Blank----- Maaf bila x posting -----


Dalam jangka pendek, pemerintah selayaknya serius menerapkan Surat Keputusan 
Menperindag No 9/MPP/Kep/I/2004 tentang ketentuan impor beras yang melarang impor 
beras hingga akhir tahun 2004.

 

Dalam strategi pembangunan pertanian Indonesia pemerintah harus :

 

(1). Redistribusi kekayaan agraria yang berkeadilan terhadap sebesar-besarnya 
kepentingan rakyat tani demi ekstensifikasi lahan yang berdaya guna untuk peningkatan 
produktivitas pangan/beras nasioanl - sekaligus tingkat kesejahteraannya.

(2). Alokasi anggaran negara yang signifikan bagi subsidi-subsidi sarana produksi 
pertanian dan memodernkan alat-alat industri pertanian secara murah-massal dengan 
berpijak kepada kearifan pengelolaan lingkungan.

(3). Secara tegas menolak WTO dari pertanian dan pangan.

-----
Tanah, Modal, Teknologi yang Modern-Murah-Massal
untuk Pertanian Kolektif di Bawah Dewan Tani/Rakyat
-----
Pengurus Pusat
Serikat Tani Nasional
Jl. Sawo Kecik Raya No. 2
Tebet - Jakarta Selatan 12840
Telp/Fax +62-21-8319881
Hp +62-856-8075066
Email : [EMAIL PROTECTED]

===========================================

Rabu, 08 September 2004  
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/08/utama/1257561.htm 

Siswono: Inkud Ikut Masukkan Beras dengan Modus "Spanyol" 


Jakarta, Kompas - Ketua Umum HKTI Siswono Yudo Husodo mengatakan, dari empat dokumen 
impor beras yang dilakukan dengan modus "spanyol" atau separuh nyolong pada tahun 
2003, diketahui bahwa Inkud termasuk salah satu pelaku hal itu.

"Saya sudah melaporkan kasus ini ke Ibu Presiden (Megawati Soekarnoputri) dan beliau 
bertekad memberantas penyelundupan itu. Saya meminta agar Jaksa Agung dan Kepala Polri 
segera mengusut kasus ini. Dari bukti yang ada, sangat kecil kemungkinan Ketua Umum 
Induk Koperasi Unit Desa (Inkud), Saudara Nurdin Halid, tidak terlibat dalam impor 
beras 'spanyol' itu," kata Siswono di Jakarta, Selasa (7/9).

Kompas mencoba menghubungi telepon pribadi Nurdin Halid, tetapi telepon itu diangkat 
oleh salah seorang anggota keluarganya. Yang bersangkutan menyatakan tidak dapat 
menghubungkan telepon itu ke Nurdin, dengan alasan Nurdin berada dalam status tahanan 
polisi.

Direktur Utama Inkud Chaerudin juga tidak bisa dimintai konfirmasi. Ketika Kompas 
mendatangi Kantor Inkud di Jalan Mampang Prapatan, seorang petugas satuan pengamanan 
(satpam) di sana hanya mengatakan, "(Dirut Inkud) sedang di luar, tidak ada di 
kantor." Petugas Hubungan Masyarakat (Humas) Inkud juga tidak bisa dikonfirmasi.

Menurut petugas satpam, pejabat humas Inkud sedang cuti.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai (BC) Eddy Abdurachman mengatakan, pihaknya sudah 
membentuk tim untuk meneliti kasus beras "spanyol" tahun 2003 yang masuk dengan cara 
memberikan laporan yang tidak benar itu.

"Saat ini tim yang saya bentuk sudah mengumpulkan berbagai data lapangan soal lalu 
lintas impor tersebut. Saya belum berani menduga apakah ada modus penyelundupan 
seperti itu atau tidak karena kami tengah melakukan audit investigasi," katanya.

Menurut Eddy, saat ini data yang ada sudah dikumpulkan, dan dari data tersebut akan 
ditelusuri apakah para importir terkait menggunakan kapal carteran atau kapal 
Indonesia, dan siapa agennya di Indonesia yang memasukkan beras itu. Apabila dari 
audit investigasi agennya bisa diketahui, maka tabir masuknya beras "spanyol" akan 
lebih mudah untuk diungkap.

Oleh sebab itu, untuk lebih mempercepat proses audit tersebut, BC sudah meminta 
bantuan otoritas pelabuhan, termasuk pihak Direktorat Perhubungan Laut, untuk 
mengetahui posisi kapal. Mereka ada di pelabuhan mana dan kapal apa yang digunakan. 
"Sampai sekarang yang kami punya memang masih nihil. Namun, kami tidak mau berhenti," 
ujarnya.

Menurut Dirjen BC, pihaknya tidak menyangkal adanya modus "misdeklarasi" atau 
menurunkan volume dalam dokumen. Peluang itu tetap dapat dilakukan karena barang impor 
seperti jagung, gula, kedelai, dan beras merupakan barang curah. Komoditas ini harus 
dibongkar dalam 24 jam penuh, sampai habis. Para importir tidak ingin menanggung biaya 
di pelabuhan terlalu besar. Selain itu, komoditas bulk (curah) tidak bisa ditimbun di 
dalam pelabuhan, tetapi harus langsung ditimbun di gudang di luar pelabuhan.

"Nah aparat kami terbatas untuk terus mengawasi dalam waktu 24 jam penuh. 
Peluang-peluang seperti ini tetap ada, dan tetap akan kami lakukan audit," kata Eddy.

Sengsarakan petani

Siswono mengatakan, kalangan petani meminta agar Presiden menindak keras pelaku impor 
tersebut, dengan menghukum para pelaku seberat-beratnya. Impor beras "spanyol" dinilai 
telah menyengsarakan jutaan petani di Tanah Air.

Tiga dokumen yang berisi jadwal pengapalan beras sebanyak 59.450 ton (yang masuk ke 
Jakarta hanya 46.500 ton) berasal dari Vietnam Southern Food Corporation (VSFC) atau 
Vinafood, dikirim via faksimile ke Inkud dan/atau Puskud Sulawesi Selatan (IDK) dengan 
menyebut nama Ketua MAH Nurdin Halid. Dari satu dokumen laporan bongkar muat beras di 
Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, juga diketahui bahwa pemilik beras itu adalah Inkud.

Dengan modus "spanyol", importir memasukkan 46.500 ton beras, tetapi yang dilaporkan 
ke otoritas pelabuhan hanya 29.355 ton, yang berarti selisih 29.355 ton (sekitar 37 
persen). Impor ini melibatkan enam kapal dari Vietnam.

Pengiriman beras itu bermula dari kontrak antara Inkud dengan VSFC tertanggal 21 
Januari 2003. Kontrak tertuang dalam surat bernomor VSFC-IDK/001/03. Setelah kontrak 
disepakati, dilakukan pengiriman beras. Pengiriman pertama diberitahukan melalui surat 
tertanggal 7 Maret 2003 yang dikirim melalui faksimile. Surat itu ditandatangani 
Deputy General Director VSFC Cao Thi Ngoc Hoa.

Pada surat ini terdapat nama lima kapal, yaitu MV Song Hang, MV Vinh Long, MV Vinh 
Thuan, MV Ha Nam, dan MV Ha Dong, yang seluruhnya memuat 30.450 ton beras. Salah satu 
kapal, yakni MV Ha Dong semula akan mengangkut 6.500 ton, tetapi kemudian disusulkan 
sebuah surat tertanggal 13 Maret 2003 yang menyebutkan MV Ha Dong mengalami kerusakan 
sehingga diganti dengan kapal MV Hung Vuong 02. Muatan kapal ini dilaporkan hanya 
3.759 ton.

Sebuah surat yang dikirim via faksimile tertanggal 12 Maret 2003 dengan tujuan yang 
sama menyebutkan pengiriman beras yang diangkut dengan empat kapal, yaitu MV Fitria 
Paramitra, MV Dwi Buddyarto, MV Buddy Rakhmadi, dan MV Mandiri Delapan. Jumlah muatan 
mencapai 29.000 ton. Surat tersebut ditandatangani Forwarding and Panning Manager VSFC 
Nguyen Huy Minh.

Dari pertemuan dengan sejumlah orang yang bekerja di pelabuhan diketahui, sejumlah 
pelaku di lapangan dalam kasus impor beras bermodus "spanyol" ini, yaitu JT. JT adalah 
staf ahli Direktur Utama Inkud yang juga masih tersangka dan buron dalam kasus gula 
ilegal beberapa waktu yang lalu.

Di samping itu, ada pula kerja sama Inkud dengan sebuah perusahaan, PT Hex Fin. 
Presiden Direktur PT Hex Fin bernama Y Gor RSL (inisial) tidak bisa dimintai 
konfirmasi. "Bapak tidak ada di kantor," kata salah satu resepsionis kepada Kompas 
yang mendatangi kantor PT HI dan hendak menemui Y Gor RSL di Menara Imperium, Jalan 
Rasuna Said, Jakarta.

Salah satu sumber menyebutkan, kerja sama itu dalam bentuk pengurusan dokumen dan juga 
pembayaran bea masuk. Bea masuk impor beras dibayar dengan menggunakan kredit dari 
sebuah bank. Mereka juga mencari gudang, truk, serta pembeli beras.

Baru satu sindikat

Menurut Siswono, pengungkapan ini baru mengungkap satu sindikat . Masih banyak 
sindikat lain yang beroperasi. Ia juga menyebutkan, berdasarkan informasi yang 
dikumpulkan HKTI, pedagang-pedagang di Thailand dan Vietnam sudah mengetahui secara 
persis perilaku aparat dan pedagang Indonesia.

"Pedagang di negara tetangga sudah mengetahui kalau aparat kita bisa diajak 'main'. 
Mereka menganggap Indonesia sebagai surga bagi para penyelundup. Kalau orang Indonesia 
mengimpor, langsung ditanya apakah berat yang dimasukkan sesuai dengan sesungguhnya 
atau direndahkan," katanya.

Di tengah isu beras impor berstatus "spanyol", dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 
dilaporkan, sebanyak 800.000 ton gabah kering simpan (GKS) hasil panen petani 
sepanjang tahun ini menumpuk di lumbung-lumbung milik petani karena tidak terserap 
pasar. (MAR/ETA/ast/as/dhf)
 




[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke