Pendidikan
dan Krisis Moral
Oleh. M. Sobry Sutikno, S. Ag., M. Pd* Media: Gaung NTB, Agustus 2004
Jika suasana umum dalam masyarakat mencerminkan adanya krisis moral, cukup sulit bagi
para pendidik untuk melakukan pendidikan nilai, sebab nilai-nilai yang dengan susah
payah ingin ditumbuh kembangkan dalam diri peserta didik, dalam praktik baik dalam
keluarga maupun di tengah masyarakat banyak dilecehkan. Misalnya, kalau dalam
lingkungan pendidikan ditekankan perlunya disiplin hidup dan kerja keras untuk bisa
berhasil dalam hidup, sementara di tengah masyarakat peserta didik menyaksikan dengan
mata kepala sendiri bahwa keberhasilan hidup lebih ditentukan oleh uang, kuasa, dan
kelicikan jelas penanaman nilai disiplin dan kerja keras menjadi sulit. Bagaimana
orang muda akan menghargai nilai kebenaran kalau dalam masyarakat berbagai bentuk
kebohongan dan kepalsuan terang-terangan dilakukan?
Bagaimana peserta didik akan menghormati kehidupan manusia sesamanya, menghargai
cara-cara damai dan menempuh jalur hukum dalam menyelesaikan persoalan konflik sosial
ataupun antar pribadi, kalau setiap harinya yang disaksikan adalah tindak kekerasan
yang tak berperikemanusiaan. Demikian juga, nilai-nilai lain yang penting untuk
kemanusiaan, seperti keadilan, kejujuran, hormat terhadap martabat dari kehidupan
manusia, kesetiakawanan sosial, dan sebagainya, akan tidak mudah untuk ditumbuhkan
kalau nilai-nilai tersebut dalam masyarakat banyak dilecehkan.
Cukup banyak pengamat sosial yang menyatakan bahwa di balik krisis moneter yang bukan
hanya menyebabkan krisis ekonomi, tetapi juga krisis politik dewasa ini sebenarnya
juga telah menjadi krisis moral yang ikut menyebabkannya. Berbagai praktik korupsi,
kolusi, manipulasi, dan nepotisme selama ini telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan
ekonomi yang sehat. Dalam dunia politik, juga telah lama terjadi pelanggaran etika
politik. Kepentingan politik kekuasaan yang tidak segan-segan mengorbankan rakyat
jelata yang tidak berdosa melalui tindak kekerasan, entah dengan menyulut api emosi
seputar masalah SARA atau dengan berondongan senjata, telah mendorong orang untuk
menghalalkan segala cara. Kebenaran terus ditutup-tutupi, kebebasan dipasung,
suara-suara kritis dibungkam. Akibatnya, kebocoran-kebocoran terus terjadi tanpa
kendali koreksi. Dalam masyarakat, beragam bentuk keserakahan, ketidak-pedulian akan
sesama, telah menyebabkan rasa tanggung jawab dan solidaritas sosial amat merosot.
Masing-masing mencari untung selamat sendiri-sendiri.
Ketika berbicara soal pendidikan, H.A.R. Tilaar salah seorang pakar pendidikan (Dosen
Universitas Negeri Jakarta) menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia dilingkupi oleh
beberapa persoalan, yaitu:
1. Pemerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan dan Pemerataan Kualitas Pendidikan
Memang selama ini telah banyak yang kita capai di dalam pelaksanaan pemerataan
pendidikan. Tidak kurang dan Badan PBB UNESCO dan UNDP mengakui keberhasilan Indonesia
serta usaha-usaha lainnya untuk pemerataan pendidikan yang berkaitan dengan
penanggulangan kemiskinan. Namun demikian perlu kita akui bahwa di dalam hal kualitas
pendidikan kita masih jauh terbelakang dibandingkan dengan negara-negara ASEAN hal ini
perlu kita tanggulangi oleh karena kualitas sumber daya manusia yang kita inginkan
adalah manusia berkualitas dan berkompetitif baik di dalam masyarakat kita sendiri
maupun di dalam hubungan Asean dan dunia. Usaha pemerataan kualitas pendidikan
haruslah secara tuntas sehingga perbedaan antara kualitas pendidikan kota-desa,
Indonesia kawasan barat/timur supaya semakin lama semakin mengecil pada masa-masa
mendatang.
2. Menurunnya Akhlak dan Moral Peserta Didik
Disebabkan perubahan hidup, menyebabkan longgarnya ikatan-ikatan moral kehidupan yang
mempengaruhi pula kehidupan generasi muda. Pembinaan etnik dan moral generasi muda
haruslah dimulai dari keluarga, di dalam sekolah/di dalam masyarakat. Penerapan
disiplin nasional secara tuntas dan konsekuen haruslah dilaksanakan di dalam setiap
lingkungan pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Di dalam kaitan ini para
pemimpin bangsa sebagai panutan baik formal maupun non-formal merupakan suatu
keharusan.
3. Rendahnya Mutu Pendidikan di berbagai Jenjang dan Jenis Pendidikan
Sukses yang dicapai secara kuantitatif memang menghambat peningkatan kualitas
kualitatif. Hal ini memang suatu konsekuensi di dalam pembangunan nasional yang masih
memberi prioritas pada pemerataan. Namun demikian peningkatan kualitas merupakan suatu
syarat mutlak di dalam suatu masyarakat dunia yang kompetitif. Oleh sebab itu,
usaha-usaha intensif untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya mata pelajaran
yang menjadi tuntutan utama dalam dunia industri seperti ilmu pengetahuan dan
teknologi yang unggul haruslah dijadikan target utama.
4. Masih Rendahnya Efisiensi Internal Sistem Pendidikan
Pendidikan haruslah dikelola secara bussiness like sehingga dinamis dan efisien.
Banyaknya siswa yang mengulang serta drop out masih tinggi menunjukkan belum
efisiennya sistem pendidikan dan pelatihan kita.
5. Kelembagaan Pendidikan dan Pelatihan
Dewasa ini kita lihat kelembagaan pendidikan dan pelatihan sangat kaku dan simpang
siur. Tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat (dunia usaha,
dunia kerja) belum dirumuskan dengan baik. Demikian pula tugas dan tanggung jawab yang
jelas antar departermen/antar pusat dan dirumuskan secepat-cepatnya.
6. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Nasional yang Belum Sejalan dengan Manajemen
Pembangunan Nasional.
Berkaitan dengan apa yang telah dijelaskan mengenai kelembagaan pendidikan dan
pelatihan nasional, maka manajemen pendidikan dan pelatihan nasional masih belum
terarah. Berbagai departemen, berbagai lembaga menangani masalah tersebut sehingga
mengganggu dinamisme pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan
permintaan pasar kerja.
7. SDM yang Belum Profesional
Perkembangan dunia industri dan dunia kerja yang sangat pesat dengan didukung oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah begitu cepat menyebabkan lembaga-lembaga
pendidikan dan pelatihan selalu ketinggalan. Hal ini hanya dapat dijembatani apabila
dunia usaha dan dunia kerja berpartisipasi secara penuh dengan berbagai insentif ikut
serta di dalam menyiapkan pengembangan SDM. Dunia usaha dan dunia kerja bukanlah hanya
sekedar pemain yang baik, tetapi juga mengadakan investasi yang baik dalam
pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Saya berharap semoga pembaca bisa memahami apa yang terkandung dalam tulisan ini. Satu
harapan, semoga semua masyarakat KSB memiliki pendidikan yang unggul, bermoral baik,
dan berakhlak mulia. Amin...
*Penulis adalah:
Tode Dasan, Jereweh, KSB-NTB
(Direktur Eksekutif YNTP Research and Development)
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/