Surat Kembang Kemuning:
SUATU HARI DI SINGAPURA [8] +"Hasil dari adanya jarakkah ini?" tanyanya seakan bertanya pada diri sendiri."Jarak, waktu, gerak dan keabadian!?" lanjut Yenny dalam gumam merenungi ucapanku. Perempuan ini sangat langsung kalau berbicara tapi ia jujur dan perasa sekaligus. -"Tidak ada sangkut-pautnya dengan jarak, waktu, gerak dan keabadian, walaupun sejak lama kau tahu yang langgeng bagiku adalah gerak, Yen. Kuharap kau tak mengaitkannya dengan soal-soal demikian. Mengaitkannya hanya menggoreskan mata belati putih tajam ke hati kita. Kalau aku ingin mencari hotel, masalah pokokku karena aku menghormatimu dan para tetangga. Singapura memang sering kukunjungi tapi sering berkunjung belum berarti aku mengenal Negara Kota ini. Aku belum kenal pola pikir dan mentalitas negeri ini apakah seperti orang di Indonesia yang suka bergunjing dan berprasangka". Yenny memandangku luyu. +"Apartemenku cukup besar dan mempunyai kamar tamu untuk teman-teman yang datang". -"Kau paham pertimbanganku, bukan?". +"Singapura bukan Indonesia, Kus. Kukira bacaan dan pengenalanmu tentang Negara Kota ini sudah memadai. Para tetanggaku pun tahu bahwa aku mempunyai banyak keluarga di Indonesia.Apa salahnya kau mengisi kamar tamuku selama kau berada di Singapura? Kalau kau mau keluar, bisa kuantar dan jika kau mau keluar sendiri kau leluasa melakukannya, kendaraan bisa kau pakai sesukamu". Prasangka Asia feodal betapapun selalu kuperhitungkan jika aku berada di negeri-negeri Asia terutama di Indonesia. Walaupun kutahu di balik prasangka ini tersimpan banyak kemunafikan yang kubenci. Di negeri ini sering kudapatkan, orang-orang berpura-pura "alim" tapi dibalik "kealiman" terdapat kebusukan luar biasa. Kemunafikan merupakan suatu pola pikir, pola mentalitas, gaya hidup. Di Indonesia, sering kualami hal-hal pribadi sulit bahkan belum bisa orang pisahkan dari masalah-masalah yang bukan pribadi. Penampilan dijadikan salah satu patokan menilai orang. Karena itu saban ke Indonesia, sekalipun aku merasa "risih" sendiri, di panas terik pun, aku sering mengenakan jas dan dasi dan pada awal mulanya menginjak kembali tanahair gelar tertinggi akademiku kukenakan, padahal di Perancis sama sekali tidak pernah orang cantumkan. Gelar akademi, seperti Ph.D, doktor di Indonesia sudah merupakan sesuatu yang bisa mengobah sikap orang terhadap kita. Gelar Drs. pun bahkan dipajangkan di depan rumah. Lalai menulis gelar akademi bisa menimbulkan keributan.Dengan mencantumkan gelar akademi dan berjas-berdasi, aku mempunyai peluang untuk berdialog dengan kalangan manapun. Menggelikan memang, tapi aku patut memperhitungkan keadaan ini. Kemampuan membedakan soal pribadi dan tidak, kesanggupan menilai manusia dari hakekat dan tidak, apakah tidak menunjukkan taraf perkembangan kemanusiaan kita sendiri? Soal ini sering kupertanyakan pada diriku sambil geleng-geleng kepala, apalagi jika aku mengingat serangan-serangan konyol di luar permasalahan terhadap diri pribadiku di sementara milis yang dilakukan oleh sementara orang yang merasa diri "hebat" dan "manusiawi" tapi senyatanya sangat konyol dan rendah. Dari gejala-gejala begini, aku melihat tingkat seseorang dan tingkat yang dicapai oleh negeri dan bangsaku. Di Paris, sudah menjadi kejamakan bahwa sebuah apartemen beberapa kamar disewa oleh penghuni perempuan dan lelaki bersama-sama tanpa mengundang permasalahan dan prasangka atau gunjing. Sistem penyewaan begini hanya dilakukan atas dasar keperluan praktis dan pertimbangan ekonomi.Paris, Indonesia dan Singapura adalah negeri-negeri dengan taraf perkembangan masing-masing yang tidak bisa tidak diperhitungkan. +"Bukan aku tidak mau mengisi ruang tamumun Yen, tapi..". -"Tapi kau sekarang berada di Singapura!", potong Yenny segera. "Sekian tahun tidak bertemu apakah tidak mempunyai arti bagimu?". Yenny memperkuat alasannya. -"Begitu kau beritahukan tanggal kedatanganmu, aku sudah minta cuti dari pekerjaan.Khusus untuk kau. Apakah hal ini tidak berarti apa-apa bagimu? Setelah beberapa hari kau di Singapura, kau pun akan segera berangkat dan entah kapan lagi kita bisa betemu", tambah Yenny. Desakan Yenny agar aku tinggal di apartemennya mengingatkan aku akan pengalamanku di Kuala Lumpur. Ketika itu, akupun menolak tinggal di rumah Jomo dan ingin tinggal di hotel. Tapi ketika anak-anak Jomo memprotes, Jomo berkata: +"Anak-anak yang meminta. Bukan aku.Terserah Bung, apakah Bung mau melukai anak-anak atau tidak?" Tanpa berpikir panjang lagi, aku menerima untuk tidur di rumah Jomo selama di Kuala Lumpur. Kebiasaan begini sebenarnya kulakukan sejak remajaku. Kalau aku ke Jakarta atau ke Surabaya atau di mana pun aku lebih suka tinggal di losmen atau di hotel daripada tinggal dengan keluarga atau kenalan. Aku tidak ingin dibatasi oleh kebiasaan rumah. Aku merasa lebih leluasa jika tidak tergantung dan berhutangbudi. Kebiasaan ini ditanamkan oleh orangtuaku sejak kecil. Bahkan ketika tidur di rumah kakek untuk memenuhi keinginanku mendengarkan dongengannya, ibu selalu menyuruhku membawa beras dan lauk pauk sendiri. Ibu tidak ingin aku, anaknya, membebani kakek secara material, walaupun kakek selalu menolak dengan marah apa yang dibawakan ibu. -"Ibumu menghina kakek", ujarnya. Tapi kakek dan ibu sama-sama keras dan punya perangai sendiri-sendiri. Mendengar alasan-alasan Yenny, peristiwa-peristiwa di atas kembali datang ke ingatan secara beruntun bersama dengan saat-saat kebersamaanku dan Yenny di masa-masa silam. Sedangkan jarak geografis dan waktu selama ini tidak pernah merusak hubungan kami sebagai dua orang sahabat dekat tempat saling curhat.Bahkan memperkuatkannya. Pertikaian pandangan setajam apa pun juga tidak kuasa merusak hubungan kami, termasuk kesalahan-kesalahanku terhadapnya yang secara namar dan manusiawi tak termaafkan. Kami tahu dan sadar benar bahwa kami adalah dua sahabat dan persahabatan ini kami rasakan sangat berharga dan kami sangat bela. Perbedaan pendapat kami taruh ditempat tersendiri dan merupakan bagian dari persahabatan kami. Kami merasa saling memerlukan seperti kami sangat menyayangi putra-putri kami. Tak ingin melukainya maka akhirnya kukatakan: + "Baik, Yen, aku akan mengisi kamar tamumu dan lupakan ide mencari hotel". Yenny menghela nafas tapi kesedihan masih terbayang di kedua matanya yang sipit. Terus-terang aku menyukai kedua mata sipit itu karena membawaku kembali ke dunia masa remaja Yogya dengan orangtua angkatku yang tak pernah kutemu kembali sejak Tragedi Nasional September 1965. Mata sipit kulit kuning dan rambut lurus Yenny membawaku ke masa bahagia Yogya dengan orangtua angkatku yang entah sekarang di mana.Di lingkungan ini aku tak pernah dikhianati kecuali menikmati keamanan dan kesetiaan. Yenny membawaku kembali ke dunia yang kudambakan ini tapi lama telah hilang seperti halnya aku dicampakkan oleh Indonesia. Bukan! Dicampakkan oleh penguasa negeri! Indonesia adalah ibuku. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

