Sdr. Andy,
Penjelasan anda sangat tepat dan mudah di mengerti. --- On Fri 09/03, Andy Gouw < [EMAIL PROTECTED] > wrote: From: Andy Gouw [mailto: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Date: Fri, 03 Sep 2004 19:07:21 -0000 Subject: [ppiindia] Re: Privatisasi Bisa Menyengsarakan Rakyat dan Merusak Kedaulatan Negara --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:<br>> <br><br>> Rekan2 sekalian,<br>> Sesungguhnya, privatisasi tidak berarti bahwa tarif akan murah.<br><br><br>Tarif harga ditentukan dengan supply and demand. Effisiensi<br>perusahaan yang kita harapkan didalam privatisasi itu. Untuk<br>mengkontrol supply, salah satu jalan open market kepada semua<br>investor untuk bisa masuk kesektor tertentu yang diperlukan. Dengan<br>cara ini supply akan dijamin dan hargapun terkontrol.<br><br><br>Justru<br>> sebaliknya banyak yang naik. Hal ini disebabkan swasta pasti ingin<br>untung.<br>> Tidak mungkin mereka mau kerja bakti untuk hal yang tidak<br>menguntungkan.<br><br><br>Swasta maupun BUMN pada prinsipnya harus untung, ini namanya<br>berdagang. Tidak ada seorang didunia ini mau kerja bakti, apalagi di<br>indonesia. Saya rasa pekerja BUMN juga tidak kerja bakti.<br><br><br>> Apalagi jika yang mengambil alih BUMN kita adalah perusahaan asing<br><br><br>Perusahaan asing atau lokal atau pemerintah, ini tergantung siapa<br>yang punya uang. Indonesia masih memerlukan banyak uang untuk<br>pembangunan, kita harus bersyukur bahwa perusahaan asing masih mau<br>membantu. Tidak perlu menjadikan mereka raja tapi harus dihormati.<br><br><br>> (mengingat konglomerat kita banyak yang kolaps dan berutang), maka<br>biaya<br>> operasional akan naik karena standar gaji mereka yang tinggi. Jika<br>pegawai<br>> lokal puas dgn gaji Rp 2 juta per bulan, untuk orang asing minimal<br>Rp 20<br>> juta. Apalagi jika karyawan expatnya banyak.<br><br><br>Gaji pada umumnya tergantung dari keahlian dan pengalaman seseorang.<br>Kalau kita menggaji 20 juta tapi bisa menghasilkan pekerjaan yang<br>bernilai 50 juta, ini artinya effisiensi.<br><br><br>> Oleh karena itu, agar tidak rugi, mereka akan menaikan tarif.<br><br><br>Sudah tentu konsumen yang harus tanggung, kan mereka yang beli<br>servicenya, tapi supply and demand yang akan mengkontrol tarif dan<br>ini semua akan dirasakan effeknya diseluruh jajaran perusahaan.<br><br><br>Selain itu,<br>> mereka juga bisa mengurangi jumlah pekerja, sehingga bisa<br>menimbulkan<br>> pengangguran.<br><br><br>Jumlah pekerja ini bisa dilihat dari berapa effisiennya satu<br>perusahaan. Kalu perusahaan perlunya cuma 10 pegawai, kenapa harus<br>mencari 40 pegawai.<br><br>Pengangguran bukan disebabkan oleh perusahaan, kalu tidak ada<br>perusahaan ya tidak ada pegawai.<br><br>Salah satu solusi pengangguran adalah pemerintah menyediakan suasana<br>yang kondusive untuk berinvestasi agar banyak investors yang mau<br>menanamkan modalnya, dan pengangguran pun akan menjadi berkurang.<br><br><br>>Ini menimbulkan masalah sosial tersendiri.<br><br><br>Masalah sosial ini mulainya harus dari pemerintah pusat.<br><br>Contoh contoh privatisasi yang menghasilkan kemakmuran untuk rakyat<br>juga banyak sekali. Amerika negara yang menjungjung tinggi<br>privatisation and competition bisa menjadi contoh. Sudah tentu setiap<br>ideologi berdagang gak akan bisa sempurna.<br><br><br>><br>> Sesungguhnya BUMN pada dasarnya adalah milik Negara. Milik seluruh<br>rakyat<br>> Indonesia. Keuntungan BUMN, akan masuk ke APBN untuk<br>mensejahterakan rakyat.<br><br><br>Ini sudah membuat asumsi bahwa BUMN akan menguntungkan. In reality<br>banyak perusahaan yang dipimpin oleh negara malah jadi merugikan<br>negara itu sendiri. Contohnya Cina, mengapa Cina harus berpindah ke<br>privatisasi, karena perusahaan pemerintah ini belum ada yang<br>menguntungkan pemerintah satupun juga. Ini contoh yang paling reality.<br><br><br>><br>> Ada pun jika diprivatisasi, entah dgn cara IPO/Go Public, maka<br>hanya akan<br>> dimiliki oleh segelintir spekulan pemilik modal.<br><br><br>Setiap perusahaan yang go public bisa dibeli sahamnya oleh seluruh<br>rakyat indonesia, ya sudah tentu harus punya uang untuk membeli.<br><br><br>Bukan oleh seluruh rakyat<br>> Indonesia. Keuntungannya hanya dinikmati oleh para pemegang saham.<br><br><br>Pemegang saham itu kan yang menaruh uangnya, mereka yang mengambil<br>resiko jika perusahaan itu rugi ya pemegang sahamnya juga rugi.<br>A pakah seluruh rakyat yang lain yang tidak memegang saham itu ada<br>haknya diperusahaan itu. Mereka tidak menaruh uang mereka, dan kalu<br>perusahaan rugi, mereka tidak akan rugi, mengapa mereka harus ada<br>haknya. Kalu semua perusahaan dibayar oleh pemegang saham tapi<br>dimiliki oleh seluruh rakyat, ya siapa yang mau menanamkan modalnya.<br><br><br>><br>> Banyak kasus BUMN yang Go Public, ujung2nya dimiliki oleh Big<br>Company/asing.<br>> Contohnya Indosat dan Telkom yang sebagian sahamnya dimiliki oleh<br>asing.<br>> Bahkan Indosat 85% sahamnya dipegang oleh swasta/asing. Sementara<br>pemerintah<br>> hanya 15%. Preskom Indosat adalah orang Singapura.<br>><br>> Ini tentu menyedihkan, karena Indosat dan Telkom adalah pemegang<br>monopoli<br>> satelit di Indonesia. Ini bukan cuma masalah ekonomi belaka, tapi<br>menyangkut<br>> kedaulatan negara. Karena wilayah "Frekuensi" untuk komunikasi di<br>Indonesia<br>> sudah dikuasai oleh asing. Stasiun TV, penerbangan, perhubungan<br>laut, Radio,<br>> telekomunikasi, semuga menggunakan satelit dan wilayah Frekuensi<br>tsb.<br><br><br>Pemegang saham telkom itu bukan bearti mereka memiliki wilayah<br>frekuensy di indonesia, tapi mereka mempunyai hak pakai. Dan hak hak<br>ini harus dibicarakan sebelumnya dengan pemerintah pusat. Kal;au<br>pemerintah pusat sudah menjual hak nya kepada investors asing ini, ya<br>siapa yang bodoh.<br><br>Saya bersyukur masih ada investors yang mau membeli telkom indonesia<br>ini, setahu saya telkom ini perusahaan yang hampir bankrut, bad<br>management, terlalu banyak orang bodoh yang mengatur perusahaan ini. <br>Kalau telkom ini perusahaan Amerika, ini sudah dipailit<br>kan. Jadi harus dicek dulu donk bukunya mereka dan operational nya<br>mereka, baru tahu bagaimana mereka ini memimpin perusahaan besar ini.<br><br>Siapa yang masih ingat dengan transaksi ATT diindonesia. Kita sudah<br>untung ATT mau membeli asset asset yang termasuk sampah dari telkom<br>ini.<br><br><br>><br>> Dengan dikuasainya Indosat oleh asing, maka segala hal tsb dikuasai<br>oleh<br>> asing. Mereka bisa mendengar percakapan telpon para pejabat kita<br>(bahkan<br>> presiden), serta melacak lokasinya jika mau. Inilah yang tidak<br>diperhatikan<br>> oleh para ekonom Neo Liberal.<br><br><br>Wah kok bisa begitu sih. Memiliki indosat bukan berarti bisa<br>mendengar pembicaraan presiden donk. Saya masih gak ngerti nih<br>relevennya.<br><br><br><br>><br>> Saya setuju untuk sektor2 tertentu privatisasi diperlukan. Tapi<br>sektor yang<br>> berhubungan dgn hajat hidup orang banyak, keamanan dan kedaulatan<br>negara,<br>> Negara harus memegang kendali.<br><br><br>Ini cuma pendapat seseorang saja. Menurut pendapat saya,semuanya ada<br>aturan mainnya. Kalau anda seorang yang berbisnis, maka anda akan<br>mengerti apa artinya tawar menawar. Berbisbis dengan siapapun juga<br>bukan berarti keamanan dan kadaulatan negara di sacrifice. Kedaulatan<br>negara dan keamanan negara itu hanya bisa dijual oleh pejabat pejabat<br>itu sendiri, tidak ada orang lain lagi yang bisa<br><br><br><br>><br>> HIDUP dengan mengontrak rumah bersama tiga rekan sopir lainnya,<br>pendapatan<br>> Rojikin memang tidak tetap. Saat penumpang ramai, dia bisa membawa<br>pulang Rp<br>> 50.000. Namun, begitu penumpang sepi, kerja 20 jam sejak subuh<br>hingga tengah<br>> malam, pendapatannya sehari setelah dipotong setoran, kadang hanya<br>untuk<br>> makan sehari itu saja.<br><br><br>Apa cerita ini harus ditanggung oleh perusahaan perusahaan atau<br>pemegang saham nya. Kan tidak ada yang bilang hidup ini harus<br>gampang, tapi kan yang penting jangan pesimis, harus optimis walaupun<br>hidup sederhana. Kemampuan seseorang kan berlainan.<br><br><br>><br>> Padahal, istri dan dua anaknya yang berada di Tegal menanti kiriman<br>uangnya.<br>> "Semua mahal, ongkos mahal, di kampung saja, untuk kebutuhan sehari-<br>hari<br>> istri dan anak saya menghabiskan biaya hidup Rp 25.000 sehari,"<br>katanya.<br>><br>> Membandingkan pendapatannya dengan harga beras yang kini ikut<br>melonjak,<br>> Rojikin mengatakan, pemerintah saat ini malah menind _______________________________________________ No banners. No pop-ups. No kidding. Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

