Tulisan panjang tapi bagus dicermati.

 

YAHUDI SEBAGAI SIMBOL DALAM 
WACANA ISLAM INDONESIA MASA KINI*

 

Martin van Bruinessen


Kaset Qur'an dan konspirasi Yahudi

Pada tahun 1986 seorang ulama di Bima mengeluh kepada peneliti dari LIPI tentang 
keberadaan kaset rekaman bacaan Al Qur'an yang dijual di mana-mana. "Sekarang semakin 
banyak orang puas dengan menyetel kaset saja, mereka tidak berminat lagi untuk belajar 
qira'ah Al Qur'an sendiri." Berbagai teknologi baru, menurut hematnya, sangat 
membahayakan agama Islam. Ia mencurigai gejala ini berkaitan dengan konspirasi 
Yahudi-Zionis untuk menghancurkan Islam. Dalam ceramah-ceramahnya, ia sering 
menyinggung ancaman-ancaman Yahudi terhadap Islam. Ulama yang pernah bermukim di 
Makkah selama beberapa tahun ini, menceritakan kepada peneliti tadi bahwa ia banyak 
tahu tentang tipu daya Yahudi itu dari majalah-majalah yang diterimanya dari Rabithah 
Al-`Alam Al-Islami (Al-Rabithah dan Muslim World News); selain mengutip pula buku yang 
bernada ancaman terhadap kemajuan dan perkembangan Islam di dunia seperti Al-Maka'id 
al-Yahudiyah dan Rencana Yahudi terhadap Penghancuran Islam. Ketika peneliti bertanya
 gejala apa di Indonesia yang dianggapnya sebagai aktivitas Yahudi-Zionis, ditudingnya 
organisasi-organisasi seperti Lions Club.[1]
 

Yahudi sebagai ancaman terhadap nilai-nilai tradisional 

Kasus ulama Bima di atas mengejutkan saya karena merupakan pertemuan pertama saya 
dengan semangat anti-Yahudi yang bukan anti-Israel saja di Indonesia. Di Bima, tentu 
saja, tidak ada orang Yahudi, dan andaikata terdapat Lions Club pun pastilah bukan 
mereka yang mengedarkan kaset Muammar Z dan qari-qari lainnya. Mengapa ungkapan 
keprihatinan sang ulama mengaitkannya dengan Yahudi? Ternyata ia tidak sendirian; 
beberapa tahun terakhir kian sering kita menjumpai kata "Yahudi" dipakai sebagai 
julukan negatif bagi perkembangan, pemikiran atau sikap yang dianggap membahayakan 
umat Islam. "Yahudi" telah menjadi simbol dari sesuatu yang tak mudah diungkapkan 
secara eksplisit. Yang dimaksudkan, agaknya, bukan agama Yahudi, dan bukan juga 
kebijaksanaan resmi pemerintah Israel atau pun kelompok Zionis ekstrim, melainkan 
sesuatu yang lebih abstrak dan tersembunyi.

            Ada dua hal menarik berkenaan dengan munculnya Yahudi sebagai simbol dalam 
wacana Islam di Indonesia. Pertama, Yahudi seringkali disebut dalam konteks 
kekhawatiran tentang adanya konspirasi untuk menghancurkan Islam. Banyak aspek proses 
modernisasi, berikut sekularisasi dan rasionalisasi, pergeseran nilai-nilai 
tradisional, globalisasi ekonomi dan budaya, individualisme dan hedonisme dilihat 
sebagai hasil rekayasa, bukan proses yang berdiri sendiri. Semua perkembangan barusan 
diduga kuat telah direncanakan dan dilaksanakan oleh persekongkolan yang memusuhi 
Islam dan ingin menghancurkannya. Konspirasi rahasia tersebut diidentikkan dengan 
Yahudi dan Zionis; tetapi setiap orang yang dianggap berjasa demi tujuan 
persekongkolan tersebut, walaupun agama dan kebangsaannya berbeda, bisa saja dijuluk 
Yahudi.

            Kedua, teori-teori konspirasi dan kecenderungan untuk mengkambinghitamkan 
Yahudi tentu saja tidak lahir di Indonesia melainkan berasal dari negara-negara Arab - 
utamanya Arab Saudi, Kuwait dan Mesir. Menyembulnya kebencian kebanyakan orang Arab 
saat ini kepada orang Yahudi tak bisa dilepaskan dari masalah Palestina. Keprihatinan 
tentang Zionisme Israel sangat wajar. Meski di sini perlu ditambahkan, kepercayaan 
akan adanya konspirasi Yahudi untuk menghancurkan Islam dan menguasai seluruh dunia 
bukan hanya reaksi terhadap eksistensi Israel saja, dan sesungguhnya juga disebabkan 
penyebaran antisemitisme Barat ke negara-negara Arab.

            Sumber yang seringkali menjadi rujukan, yaitu Al-Maka`id Al-Yahudiyah 
alias Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion alias Ayat-Ayat Setan Yahudi, merupakan 
hasil fabrikasi beberapa orang anti-Yahudi Rusia dan kemudian dipergunakan sebagai 
alat propaganda oleh Nazi Jerman. Buku inilah yang pernah merupakan legitimasi utama 
bagi pembunuhan massal terhadap orang Yahudi oleh Nazi Jerman. Protokol-protokol konon 
terdiri dari notulen pemerintah rahasia Yahudi tentang strategi mereka untuk menguasai 
dunia, melalui kapitalisme maupun komunisme, demokrasi maupun kediktatoran, revolusi 
maupun liberalisasi ekonomi. Pada dasawarsa 1950-an edisi Arabnya terbit, dan 
belakangan beberapa kali diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Editor-editor 
Indonesianya tampaknya tidak menyadari bahwa buku ini bukan dokumen sejarah benar 
melainkan pemalsuan oleh kalangan antisemitis.
 

Yahudi, Freemason dan kemodernan 

Antisemitisme (sikap anti-Yahudi) di Eropa memuncak pada penghujung abad ke-19 dan 
berkaitan erat dengan kemodernan. Antisemitisme merupakan reaksi terhadap arus 
perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat serta berkembangnya kapitalisme modern, 
terhadap gerakan-gerakan liberalisme dan sosialisme, republikanisme dan sekularisme - 
yakni terhadap memudarnya privilese-privilese lama. Dari sinilah muara adanya 
keyakinan kuat bahwa semua perubahan sosial dan politik tidak disebabkan oleh dinamika 
perkembangan sistem ekonomi kapitalis melainkan direncanakan oleh sebuah 
persekongkolan orang yang ingin mendominasi seluruh dunia: Yahudi dan/atau Freemasonry 
(Vrijmetselarij).

            Yahudi dengan mudah menjadi sasaran tudingan karena mereka tampak 
beruntung dengan perubahan masyarakat tersebut. Dalam masyarakat Eropa tradisional, 
orang Yahudi sebagai minoritas agama dikucilkan dan biasanya tidak diperbolehkan 
berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat: politik, pemilikan tanah dan 
banyak jenis pekerjaan dilarang bagi mereka. Runtuhnya tatanan sosial tradisional dan 
perkembangan ke arah masyarakat industri berarti juga berakhirnya larangan lama dan 
kemungkinan mobilitas sosial bagi semua orang Eropa termasuk Yahudi. Bagi golongan 
yang telah menghilangkan privilese lama dalam proses modernisasi ini, atau yang 
merindukan masyarakat tradisional, Yahudi menjadi simbol dari semua perubahan yang 
terjadi; sikap anti-kemodernan diungkapkan dalam bentuk antisemitisme.

            Freemasonry memang merupakan organisasi rahasia, agak mirip tarekat dengan 
ritual dan ajaran yang tak boleh dijelaskan kepada orang luar, tetapi menegaskan nilai 
humanisme (kemanusiaan) ketimbang nilai religius tradisional. Didirikan di London pada 
1717, Freemasonry dengan cepat tersebar di negara-negara Eropa dan telah menjadi musuh 
bebuyutan Gereja Katolik. Sejumlah pemikir, politisi dan seniman paling terkemuka 
telah masuk Freemasonry: Goethe, Kant dan Hegel di Jerman, Mozart dan Haydn di 
Austria, Voltaire, Rousseau dan Diderot di Perancis, George Washington dan Benjamin 
Franklin di Amerika. Pada abad ke-19, Freemasonry oleh kawan maupun lawannya dikaitkan 
dengan ide-ide Revolusi Perancis dan dengan kemodernan. Tidak terlalu mengherankan 
jika Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad `Abduh menjadi anggota Freemasonry sewaktu 
keduanya berada di Perancis. Sebagai organisasi, Freemasonry tidak mempunyai hubungan 
khusus dengan keyahudian. Di antara anggotanya memang dijumpai
 sejumlah orang Yahudi, namun mereka relatif sedikit.[2] Kebetulan saja keduanya telah 
menjadi simbol dari semua perubahan yang mengancam dunia tradisional.
 

Lahirnya gerakan Zionisme 

Sebagai reaksi terhadap antisemitisme, gerakan Zionisme secara bersamaan lahir pada 
saat itu pula. Theodor Herzl menulis bukunya Negara Yahudi pada tahun 1896; Muktamar 
Zionis pertama diselenggarakan di kota Basel, Swis, pada tahun 1897. Para pendiri 
gerakan ini terdiri dari orang Yahudi sekuler dari Jerman dan Austria. Bagi mereka 
keyahudian merupakan identitas nasional, bukan identitas agama, dan Zionisme adalah 
nasionalisme dari suatu bangsa yang belum mempunyai negara. Cita-cita mereka, 
mendirikan sebuah negara nasional yang sekuler bagi orang Yahudi. Lahirnya gerakan 
Zionisme tidak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi; faktor pendorong utama adalah 
keberadaan Yahudi hanya sebagai golongan etnis berstatus "pariah". Namun pilihan 
mereka akan Palestina sebagai "rumah nasional" bagi bangsa Yahudi tentu saja 
mengaitkan cita-cita mereka dengan sejarah sakral Yahudi yang tercantum dalam kitab 
suci Taurat. Hal itu belakangan menyebabkan gerakan Zionisme semakin diwarnai 
simbol-simbol
 keagamaan.
 

Asal-usul "Protokol Zion" 

Buku Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion disusun sekitar saat itu pula -- hanya saja 
tidak oleh para pemimpin gerakan Zionis seperti yang diklaim penyusunnya. Sebagian 
besar buku ini dicuplik begitu saja dari sebuah roman berjudul Dialog dalam Neraka 
antara Montesquieu dan Machiavelli, yang ditulis sekitar 1864 oleh seorang pengacara 
Perancis, Maurice Joly, sebagai kritik terselubung terhadap diktatur Kaisar Napoleon 
III. Dalam buku ini Montesquieu menyuarakan pendapat liberal dan demokratis (yang 
agaknya merupakan pendapat pengarang), sedangkan Machiavelli memberi alasan bernada 
sinis bagi sistem kekuasaan diktatorial. Secara blak-blakan ia mengusulkan sejumlah 
tindakan dan kebijaksanaan untuk menipu dan memanipulir rakyat. Yang diusulkannya, 
tidak lain, tindakan dan kebijaksanaan Kaisar Napoleon, yang tujuannya lazim berkedok 
di belakang perkataan manis dan indah. Buku Joly ini sama sekali tidak ada sangkut 
pautnya dengan "masalah Yahudi".

            Penyusun Protokol mengambil alih perkataan sinis Machiavelli tersebut yang 
seolah-olah diusulkan sebagai kebijaksanaan oleh suatu komite rahasia tokoh Yahudi. 
Perkataan Montesquieu juga diambil alih agar mengesankan bahwa semua gerakan yang 
melawan status quo, dari liberal moderat sampai sosialis radikal, merupakan bagian 
dari komplotan Yahudi jahat yang ingin menghancurkan dunia Kristen. Walau sulit 
menentukan secara pasti siapa sesungguhnya yang menyusun naskah Protokol yang kemudian 
digunakan untuk edisi cetakan pertama, namun terdapat banyak petunjuk bahwa P.I. 
Rakhkovsky, kepala dinas rahasia Rusia di Perancis 1884-1902, telah memainkan peranan 
besar.[3]

            Tidak sangsi lagi bahwa Protokol-Protokol ditulis di Perancis; dugaan ini 
diperkuat utamanya oleh adanya rujukan pada situasi dan peristiwa di Perancis 
dasawarsa 1890-an. (Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak mungkin ada kaitan dengan 
gerakan Zionisme saat itu, yang didirikan orang Yahudi berbahasa dan budaya Jerman.) 
Semua perubahan masyarakat - transformasi ekonomi, modernisasi, pembangunan kereta api 
di bawah tanah di Paris, slogan-slogan revolusi Perancis, cita-cita demokrasi, 
sosialisme, liberalisme digambarkan sebagai kiat Yahudi untuk menggoyangkan sistem 
yang mapan sehingga mereka bisa menguasainya. Menurut "editor"nya, teks yang asli 
konon telah dicuri dari rumah seorang pengurus Freemasonry. Demikian Freemasonry 
sekaligus dilibatkan dalam teori-teori konspirasi Yahudi dan ditunjukkan sebagai salah 
satu organisasi rahasia Yahudi.
 

"Protokol Zion" dan antisemitisme di Eropa 

Protokol-Protokol pada awalnya diterbitkan di Rusia dan turut menyebabkan 
pogrom-pogrom (pembantaian massal) terhadap Yahudi. Hitler menganggap buku ini sangat 
berguna sebagai bahan propaganda. Meski ia sendiri barangkali percaya pada teori 
konspirasi Yahudi, namun ia juga sangat sadar akan manfaat buku ini dan semboyan 
"bahaya Yahudi" dalam usaha mencapai kesatuan orang Jerman dan para simpatisan fasis 
di luar negeri. Lebih dari 100.000 eksemplar dicetak di Jerman saja, dan terjemahan 
Inggrisnya sangat laku di Inggris dan Amerika Serikat. Barulah setelah Perang Dunia 
Kedua - atau lebih tepatnya, setelah berdirinya Israel dan pengusiran sebagian orang 
Palestina oleh kaum Zionis - buku ini mulai dikenal di dunia Arab dan cepat menjadi 
buku pegangan.
 

Antisemitisme tidak memerlukan adanya Yahudi 

Propaganda anti-Yahudi Jerman juga mencapai Jepang, negara yang tidak dijumpai adanya 
Yahudi sama sekali. Tetapi "konspirasi Yahudi untuk menguasai dunia" oleh pihak 
militer Jepang pernah digunakan pula sebagai legitimasi bagi serangannya terhadap Cina 
Kuo Min Tang, yang mereka sebut sebagai bagian dari konspirasi Yahudi.

            Di Eropa dan Amerika Serikat juga terlihat tidak adanya korelasi yang kuat 
antara jumlah orang Yahudi di suatu daerah dan tingginya antisemitisme. Baik di 
Perancis maupun di Amerika antisemitisme pernah sangat merakyat di beberapa daerah 
yang nyaris tidak mempunyai penduduk Yahudi. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah 
terbelakang. Yang dibenci orang antisemit di sana, agaknya, bukan orang-orang Yahudi 
tertentu melainkan budaya perkotaan dan kemodernan pada umumnya.
 

Antisemitisme dan Zionisme, dua sekutu 

Di Eropa, antisemitisme dan Zionisme pernah saling memperkuat (dan sampai sekarang, 
agaknya, saling memerlukan). Terdapat kepentingan bersama: para Zionis ingin mengajak 
orang Yahudi dari Eropa ke negara yang ingin diciptakan, sedangkan para antisemit 
merencanakan "pembersihan etnis". Keberhasilan kedua gerakan politik tersebut 
merupakan salah satu tragedi terbesar abad ke-20.

            Dengan demikian, keberadaan Israel sebagai negara Yahudi merupakan 
"hadiah" antisemitisme Eropa kepada Timur Tengah. Sangatlah ironis bahwa orang Arab 
kemudian secara tidak kritis juga mengambil alih ide-ide antisemitis dari Eropa.
 

Dunia Islam dan Yahudi 

Keberadaan orang Yahudi di dunia Islam pada masa lalu umumnya lebih baik daripada di 
Eropa. Bukan berarti tidak ada diskriminasi atau kebencian terhadap mereka, tetapi 
sebagai ahl al-kitab mereka lazimnya dilindungi. Di Eropa mereka barulah memperoleh 
hak-hak bersamaan masa transisi dari masyarakat pertanian ke masyarakat perkotaan dan 
industri.[4] Kebebasan yang mereka peroleh menimbulkan reaksi; sikap anti-Yahudi 
berkaitan erat dengan dengan sikap anti-kemodernan. Antisemitisme merupakan salah satu 
gejala protes terhadap perubahan.

            Dalam Islam, tidaklah sulit mencari pembenaran religius untuk membenci 
Yahudi. Dan belakangan ini kami sering menjumpai pembenaran ini seolah-olah bagian 
esensial dari Islam. Terdapat sejumlah ayat Qur'an yang mengutuk orang Yahudi Madinah 
dan sekaligus bisa ditafsirkan sebagai anjuran untuk senantiasa mencurigai dan 
membenci kaum Yahudi.[5] Tetapi sebenarnya ayat-ayat ini baru belakangan menjadi 
begitu populer. Asal-usul kebencian yang sesungguhnya, tentu, keberadaan negara Israel 
di tengah negara-negara Arab, dan kekuatan dahsyat tentara Israel. Ayat-ayat Qur'an 
tersebut memberikan legitimasi belakangan kepada kebencian yang disebabkan oleh 
kejadian politik. Tulisan Arab anti-Yahudi, agaknya, lebih diwarnai oleh pengaruh buku 
antisemit Barat seperti Protokol-Protokol ketimbang ayat-ayat Qur'an yang berkaitan 
dengan Yahudi. Sebagian besar buku mengenai "bahaya Yahudi" yang diterbitkan di dunia 
Arab merujuk kepada Protokol-Protokol dan tokoh-tokoh antisemit Barat; hanya
 beberapa saja yang bertolak dari analisa ayat-ayat Qur'an.
 

Palestina: nasionalisme atau Islam? 

Kekalahan militer negara-negara Arab oleh Israel menimbulkan persepsi bahwa sosialisme 
dan nasionalisme telah gagal sebagai ideologi yang layak, dan mendukung munculnya 
"alternatif Islam" yang sejak dulu disponsori Arab Saudi. Lahirnya ideologi Islam 
politik akhir-akhir ini (terutama varian konservatifnya) berkaitan erat dengan faktor 
keberadaan Israel. Faktor lain yang berperan, tentu saja, minyak dan kenaikan harga 
minyak sejak 1973 (berkaitan langsung dengan perang Arab-Israel dan boikot minyak). 
Dengan kenaikan harga minyak, orang Arab secara berangsur kian diperhatikan Barat, dan 
perasaan harga diri orang Arab turut terangkat. Di sini kemudian wacana dominan 
tentang Israel mulai bergeser dan ditentukan oleh Arab Saudi daripada Mesir dan 
berubah dari wacana nasionalis (Israel lawan Arab) menjadi wacana agama (Yahudi lawan 
Islam).
 

"Protokol Zion" di Indonesia 

Perbincangan bertema Yahudi, Zionisme dan Israel di kalangan Islam Indonesia cenderung 
dipengaruhi oleh buku Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion dan tulisan antisemitis 
Barat lainnya. Setelah perjanjian perdamaian antara Israel dan Organisasi Pembebasan 
Palestina ditandatangani (September 1993), majalah Panji Masyarakat dan Al-Muslimun 
memuat laporan khusus tentang Yahudi dan Zionisme yang tidak hanya berisi opini dan 
analisa situasi politik saja tetapi juga menguraikan lagi tentang konspirasi Yahudi 
berdasarkan Protokol-Protokol sebagai "bahan bukti".[6] Tidak mudah memastikan sejak 
kapan buku tersebut diketahui di Indonesia. Menurut laporan di Panjimas tadi, majalah 
ini pernah memuat artikel panjang mengenai "Ancaman Ular Simbolik Yahudi" (salah satu 
tema dari Protokol-Protokol) pada tahun pertama penerbitannya, yaitu 1959.[7] Dan itu 
pun mungkin bukan tulisan pertama tentang konspirasi rahasia Yahudi untuk 
menghancurkan Islam. Namun jika dicermati pada dasawarsa 1950-an dan
 1960-an tulisan serupa ini belum banyak mendapat perhatian.

            Adalah Prof.Dr. Ahmad Shalaby, guru besar dari Mesir yang pernah mengajar 
di PTAIN di Yogyakarta pada dasawarsa 1950-an, yang agaknya memiliki andil dalam 
memperkenalkan Protokol-Protokol di Indonesia. Bukunya Perbandingan Agama: Agama 
Yahudi, yang rampung ditulis di Mesir pada tahun 1965, membicarakan panjang lebar 
Protokol-Protokol. Setelah membahas kitab Taurat dan Talmud sebagai pustaka keagamaan 
Yahudi, Shalaby menyuguhkan ringkasan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion, seolah-olah 
ini pula teks keagamaan Yahudi. Tidak jelas apakah Shalaby pada saat ia mengajar di 
Indonesia juga telah membicarakan teks tersebut; tampaknya masalah Yahudi waktu itu 
belum banyak menarik perhatian orang. Terjemahan Melayu buku Shalaby diterbitkan pada 
tahun 1977 di Singapura, dan terjemahan Indonesia baru pada tahun 1990. Buku ini 
sering dijadikan rujukan oleh penulis Indonesia. Dipengaruhi langsung oleh Shalaby, 
penulis buku teks ilmu perbandingan agama dari Fakultas Ushuluddin IAIN
 Sunan Kalijaga juga meyakini bahwa "Protokol Pendeta Zionis" merupakan kitab sakral 
Yahudi ketiga, setelah Perjanjian Lama dan Talmud.[8]

            Barulah pada dasawarsa 1980-an konspirasi Yahudi semakin sering 
dibicarakan di Indonesia. Pada tahun 1982, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Agama 
(LPPA) Muhammadiyah dan Rabithah Al-`Alam Al-Islami masing-masing menerbitkan buku 
mengenai Freemasonry sebagai organisasi rahasia Yahudi. Keduanya menyebut 
Protokol-Protokol sebagai barang bukti yang akurat tentang rencana-rencana rahasia 
Yahudi.[9] Buku Rabithah menyebutkan adanya keraguan tentang kebenaran Protokol namun 
menegaskan pula bahwa ia benar-benar merupakan dokumen asli. "Siapa yang membaca 
dengan teliti teks-teks yang terkandung di dalamnya akan mengetahui bahwa semua 
rencana yang terdapat di dalamnya telah dilaksanakan di seluruh penjuru dunia" (hal. 
156). Hanya, menurut para penulis, rencana Yahudi masa kini pastilah sudah berubah 
lagi, dan orang harus waspada terhadap kiat baru dari "para pengusaha kejahatan itu, 
para terompet setan itu, para juru tenu kebinasaan itu, dan para penjaga kuil itu." 
Pengamatan
 ini mirip suatu pengakuan bahwa Protokol-Protokol ternyata tidak relevan untuk 
memahami Zionisme modern. Tetapi teori konspirasi tetap dipertahankan, dan pada 
tahun-tahun berikut di Indonesia terbit sejumlah terjemahan atau adaptasi 
Protokol-Protokol:

a. (Versi ringkas dalam:) Dr. Darouza, Mengungkap tentang Yahudi: Watak, Jejak, Pijak 
dari Kasus-Kasus Lama Bani Israel. Surabaya: Pustaka Progressif, 1982. (terbitan asli: 
Damascus 1970).

b. (Dikomentari panjang lebar dalam:)  Dr. Majid Kailany, Bahaya Zionisme terhadap 
Dunia Islam. Solo: Pustaka Mantiq, 1988. (terbitan asli: Jeddah, 1984).

c. Skenario Rahasia untuk Menguasai Dunia. Bandung: Hizbul Haq Press, tanpa tahun 
(1989?). (dengan kata pengantar yang tampaknya ditulis di Pakistan).

d. Ayat-Ayat Setan Yahudi. Dokumen Rahasia Yahudi Menaklukkan Dunia dan Menghancurkan 
Agama. Jakarta: PT Pustakakarya Grafikatama, 1990. (dengan kata pengantar oleh "Social 
Reform Society", Kuwait).

Dalam kata pengantar sejumlah edisi ini tidak ditemui isyarat bahwa teks ini hanya 
berupa sebuah pemalsuan kasar saja. Penulis kata pengantar dua yang terakhir malahan 
mengklaim - dengan mengabaikan kenyataan - bahwa buku ini sulit didapatkan dan di 
mana-mana dilarang (gara-gara konspirasi Yahudi, tentu saja). Agaknya, mereka lupa 
menyebutkan bahwa bukunya pernah dicetak dalam oplag ratusan ribu dan disebarkan ke 
mana-mana oleh rezim Nazi Jerman, dan di negara-negara Arab sendiri terjemahan 
Protokol-Protokol dengan mudah diperoleh di mana saja.
 

Daya tarik teori konspirasi 

Teori-teori konspirasi mempunyai daya tarik kuat karena merupakan penjelasan yang 
mudah difahami dan sekaligus menunjukkan kambing hitam. Teori konspirasi meletakkan 
tanggungjawab atas segala hal yang tidak disenangi pada orang lain. Penganut teori ini 
tidak perlu mengungkapkan kekurangan, kelemahan dan kesalahannya sendiri, tidak pula 
mesti mengkritik diri sendiri karena semua hal dianggap kejahatan pihak lawan. 
Teori-teori semacam ini menutup kemungkinan orang mencermati sebab-sebab yang 
sebenarnya, sehingga tidak mudah atau malahan mustahil mengubah secara rasional 
keadaan yang tidak disenangi.

            Teori konspirasi yang disebarkan oleh penyusun Protokol-Protokol 
menawarkan penjelasan semua peristiwa politik dan ekonomi yang telah terjadi selama 
satu abad: berkembangnya kapitalisme maupun gerakan-gerakan komunis, revolusi maupun 
kontrarevolusi, modernisasi dan rasionalisasi sistem ekonomi, gerakan pembebasan dan 
emansipasi, liberalisme dan sekularisasi. Ini semua dianggap buah dari rekayasa 
komplotan Zionis yang maha hebat. "Hampir setiap peristiwa besar di dunia berjalan 
mengikuti tuntutan The Elders of Zion ini. Peperangan, kemerosotan, revolusi, naiknya 
biaya hidup, dan keresahan berlarut-larut, wujud nyata mengangkangi dunia melalui 
pintu belakang."[10] Menurut pandangan demikian, orang lain tidak berdaya dan tidak 
mampu memberi sumbangan terhadap alur sejarah; hanya Yahudi sajalah yang menentukannya.

            Teori konspirasi ini sangat berbeda dengan analisa yang mendalam tentang 
kekuatan dan strategi nyata Zionisme. Negara Israel, organisasi Zionis di luar Israel 
dan para simpatisan Zionisme melakukan berbagai hal, secara terbuka maupun 
terselubung, untuk mempengaruhi pendapat umum dan kebijaksanaan negara-negara lain. 
Lobi-lobi Yahudi di Amerika dan Eropa memang sangat canggih dan berhasil; tetapi kalau 
aktivitas-aktivitasnya ditelaah secara cermat gambaran yang diperoleh sangat berbeda 
dengan Protokol-Protokol.[11]
 

Yahudi sebagai simbol perubahan yang mengancam 

Umat Islam Indonesia, sebagai umat Islam negara-negara lain, menjunjung tinggi 
solidaritas dengan bangsa Palestina. Republik Indonesia tidak mengakui negara Israel, 
dan seluruh umat Islam Indonesia menganggap berdirinya Israel, apalagi pendudukan Gaza 
dan Tepi Barat dan pembangunan pemukiman Yahudi di sana, sebagai ketidakadilan yang 
tidak dapat dibenarkan.

            Tetapi belakangan terdengar banyak ungkapan anti-Yahudi yang tidak ada 
sangkut pautnya dengan masalah Israel-Palestina. Yahudi dan kelicikan serta tipu 
dayanya dikritik, tetapi sasaran kritik ini sesungguhnya bukan orang Yahudi melainkan 
orang atau situasi di Indonesia sendiri. Rupa-rupa hal di Indonesia yang tidak 
disenangi (misalnya perkembangan pemikiran Islam liberal, atau konsep Hak Asasi 
Manusia) dikaitkan dengan konspirasi Yahudi.

            Yahudi memang sejak dulu juga dikaitkan dengan golongan atau gerakan lain 
yang oleh pihak tertentu dianggap membahayakan status quo:

- Faham Syiah, menurut sebagian penulis Sunni, konon berasal dari seorang bekas Yahudi 
bernama Abdullah bin Saba', yang pura-pura masuk Islam. Ia konon orang pertama yang 
mengistimewakan Ali bin Abi Thalib dan memulai kultus terhadap Ali dan keturunannya. 
Alasannya, konon untuk menghancurkan Islam dari dalam. Cerita ini sebagai "penjelasan" 
lahirnya Syi'ah sudah sangat lama, tetapi oleh kalangan ahli sejarah kebanyakan 
ditolak. Di Indonesia sendir, hikayat Abdullah bin Saba' disebarkan lagi setelah 
revolusi Iran, oleh kalangan yang paling dekat ke Arab Saudi (yaitu tokoh-tokoh Dewan 
Dakwah).[12] Latar belakang politik isu ini tidak dapat diabaikan.

- Freemasonry (Vrijmetselarij) memang suatu gerakan rahasia dan internasional, tetapi 
di tiap negara mempunyai corak tersendiri. Kasus yang pernah menghebohkan adalah 
skandal politik dan korupsi menyangkut sebuah cabang Freemasonry di Italia yang 
anggotanya terdiri dari pengusaha besar, politisi, jaksa dan hakim, militer dan mafia. 
Di negara lain tidak pernah ada skandal demikian. Anggota Freemasonry pada umumnya 
terdiri dari orang elit dan berpikiran bebas. Orang Yahudi tidak memainkan peranan 
menonjol dalam Freemasonry.

- Rotary Club, Lions Club dan sebagainya. Perkumpulan orang elit bercorak khas 
Amerika. Pada dasarnya sebuah cabang lokal terdiri dari orang yang mewakili semua 
profesi (seorang dokter, seorang notaris, seorang guru sekolah, seorang pedagang, dan 
seterusnya), dan tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan. Dapat difahami sekiranya 
salah satu fungsi utama perkumpulan semacam ini bagi anggotanya adalah menyediakan 
jaringan "koneksi". (Freemasonry, tentu saja, mempunyai fungsi yang sama). Menurut 
sebagian penganjur teori tentang konspirasi Yahudi, perkumpulan tersebut mempunyai 
tujuan rahasia dan merupakan bagian dari persekongkolan Yahudi itu.[13] Di Indonesia 
sebagian besar anggota perkumpulan tersebut, agaknya, terdiri dari orang Cina.

- Marxisme dan sosialisme-sosialisme lainnya. Karl Marx memang seorang Yahudi 
(walaupun tak beragama Yahudi), dan sejumlah nama besar di partai-partai kiri dan 
gerakan buruh Eropa juga Yahudi. Tujuan marxisme sebetulnya bertolak belakang dengan 
Zionisme, tetapi hal ini diabaikan oleh penganjur teori konspirasi. Baik kapitalisme 
maupun anti-kapitalisme diyakini merupakan bagian dari konspirasi Yahudi-Zionis yang 
sama. Dan bukan itu saja; semua pemikiran dan ideologi modern dicurigai, termasuk 
liberalisme.[14] Hal ini mungkin menunjukkan kepentingan apa, atau kekhawatiran 
golongan sosial mana, yang ada di balik teori konspirasi Yahudi itu. Seperti halnya di 
Eropa pada abad yang lalu, tampaknya Yahudi diidentikkan dengan segala aspek proses 
transformasi masyarakat tradisional, berkembangnya kapitalisme dan individualisme, 
sekularisasi dan humanisme dan munculnya konflik sosial-ekonomi.
 

"Yahudi"nya Indonesia 

Rasanya tidak terlalu mengejutkan kalau kita menyaksikan di Indonesia belakangan ini 
pemikir-pemikir Islam berwawasan kosmopolit sudah mulai dijuluk "Yahudi" dan "Zionis" 
pula. Gerakan pembaharuan Islam yang mengkritik faham-faham mapan, menawarkan pola 
penafsiran baru dan menganjurkan sikap toleran terhadap sesama Muslim maupun penganut 
agama lain, tentu saja dicurigai oleh golongan yang berpegang kuat kepada faham mapan. 
Sepanjang sejarah, para pembaharu sering dituduh ingin menghancurkan agama (sedangkan 
mereka sendiri mengaku ingin mengembalikan esensi agama kepada kedudukan yang 
sentral). Dengan semakin populernya teori tentang konspirasi Yahudi, dan mengikuti 
logika bahwa setiap hal yang mengancam Islam atau kemapanan apa pun adalah ulah 
Yahudi-Zionis, dengan sendirinya gerakan pembaharuan Islam mudah dituding sebagai 
bagian dari konspirasi Yahudi.

            Setidaknya terdapat dua dimensi pada penjulukan "Yahudi" terhadap 
sementara pemikir Islam yang liberal. Yang pertama menyangkut pemikiran mereka, yang 
dituduh dipengaruhi oleh orientalisme (dan orientalisme, tentu saja, dianggap sebagai 
salah satu senjata Yahudi dalam usahanya untuk menghancurkan Islam). Yang kedua, dan 
ini yang pada hemat saya lebih penting, menyangkut kosmopolitanisme dan kemodernan 
mereka serta golongan sosial yang merupakan pendukung utama mereka. Sindiran dengan 
mencap "Yahudi" dan "Zionis" pernah dilontarkan dalam polemik melawan Nurcholish 
Madjid dengan Paramadinanya dan kemudian pula melawan LSAF dan majalah Ulumul Qur'an 
(pernah dijuluk Ulumul Talmud oleh pihak penentang). Yang dimaksud, agaknya, bukan 
saja keterbukaan, toleransi dan sikap berdamai mereka terhadap agama Kristen dan 
Yahudi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar.

            Baik Paramadina maupun LSAF mewakili trend baru dalam umat Islam, 
berkaitan erat dengan munculnya kelas menengah Islam yang sedang naik daun (dalam 
ekonomi maupun politik) dan yang mencari gaya Islam yang modern, bergengsi, "canggih" 
dan "trendy". Kelas baru ini, lebih terpelajar, kosmopolit dan percaya pada diri 
daripada generasi-generasi sebelumnya. Berikut mereka ini bergaya hidup modern dan 
individualis serta mungkin pula kurang peduli terhadap kesenjangan sosial yang ada. 
Bukankah mereka ini yang merupakan sasaran sebenarnya dari julukan "Yahudi"? Dalam 
polemik berkelanjutan antara penulis muda serial Media Dakwah dengan majalah Ulumul 
Qur'an, saya (kalau tidak sangat keliru) mencerna juga adanya pertentangan "orang 
kampungan" lawan "orang gedongan", yang masing-masing mempunya gaya menghayati Islam 
sendiri.

            Di negara Pancasila, pertentangan "antar-golongan" tidak bisa diungkapkan 
secara terang-terangan, dan itu yang membuat kata "Yahudi" begitu berguna bagi orang 
tertentu. Indonesia tidak punya hubungan dengan Israel, dan agama Yahudi tidak 
termasuk lima agama yang resmi diakui. Oleh karena itu, mengutuk Yahudi tidak 
mengandung risiko tuduhan SARA, berbeda dengan kutukan terhadap pengusaha Cina, 
pejabat Katolik atau Orang Kaya Baru (bangsa Pondok Indah). Secara demikian teori 
konspirasi Zionis - Yahudi - Freemasonry - Rotary Club, yang diimpor dalam bentuk siap 
pakai, terbukti mempunyai fungsi serbaguna di Indonesia. Bukan saja semua perubahan 
sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat "dijelaskan" dalam 
kerangka teori ini, melainkan golongan yang tidak disegani pun dapat dengan mudah 
dituding pula sebagai bagian dari konspirasi yang sama. 

Wacana tentang Yahudi dan konspirasi untuk menguasai dunia, dengan Protokol-Protokol 
Para Sesepuh Zion sebagai sumber utama, berasal dari Eropa dan masih mencerminkan 
pertentangan sosial di Eropa pada masa laju modernisasi berlangsung begitu cepat. 
Wacana tersebut sampai ke Indonesia melalui Timur Tengah (terutama Arab Saudi) setelah 
menjadi bagian dari pandangan dunia Islam yang dipropagandakan Rabithah Al-`Alam 
Al-Islami. Di Indonesia, wacana ini telah mendapat fungsi baru dan diterapkan untuk 
membicarakan pertentangan yang sesungguhnya kasatmata namun tidak bisa dibicarakan 
secara terbuka. Wacana ini tidak membantu untuk memahami apa yang terjadi di sekitar 
kita, tetapi mungkin saja lebih memuaskan sebagai penjelasan dan pembenaran kegagalan 
orang daripada sebuah analisa yang sungguh-sungguh. Dan sejarah Eropa abad terakhir 
ini menunjukkan betapa berbahaya wacana ini.



---------------------------------

     * Catatan untuk ceramah yang disampaikan di DIAN (Institut Dialog Antar-Iman di 
Indonesia), Yogyakarta pada 9 Oktober 1993 dan kepada Jamaah Masjid Shalahuddin, 
Yogyakarta pada 17 Oktober 1993.


     [1] Syamsuddin Haris, "Laporan Penelitian Pandangan Sikap Hidup Ulama di Nusa 
Tenggara Barat", LIPI, 1986.


     [2] Pengaruh Freemasonry terhadap gerakan revolusioner Jeunes Turcs ("Orang Turki 
Muda"), yang pada tahun 1908 menggulingkan pemerintahan otoriter Sultan Abdulhamid II, 
merupakan kasus yang sering disoroti. Gerakan ini terdiri dari perwira muda dan 
cendekiawan yang dipengaruhi pemikiran revolusi Perancis, dan sebagian termasuk 
anggota Freemasonry. Basis utamanya adalah kota Selanik (Thessaloniki, sekarang di 
Yunani), kota Usmani yang paling modern, dengan penduduk Yahudi yang cukup banyak. Di 
antara Jeunes Turcs dijumpai beberapa orang Yahudi, walaupun mereka bukan pemimpin 
teras. Di Indonesia Freemasonry pernah mempunyai pengaruh cukup besar terhadap 
organisasi nasional pertama, Budi Oetomo; di antara pengurus B.O. dijumpai sejumlah 
anggota Freemasonry (termasuk Ketua pertama, R.A. Tirtokoesoemo).


     [3] Kajian paling mendalam tentang latar belakang Protokol-Protokol adalah: 
Norman Cohn, Warrant for Genocide: The Myth of the Jewish World-Conspiracy and the 
Protocols of the Elders of Zion (edisi pertama 1967; edisi ketiga, Chico, CA: Scholars 
Press, 1981). Cohn menduga bahwa salah seorang sasaran utama pemalsuan ini adalah 
Menteri Ekonomi Rusia yang memberlakukan reformasi ekonomi pada waktu itu, Witte.


     [4] Tentu saja pernah terjadi sejumlah kekecualian; di beberapa kota dan wilayah 
di Eropa orang Yahudi sejak lama dapat hidup tanpa diganggu orang lain.


     [5] Misalnya, dalam Syaikh Musthafa Al Maraghi, 76 Karakter Yahudi dalam 
Alqur'an. Penyusun: M. Thalib. Solo: Pustaka Mantiq, 1989.


     [6]Panji Masyarakat, 1-10 Nopember 1993 (bertema "Dililit Zionisme?"), 
Al-Muslimun, Desember 1993 (bertema "Makar Yahudi").


     [7] Itu agaknya merupakan kekeliruan; saya pernah mencari artikel tersebut dalam 
bundel tahun pertama Pandji Masjarakat di perpustakaan KITLV di Leiden tetapi tidak 
menemukannya. Dari tulisan senada yang saya temukan, yang paling lama diterbitkan di 
majalah ilmiah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1967: "Ular Zionisme dan P.B.B." (tanpa 
nama penulis), Al-Djami`ah, jilid VI, nomor 5-6, hal. 74-88. Artikel itu dicuplik dari 
Siaran JAPI, no. 5/67.


     [8] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi. Yogyakarta: PT. Bagus Arafah, 1982.


     [9] Muhammad Safwat as-Saqa Amini & Sa'di Abu Habib, Gerakan Freemasonry. Makkah 
al-Mukarramah: Rabitah Alam Islami, 1982, hal. 154-6; LPPA-Muhammadiyah, Sorotan 
Terhadap Free Masonry (Organisasi Rahasia Yahudi). Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, 
hal. 88-90.


     [10] Kata pengantar pada Ayat-Ayat Setan Yahudi, hal. 15.


     [11] Lihat *Paul S. Findley, Mereka Berani Bicara. Bandung, Mizan, 1990.*


     [12] Lihat buku propaganda anti-Syiah karangan Ikhsan Ilahi Zhahiri, Syiah dan 
Sunnah (terjemahan Bey Arifin. Surabaya: Bina Ilmu, 1984, hal. 29-44) dan respons 
pro-Syiah dalam M. Hashem, 'Abdullah Bin Saba' Benih Fitnah (Bandar Lampung: YAPI, 
1987).


     [13] Menurut seorang penulis Mesir, Muhammad Fahim Amin, "Tujuan-tujuan Rotary 
yang dirahasiakan dan yang hakiki ialah untuk merealisir rencana Freemasonry dan 
Zionisme Internasional, dengan sasaran pokok menghancurkan berbagai bangsa, 
meruntuhkan negara-negara Goyim (non-Yahudi), mengibarkan bendera Israel dan 
mendirikan negara Zionis Internasional." (Rahasia Gerakan Freemasonry dan Rotary Club. 
Jakarta: Al Kautsar, 1992, hal. 150-1). Penulis tampaknya tidak merasa perlu 
membuktikan tuduhan ini dan tidak mengajukan satu fakta atau dokumen pun.


     [14] Demikian, misalnya, editor anonim Ayat-Ayat Setan Yahudi menulis dalam 
Pendahuluannya (hal. 17-18): "Berbagai istilah seperti liberalisme, egalitas, 
fraternitas, libertas, sosialisme, komunisme, dan lain-lain, disuapkan kepada pribadi 
bangsa yang menjadi sasaran mereka lengkap dengan analisa ilmiahnya. Jika telah 
tertelan oleh seseorang, jadilah ia corong dan terompet untuk wawasan semu, yang cuma 
mengacaukan sistem yang ada dan pada tingkat selanjutnya: penguasaan bangsa tersebut 
di bawah telapak kaki mereka!"



                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke