Agama dan Tuhan sebagai alat pengarahan Perkembangan Masyarakat.
Oleh [EMAIL PROTECTED]

Diskusi tentang peran agama pada peri-laku manusia adalah aktipitas 
intelektual yang tidak akan banyak memberi sumbangan pada 
pengertian kita tentang cara memperbaiki kehidupan masyarakat. Jauh 
lebih berguna adalah menempatkan agama dalam kerangka perbedaan 
antara norma dan nilai, sehingga terlihat bahwa agama hanya 
merupakan fungsi pengelompokan nilai-nilai yang kurang lebih 
konsisten, sehingga terbentuk sistim nilai atau ideologi. Apabila dilihat 
secara demikian maka agama bukanlah ciptaan tuhan tapi hasil dari 
proses internalisasi kollektip dalam evolusi masyarakat. Dari sudut 
pandang inipun tuhan hanyalah sekedar konsep legitimasi ciptaan 
masyarakat yang dipandang sebagai instansi terakhir yang 
memandatkan suatu nilai atau prinsip. 

1. Pengertian perbedaan "norma" dan "nilai".
Perbedaan pokok antara norma dan nilai adalah bahwa norma dapat 
dilihat, dapat diikuti sebab merupakan peri-laku yang nyata dalam 
lingkungan "umum". Karena norma adalah peri laku dalam lingkungan 
umum yang dapat diregistrasi maka masyarakat umum dapat melihat 
dan melakukan "kontrol sosial" pada pelaku, melalui penghadiahan atau 
penghukuman.

Nilai dilain pihak  merupakan patokan-patokan dan prinsip-prinsip 
berfikir dan berasa yang berada dalam lingkungan "pribadi", dengan 
demikian nilai hanya dapat dipantau oleh "kesadaran" dari pribadi itu 
sendiri. Nilai tidak dapat dipantau secara nyata oleh masyarakat tapi 
masyarakat mengasumsikan bahwa norma perorangan didorong oleh 
nilai yang mendasarinya. Sehingga secara tidak langsung nilai yang 
dimiliki seseorang dapat ditelusuri dari norma kelakuannya.

Dalam membuka penalaran seperti ini kita harus secara tuntas 
memisahkan antara lingkungan "umum" dan lingkungan "pribadi".  
Lingkungan umum adalah jurisdiksi masyarakat banyak yang dapat 
ditelusuri langsung seperti mengucapkan "selamat pagi" apabila 
berpapasan dengan sesama mahluk. Lingkungan "pribadi" adalah 
jurisdiksi perseorangan yang hanya dapat diketahui oleh kesadaran diri 
sendiri, seperti timbulnya rasa malu pada saat berbuat kesalahan atau 
timbulnya perasaan berdosa pada saat melanggar prinsip. Kedua obyek 
mental ini, yakni rasa malu dan rasa berdosa, hanya dapat dikenali oleh 
kesadaran diri sendiri. Kadang kala ia menampak melalui raut muka, 
tapi bagi seorang penguasa mimik mudah untuk menutupinya dan 
masyarakat hanya dapat menerka.

2. Agama sebagai jembatan antara lingkungan umum dan pribadi.
Agama berfungsi untuk mengorganisir kedua dunia tadi melalui 
mobilisasi norma, yakni  "kontrol sosial akan pelaksanaan syariat 
agama" dan mobilisasi nilai yakni "internalisasi nilai2 ajaran agama 
kejati-diri". Dengan demikian agama menguasai sisi input nilai di setiap 
pribadi dan menkontrol kelakuan pada sisi out-put. Fungsi agama tidak 
lain adalah sebagai wahana organisasi dan mobilisasi dari simbol2 
solidaritas dan komunitas dari masyarakat. Sehingga tercapai suatu 
sistim tertutup yang mereprodusir dan mengkonserpir nilai2 masyarakat 
tersebut, jadi sebagai alat penyatu dan pemisah yang mampu 
menimbulkan identitas tersendiri yang mengabsahkan dan menjelaskan 
keberadaan diri. Baik secara kolektip maupun bagi perorangan.   

3. Masyarakat sebagai pencipta agama.
Jelaslah bahwa agama yang kita diskusikan disini bukan ciptaan tuhan, 
tapi kebutuhan intrinsik dari masyarakat untuk melembagakan nilai 
merupakan sumber terciptanya agama. Agama diprodusir oleh 
masyrakat untuk dapat menempatkan setiap individu pada 
kedudukannya dalam kerngka pembagian kerja dan status sosial yang 
hadir. Sehingga perbedaan jenis kerja dan status tidak merugikan atau 
mengingkari solidaritas bersama. Dalam kerangka inilah Marx 
mengatakan "agama adalah candu bagi rakyat" yakni sebagai wahana 
ide yang menjadi pendamai kontradiksi pemilik dan pekerja.  Kita akui 
bahwa postulasi Marx tersebut sedikit cupat, oleh karena satu, 
mengingkari kebutuhan manusia untuk dapat mencernakan penderitaan 
keberadaannya sebelum tercapai pembebasan dari penindasan sistem 
masyarakat yang timpang, dan dua, mengingkari kebutuhan psychologis 
bagi kesadaran inidividu untuk dapat mencernakan registrasi 
penderitaan oleh akal dan panca-indera agar tetap dapat berfungsi 
sebagai individu dalam masyarakat. Namun demikian sari pendapat 
Marx tepat sebab fungsi agama memang adalah membentuk rasa 
persatuan terlepas dari status dalam masyarakat dan jenis kerja dalam 
proses produksi.

4. Manusia sebagai pencipta Tuhan.
Apabila agama diciptakan oleh kebutuhan masyarakat maka tuhan 
diciptakan oleh kebutuhan masyarakat untuk menempatkan sumber 
terakhir suatu nilai. Dengan demikian tercapai batasan kerangka diskusi 
pembentukan nilai yang dapat berjalan berabad-abad mengikuti evolusi 
masyarakat.  Disamping itu manusia pribadi mencerminkan segala 
ketidakmampuannya kepada kemampuan tuhan, sehingga manusia 
dalam masyarakat mempunyai tipe ideal dari sifat kesempurnaan. Tipe 
ideal kesempurnaan ini digunakan sebagai sandaran ke "aku"annya.  
Pada Tuhannya manusia berkaca, membandingkan keterbatasannya 
terhadap keluasan penciptanya. 

Namun dalam pengacannya itu manusia mengatasi rasa akunya untuk 
menjumpai kenyataan bahwa jatidirinya bukan suatu kenyataan yang 
langgeng. Ternyata hanya zat penciptanyalah yang merupakan satu-
satunya  kenyataan yang langgeng. Kebutuhan manusia untuk memiliki 
tuhan tidak lain adalah kebutuhan untuk menerangkan keberadaan 
dirinya dengan melegitimasikan rasa akunya untuk dapat menjembatani 
keberadaannya dari kehidupan yang berakhir dengan kematian dengan 
kehidupan yang langeng. Sekaligus dalam mengakui kebesaran dan 
kekuasaan tuhan manusia menempatkan dirinya dibumi sebagai wali di 
dunia, yakni hamba tuhan yang menguasai sumber2 alam dan marga 
satwa.

5. Agama sebagai alat Politik.
Sebagai sistim nilai, agama selalu merupakan wahana politk. Terutama 
dalam keadaan masyarakat yang tertutup dimana gerak evolusi 
masyarakat hanya terjadi oleh dinamika intern. Dalam masyarakat 
demikian politik dan agama adalah satu, sebab segenap keputusan dan 
perkembangan keputusan berlandaskan nilai-nilai dasar yang hadir 
dalam masyarakat, yang pada gilirannya mendapatkan wadah dalam 
kerangka agama formal. Dapat disimpulkan bahwa bila masyarakat 
berkembang secara evolusioner tanpa difrensiasi yang mendadak dalam 
fungsi2 proses produksi dan lembaga politik, maka agama dan negara 
adalah satu. Inilah hal yang dapat kita simak dalam sejarah dari 
perbagai masyarkat kuno.

Lain halnya apabila  yang agama telah mengukuh melembagakan  nilai2 
yang hadir dalam suatu saat tertentu, tiba-tiba dihadapi dengan 
perubahan mendadak dan diffrensiasi berkepanjangan dalam proses 
produksi dan pembentukan keputusan serta pembentukan lembaga-
lembaganya. Atau terlebih lagi akibat intrusi dari faktor-faktor exogin, 
semisalnya introduksi tehnologi, pengetahauan ataupun modal dari luar 
masyarakat itu sendiri, semisalnya melalui kolonisasi atau interaksi 
dengan pasaran dunia. Dalam keadaan demikian timbul diskrepansi 
antara norma baru (misalnya laki dan wanita duduk bersama ditempat 
kerja) dengan nilai lama (misalnya lelaki dan wanita tidak boleh 
bersentuhan terkecuali kalau muhrim). 

Apabila perubahan masyarakat terjadi menurut proses yang evolusioner 
maka nilai2 agama dapat menyesuaikan diri dengan difrensiasi 
fungsional baru melalui penyerapan bertahap, tetapi dalam 
perkembangan mendadak atau situasi revolusioner dengan sendirinya 
akan tercipta dikhotomi antara sistim nilai baru dengan sistim nilai lama. 
Terlebih lagi, kontradiksi anatara kedua pola nilai akan meruncing dan 
tidak dapat dirujukkan apabila fungsi2 baru tersebut membawa 
pergeseran besar dalam kelompok-kelompok sosial dan ekonomi.

Dalam masyarakat dimana nilai rasional sek belum sepenuhnya 
membentuk psikhologi pribadi dan dimana nilai2 primordial masih 
mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan kepribadian, maka  
dalam situasi ketidak-berdayaan atau keterasingan (alienasi) dan 
dimana opsi-opsi berdasarkan sistematika rasional terbukti tidak 
berhasil maka seorang pribadi akan cenderung surut kepada sistematika 
yang primordial dan irasional. Dalam skala masyakat gejala ini dapat 
dilihat pada gerakan-gerakan mistik dan fundamentalis agama, dimana 
titik berat gerakan kepercayaannya adalah pengembalian bangun atas 
lembaga kekuasaan dan bangun bawah hubungan perekonomian 
kedalam bentuk yang lama, yang lebih jelas dan dimengerti melalui 
nilai2 yang telah diinternalisir sebelumnya.

Disini agama adalah alat politik dalam usaha manusia untuk menguasai 
dan mengarahkan gerak perubahan masyarakat yang telah berkembang 
lebih jauh dari sistim nilai yang telah diinternalisasi.  Oleh karena itu kita 
tidak perlu bimbang dalam menghadapi gerakan-gerakan keagamaan, 
dasar intinya bukanlah kepercayaan yang mereka anut tetapi kontradiksi 
sosial yang tidak terpecahkan dalam konteks lembaga kekuasaan dan 
proses politik yang hadir. Setiap siswa ilmu politik pun tahu bahwa 
kekerasan merupakan perpanjangan dari bentrokan politik yang tak 
terpecahkan, dengan demikian setiap langkah supresi terhadap gerakan-
gerakan seperti ini dengan sendirinya tidak ditujukan pada agama tetapi 
langsung pada pelaku kekerasan. Disini kita kembali pada permulaan 
penalaran bahwa sanksi masyarakat ditentukan pengamatan norma, 
yakni perilaku pribadi dalam "lingkungan umum" yang dapat diregistrasi. 
Sudut norma inilah yang di "hukum" atau di "hadiah", sedang spesifik 
agama itu sendiri berada dalam "lingkungan pribadi".

6. Kesimpulan
Era globalisasi pasca Perang Dingin telah menempatkan banyak 
kelompok-kelompok ekonomi lemah dalam kekecewaan terhadap 
kemampuan solusi "akal sehat" bagi keberadaannya. Kecenderungan ini 
semakin menguat terutama setelah revolusi "primordial" di Iran dan 
pengusiran agressi Soviet Uni di Afganistan. Maka bagi banyak 
kelompok ekonomi lemah wajarlah pilihan untuk surut kembali pada 
agama sebagai sistim nilai yang dapat dimobilisir untuk menggerakan 
rasa solidaritas dan mengungkapkan aspirasi politik. Saat ini dimana 
konsep "modern" , yang mewakili kepentingan budaya golongan 
menengah dan kalangan modal kuat, dihadapkan pada 
konsep "primordial", yang mewakili kepentingan budaya kelompok-
kelompok tersisihkan, tidak mungkin tidak kita akan melihat agama atau 
mistik sebagai landasan gerakan perlawanan dan teror.

Kecenderungan ini hanya akan bisa diatasi apabila konsep modern 
dapat secara nyata memberikan kesempatan ekonomis dan pemenuhan 
aspirasi sosial bagi kelompok-kelompok tersisihkan dan daerah-daerah 
terkebelakang. Salah satu "norma" dalam struktur modern adalah 
monopoli kekerasan oleh negara dan tahap berikutnya sublimasi 
kekerasan dengan metode yang lebih halus. Apabila konsep yang 
modern atau pasca modern ingin kita ajukan sebagai landasan bersama 
kemasyarakatan dihari depan, maka perlu kita mencampakkan diri dari 
norma "kekerasan" yang merupakan warisan terdalam dari zaman 
primordial. Dalam menghadapi kekerasan hanya pengembangan 
kehalusan budi pekerti secara sadar dan sengaja yang dapat 
mengimbanginya. Jadi disamping program pemerataan pendapatan dan 
kesempatan, kita harus secara sadar membentuk nilai-nilai moralitas 
baru yang tenggang rasa,  non-egois, terbuka dan sayang pada 
kehidupan sesama mahluk hidup dan bumi. Sekali ini biarlah suatu 
ideologi agnostik mejembatani antara norma dan nilai.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke