika itu, tahun 1953, bahwa sebagian besar penduduk 
Indonesia
hidup di alam pertanian. Sektor agama sangat dikuasai oleh guru 
pengajar
agama Islam di pondok pesantren dan surau yang terpaku kepada fikih, 
yang
tidak mengalami perubahan berarti dan karena itu tidak menampung
perkembangan dinamika dunia. Dari situlah tumbuh kecenderungan 
konservatif
yang sulit menerima inovasi untuk dipertautkan dengan pikiran 
keagamaan.
Jalan pintas untuk membedakan apa yang dapat dan yang tidak dapat 
diterima
adalah dengan menolak semua hal yang dibawa oleh pemikiran asing dan
nir-islami. Perkembangan pikiran progresif, seperti dikembangkan Ibn 
Rush,
yang juga dikenal dengan nama Averrhoes di dunia Barat sebagai ahli
filsafat, ditolak oleh kelompok Islam ortodoks.

Pemahaman dinamis Islam Haji Agus Salim menemukan aktualisasinya dalam
kesempatan lawatan di Ithaca tersebut. Ketika itu adalah saat 
permulaan masa
puasa. Jarak tenggelam dan terbitnya Matahari di musim semi sangat 
pendek.
Dalam kaitan ini, Agus Salim mengungkapkan gagasan menyesuaikan jadwal
sahur, buka puasa, dan salat sesuai dengan kenyataan waktu kerja yang
berlaku setempat. Katanya, bersalatlah waktu subuh di pagi hari, 
dzuhur
waktu istirahat makan siang, asar sore hari, magrib setelah pulang 
kerja,
dan isya sebelum istirahat tidur. Ibadat dilaksanakan dengan 
dorongan "niat"
dan pelaksanaan "yang ikhlas". Inilah yang terutama dipegang dalam
melaksanakan ajaran Islam.

Islam dan negara

Pandangan Haji Agus Salim mengenai Islam dan negara dapat ditelusuri 
dalam
debat hangat para politikus di tahun 1920-an, ketika agama dan negara
menjadi masalah yang bisa membangkitkan emosi bagi para politikus di
Indonesia. Dalam debat dengan Bung Karno yang mengobarkan cinta Tanah 
Air
sebagai tenaga menuju kemerdekaan Indonesia, Agus Salim 
menjawab, "Ya, boleh
nasionalis cinta Tanah Air, tetapi ingat Hittler yang akhirnya 
menghancurkan
kemanusiaan. Nasionalis itu baik, tapi kalau agak menyimpang ia 
berbahaya."

Pada titik ini keislaman Agus Salim keluar. Ia tidak menolak 
nasionalisme
untuk mengembangkan rasa cinta Tanah Air, tetapi semua ini perlu
dilaksanakan dalam kerangka tujuan perjuangan yang lebih agung. Ia
meletakkan perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara merdeka itu 
sebagai
pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh hidup kita,
seluruh perbuatan kita, seluruh langkah kita, dan seluruh mati kita 
adalah
bagi Allah semata.

Dalam kaitan itulah, sebagai anggota Panitia Sembilan, Agus Salim
memperjuangkan supaya di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 
1945
eksplisit dicantumkan pengakuan bahwa "Republik Indonesia berdiri atas
berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa". Di dalam pengabdian itu Islam 
mengakui
agama kitab lain, mengakui nabi lain, jadi seperti dikutip Emil, Agus 
Salim
mengatakan, "Penganut Kristen tidak usah takut."

Di dalam ceramah di Ithaca itu Agus Salim dengan gamblang menolak 
teokrasi,
menolak pendapat para kiai yang mau memasukkan ayat-ayat Al Quran dan 
hadis
ke dalam UUD. Sebagaimana yang termaktub dalam Ceramah XIII dan VIII, 
Agus
Salim mengatakan, "I think that for Indonesia we have overcome that
difficulty."

Pemikiran Agus Salim mengenai Islam dan masyarakat barangkali dapat 
diwakili
satu kisah ini. Ketika menjumpai tabir yang memisahkan laki-laki dan
perempuan dalam kongres Jong Islamieten Bond-dari sini kemudian lahir
generasi cendekiawan Muslim yang setelah proklamasi berkumpul dalam 
Partai
Masyumi - ia menghampiri seorang anggota panitia. "Bung, saya minta 
turunkan
tabir itu," katanya kepada anggota panitia, yang lalu 
dijawab, "Enggak bisa,
kecuali kalau bapak sendiri yang menurunkannya."

Haji Agus Salim berdiri. "Baik!" katanya sambil menarik tabir kemudian
membuangnya.(SAL)


-----------
--- End forwarded message ---




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke