�06 Sep 04 11:42 WIB
Kebebasan yang Membebaskan (Refleksi Kontroversi Film BCG)
WASPADA Online
http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=51176
 
Oleh A Fatih Syuhud *

Idealnya, setiap orang memiliki kebebasan personal plus tuntunan manual untuk 
menggunakannya secara diskriminatif. Lingkungan sosial hendaknya diciptakan guna 
mendorong orang untuk berpikir dan memahami bahwa kebahagiaan abadi bukan terletak 
pada kenikmatan sensual dan peningkatan level konsumsi, tetapi dari pengertian 
mendalam akan kebutuhan nurani dan berperilaku sejajar dengan kebutuhan nurani 
tersebut.

Kebebasan personal dalam kondisi semacam ini adalah kebebasan yang membebaskan. Tetapi 
apa yang harus dilakukan apabila kita mesti memilih antara "lingkungan diskriminatif" 
dan "kebebasan personal?" Apakah kondisi diskriminatif harus didahulukan dari 
kebebasan personal atau sebaliknya? Pertanyaan inilah yang sekarang lagi ramai 
diperdebatkan menyusul kontroversi film BCG (Buruan Cium Gue). 

Kebebasan personal dapat dikategorikan dalam dua tipe - kebebasan tak bermoral 
(licentiousness) dan kebebasan diskriminatif. Orang yang berperilaku asusila atau tak 
pantas tanpa memikirkan kepentingan jangka panjangnya masuk dalam kategori pertama. 
Orang semacam ini, atas nama kebebasan ekspresi, menggunakan kebebasannya untuk 
berperilaku asusila - minum alkohol dan narkoba, berzina, mencuri, berbaju tidak layak 
di depan umum, dan lain-lain. Sebaliknya, orang yang memikirkan konsekuensi jangka 
panjang sebelum berbuat dikatakan perilaku kebebasan diskriminatif. Tipe kedua ini 
akan berpikir mengapa ia tak bahagia mengendarai mobil, sementara yang lain sudah puas 
dengan memakai motor; mengapa ia tak puas mengendarai motor sementara yang lain 
bahagia naik bis kota. Atau, mengapa mabuk-mabukan di diskotik di suatu malam 
membuatnya tidak enak tidur. Jelas di sini, bahwa kebebasan personal itu merugikan 
sedang kebebasan diskriminatif dan selektif membebaskan. Kondisi sosial mempunyai 
dampak menentukan pada sikap kita dalam menggunakan kebebasan personal. Seperti dua 
putri kembar yang menikah dengan dua keluarga yang berbeda dan tumbuh dalam karakter 
yang berbeda setelah 20 tahun. Yang satu menikah dengan seorang ulama atau pendeta 
aktif dalam berbagai aktivitas keagamaan. Sedang yang lain menikah dengan seorang 
pebisnis selalu ingin memamerkan kekayaan dalam setiap pertemuan sosial dengan 
mengenakan baju dan perhiasan mahal. Kedua putri kembar itu mewarisi kedua tendensi, 
tetapi perkembangan mereka tidak sama karena ditempatkan dalam kondisi sosial yang 
berbeda. 

Setiap individu ingin berbahagia dan memiliki hak kebebasan dasar untuk mencari 
kebahagiaan sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi masyarakat memiliki tanggung jawab 
untuk membantunya menggunakan kebebasan itu dengan benar. Kondisi sosial harus 
mendorong orang untuk menggunakan kebebasan mereka secara selektif dan diskriminatif 
daripada hanya digunakan untuk memenuhi keinginan asusilanya.

Produser film dan sinetron memiliki hak dan kebebasan untuk memproduksi film apapun. 
Akan tetapi, apabila kebebasan itu digunakan untuk mempromosikan nilai-nilai vurgar 
dan amoral di kalangan generasi muda, maka hal ini hanya akan menggiring generasi 
mendatang pada kebebasan yang tidak bertanggung jawab; kebebasan artifisial yang 
dampak negatifnya sudah mulai kita lihat dan saksikan bersama.

Benar, setiap orang hendaknya mendapatkan hak dan kebebasan untuk memilih gaya hidup 
yang dia suka, yang akan membuatnya bahagia. Ini artinya bahwa ia harus diberi 
kebebasan personal dan kondisi diskriminatif-selektif. Dari dua hal tersebut, kondisi 
diskriminatif jauh lebih penting. Seseorang yang hidup dalam lingkungan semacam itu, 
dengan kebebasan personal agak terbatas, akan tetap bergerak maju -walau agak lambat. 
Akan tetapi, seseorang yang memiliki kebebasan personal dalam lingkungan asusila akan 
merugikan dirinya sendiri dengan berperilaku yang berlawanan dengan kepentingan jangka 
panjangnya. Kemajuan yang lambat akan lebih baik dari pada bergerak mundur. Jadi, 
kondisi diskriminatif dan selektif hendaknya lebih didahulukan daripada kebebasan 
personal.

Memang, United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan dalam edisi terbaru 
Human Development Report (HDR) bahwa kebebasan personal merupakan nilai final. 
Sayangnya, HDR tidak menyinggung peran lingkungan. Ia memberi contoh Mahatma Gandhi 
yang menggunakan kebebasan personalnya, setelah melakukan refleksi mendalam, untuk 
memperjuangkan Kemerdekaan India bukan mencari profesi hukum di Inggris yang lebih 
menjanjikan. UNDP mengatakan bahwa setiap individu harus memiliki kebebasan itu guna 
dapat hidup menurut konsepsinya sendiri sebagaimana Gandhi memiliki kebebasan memilih 
aktivitas yang dia suka.

Argumen UNDP ini tentu saja sangat valid. Akan tetapi perlu ada jaminan bahwa kondisi 
sosial juga sudah mapan. Gandhi hidup dalam lingkungan sosial yang membuatnya 
termotivasi melakukan pemikiran diskriminatif-selektif. Seorang anak besar kemungkinan 
akan menjadi pencuri apabila ia dibebaskan hidup dalam lingkungan pencopet. Kebebasan 
itu membebaskan dalam suatu lingkungan diskriminatif-selekif dan akan merusak dalam 
lingkungan sosial asusila. UNDP lupa poin krusial ini. Sementara UNDP membuat contoh 
seorang Gandhi, ia lupa mencatat bahwa Gandhi menggunakan kebebasannya setelah 
refleksi mendalam. Kebebasan personal memang membebaskan dalam lingkungan 
diskriminatif-selektif. Tetapi UNDP mengacuhkan peran krusial lingkungan sosial dan 
menekankan kebebasan sebagai nilai yang berdiri sendiri. Akibatnya, pendekatan UNDP 
ini sejajar dengan seseorang yang menggunakan kebebasan personalnya untuk tujuan 
kesenangan sensual, vulgarisme dan berbagai aktivitas anti-sosial lainnya.

UNDP memberi label pada kultur yang tidak memberikan kebebasan personal sebagai tidak 
manusiawi (inhuman). Kultur Timur secara tipikal lebih memfokuskan "Realitas" dalam 
diri dari pada memperlebar kesenangan sensual. Ajaran Islam mendorong wanita untuk 
mengenakan jilbab agar tidak menciptakan daya tarik seksual dalam perkumpulan sosial. 
Tradisi Budha menganjurkan pemeluknya untuk mengikuti jalan tengah guna mencegah 
eksesivitas pada apapun. Tradisi Hindu menganjurkan kalangan muda untuk memilih 
pekerjaan seperti orang tuanya agar supaya ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk 
mempelajari cara baru untuk mendapatkan uang yang sama yang dapat ia capai lebih mudah 
dengan mengikuti tradisi keluarganya.

Agama lebih memberikan prioritas pada lingkungan diskriminatif-selektif dan, dengan 
demikian, kebebasan personal yang agak terbatas. Agama menolak kebebasan personal guna 
mendorong, bahkan memaksa, pemeluknya untuk melakukan kebebasan 
diskriminatif-selektif; persis seperti badan sensor film membatasi kebebasan pada 
film-film tertentu. Dus, lingkungan sosial diskriminatif harus lebih diprioritaskan 
walaupun musti mengorbankan kebebasan personal.

UNDP mengatakan bahwa restriksi pada kebebasan personal tidak baik, karena kebebasan 
personal merupakan nilai yang sudah terbukti (self-evident). Seseorang harus 
dibebaskan menonton film vulgar. Tidak ada bukti bahwa kebebasan personal semacam itu 
akan merusak atau merugikan. Implikasi dari pandangan UNDP ini adalah bahwa kebebasan 
asusila lebih baik daripada kebebasan restriktif-diskriminatif. UNDP mendorong 
kebebasan asusila dengan tidak membahas masalah lingkungan sosial. Ia menjustifikasi 
hubungan homoseksual dan lesbian (hal.19). UNDP mengatakan bahwa globalisasi harus 
diikuti total karena ia memberikan keuntungan ekonomi walaupun dapat berdampak 
kerusakan kultural (hal.20). Bahwa perkembangan kultural hendaknya tidak terlalu 
dipandang penting karena akan menghalangi kemajuan ekonomi (hal.41).

Jadi jelas, tujuan dari UNDP adalah mempromosikan konsumerisme dan asusila. 
Kesejahteraan jangka panjang individu dan masyarakat dikorbankan demi pertumbuhan 
ekonomi, konsumsi dan kebebasan personal. Pendapat yang sama juga dianut oleh kalangan 
pro-kebebasan berekspresi total yang memprotes himbauan Aa Gym dan MUI terhadap film 
BCG.

* Penulis adalam mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University dan Research 
Associate Zakir Hussein Institute of Islamic Studies New Delhi, India.

 



Redaksi Yth,

Berikut saya kirimkan artikel OPINI (via attachment). Mohon infonya kalau akan atau 
tidak akan dimuat.Terima kasih atas perhatiannya.

hormat saya,

A Fatih Syuhud
Mhs. Pascasarjana Ilmu Politik
Agra University, India 
HP: +91-9871180590
---------------------------------------
Rekening Bank:
Nama: Emha Timo
No.Rek: 317-0170414
BCA KCP GONDANGLEGI (MALANG)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke