Detikcom (Jakarta) 

Pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bakti, mengingatkan
capres Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) agar berhati-hati sebelum
mengeluarkan pendapat.
Ikrar mencatat beberapa kali calon presiden dari
partai Demokrat ini
'terpeleset' hingga terkesan SBY plin plan.

"Itu jualan politik sah-sah saja. Sama halnya dengan
jual kehebatan.
Tapi jangan sampai plin-plan. Kadang pendapatnya
antagonis satu dengan
yang lain. Itu menjadi problem terbesar bagi SBY,"
ujar Ikrar menanggapi
pernyataan SBY perihal 4 alokasi kursi yang ditawarkan
SBY untuk
perempuan. 

Dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (31/8/2004)
pagi, Ikrar
mensoroti pernyataan yang dinyatakan SBY saat bertemu
dengan umat
Kristen beberapa waktu lalu. SBY dalam pertemuan itu
berrjanji akan
meninjau hubungan diplomatik dengan Israel. Tetapi
setelah Ketua
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif
dan Sekjen Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin mengecam
pernyataan SBY, SBY lantas
meralat pernyataan tersebut.

"Ucapan seperti itu bisa menjadi bumerang. Dulu juga
kabarnya SBY sempat
mengatakan perempuan seharusnya dibelakang (laki-laki)
saja. Jadi
pernyataan itu harus berhati-hati," himbau Ikrar.

Karena menurut Ikrar, rakyat Indonesia terdiri dari
beragam kultur dan
budaya. Banyak kasus-kasus sensitif yang harus
ditanggapi dengan
bijaksana. Bila tidak, akan menuai kecaman.

"Jadi dipikir secara matang dulu sebelum mengeluarkan
pendapat," ingat
Ikrar

Jum'at, 27 Agustus 2004 18:38 WIB

BAHANA PEMILU 2004



Akbar Gandeng Mega Demi Kursi Presiden 2009

KUPANG--MIOL: Wakil Sekjen Partai Demokrat, Max
Sopacua, 
mengungkapkan antusiasme Ketua Umum DPP Partai Golkar,
Ir Akbar 
Tandjung menggandeng Megawati Soekarnoputri, dalam
koalisi 
kebangsaan, hanya untuk kepentingan kursi presiden
2009.

"Akbar punya ambisi kuat menjadi Presiden pada 2009.
Ia memilih 
menggandeng Megawati karena Mega tidak memiliki
peluang lagi menjadi 
presiden pada 2009," kata mantan repoter TVRI itu
kepada wartawan di 
Kupang, Jumat.

Ia menambahkan, situasi politik inilah yang
dimanfaatkan Akbar 
Tandjung dengan mengatasnamakan Partai Golkar untuk
melakukan koalisi 
kebangsaan dengan PDI Perjuangan.

Dengan demikian, tegasnya, koalisi kebangsaan yang
dilakukan empat 
partai politik besar (Golkar, PDIP, PPP dan PDS) bukan
untuk 
kepentingan rakyat banyak melainkan untuk kepentingan
politik pribadi 
Akbar semata serta elit politik yang menginginkan
kursi di kabinet 
jika Megawati kembali terpilih menjadi presiden.

Dia menyebut koalisi itu sebagai "Koalisi dagang sapi"
yang 
menurutnya, tidak dikehendaki oleh pasangan Susilo
Bambang Yudhoyono 
(SBY) dan Muhammad Jusuf Kalla (MJK) yang diusung
Partai Demokrat 
sebagai kandidat presiden dan wakil presiden untuk
periode 2004-2009.

Suphacua mengatakan, koalisi antarpartai politik dalam
sebuah negara 
demokrasi merupakan hal yang wajar, namun tidak
berorientasi pada 
bagi-bagi kekuasaan.

Koalisi yang dilakukan empat partai besar itu sangat
jelas muaranya 
pada "bargaining position", sehingga menimbulkan
banyak protes dari 
daerah dan kalangan partai sendiri.

"Jauh sebelum koalisi empat partai besar itu, kami
sudah melakukan 
koalisi dengan Partai Bulan Bintang pimpinan Yusril
Izha Mahendra dan 
PKPI pimpinan Jenderal Purn Edi Sudrajat, dan kini
Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) pimpinan Hidayat Nurwahid," katanya.

Hanya, lanjutnya, koalisi yang dilakukan Partai
Demokrat dengan 
sejumlah partai lain itu, tidak pernah membicarakan
bagi-bagi kursi 
di kabinet, tetapi bagaimana mengelolah negara ke arah
yang lebih 
baik demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Suphacua menjelaskan masuknya Partai Bulan Bintang
dalam koalisi 
tersebut sama sekali tidak mengadopsi platform Syariat
Islam seperti 
yang dikhawatirkan masyarakat Kristen di Indonesia
Timur.

"Tidak ada islamisasi dan kristenisasi Republik
Indonesia. Presiden 
tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah haluan
negara tanpa ada 
persetujuan parlemen. Kunci masalah itu ada pada
tangan parlemen, 
bukan pada presiden," katanya.

Ia mengimbau masyarakat di Indonesia Timur tidak
terjebak isu 
Islamisasi, demikian pun halnya dengan masyarakat
Indonesia Barat 
yang terjebak dengan isu Kristenisasi jika SBY-MJK
terpilih menjadi 
Presiden dan Wakil Presiden.

Cawapres MJK, misalnya, kata Suphacua, malah
menjelaskan isu syariat 
Islam itu kepada masyarakat Papua pada sebuah Gereja
di Jayapura dan 
berjanji tidak akan memasukan unsur syariat Islam ke
dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara.

Akibat isu tersebut, ia mengakui, perolehan suara
SBY-MJK pada pemilu 
presiden putaran pertama pada sejumlah daerah Kristen
di Indonesia, 
seperti NTT hanya sedikit (NTT hanya 14 persen suara).

Ketika ditanya lebih lanjut soal keberpihakan elit
birokrasi yang 
secara terang-terangan mendukung paketMega-Hasyim,
Suphacua 
mengatakan, hal itu tidak menggoyang langkah SBY-MJK
pada Pilpres 
putaran kedua.

"Koalisi empat partai besar serta keberpihakan
birokrasi terhadap 
paket Mega-Hasyim, sama sekali tidak membuat kami
goyah. Kami yakin 
bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan yang tidak bisa
ditaklukkan 
oleh siapa pun," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan terlibatnya tim pemantau asing
serta lembaga-
lembaga independen pada Pilpres putaran kedua, akan
meminimalisir 
kecurangan-kecurangan yang dilakukan para pihak di
titik-titik rawan 
semacam PPK, PPS dan KPU.

Menurut dia, koalisi elit partai di tingkat atas sama
sekali tidak 
mempengaruhi pilihan rakyat terhadap figur SBY-MJK
pada Pilpres 
putaran kedua.

"Ternyata...koalisi kebangsaan yang dilakukan oleh
empat partai besar 
itu sudah mulai menuai protes dari daerah dan
cabang-cabang parpol 
bersangkutan. Karena itu, kami yakin bahwa koalisi
dengan rakyat 
merupakan pilihan terbaik dalam memperbaiki
keterpurukan di negeri 
ini," ujarnya. (Ant/O-2)

Cetak Berita   Email Berita 
http://www.mediaindo.co.id/




        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke