Assalaamu'alaikum wr wb, Salam sejahtera.

Hentikan Konflik dan Tumbuhkan Iklim Simbiosis
Mutualisme

Oleh TARMIZI TAHER


RAMALAN John Neisbit bahwa akan terjadi benturan
peradaban (class civilization) antara dunia Islam dan
Barat mulai terwujud dengan diserangnya Irak oleh
Amerika Serikat (AS) bersama Inggris dan Australia.
Haruskah dunia Islam melakukan perlawanan ataukah kita
biarkan Barat melakukan penekanan di berbagai segi
terhadap dunia Islam? Bagaimanakah nasib dunia Islam
setelah penyerangan AS ke negeri seribu satu malam
tersebut?

Untuk membahas nasib dunia Islam, pemerintah Malaysia
pada tanggal 10 s.d. 12 Juli 2003 menyelenggarakan
konferensi tingkat dunia bertema, Dunia Islam Sesudah
Perang Irak (World Conference of Islam Scholars).
Dalam kesempatan ini, Perdana Menteri Malaysia
Mahathir memberikan pengarahan dan pikiran-pikirannya.
Bagi Malaysia, pertemuan ini merupakan kesempatan yang
tepat karena segera berbicara nasib dunia Islam
sesudah perang Irak. Dari Indonesia, salah seorang
yang diundang dalam konferensi tersebut adalah
penulis.

Mengapa saya yang diundang? Karena di akhir Mei 2003,
saya juga diundang ke Malaysia untuk menghadiri
pertemuan para pemimpin dunia Islam II yang berbicara
tentang penanganan HIV/AIDS. Ketika itu saya diminta
memimpin sidang pleno ke-3. Padahal, sidang pleno ke-1
dan ke-2 terjadi kericuhan akibat seorang wanita
Muslim delegasi AS memiliki paper yang berbeda dengan
paper para peserta dari Timur Tengah. Akibatnya, para
peserta dari negara-negara Arab ke luar sidang
melakukan walk out.

Saat saya memimpin sidang pleno ketiga, saya katakan
kepada para peserta, "Kemarin ada teman-teman kita
yang walk out. Ini kok seperti rapat politik saja.
Padahal, ini kan studi ilmiah. Bukankah biasa dalam
sebuah pertemuan ilmiah itu kita menyatakan keberatan
atas pandangan yang berbeda dengan cara yang sopan dan
dengan pandangan yang jernih?" Dengan memberi
pengertian demikian, kemudian pertemuan-pertemuan
berikutnya berjalan lancar, bahkan sidang menjadi
penuh ukhuwah dan rukun. Panitia yang dipimpin anaknya
Mahathir menyatakan terima kasih yang luar biasa
karena saya dinilai menyelamatkan pertemuan lima hari
itu. Sebelum pulang, saya bahkan kembali mendapatkan
undangan ini.

Penulis menilai bahwa Malaysia tepat sekali
berinisiatif menyelenggarakan konferensi ini karena
Mahathir melihat dengan jernih bahaya yang mengancam
Islam. Kalau bahaya terorisme, Malaysia termasuk
negeri yang menjadi tempat latihan untuk menghadapi
terorisme di Asia Tenggara. Namun dia juga tidak
segan-segan menggunakan isu ini apabila ada orang yang
akan menggunakan terorisme untuk menyerang dunia
Islam. Ini memang biasa, satu hal seperti pisau
bermata dua. Pisau kalau digunakan untuk mengoperasi,
si sakit bisa sembuh, tetapi kalau digunakan untuk
menyobek kulit dan daging orang dalam perampokan, maka
orang tersebut bisa mati.

Melalui konferensi tersebut, umat Islam harus secara
jernih menganalisis kelemahan dalam menghadapi era
globalisasi, era persaingan, era perdagangan bebas,
serta di era ilmu dan teknologi. Sebaliknya, dunia
Islam juga harus mengetahui kekuatannya sebab tidak
semua dari kita lemah dan buruk, tetapi juga memiliki
kekuatan-kekuatan. Misalnya, kekuatan Muslimin yang
dikagumi Barat adalah nilai-nilai luhur Islam sehingga
Islam di Barat merupakan agama yang paling cepat
tumbuh, khususnya di Amerika dan di Eropa. Di
negara-negara Eropa, Islam sekarang sudah menjadi
agama kedua, sesudah Protestan, baru kemudian Katolik.
Atau sebaliknya, Katolik terbanyak, kemudian Islam,
baru kemudian Protestan.

Umat Islam di AS sekarang berjumlah 10 juta orang. Ini
sama jumlahnya dengan umat Islam di Malaysia. Setelah
peristiwa 11 September 2001, orang AS justru semakin
penasaran ingin tahu apa sih sebenarnya Islam itu?
Mereka banyak mengundang para intelektual dan ulama
Islam ke kampus bahkan ke gereja mereka untuk
menerangkan the real Islam sehingga Islam tidak
mengalami penyelewengan pengertian sebagaimana ditulis
oleh media-media Barat.

Kalau sebelum 11 September orang masuk Islam di AS
dalam sebulan berjumlah 10.000 orang, sejak peristiwa
11 September, orang Islam baru berjumlah 4 kali lipat
yakni 40.000 orang. Ini merupakan gambaran bahwa dakwa
Islam cukup berhasil karena Islam memang agama yang
sangat rasional dan sangat egaliter. Satu hal yang
paling menarik bagi orang Barat dalam beragama Islam
adalah sabda Nabi Muhammad saw., Ana basyarun
mitslukum (Saya manusia biasa, seperti kalian). Nabi
tidak berbeda dengan manusia pada umumnya. Sebab kalau
mereka mengikuti agama Islam berarti mereka sekadar
mengikuti dan mencontoh manusia, dengan segala
kelebihan dan kelemahannya. Sebaliknya, kalau mereka
harus meniru seperti Tuhan, mereka tidak bisa dan
sangat susah.

Mengenai penyerbuan AS bersama sekutunya terhadap
Irak, senyatanya, dunia melihat legitimiasi yang
digunakan AS tidak kuat, terlepas bagaimana kelakuan
Saddam Husein. Oleh karena itu, Eropa pun terpecah
dua. Satu-satunya negara yang bersama AS hanyalah
Inggris atau katakanlah bersama Australia. Dunia Islam
tidak ada satu pun yang ikut, dunia Barat juga anti,
Rusia, Jerman Prancis, semua menolak. Sampai sekarang
persoalan ini juga masih menjadi masalah.
Dikatakannya, Irak memiliki weapons of mass
destruction (WMD), senjata penghancur massal, nyatanya
sampai hari ini tidak ditemukan. Malahan, di Inggris
di Partai Buruh dan Partai Konservatif, Tony Blair
menjadi bulan-bulanan untuk membuktikan omongan dan
hasil intelijennya. Ini memang sukar sekali
dibuktikan.

Dalam politik AS dan Inggris memang berbeda. Di AS,
kalau presidennya mengumumkan suatu kegiatan
permusuhan dengan suatu negara, rakyatnya dengan
segera mendukung karena mereka merasa sebagai
satu-satunya negara super power. Namun sebaliknya, di
Inggris, karena ia tempat tumbuhnya pemikiran
demokrasi bersama Prancis, PM Ingris sangat lemah saat
menyatakan ikut berperang. Perang Irak juga
menunjukkan bahwa dunai Islam dalam posisi yang lemah.
Kelemahan disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena
ulah umat Muslim sendiri. Dalam kasus Irak misalnya,
itu banyak dipengaruhi oleh ulah Saddam Husein.
Setelah menyerang Kuwait, dia sedang menyiapkan
anaknya Uday dan Qusay untuk menjadi presiden
menggantikan dia. Kalau begitu, di Timur Tengah tidak
ada bedanya antara negara kerajaan dan republik. Ini
sudah terjadi di Syria, anaknya Hafez Assad
menggantikan ayahnya. Kalaupun bertentangan dengan
konstitusi, kemudian konstitusinya yang diubah. Ini
gambaran kelemahan kita sendiri.

Kedua, konflik tersebut diakibatkan oleh keserakahan
dunia luar. Karena Irak memiliki deposit minyak
terbesar kedua setelah Arab Saudi. Oleh karena itu,
semua orang-orang kapitalis memperebutkannya. Apalagi
Bush seorang kapitalis, keturunan pengusaha-pengusaha
minyak. Demikian juga Dick Cheney dan Donald
Rumsfield.

Meskipun kenyataannya sampai saat ini AS memenangkan
pertempuran di Irak, dunia Islam harus secara jernih
melihat kekuatan dan kelemahan. Artinya, kekuatan kita
perkuat sedangkan kelemahan kita pelan-pelan secara
strategis kita kurangi. Satu hal yang menyebabkan kita
lemah adalah kemiskinan dunia Islam, seperti
kemiskinan di negara Afrika, Bangladesh, dan
negara-negara Muslim lainnya. Di daerah miskin, sangat
subur berbagai kegiatan agama lain sebab kaadal faqru
anyakuna kufran (Akibat kefakiran nyaris
menggelinicirkan kepada kekafiran). Ini sudah diduga
oleh Nabi.

Anehnya, di dunia modern, khususnya di Eropa dan
Barat, Islam maju pesat. Sebaliknya, di negara-negara
Muslim, dakwah agama lain, katakanlah Kristen, juga
makin kuat. Itu akibat meningkatnya kemiskinan. Dai
Islam yang pergi ke Eropa adalah dai yang terpelajar,
para sarjana ilmu umum, di samping sarjana ilmu agama.

Simbiosis mutualisme

Dalam mengahadapi perbenturan peradaban ini, apakah
umat Islam secara membabi buta melakukan perlawanan
bahkan melakukan kekerasan secara fisik terhadap
Barat? Menjawab pertanyaan ini, saya katakan tidak.
Sebab dalam dunia yang makin mengglobal seperti desa
besar ini, umat Islam tidak bisa mengurung diri dari
lingkungan. Kalaupun melakukan perlawanan, umat Islam
juga kalah karena memang Barat secara teknologi lebih
kuat. Oleh karena itu, pemikiran tentang hubungan
dunia Islam dengan Barat mesti jernih. Rumusan saya
tentang dunia Barat dan Islam adalah simbiosis
mutualisme, hidup bersama berdampingan saling
menguntungkan.

Umat Islam harus jujur mengenai perlunya belajar
teknologi, administrasi dan kejujuran kepada Barat.
Sebaliknya, kita juga harus mengajarkan kepada Barat
tentang nilai-nilai luhur akhlak yang mulia sebab
Barat saat ini memang sangat haus akan nilai moral.
Kita harus ajarkan bagaimana berumah tangga yang baik,
kita harus mengajarkan bagaimana kita tidak senang
kepada pornografi karena bertentangan dengan nilai
luhur agama. Tidak bisa tidak, agar hidup damai, dunia
Islam dengan Barat harus saling mendekat antara satu
dan yang lain. Umat kedua belah pihak harus bekerja
sama.

Saya melihat hadis Nabi Muhammad saw. (meskipun ada
yang mengatakan bahwa ini bukan hadis), Uthlubul ilma
walau bishin. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Oleh karena itu, jika Nabi saat ini masih hidup,
beliau akan mengatakan, "Tuntutlah ilmu walau ke dunia
Barat."

Untuk melakukan kegiatan yang saling menguntungkan
antara dunia Islam dan Barat memang berat, apalagi
kalau terkait dengan saling dendam antara keduanya
sebab sejarah peperangan Islam dengan Barat sudah
lama. Mulai dari Jabal Tarik, perang pertama ini
dimenangkan Islam. Ini terbukti di Balkan, maka banyak
sekali Muslim di Balkan, di Yugoslavia, Kosovo,
Bosnia, sampai ke Spanyol. Kemudian mereka bersatu,
dilawannya kembali Muslim dan Yahudi. Yahudi dilawan
dulu, baru ke Islam, tetapi terjadi konflik
berkepanjangan.

Di Asia tengah, Islam dengan Barat juga berhadapan.
Kalau kita lihat menarik sekali. Turki mengepung Wina,
sedangkan orang-orang Chehnya mengepung Moskow. Oleh
karena itu, kalau kita kembali ke sejarah, tidak ada
suatu keanehan konflik keduanya, ini berkali-kali
terjadi. Kita sudah semakin sadar, termasuk dunia
Barat, khususnya Prancis, Jerman, dan negara-negara
Skandinavia lainnya bahwa dunia ini harus diselesaikan
secara damai. 

Islam sekarang bukan suatu agama yang kecil, tetapi
agama yang penduduknya hampir 7 miliar orang. Islam di
Barat sekarang sudah punya masjid, tempat salat di
kampus, dan berdakwah setiap Jumat di kampus, serta
melakukan pengajian rutin. Oleh karena itu, Islam
tidak lagi asing di Barat. Dengan perubahan demografi
ini, maka mutualisme simbiosis ini harus kita
lancarkan meskipun diwarnai dengan berbagai kejadian
sepanjang jalan. Artinya, ada serengan ke Irak, ada
serangan terorisme ke tempat adidaya AS, banyak korban
di mana-mana, termasuk bom Bali.

Inilah gambaran Islam bukanlah gambaran-gambaran
sesaat. Di Indonesia, Islam bukanlah gambaran Islamnya
Imam Samudra dan Amrozy. Mereka merasa bahwa Islam
dimarginalkan. Karena Islam mayoritas, tetapi
dimarginalkan, gampang sekali menimbulkan dendam.
Namun dalam Islam, kita tidak akan bisa hidup dalam
dendam. Dendam dilarang dalam Islam. Oleh karena itu
kita lihat, yang menguasai pemikiran Islam bukanlah
kelompok Islam yang kecil-kecil, tetapi NU dan
Muhammadiyah.

Karena Surat Albaqarah 143 menyebutkan, Hai umat
Islam, kalian diciptakan sebagai umat yang moderat.
Kamu akan menjadi saksi atas manusia, dan manusia akan
menjadi saksi atas perbuatanmu. Dalam masa mendatang,
umat yang moderat harus menjadi tujuan kita. Apa yang
terjadi di tengah perjalanan sejarah, kita atasi
dengan bijaksana tanpa emosional. Kita sudah
menyaksikan, AS semakin terpojok dalam soal-soal
politiknya yang menjadi polisi dunia dan mendikte
dunia. Saya melihat simbiosis mutualisme ini harus
kita lakasanakan. 

Simbiosis mutualisme ini penting karena menurut
pemikiran para ahli, pada tahun 2050 hampir separuh
dunia ini menganut agama Islam. Diramalkan bahwa
setiap 30 tahun akan terjadi kelipatan penduduk, kalau
sekarang umat Islam 7 miliar, 2050 kita sudah menjadi
14 miliar. Dalam 14 miliar, umat Islam sudah hampir
separuh penduduk dunia. Namun itu baru kuantitas. Maka
yang harus kita bina sekarang dalam 50 tahun itu
adalah kualitas dengan pendidikan.

Fokus dari kegiatan selama kita menciptakan simbiosis
mutualisme itu adalah pendidikan. Kebetulan, Barat
sekarang sedang maju, maka kita harus belajar kepada
mereka. Kita tidak mungkin bermusuhan dengan mereka
kalau kita ingin maju, baik di Indonesia, Pakistan,
Timur Tengah, Malaysia, dan sebagainya. Malaysia
sendiri melakukan kerja sama dengan berbagai perguruan
tinggi maju di Eropa, khususnya Inggris.

Ada sebuah judul buku yang sangat menarik yang
mengungkapkan bahwa tahun 2050, umat Islam berjumlah
separuh penduduk dunia. Judulnya adalah "Death of The
West" (Kematian Barat). Mengapa Barat mati karena umat
Islam semakin banyak. Karena wanita Barat tidak suka
lagi memiliki anak, orang-orang tua Barat tidak suka
terhadap cucu karena dinilai mengganggu, akhirnya yang
diambil oleh orang Barat adalah anak-anak dari dunia
ketiga, baik anak negara Afrika, Indonesia, Vietnam,
Korea, dan sebagainya. Ini adalah dampak samping yang
amat luar biasa dalam perubahan demografi dunia. Orang
Barat makin menua, bayi-bayi tidak lahir, sedangkan di
Indonesia sebaliknya, orang makin banyak anak,
demikian pula di Afrika. 

Belum lagi, poligami sudah diekspos oleh orang-orang
yang memiliki rezeki. Saya sendiri menganggap poligami
yang dilakukan oleh orang-orang yang berduit itu
halal. Kecuali saya pribadi yang pegawai negeri ini.
Saya tidak mungkin berpoligami karena berat di ongkos.
Jika memiliki dua istri, itulah sumber korupsi. Namun
kalau poligami dilakukan oleh seorang pebisnis,
sembari menolong seseorang, maka ini baik saja.
Apalagi, motivasi pernikahannya bukan hanya sekadar
bentuk dan rupa, tetapi juga menolong kaum duafa. Ini
menyangkut aspek sosial, terlepas dari masalah
poligami tidak saya lakukan. 

Sebagai Muslim, saya menerima konsep poligami secara
utuh, sebagai bagian dari Islam. Akan tetapi saya
tidak praktikan. Oleh karena itu, lucu perdebatan
antara Bung Karno dan Pak Natsir. Pak Natsir sebagai
seorang Muslim mempertahankan konsep poligami dalam
Islam, sedangkan Bung Karno antipoligami. Sementara
dalam praktik, yang berpoligami bukan Pak Natsir,
melainkan malah Bung Karno. Itu tergantung praktiknya
masing-masing.

Sebagai penutup, saya tegaskan bahwa konflik antara
dunia Islam dan Barat harus dihentikan. Yang harus
diupayakan kedua belah pihak justru hidup bersama
saling menguntungkan kedua belah pihak. Karena dengan
hidup simbiosis mutualisme, dunia akan semakin damai
dan anak cucu bisa hidup sejahtera kelak.*** 

Penulis adalah Ketua Nasional Korps Mubalig
Muhammadiyah, mantan Menteri Agama dan Dubes RI di
Norwegia.


                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
http://promotions.yahoo.com/goldrush


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke