Kekerasan memang semakin banyak terjadi di negara yang
dengan bantuan dari luar negeri masih harus
menanggulangi kerusakan akibat banjir itu. Politisi
oposisi, serikat pekerja dan wartawan adalah sasaran
utamanya. Wartawan yang kritis diancam bahkan dibunuh.
Dengan serangan bom tanggal 21 Agustus lalu saat
berlangsungnya rapat raksasa pihak oposisi "Liga
Awami" di ibukota Dhaka, kekerasan itu mencapai
puncaknya. 20 orang tewas sia-sia dan timbul kerusuhan
berat. Apakah negara dengan sekitar 120 juta
penduduknya itu akan tenggelam dalam kekacauan
politik? Apakah kaum Islam militan akan menggantikan
Islam yang toleran? Apakah perebutan kekuasaan akan
terus mewarnai dunia perpolitikan di Bangladesh?  

======================================================
02.09.2004

Apakah kekacauan akan melanda Bangladesh?

Oleh: Abdullah Al Farooq

Situasi politik di Bangladesh nampak tegang dan
terpolarisasi. Di satu pihak, partai oposisi "Liga
Awami" bersama kelompok-kelompok liberal yang
menghendaki suatu masyarakat sipil dan di lain pihak
koalisi pemerintah konservatif kanan yang terdiri dari
Partai Nasional Bangladesh (BNP), partai "Jamate
Islami" dan dua partai kecil lainnya.
Sejak terjadinya serangan pada jumpa massa "Liga
Awami" itu pemerintahan PM Begum Khaleda Zia terdesak
untuk memberi keterangan. Sejumlah granat meledak
secara berturut-turut mengakibatkan 20 orang tewas dan
lebih dari 300 cedera. Untungnya pemimpin "Liga
Awami", Sheikh Hasina selamat dalam mobilnya yang
tahan peluru.

Sejak saat itu pihak oposisi menyerukan dilakukannya
pemogokan umum dan demonstrasi protes menentang
pemerintahan PM Khaleda Zia. Pemicunya adalah Sheikh
Hasina, salah seorang putri dari pendiri negara
Bangladesh, Sheikh Mujibur Rahman dimana di tahun
1996-2001 Sheikh Hasina sendiri pernah menjadi PM
Bangladesh. Ia menuduh pemerintah sekarang membiarkan
saja kegiatan kelompok radikal Islam yang semakin
militan. Oleh sebab itu ia menuntut agar dilakukannya
pemeriksaan oleh pihak internasional.

Sementara ini sebuah kelompok bernama "Hikmatul Jihad"
mengaku mendalangi serangan itu. Dalam suratnya kepada
sebuah harian Bangladesh, mereka bahkan mengancam akan
membunuh Sheikh Hasina sendiri. Pemerintah secara
terbuka mengecam serangan itu dan membentuk sebuah
komisi pemeriksaan.
Di luar negeri serangan itu juga menimbulkan
keresahan. Menlu Jerman Joschka Fischer, yang baru
mengunjungi Bangladesh pertengahan Juli lalu berharap,
serangan berdarah itu cepat tersingkap dan pelakunya
diadili. Hal serupa dikemukakan pula oleh Sekjen PBB
Kofi Annan, Menlu AS, Colin Powell dan para dutabesar
negara-negara UE di Bangladesh.
Pemerintahan PM Khaleda Zia terpaksa tunduk pada
negara-negara donor dan menghubungi interpol tetapi
nampaknya pihak oposisi belum puas, sebab menurut
mereka, tidak dapat diharapkan adanya pemeriksaan yang
independen dari pihak pemerintah. Di masa lalu pun
sejumlah serangan bom tidak dapat disingkap terutama
yang terjadi di kota Sylhet.
Bangladesh dengan 85 persen penduduk yang beragama
Islam selama ini merupakan contoh sebuah negara Islam
yang liberal dan toleran. Tetapi kelompok-kelompok
tertentu nampaknya punya keinginan lain dan bukan
hanya sejak terjadinya serangan di Dhaka itu.
Belakangan ini serangan teror dan berbagai ancaman
terus meningkat. Di utara Bangladesh seorang pria
dengan nama panggilan Bangla Bhai membentuk sebuah
kelompok yang kemudian melakukan pemerasan,
intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan. Diperkirakan,
banyak tukang pukulnya itu aktif di lingkungan Taliban
di Afghanistan. Koran-koran Bangladesh juga melaporkan
bahwa di beberapa madrasah, murid-muridnya mendapat
pelatihan menggunakan senjata sebagai kader militan.
Bagi PM Khaleda Zia memang sulit untuk menindak arus
fundamentalis di kalangan Islam, karena sebuah partai
radikal juga diwakili oleh dua orang menteri dalam
kabinet. Di satu pihak ia harus memelihara stabilitas
dan citra Bangladesh sebagai sebuah negara yang tidak
mendukung terorisme. Di lain pihak pemerintahannya
punya hubungan dengan para pelakunya, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Sementara ini PM Khaleda Zia mengimbau pihak oposisi
agar mau berdialog. Tetapi pemimpinnya, Sheikh Hasina
selalu menolak dan berusaha memperbesar kelompok
oposisi. Tuntutannya, pemerintah harus mengundurkan
diri. Oleh sebab itulah jumlah demonstrasi dan
pemogokan umum terus meningkat dan pemerintah berusaha
menindaknya. Situasi di Bangladesh sangat tegang, dan
dalam waktu dekat belum nampak adanya jalan keluar
dari krisis yang terjadi.
 



                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
http://promotions.yahoo.com/goldrush


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke