Wawancara Joss Wibisono, 6 September 2004

Betapa Jengkelnya Harto sama Benny, Ini Anak Udah Nggak Tahu Diri I

 


 

Ben Anderson
Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani telah tiada. Inilah seorang jenderal yang 
tersohor, sekaligus kontroversial. Buku otobiografinya menyebutnya sebagai 
negarawan-prajurit. Media massa Indonesia melihat dua sisi, sisi kemiliterannya dan 
sisi kepatriotannya, namun banyak kelompok masyarakat di Indonesia menilainya sebagai 
pelanggar hak-hak asasi manusia. Tentang perjalanan dan liku-liku karier politik Benny 
Moerdani, Radio Nederland mengadakan percakapan panjang lebar dengan Profesor Benedict 
Richard O'Gorman Anderson, guru besar Cornell University di Amerika Serikat. Terlebih 
dahulu, Indonesianis perintis kajian militer Indonesia ini meninjau persamaan dan 
perbedaan yang diamatinya antara Soeharto dengan Benny Moerdani.

Raja Siluman
Ben Anderson [BA]: "Saya kira besar. Sebagian memang karena kepribadiannya yang 
menakutkan. Bukan hanya kalangan sipil saja yang takut sama dia, tetapi banyak perwira 
juga takut sama dia. Bukan sebagai komandan, tapi sebagai pimpinan dari satu jaringan 
yang seolah-olah jaringan gaib."

"Zamannya dia, justru organisasi intel punya kekuasaan yang lebih besar dari 
orang-orang di lapangan. Semua asisten satu di mana pun di Indonesia, melapor langsung 
pada dia, di luar tidak perlu melalui komandannya. Jadi setiap komandan merasa selalu 
asistennya adalah juga pengawasnya. Ah ini berarti sangat berpengaruh. Dan dia memilih 
orang-orang yang dia merasa cocok untuk tugas ini. Kalau lihat background 
komandan-komandan zamannya Benny, hampir semuanya ada latar belakang di intel, atau 
pernah berdinas di intel."

"Ini baru mulai dirubah waktu Try Sutrisno menggantinya, karena Try bukan orang intel, 
dan gengnya dia juga bukan orang intel. Jadi orang lapangan mulai kembali lagi ke 
tempat yang penting. Jadi suasana yang bikin Benny sangat berpengaruh itu bukan 
komandan normal tapi anu, seperti raja siluman."

RN: "Ya, di situ kemudian terjadi keretakan hubungan Benny Moerdani dengan Soeharto. 
Keretakan itu terjadi di luar kebiasaan, karena Benny Moerdani waktu itu diberhentikan 
dari jabatan panglima ABRI sebelum SU MPR, sebelum Soeharto mengangkat kabinet 
barunya. Itu berbeda dengan tradisi-tradisi sebelumnya di bawah Jusuf, di bawah 
Panggabean segala macem. Bagaimana menurut anda keretakan itu terjadi? Mengapa terjadi 
keretakan hubungan antara Soeharto dengan orang yang paling dipercayainya, Benny 
Moerdani ini?"

Tidak Setia
BA: "Well, ini agak sulit diterka, dan masih diselubungi banyak misteri. Tapi 
kira-kira begini. Pada waktu dia menjadi Pangab, koran-koran, majalah-majalah semua 
menyebutnya sebagai orang nomor dua di Indonesia, bukan wapres. Dia sudah bercokol 
lama di pimpinan atas. Jadi ada perasaan mungkin di Istana bahwa Benny sudah mulai 
tidak setia lagi."

"Ada beberapa indikasi demikian. Umpamanya kembalinya Megawati itu sebenarnya 
dipelopori oleh Agum Gumelar dan Hendropriyono yang sekarang kepala BIN. Itu rasanya 
di luar rencananya Soeharto. Sehingga dipaksa dibikin kongres satu lagi untuk 
mengeluarkan Megawati, pimpinan lama dimasukkan."

"Kedua terasa bahwa waktu demonstrasi besar-besaran di Jakarta oleh PDI pertama, saya 
kira itu pemilihan tahun 1987, di mana ratusan ribu orang turun ke jalan di Jakarta 
dengan gambarnya Bung Karno dan sebagainya. Dan sama sekali tidak ada kaos oblong pake 
muka dari anu, Raja Harto."

King Maker
"Saya dengar dari beberapa orang bahwa sebagian dari duit, ongkosnya yang besar itu 
berasal dari Benny. Dan memang dia lebih committed kepada nasionalisme tulen, tapi 
dengan garis abangan. Jadi bisa dekat dengan Gus Dur, tentunya dekat dengan Katolik, 
dengan orang agama. Dia jelas anti Islam, secara instinktif daripada Soeharto. 
Soeharto itu kalau perlu ya pake kartu Islam bisa, pake kartu yang lain-lain juga 
bisa. Jadi makin garisnya Benny itu seolah-olah mempersiapkan diri sebagai King Maker 
kalau Soeharto mati atau keluar dari jabatannya, ini makin tidak disenangi oleh 
Soeharto. Saya kira mungkin garis kerasnya di Timtim juga tidak membawa sukses." 

"Plus, ini rumor, enggak tahu bener atau enggak, tapi katanya Benny sudah protes ke 
Harto urusan anaknya yang merajalela, korupsinya bukan main banyaknya. Benny bilang 
bahwa ini nama bapak nanti akan rusak. Dan Harto katanya marah. Dia bilang itu bukan 
urusanmu, urusan keluarga saya, dan sebagainya. Apa ini bikinan orangnya Benny setelah 
jatuhnya saya enggak bisa menentukan. Tapi saya kira mungkin ada. Tapi itu juga 
dianggap oleh Soeharto bahwa ini bukan asisten setia. Ini udah berani punya pikiran 
sendiri, udah berani bikin policy sendiri. Dan karena itu dia mulai cemas terhadap 
Benny."

Topeng Islam
"Tidak lama setelah Benny jatuh, Soeharto pasang topeng Islamnya, naik pesawat ke 
Mekkah, main kartu ICMI dan sebagainya. Dan mulai membersihkan tentara dari 
orang-orang yang dianggap terlalu dekat dengan Benny. Tapi saya kira faktor yang 
pertama bahwa Benny sudah jelas membuka kartu bahwa dia ingin supaya partai abangan 
tetap di atas."

RN: "Sejauh mana menurut anda masalah Prabowo yang waktu itu masih menantunya Soeharto 
merupakan penyebab retaknya hubungan Benny Moerdani dengan Soeharto?"

Hubungan Prabowo-Benny
BA: "Saya kira tidak terlalu penting. Ini kan masalah dengan Benny mulai tahun 1986, 
di mana Prabowo bukan faktor yang penting. Kita masih harus nunggu 10 tahun lagi baru 
Prabowo menjadi orang yang perlu diperhitungkan."

"Masalah ini lebih bisa dilihat dalam hubungannya dengan diangkatnya Wismoyo sebagai 
KSAD, sebagian karena Wismoyo itu, walaupun orang RPKAD dan sebagainya, tapi dia kawin 
dengan adiknya Bu Tien. Dan diketahui pada waktu itu kalau ada masalah di mana Benny 
dan Wismoyo 100% akur, walaupun Wismoyo sendiri bukan orang yang kuat. Baik dari sudut 
intelegensi mau pun dari sudut lain-lainnya, toh Wismoyo bisa langsung ke Istana di 
luar garis, melalui istrinya dan hubungan keluarga."

"Benny pada waktu itu sudah gak seneng. Artinya bahwa hirarki disiplin ABRI harus 
otonom. Dan ini dirusak oleh hubungan seperti itu. Apalagi waktu Prabowo sudah dengan 
sombongnya dan ambisinya terlalu terang main ke Istana, walau pun dia jauh di bawah 
Benny. Dan Benny merasa bahwa kalau orang seperti ini dibiarkan, itu susah nanti di 
tentara. Jadi ada kesan bahwa Prabowo merasa kariernya dihambat oleh Benny. Bukan 
karena Islamnya, karena waktu itu Prabowo Islamnya belum ada apa-apanya. Baru 
belakangan dipakai sebagai kartu. Tapi kan dia main Istana."

Demikian perbincangan panjang lebar dengan Profesor Benedict Richard O'Gorman 
Anderson, pakar Indonesia dari Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat. 
Wawancara selanjutnya dapat anda baca dalam "2":


Wawancara Joss Wibisono, 6 September 2004

Betapa Jengkelnya Harto sama Benny, Ini Anak Udah Nggak Tahu Diri II

 

Episode terpenting dalam kehidupan mendiang Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani, 
terpenting baginya dan tentu saja penting bagi perjalanan politik Indonesia, adalah 
masa jayanya dan masa kelamnya di bawah orde barunya Presiden Soeharto. Benny menjadi 
raja intel selama 15 tahun, ditakuti rekan dan bawahannya dan diperalat, tapi akhirnya 
dicemaskan juga oleh Soeharto. Ujung akhirnya Benny yang menyebut diri sudah hitam 
dihadapan Soeharto berperan kunci menaikkan pamor politik Megawati Soekarnoputri. Kini 
apa yang perlu dikenang tentang Benny Moerdani? Berbagai koran internasional 
menyebutnya sebagai tokoh yang memimpin serbuan militer Indonesia ke Timor Timur 
Desember 1975. Apakah Timtim menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier Benny 
Moerdani? Lebih jauh wawancara Radio Nederland dengan Profesor Benedict Richard 
O'Gorman Anderson, guru besar Cornell University di Amerika Serikat. 

Benny di Timor Timur
BA: "Well, ini bisa dinilai begini. Kalau membaca biografinya yang dibuat oleh Julius 
Pour, yang sangat menarik dalam biografinya yang semula muncul dalam bahasa Inggris 
kalau tidak salah, adalah bahwa seluruh periode di mana Benny sebenarnya menentukan 
semuanya di Timtim tidak masuk. Yang masuk cuma satu bab tentang penyerbuan pertama 
pada akhir tahun 1975."

"Di sana dia sangat kritis terhadap pimpinan ABRI, yang pada waktu itu ya jelas 
jenderal Panggabean dan sebagainya, yang katanya sama sekali tidak mahir, sehingga 
waktu terjadi pendaratan di Dili malahan ada ABRI yang karena bengongnya menembak ABRI 
lain, dan banyak kekecewaan terjadi. Dan memang selama tahun 1975 1976, ABRI 
menghadapi perlawanan yang kuat di Timor Timur. Dan mereka hanya menguasai kira-kira 
sepertiga wilayah Timtim. Dia merasa bahwa ini suatu kegagalan yang pokok. Dan dia mau 
cuci tangan. Pokoknya seolah-olah dia mengatakan bahwa seandainya saya pimpinan pada 
waktu itu, saya bisa menentukan semuanya, semua kekonyolan ini tidak akan terjadi. Dan 
memang itu kalau omong dengan umpamanya tentara Amerika, opsir-opsir Amerika ya mereka 
bilang bahwa ini suatu operasi militer yang luar biasa amatirannya. So sampai ke mana 
dia betul-betul ikut dalam keputusan paling tinggi itu enggak jelas. Tapi jelas dia 
tidak mau ambil tanggung jawab waktu itu."

Raja Timtim
"Saya merasa bahwa dia mulai betul-betul menjadi raja di Timtim setelah kira-kira 
tahun 1977 sampai dia diberhentikan, dan itu dianggap sebagai daerahnya dia. Semuanya 
dipegang oleh Benny dan Harto tidak begitu perdulikan. Apa yang terjadi di situ 
terserah Benny. Mungkin dia happy bahwa Benny sibuk dan jauh di Timtim, jadi tidak 
bikin ribut di Jakarta."

"So, fakta bahwa masalah Timtim sama sekali tidak dibicarakan dalam suatu buku yang 
penuh dengan apa, bab tentang kehebatan saya begini, kemenangan saya begitu, 
kepinteran saya di sana lagi dan sebagainya, semua bersifat tepuk dada sendiri, 
sangatlah menarik melihat bahwa Timtim enggak ada. Jadi dia sendiri rupanya mengerti 
bahwa itu gagal berat. Dengan korban yang seperti kita ketahui ratusan ribu orang. 
Jadi kalau itu dianggap satu sukses tidak."

Banyak Kegagalan
"Kalau dianggap bahwa masalah Tanjung Priok itu sukses ya untuk sementara dianggap 
demikian. Tapi luka-luka terhadap dunia Islam di Indonesia cukup mendalam sampai 
sekarang. Jadi untuk jangka panjang saya kira itu kegagalan. Jangka pendek mungkin 
dianggap kemenangan."

"Jadi kalau kita pikirkan hasil-hasil policy Benny yang sangat represif itu malah 
menimbulkan belakangan banyak sekali pertentangan pertentangan yang akhirnya setelah 
Soeharto jatuh, keluar dalam bentuk bentrokan yang berdarah dan sebagainya. Jadi 
warisannya cukup menyedihkan."

"Satu-satunya sukses dia yang jelas sukses adalah anu, operasi terhadap pesawat Garuda 
yang dibajak di Bangkok. Waktu itu orang-orang yang membajak dibunuh semua dan kalau 
tidak salah penumpang-penumpangnya selamat, di bawah pimpinan si Sintong Panjaitan. 
Sintong ini kemudian dikorbankan dalam peristiwa Santa Cruz dan itu setelah Benny 
jatuh."

RN: "Apakah menurut anda tubuh ABRI ini sekarang sudah bisa "dibersihkan" dari 
pengaruh Benny Moerdani?"

Pembersihan terhadap Tentara
"Well ini agak sulit. Harus diingat bahwa mulai pada awal 1980an, struktur usia dalam 
tentara sudah mulai normal. Si jenderal usianya 55, si kolonel 45, si kapten usianya 
30 dan sebagainya. Sebelumnya tidak pernah terjadi karena semua orang masuk tentara 
revolusi pada waktu yang sama. Panglimanya, Jenderal Soedirman menjadi panglima pada 
usia 28 bukan 58. Nah dalam seperti itu di mana enggak mungkin orang main peranan yang 
penting di tentara lebih dari empat � lima tahun, karena masa pensiun sudah 
ditentukan, jadi boleh dikatakan bahwa faktor yang utama dalam perobahan personil di 
ABRI ditentukan oleh masa pensiun."

"Benny sudah jatuh tahun 1988. Ya tidak jatuh 100% karena masih menjabat menteri 
pertahanan, tapi jangan lupa bahwa pada waktu Benny menjabat Pangab, dia sudah 
berhasil mengebiri hankam, menjadi cuma badan administratif. Sehingga waktu 
dipindahkan ke sana, dia enggak punya alat yang penting lagi untuk menguasai angkatan 
bersenjata." 

"Ini sudah 2004, artinya sudah 16 tahun setelah dia berhenti sebagai Pangab. Jadi 
boleh dikatakan semua orang-orang dari angkatan opsir-opsir yang lulusan AMN dan 
sebagainya, yang menjadi bawahan langsungnya, pro atau anti, mereka sudah pensiun. 
Jadi yang pembersihan terhadap tentara lebih banyak disebabkan oleh usia dan 
sebagainya, daripada pembersihan langsung yang dilakukan Soeharto dan sebagainya."

"Itu memang ada pada awal tahun 1990an, di mana Soeharto mulai mendekati orang-orang 
Islam yang pada waktu itu mau didekati. Jadi pembersihan oleh Soeharto sendiri 
terhadap orang yang paling dekat dengan Benny memang terjadi, tapi setelah itu 
pengaruhnya lama-lama digerogoti oleh faktor normal, faktor usia."

RN: "Yang juga menarik adalah sampul biografinya Benny Moerdani itu dipasang foto 
ketika dia mendapat tanda jasa dari Soekarno. Sebenarnya puncak karier dia kan pada 
zaman Soeharto. Buku itu terbit ketika dia tidak lagi menjadi orang kepercayaan 
Soeharto kan?"

Mengagumi Soeharto
BA: "Saya kira dalam hal ini bagaimana pun dia sangat anti komunis dan anti Islam. 
Tapi enggak ada yang menyangsikan semangat nasionalisnya. Dan walau pun dia tidak 
setuju dengan banyak hal yang dilakukan oleh Soekarno, saya kira dalam hati kecil dia 
juga mengaguminya. Mungkin kalau Benny ini seorang sipil dia akan masuk, saya yakin, 
dia akan masuk PNI sayap kanannya."

"Jadi kalau dia akhirnya mendorong Agum dan Hendro untuk mendukung Megawati, saya kira 
itu tindakan pertama yang bikin, dan berhasil, Istana kaget dan dongkol. Saya kira 
sentimen anti Mega nggak ada. Dan bagian tertentu warisan Soekarno dia juga bisa 
setujui." 

"Bagaimana pun dia orang Cepu kan? Bapaknya pegawai negeri di jawatan kereta api. Dia 
dibesarkan dalam lingkungan Jawa, dan walau pun ada Katoliknya, tapi saya kira 
outlooknya juga sangat ditentukan oleh alam latar belakang kebudayaannya."

Kerakusan Harto Tidak Bisa Direm
"Dia memang tidak miskin, tapi Benny juga kalau dia bikin korupsi, memang cukup banyak 
di Timtim dan sebagainya, tapi kesan saya tidak dipakai untuk diri sendiri. Dipakai 
untuk apa yang dia merasa perlu, untuk policy, untuk ABRI dan sebagainya. Jadi mungkin 
dia sendiri melihat gerak-geriknya keluarga Istana, korupsi makin lama makin 
merajalela ke mana-mana, dengan anu, reaksi yang agak puritan. Merasa wah, kok jadi 
gini. Jadi mungkin kekagumannya terhadap Soeharto yang semula lama-lama mengurang. 
Karena melihat bahwa Harto sudah makin gak bisa direm lagi kerakusannya. Dan ini bikin 
masalah untuk negara."

"Itu bedanya. Jadi Benny itu saya kira nalurinya itu kuasa, mungkin cewek juga. Tapi 
kalau kekayaan saya kira enggak. Sedangkan Soeharto, kalau ceweknya mungkin tidak, 
tapi namanya kan harto. Jadi tidak mengherankan kalau satu targetnya adalah anu, 
menjadi kaya, luar biasa kayanya. Itu bedanya antara mereka. Sama-sama keras, 
sama-sama tertutup, sama-sama ganas, tapi mungkin Soeharto lebih lihai dan lebih 
oportunis dari Benny. Sehingga akhirnya menang." 

RN: "Waktu itu kan Benny Moerdani juga punya PT Dhenok kan di Timor Timur?"

BA: "Iya. Tapi kesan saya, itu sebagian besar dipakai untuk mengongkosi operasi 
militer. Saya tidak dapat kesan bahwa dia terlalu mewah dalam kehidupan sehari-hari." 

"Oh saya lupa satu hal tadi. Ini mungkin perlu disebut. Yaitu Benny Moerdani punya 
pengalaman di luar negeri yang jauh lebih besar dan jauh lebih beraneka warna daripada 
perwira apapun juga. Sebagian karena dekatnya dengan Amerika, sebagian karena 
tugas-tugas intelnya. Dia pernah berdinas lama di Singapura, trainingnya lama di 
Amerika, cukup lama di Korea. Sehingga dia punya temen-teman di luar Indonesia seperti 
Sultan Brunei, seperti Fidel Ramos yang waktu itu menjabat presiden Filipina dan 
sebagainya."

Soeharto Tersinggung
"Dan saya masih ingat betapa jengkelnya Harto ketika anaknya Benny kawin. Tahu-tahu, 
ini seharusnya urusan pribadi, tapi dia undang Sultan Brunei, Ramos dan sebagainya dan 
Soeharto merasa tersinggung. Masak bawahan saya panggil kepala negara, seolah-olah 
Soeharto sebagai kepala negara tidak digubris dalam hal ini. Itu juga membikin Harto 
merasa, wah ini anak yang sudah enggak tahu diri. Jadi ini salah satu faktor."

"Cari tentara lain yang punya koneksi-koneksi seperti ini jelas sulit. Kalau 
memikirkan orang seperti Hartono, Try Sutrisno, Faisal Tanjung, Wiranto, ya mereka 
dibandingkan dengan Benny itu istilahnya mungkin kuper, kurang pergaulannya."

Demikian perbincangan panjang lebar dengan Profesor Benedict Richard O'Gorman 
Anderson, pakar Indonesia dari Cornell University di Ithaca, Amerika 



H�strusk och gr� moln - k�p en resa till solen p� Yahoo! Resor

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke