08.09.2004

Jejak kecanduan di dalam otak  
  
(Para pecandu narkotika lebih mudah kambuh lagi,
karena otak menyimpan memory kenikmatan) 
  
Kecanduan, baik itu narkotika, obat-obatan keluarga
Amphetamine, alkohol atau juga nikotin, ternyata
meninggalkan jejak yang sulit dihilangkan di dalam
otak. Akibatnya, mereka yang pernah kecanduan narkoba
memiliki risiko mudah kambuh lagi. Cukup melihat
sebuah jarum suntik, sendok makan atau bubuk putih,
otak bekas pecandu biasanya langsung nagih.

Mekanisme yang sama juga terjadi pada bekas pecandu
alkohol dan rokok. Cukup melihat iklan rokok atau
iklan Vodka, otak pecandunya langsung terangsang untuk
merokok atau minum minuman keras. Memang ingatan akan
narkoba, alkohol atau rokok hanya muncul sekilas
dimana istilah para ahli pengobatan kecanduan adalah
"flash" atau kilatan ingatan. Namun jika pecandunya
langsung mengkonsumsi lagi narkoba, biasanya akibatnya
cukup fatal. Bekas pecandu, yang kembali mengkonsumsi
narkoba akan memerlukan dosis yang lebih besar dari
semula. Pecandu narkoba kambuhan, akan memerlukan
narkotika atau obat untuk menghadapi kehidupan
sehari-hari yanmg normal. Tanpa itu, mereka akan
merasa depresi, lemah bahkan merasa sakit.

Para pecandu narkoba, ibaratnya hidup dalam lingkaran
setan. Dalam waktu singkat mereka akan kehilangan
kendali dan terjebak dalam tuntutan yang terus
mendesak,yang istilahnya "craving" atau nagih. Setiap
kali dosisnya harus ditambah agar kebutuhannya
terhadap perasaan bahagia, seolah berada di
awang-awang dan penuh fantasi tetap terpenuhi.
Akibatnya dapat fatal. Mula-mula pecandunya akan
mengalami kesulitan sosial, keuangan dan kesehatan.
Jika kebutuhan narkoba terus meningkat, mereka akan
mati karena over dosis.

Fenomena kecanduan

Dewasa ini, para ahli masih terus meneliti fenomena
kecanduan tsb. Termasuk untuk menjawab pertanyaan,
mengapa bekas pecandu narkoba, lebih mudah kambuh
kembali? Penelitian menunjukkan, narkotika dan
obat-obatan terlarang, membangkitkan apa yang disebut
sistem hadiah kenikmatan di dalam otak. Sistem ini
merupakan jaringan saklar saraf yang amat rumit yang
mengatur perasaan nyaman dan bahagia, misalnya setelah
makan enak atau hubungan seksual. Dalam kondisi
normal, sistem hadiah kenikmatan amat berguna untuk
melanjutkan eksistensi dan berkembang biak.

Para ahli biologi jaringan saraf secara kebetulan
menemukan pusat kenikmatan itu 50 tahun lalu. Sejak
itu, sudah banyak sekali dilakukan penelitian
menyangkut mekanisme molekuler dan seluler dalam hal
kecanduan ini. Terutama diteliti, mengapa narkotika
dan obat-obatan jenis Amphetamine menimbulkan
kecanduan? Mengapa dampak narkoba, praktis menguasai
sistem hadiah kenikmatan di dalam otak? Sejauh ini
kelihatannya terdapat hal yang bertolak belakang,
antara toleransi terhadap elemen penyebab kecanduan,
dengan reaksi amat peka terhadap elemen bersangkutan.
Di satu sisi, dampak narkoba membuat jaringan saklar
sel saraf kebal namun di sisi lain terdapat desakan
untuk mengkonsumsinya dalam dosis lebih besar.

Sistem hadiah kenikmatan

Penelitian terbaru para ahli otak dan jaringan saraf
menunjukkan, sistem hadiah kenikmatan di otak memiliki
kaitan sangat rumit dengan kawasan otak lainnya,
misalnya dengan struktur memory dimana artinya,
pengalaman akan dikaitkan dengan perasaan.
Interaksinya, memperkuat gaya hidup, yang memunculkan
perasaan kenikmatan. Di sisi lainnya, wilayah di otak
besar yang termasuk sistem limbik, melakukan pemilahan
pengalaman, mana yang di masa depan dapat diulang mana
yang harus dihindari. Bagian depan otak besar,
mengkoordinir dan mengolah semua informasi yang
dikumpulkan.

Otak manusia tidak hanya mengolah pengalaman
menyenangkan yang datang secara alamiah, akan tetapi
juga kenikmatan artifisial yang diperolehnya dari
konsumsi narkotika dan obat-obatan lainnya. Pada
pencandu kokain misalnya, bagian otak yang merupakan
sensor penerima impuls unsur dopamin akan segera aktif
jika muncul tawaran untuk mengkonsumsi kokain. Bukan
hanya dalam bentuk kokain nyata, tetapi walau hanya
sekedar foto atau film mengenai kokain, telah memiliki
pengaruh yang sama. Secara otomatis jaringan otak
besar juga bereaksi sama.

Konsumsi narkotika, Amphetamine, alkohol atau nikotin
memiliki mekanisme yang identik. Sistem hadiah
kenikmatan yang merupakan dampak dari produksi hormon
kebahagiaan dopamin secara berlebihan, ternyata terus
melakukan adaptasi. Mula-mula penggunanya
mengembangkan apa yang disebut toleransi, yakni
terbiasa pada unsur penyebab kecanduan. Kemudian,
sistem saraf maupun otak, menuntut dosis lebih besar,
untuk menimbulkan dampak kenikmatan yang sama. Pada
akhirnya tubuh akan tergantung dari kehadiran unsur
penyebab kecanduan. Semua ini merupakan mekanisme
normal dari tubuh, untuk menyeimbangkan diri.

Mekanisme tubuh

Produksi berlebihan unsur dopamin secara tidak normal,
diupayakan diseimbangkan oleh tubuh dengan menurunkan
aktifitas sistem hadiah kenikmatan di dalam otak.
Sejenis protein yang diberi nama CREB, memproduksi
Dynorphin, semacam unsur opiat dari dalam tubuh untuk
mengimbangi pengaruh narkotika dari luar. Akibatnya,
tubuh meminta lebih banyak lagi narkotika dari luar
yang mengakibatkan munculnya kecanduan berat. Dengan
mengetahui mekanismenya serta unsur-unsur yang
terlibat, para dokter dapat melakukan terapi
penyembuhan kecanduan.

Akan tetapi, ternyata ada hal lain yang mempengaruhi
perilaku kecanduan ini. Yakni berkembangnya jaringan
saraf reseptor dopamin. Pada penelitian dengan tikus
percobaan yang direkayasa agar kecanduan, terlihat
kerapatan cabang-cabang saraf reseptor dopamin
meningkat tajam. Artinya, jaringan saraf-pun
mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk menerima
dopamin yang volumenya tidak normal dari luar.
Gabungan dari berbagai faktor tsb, yakni memory pada
sistem hadiah kenikmatan, pengaruh berbagai protein,
serta meningkatnya jumlah reseptor dopamin pada saraf,
yang menyebabkan jejak kecanduan menjadi amat
mendalam.

Sekarang yang dicari para ahli adalah, metode atau
obat-obatan untuk menyembuhkan kecanduan tsb. Sebab
metode pengobatan yang sekarang diterapkan, nyaris
tidak menyembuhkan kecanduannya sendiri. Misalnya
terapi menggunakan obat-obatan memang mencegah
narkotika mencapai sasarannya di dalam otak. Akan
tetapi tubuh pecandu bersangkutan tetap membutuhkan
unsur penyebab kecanduan tsb. Atau pemberian
obat-obatan yang meniru dampak narkoba, hanya
menimbulkan dampak kecanduan pada obat pengganti tsb.

Juga program rehabilitasi kecanduan narkoba,
seringkali amat menolong dan dapat menekan risiko
kambuh. Namun risiko kecanduannya tidak dapat
dihilangkan. Untuk masa depan, para ahli kedokteran
mengharapkan ditemukannya obat-obatan yang memiliki
dampak jangka panjang terhadap otak para pecandu
narkoba. Misalnya saja, unsur kimia yang melakukan
interaksi dengan reseptor glutamat dan dopamin di
dalam otak. Atau juga ditemukannya molekul, yang
mencegah diaktifkannya faktor transkkripsi di jaringan
saraf, untuk menerima protein penyebab toleransi atau
kecanduan. Selain itu, rehabilitasi sosial dan
psikologi juga dibutuhkan, karena kasus kecanduan
tidak dapat hanya disebuhkan dengan terapi obat-obatan
saja. 

 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke