Blank--- Maaf bila x posting ---

Pencapaian Swasembada Pangan hanya dapat dicapai jika rakyat tani berdaulat - Merdeka 
- Sejahtera. Kemerdekaan, kesejahteraan dan kedaulatan hanya bisa dicapai dengan 
melancarkan GERAKAN REFORMA AGRARIA berupa :

(1). Redistribusi kekayaan agraria yang berkeadilan terhadap sebesar-besarnya 
kepentingan rakyat tani demi ekstensifikasi lahan yang berdaya guna untuk peningkatan 
produktivitas pangan/beras nasioanl - sekaligus tingkat kesejahteraannya.

(2). Alokasi anggaran negara yang signifikan bagi subsidi-subsidi sarana produksi 
pertanian dan memodernkan alat-alat industri pertanian secara murah-massal dengan 
berpijak kepada kearifan pengelolaan lingkungan.

(3). Secara tegas menolak WTO dari pertanian dan pangan.



-----
Tanah, Modal, Teknologi yang Modern-Murah-Massal
untuk Pertanian Kolektif di Bawah Dewan Tani/Rakyat
-----
Pengurus Pusat
Serikat Tani Nasional
Jl. Sawo Kecik Raya No. 2
Tebet - Jakarta Selatan 12840
Telp/Fax +62-21-8319881
Hp +62-856-8075066
Email : [EMAIL PROTECTED]
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/07/index.html

Rencana Ekspor Beras Perlu Pertimbangan Matang

Penanganan Pascapanen Jadi Masalah Kritis


BOGOR - Rencana Indonesia untuk mulai mengekspor beras pada tahun 2005, perlu 
pertimbangan matang. Sebab rencana itu jangan sampai mengorbankan kebutuhan dalam 
negeri.

Demikian diungkapkan Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo, di 
sela-sela Rembug Utama Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, di 
Cipayung, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/9).

Menurutnya, hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam persoalan ekspor beras, antara 
lain, pertama, masalah standar kualitas ekspor yang berkaitan dengan masalah 
pemrosesan hasil panen. Kedua, harga harus kompetitif mengingat Indonesia belum 
dikenal sebagai negara pengekspor beras. Ketiga, harus hati-hati berhitung mengenai 
jumlah jangan sampai mengorbankan stok dalam negeri. 

"Stok nasional harus tersendiri, dan untuk ekspor harus tersendiri, sehingga tidak 
mempengaruhi food security (ketersediaan pangan)," kata Widjanarko.

Seperti diketahui, Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Departemen Pertanian Mohammad 
Jafar Hafsah baru-baru ini mengatakan, produksi padi nasional pada 2004 ditargetkan 
53,7 juta ton gabah kering giling (GKG), yang jika dikonversi menjadi beras sekitar 33 
juta-34 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi beras nasional sebanyak 30 juta-31 juta 
ton, sehingga tahun ini diperkirakan surplus beras mencapai lebih dari dua juta ton. 

Memperhatikan tren pertumbuhan produksi beras yang terus meningkat dalam dua tahun 
terakhir ini serta guna menghindari kemungkinan membanjirnya beras dalam negeri akibat 
produksi yang melimpah, menurut Jafar, pada 2005 surplus beras harus dikeluarkan.

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian (Mentan), 
Bungaran Saragih pernah menyatakan, pada tahun 2005, masalah yang dihadapi instansinya 
adalah mengatasi surplus beras. Menurutnya, Indonesia tidak bisa serta-merta 
mengekspor surplus tersebut. Pertimbangannya, biaya produksi masih di atas harga 
internasional. 

Penanganan Pascapanen

Selanjutnya Widjanarko Puspoyo mengatakan, penanganan pascapanen padi sudah menjadi 
permasalahan kritis. Penyebabnya antara lain kebijakan investasi oleh pemerintah di 
bidang itu masih tersendat.

Menurut Widjanarko, kebanyakan petani Indonesia masih bergantung pada alam, yakni 
memanfaatkan sinar matahari untuk mengeringkan gabah hasil panen. Masalahnya, masa 
panen terjadi pada saat musim hujan sehingga kualitas gabah anjlok.

etc ...

--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 7/9/04 

=========================================

Rabu, 08 September 2004  
 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/08/ekonomi/1257250.htm
 

Harga Beras Lokal Saat Ini Belum Kompetitif di Pasar Internasional 


Jakarta, Kompas - Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Soewandi menilai, 
harga beras lokal belum kompetitif untuk mengisi pasar ekspor. Alasannya, komoditas 
beras di negara-negara pesaing mendapatkan subsidi yang lebih besar dari pemerintahnya 
dibandingkan dengan beras Indonesia.

"Kalau ada rencana mengekspor beras, saya mempertanyakan, apakah harga beras kita bisa 
kompetitif. Sebab harga beras di pasar internasional sudah terdistorsi oleh komponen 
subsidi," kata Rini.

Sementara itu, pemerintah tidak dapat memberikan subsidi untuk petani beras. Dengan 
kondisi itu, sulit bagi petani dan beras lokal untuk bersaing di pasar internasional.

Pengamat ekonomi Bustanul Arifin mengatakan, akhir-akhir ini muncul wacana mengenai 
kemungkinan mengekspor beras dengan adanya surplus produksi. "Saya hanya 
mempertanyakan, apakah dengan surplus produksi pada masa panen tahun ini sudah bisa 
dijadikan indikator untuk melakukan ekspor beras," katanya.

Menurut Bustanul, kebijakan ekspor beras harus dipertimbangkan secara matang. Artinya, 
keamanan pangan di dalam negeri harus benar-benar terjaga terlebih dahulu.

Bustanul juga mempertanyakan, apakah wajar Indonesia mengekspor beras, tetapi di sisi 
lain melarang impor beras. "Apa Indonesia tak menjadi bahan tertawaan orang," katanya.

Untuk produksi tahun 2004, Departemen Pertanian memperkirakan produksi padi meningkat 
sekitar 500.000 ton hingga 1 juta ton gabah kering giling dari target produksi 
sebanyak 53 juta ton. Kenaikan itu bisa terjadi karena prediksi kekeringan tahun ini 
tidak terlalu panjang (Kompas, 9/7).

Luas lahan yang mengalami kekeringan dan puso lebih rendah dibandingkan dengan tahun 
lalu. Tahun lalu luas kekeringan mencapai areal 500.000 hektar dan lahan puso sekitar 
120.000 hektar.

Menurut data, areal yang mengalami kekeringan hingga Juli tahun ini mencapai 120.000 
hektar dengan lahan puso 2.030 hektar. Meskipun baru sampai Juli, diperkirakan luas 
lahan kering tetap lebih rendah dari tahun lalu. (FE
 




[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke