http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=227 

Munir SH: Islam Harus Berpihak Pada yang Tertindas 
Tanggal dimuat: 4/8/2002 
 

Tak banyak orang tahu tentang pergulatan keislaman Munir SH, pejuang HAM dari Kontras. 
Dan kepada Kajian Utan Kayu, ia menumpahkan pergulatannya itu. Selama ini, Munir yang 
menjadi ikon dari pejuang demokrasi, kerap bersuara kritis terhadap penindasan, 
kekerasan negara dan ketidakadilan melalui LSM Kontras dan YLBHI (Yayasan Lembaga 
Bantuan Hukum Indonesia). Apa yang melandasi kiprah dan aktivitas Munir dalam 
menyuarakan demokrasi dan HAM? Adakah Islam menjadi energi bagi pilihan hidup yang ia 
ambil sekarang ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab Cak Munir, mantan aktivis HMI, dalam wawancara yang 
dilakukan Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang disiarkan Radio 
68 H dan jaringannya di seluruh Indonesia pada 1 Agustus 2002: 




Mas Munir, sebagai pejuang HAM, Anda tentu memiliki pandangan yang menarik tentang 
bagaimana Islam bermakna dalam profesi Anda. Dapatkah Anda menceritakannya?

Saya kira begini, dulu saya pernah mengikuti jalur beragama ekstrim, yang �radikal.� 
Kurang lebih 5 hingga 6 tahun antara tahun 1984-1989, isi tas saya tidak pernah kosong 
dari senjata tajam. Itu atas nama pertikaian agama. Sebetulnya, ketika saya berada 
dalam ruang ekstrimitas agama, ada semacam perasaan kehilangan fungsi agama itu 
sendiri. Misalnya, saya mempertanyaakan: Apakah benar, Islam memerintahkan saya untuk 
menjadi sangat eksklusif dalam beragama dan atau menutup diri dari komunitas lain? 
Pada masa itu, mulai ada pertentangan dalam diri saya: Apakah Islam itu untuk Allah 
ataukah untuk manusia atau untuk membangun masyarakat secara umum? 

Dalam situasi tarik-menarik pada masa itu, saya menemukan bahwa agama diturunkan untuk 
manusia. Saya setuju dengan Gus Dur, kalau Tuhan tidak perlu bodyguard untuk mengawal 
diri-Nya. Intinya, agama harus menjadi maslahat bagi manusia. Seringkali kita bicara 
masalah rahmat Islam untuk semesta, tapi kita tidak tahu maknanya. Akhirnya, 
ekstremitas itu saya tinggalkan karena saya tidak mungkin menjadi komunitas yang 
eksklusif. Karena Islam harus mendukung peradaban, maka dia harus bekerja pada 
wilayah-wilayah yang memang memperbaiki kehidupan manusia. Agama dipergunakan untuk 
memperbaiki kehidupan. 

Sebaliknya, ekstremitas beragama itu bisa menghancurkan peradaban manusia. 
Intoleransi, apapun bentuknya akan menghancurkan peradaban. Banyak orang beranggapan 
bahwa mereka sedang membangun. Akan tetapi, yang mereka bangun justru simbol-simbol 
yang menghancurkan peradaban. 

Pengalaman kehidupan Anda menarik bila dikaitkan dengan banyaknya orang yang lebih 
enjoy menjadi member of second community �entah agama atau etnis�ketimbang menjadi 
orang Indonesia?

Saya kira, kadang bentuk-bentuk perbedaaan itu melahirkan ekstremitas. Tidak hanya 
agama, tapi etnis juga. Ekstremitas itu selalu saja memutlakkan diri sendiri dan 
menafikan orang lain. Ini kadang-kadang terjadi tidak hanya antaragama, tapi juga 
antar faksi-faksi berfikir dalam agama. Itu antara lain dapat kita baca dari sejarah 
Indonesia; berapa banyak darah tertumpah atas dasar perbedaaan cara berfikir 
faksi-faksi agama. Anti gerakan tarekat misalnya, pengasingan orang dan pembunuhan, 
semuanya atas nama ekstremitas. Dari situ, seolah-olah hidup ini menjadi perang 
memperebutkan kapling di surga yang berapa hektarnya pun belum bisa kita diukur. Ini 
yang menjadi masalah.

Ada yang menarik dari uraian Anda tadi. Tadi Anda mengaku mengalami masa ekstrimitas 
beragama, lantas berubah. Pada titik mana terjadi perubahan itu?

Berubah ketika saya berhadapan dengan antitesia lain yang saya kira juga cukup 
ekstrim. Yaitu, mempertanyakan kembali tentang apakah beragama itu kekuasaan? Nah, itu 
pertanyaan dari dosen saya kala itu, Bapak Malik Fadjar (ini Menteri Pendidikan 
Nasional, Red). Dia mengatakan: �Saya tidak pernah mengetahui seorang pemuda sebodoh 
Anda, yang kemana-mana membawa semangat untuk berperang dengan instrumen agama, demi 
menguasai orang lain.� Menurut dia saya orang yang amat liberal. Bagi saya, Islam itu 
amat liberal dan dapat menerima perbedaan-perbedaan. Islam tidak punya kewenangan, 
ketika dia tidak bisa memberikan tempat bagi yang lain. Nah, pertanyaan �bagi yang 
lain� itu, betul-betul menjadi antitesis dari pikiran-pikiran mainstream di beberapa 
kelompok yang waktu itu saya ikuti. Aliran ekstrim yang saya ikuti, ternyata tidak 
memberikan ruangan pada yang lain. 

Anda shock ketika Pak Malik Fadjar mengingatkan itu pada Anda?

Saya shock sekali. Ini saya ingat betul karena saya tidak pernah berkeringat di kota 
Malang yang dingin, kecuali dari statement itu. Tapi saya telah menemukan sesuatu, 
yang bersifat inspiring (mengilhami, Red), 

Tahap yang kedua, kebetulan dulu saya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan saya 
mempunyai seorang mentor di HMI. Kritik Pak Malik kedua mengatakan: �Kau pelajari deh, 
Islam yang benar! Kalau kamu Anak HMI, baca deh Nilai Identitas Kader (baca: 
Nilai-nilai Dasar Perjuangan atau NDP). Nah, dari situ dievaluasi, apakah benar HMI 
untuk perang-perangan atau menjalankan misi sosial?� 

Setelah saya pelajari, saya menemukan, Islam mengakui bahwa dalam relasi sosial ada 
ketidakadilan; ada yang menzalimi dan yang dizalimi; Islam harus memihak pada pihak 
yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak pada yang dizalimi 
demi menciptakan keadilan. Dan Islam itu, saya kira keadilan, bukan untuk menciptakan 
eksklusivisme sebagaimana yang kita lihat. Temuan itu memang membuat saya terpisah 
dari komunitas �ekstrem� di mana pertama saya tumbuh. Tapi saya menemukan komunitas 
baru yang bisa menerima perbedaaan-perbedaaan. Saya kira, normal saja kalau dalam 
kehidupan, kita menemukan antitesis-antitesis yang menawarkan Islam dengan watak 
sebenarnya. 

Anda beruntung mengalami masa ekstrimitas, menemukan mentor yang baik dan mendapatkan 
pencerahan-pencerahan. Nah, untuk yang sekarang dalam fase ekstrimitas, bisakah mereka 
menemukan pencerahan seperti Anda?

Saya kira bisa. Hanya saja, persoalanan utamanya terletak pada ekstrimitas yang 
berorientasi pada kekuasaan politik, ketimbang pemahaman yang dalam tentang pahitnya 
intoleransi dengan pihak-pihak lain. Jadi, ekstrimitas akibat haus jabatan politik itu 
lebih berbahaya daripada semata-mata karena ia dangkal secara keagamaan. Nah, sekarang 
ini, saya kira, gejala ekstremitas lebih banyak bernuansa politik. Bukan ekstremitas 
dalam bingkai keyakinan yang sifatnya lebih mendasar.

Pendapat Anda yang menyebut ekstrimitas lebih sebagai gejala politik ketimbang gejala 
keagamaan itu menarik sekali. Bisa berbicara lebih spesifik lagi?

Ya, saya kira, ekstrimitas banyak lahir manakala situasi sosial-politik memungkinkan 
terbangunnya suatu model keterdesakan. Jadi, situasi sosial-politik itu menempatkan 
komunitas-komunitas ke dalam situasi ancaman terus-menerus. Meskipun, kemudian memang 
ada justifikasi-justifikasi keagamaan yang memberikan pembenaran atas kondisi 
keterdesakan secara politik terhadap ruang (space) kekuasaan. Ini dapat dilihat 
misalnya dari pembenaran terhadap penggunaan ayat-ayat yang mengatakan, bahwa orang 
Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela dan seterusnya (walan tardl� �anka al-Yah�d 
wala al-Nash�r� hatt� tattabia millatahum, Red). Ini dilakukan orang, tanpa melihat 
konteks sejarah mengapa ayat itu muncul, dan dalam kondisi seperti apa dan lain-lain. 
Tapi, itu diintrodusir terus menerus, seolah-olah permusuhan dengan Yahudi dan Nasrani 
tidak akan pernah berhenti, suatu yang permanen, merupakan keputusan Allah yang 
diciptakan untuk sepanjang masa. 

Nah, saya kira, banyak penggunaan justifikasi-justifikasi untuk kebutuhan-kebutuhan 
tatkala ada persoalan keterdesakan. Keterdesakan itu dapat muncul dalam bentuk politik 
populasi atau jumlah, seperti ketakutan akan islamisasi ataupun kristenisasi. Di 
masing-masing agama, ada kekhawatiran semacam itu. Ada juga yang merasa, space agama 
akan tertutup, ketika Islam kalah secara politik, sehingga orang khawatir akan susah 
salat di masjid, susah mengaji. Perasaan itu menjadi ancaman serius yang mendorong 
kita harus menguasai dan lain-lain. Juga ada keinginan untuk memaksakan kewajiban 
agama, karena dengan begitu dia merasa beragama secara benar. 

Dalam konteks ini, muncullah gagasan-gagasan keharusan negara memaksakan agama. 
Ektremitas akhirnya muncul dan berkembang di wilayah-wilayah semacam itu. Sementara, 
ketika masalah politik populasi agama tidak menjadi soal, orang tidak perlu menjadi 
ekstrim terhadap isu-isu yang membuat mereka mengumpul dan mengeras. Misalnya, orang 
yang tidak meminta negara sebagai alat agama tidak akan menjadi ekstremis yang giat 
memaksakan negara dengan atribut agama. Nah, gejala ini yang saya kira lebih muncul 
dan berkembang kuat ketimbang yang lain. Ini termasuk gejala internasional, dimana 
kegalauan terhadap dominasi negara-negara besar, dengan mudah memicu model ekstremitas 
tertentu dengan agama.

Itu kan menyangkut cara pandang tertentu: memandang Islam terancam dari banyak arah 
sehingga harus melawan. Menurut Anda, apakah pemandangan semacam itu cukup tepat?

Saya kira, cara pandang terhadap agama memang banyak ditentukan konteks di mana suatu 
masyarakat hidup. Makanya, mazhab-mazhab dalam Islam juga hidup dalam konteks dan 
pembelajaran sejarah masing-masing. Kalau dilihat dalam konteks itu, bisa saja agama 
menjadi alat resisten bagi mereka yang ditindas. Tapi, semestinya muncul tidak dalam 
bentuk ekstrimisme agama yang melawan terhadap sesama, yang sebetulnya tidak dapat 
diidentifikasi sebagai penindas. Saya sepakat kalau Islam menjadi enerji bagi kaum 
tertindas untuk melawan penindasan. Tapi bukan dalam bentuk perang melawan agama 
tertentu. Misalnya saja, relasi kita menjadi miskin bukan karena ada Kristen, tapi 
lebih karena ada kekuasaan modal, struktur dan lain-lain. Saya kira, agama bisa 
menjadi energi bagi orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap penindasan, asalkan 
lawannya jelas. Tapi, tidak lantas agama menjadi alat manipulasi kekuasaan untuk 
menghantam lawan-lawan, dengan simbol yang meneriakkan slogan kafir, murtad dan
 lain-lain.

Jadi agama lebih tampak sebagai simbol perlawanan yang bersifat vertikal?

Simbol perlawanan vertikal, memang. Sebetulnya, saya meyakini, Islam menawarkan agama 
bagi orang yang tertindas; memberi jawaban terhadap problem sosial di mana orang 
ditindas tidak begitu saja diam, tapi memberi perlawanan. Sementara, elemen-elemen 
non-tertindas, secara langsung memiliki kewajiban untuk membantu mereka dan menjamin 
tercapainya titik yang diinginkan untuk memberhentikan penindasan. Itu yang saya kira 
disebut sebagai masyarakat Islam. 

Dalam konteks semacam itu, jelas bahwa apa yang saya lihat dari ekstrimitas yang 
terjadi, bukan ekstrimitas dalam arti yang cupet seperti itu. Ini ekstrimitas space: 
menyangkut sebuah wilayah atau batas-batas kekuasaan. Bukan ekstiemitas yang menentang 
apa yang dianjurkan agama: memerangi penindasan; memerangi apa yang oleh agama 
dianggap nihil, yaitu kemiskinan. Memerangi kemiskinan adalah kewajiban, karena 
kemiskinan mendekatkan orang kepada kekufuran; membuat tiada, menjadi sesuatu yang 
tidak bermakna. Maka, melawan kemiskinan adalah perintah dan penting bagi umat Islam. 
Nah, di ruang ini, Islam tidak menyuruh memerangi agama lain, tapi memerangi suatu 
model penindasan dan penciptaan pemiskinan secara tidak sah. Itu saya kira satu hal 
penting untuk menjadi landasan Islam untuk membangun masyarakat dan perdaban. 

Apakah pemaknaan agama seperti itu yang memotivasi Anda untuk membela yang tertindas 
dan menjunjung nilai-nilai HAM?

Saya kira begini. Saya lahir dari suatu keluarga yang ketat dalam soal agama, dalam 
arti ketat yang normatif. Saya merasa, agama yang ketat dalam artian yang normatif itu 
tidak cukup. Beragama itu harus melampaui tapal batas normativitas yang selama ini 
dianut orang, seperti asumsi bahwa beragama cukup dengan salat lima hari dan 
lain-lain. Inilah yang dikritik Cak Nur sebagai kesalehan simbolik, saleh formal. Kita 
perlu ingat, bahwa dalam salat itu ada deklarasi-deklarasi, di mana orang diwajibkan 
menjalankan fungsi-fungsi tertentu. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya salat yang 
mendeklarasikan �inna shal�t� wanusuk� wamahy�ya wamam�ti�� (sesungguhnya salat, 
ritual, hidup dan matiku�, Red) bercampur dengan korupsi dan ketidakpedulian terhadap 
kemiskinan dan lain-lain. Dengan begitu, saya adalah orang yang dikecam Allah sebagai 
orang yang lalai, menjadi tidak bermakna dan terhina.

Dalam konteks ini, ketika saya berani salat, maka konsekuensinya saya harus berani 
memihak yang miskin, dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan 
perintah-perintah itu, seperti membela korban, sebab saya telah menghadapkan wajahku. 
Menghadap kemana? Kepada keadilan. Kalau saya menipu proses-proses keadilan, ke mana 
wajah ini saya hadapkan? Padahal, deklarasi itu terhitung lima kali sehari kita 
lakukan ketika salat, bahkan lebih (salat sunnah, Red). Jadi, bagi saya, tidak ada 
alasan umat Islam untuk tidak berpihak pada yang tertindas. Itu menjadi pilihan dan 
keyakinan saya. Membangun masyarakat yang adil juga termasuk perjuangan membela agama. 
Masyarakat yang adil tidak mesti menuntut semua orang menjadi Islam, tapi bagaimana 
cita Islam tentang keadilan dapat hidup dalam masyarakat. 

Secara pribadi, apakah Anda masih perlu mengidentifikasi diri sebagai muslim yang taat 
dan saleh ketika memperjuangkan keadilan, atau malah perjuangan itu sudah bertengger 
di atas nama-nama dan simbol-simbol?

Saya tidak tahu apakah dapat menilai diri saleh atau tidak. Yang jelas, saya adalah 
bagian masyarakat yang meyakini bahwa membangun keadilan yang inklusif dan tidak 
memihak pada diri sendiri, keadilan bagi semua, adalah enerji yang paling penting yang 
ditawarkan Islam. Saya akan meninggalkan Islam kalau tidak menawarkan itu. Saya 
memilih Islam kalau Islam menawarkan itu. Dan, saya tentu tidak bisa memaksa orang 
untuk mengakui bahwa Islam itu inklusif, maka kau harus ikut. Kalau begitu, Islam 
malah menjadi tidak inklusif. Tapi bagi saya, ketika mengambil pilihan, maka pilihan 
itu harus mengontrol perilaku saya. 

Dalam proses itu, orang tidak perlu dipaksa untuk ikut dan dia punya hak untuk 
membangun proses-proses yang lain. Tapi, di atas itu, agama tetap menjadi enerji dan 
penting untuk memberi ruang demi melawan ketidakadilan. Dalam hal ini, saya masih 
meyakini bahwa Islam bisa diharapkan. Islam yang inklusif, tidak untuk dirinya 
sendiri, dan tidak untuk mengejar kekuasaan, masih menjadi enerji penting bagi kaum 
yang tidak diuntungkan.

Apakah Anda merasa nyaman bila berhadapan dengan ekspresi keagamaan yang masih 
menonjolkan simbol-simbol identitas?

Saya kadang membayangkan bagaimana kelompok non-muslim berhadapan dengan kelompok 
muslim yang menonjolkan atribut fisik keislaman dan merasa paling benar. Jangankan 
mereka yang non-muslim, saya saja yang muslim merasa minoritas kalau berhadapan dengan 
orang yang berjenggot panjang dan berkening hitam-hitam. Kadang saya merasa terancam 
dalam artian (khawatir) akan didominasi dalam ukuran-ukuran kebenaran. Menurut saya, 
(simbol-simbol identitas) ini, kontraproduktif dengan keharusan mengenalkan Islam itu 
sendiri. Menurut saya, atribut itu bagian produk budaya yang berkembang seiring 
peradaban manusia. Hemat saya, perlu ada pembedaan antara kultur Arab pada masa Nabi 
dengan Islam itu sendiri. Itu dua hal yang berbeda. 

Jadi, tidak selamanya yang mendominasi Islam itu Arab, sehingga simbol-simbol budaya 
seperti pemakaian jubah menjadi otomatis Islam. Memakai jubah itu memang hidup di 
Timur Tengah. Orang Afganistan dulunya juga berjubah dan berjenggot, tapi tidak 
serta-merta mereka menjadi ukuran keislaman. Menurut saya, penggunaan simbol-simbol 
yang berpotensi menimbulkan distance atau jarak dengan yang lain, justeru merugikan 
Islam sendiri. Jadi harus dihindari. Kalau masyarakat bisa menerima, perilakunya tidak 
menjadi ancaman, maka itu wajar saja. Itu seperti kita melihat orang yang berdasi. 
Jadi perlu ditegaskan, bahwa memakai dasi atau jubah tidak menjadi ancaman, apalagi 
mendominasi kebenaran. Jadi, baju adalah kultur, bukan pembenar untuk dominasi. Saya 
kira begitu. []


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke