Susahnya Menjalankan Titah Koalisi Elit Partai

Titah politik Koalisi Kebangsaan dan Koalisi
Kerakyatan dari pusat ternyata belum menuai hasil
maksimal. Di berbagai daerah, ketika dimulai pemilihan
ketua DPRD tingkat propinsi seperti yang terjadi akhir
pekan lalu di Jawa Timur, persekutuan-persekutuan
politik yang diharapkan pusat tak mampu berjalan
mulus. Laporan Junito Drias dari Surabaya.

Suasana penghitungan suara di DPR Surabaya

Partai Kebangkitan Bangsa layak bergembira. Pasalnya
jago mereka Drs. Fathorrasjid, Msi. berhasil menduduki
kursi ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur.
Sementara lawan terberatnya Ridwan Hisyam, calon dari
Golkar, hanya bisa terpekur di urutan kedua. Dengan
jumlah kursi Golkar yang cuma 15 itu, tentu Ridwan
berharap rekannya dari Koalisi Kebangsaan bakal turut
menyetor suara. PDI Perjuangan misalnya memiliki 24
kursi, kemudian PPP delapan kursi. Hitung punya hitung
dengan modal awal Koalisi Kebangsaan harusnya di
tangan Ridwan minimal ada 47 suara. Tapi apa lacur
Ridwan hanya meraih 23 suara. Jadi Golkar di Jawa
Timur sebenarnya layak bermuram durja, karena tak
dapat disangkal suara-suara rekanan koalisinya yang
sangat dibutuhkan itu lari menjauh. 

Di sisi lain, pemilihan ketua umum DPRD Jawa Timur itu
menunjukan betapa kuatnya aliansi non Koalisi
Kebangsaan. PKB dan PAN misalnya. Kendati mengaku
netral dalam urusan dukung mendukung calon presiden,
di tingkat daerah padat pemilih seperti Jawa Timur
justru terlihat sangat bergandengan erat dengan
Koalisi Kerakyatan bentukan pendukung calon presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Nah karena keintiman ini
pula FDK, Fraksi Demokrat Keadilan yang terdiri dari
Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera, sama
sekali tak memberi suara buat jagonya sendiri, alias
nol. Bahkan Soehartono, sang calon FDK, tak memberi
suara buat dirinya sendiri. Ini kontan membuat Heri
Purwanto dari Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Timur
menjadi sewot. 

Heri Purwanto: Ini saya rasa bukan masalah sulit ndak
sulit. Ini kan masalah ada pertimbangan-pertimbangan
tertentu dari partai-partai itu. Kalau sulit ndak
sulitnya, mari kita lihat di bawah itu. Itu saya rasa
ukuran yang paling pokok. Bukan di acara semacam ini.
Begitu. Saya melihat malah ada hal-hal yang anehlah.
Seperti misalnya masak ada orang yang enggak milih
dirinya sendiri. Ini bagi saya lucu malahan. Soalnya
ada apa di balik itu. Barang kali teman-teman bisa
tafsirkan sendirilah.

Demikian Heri Purwanto dari DPD PDIP Jawa Timur.

Sementara itu Fathorrasjid, ketua DPRD terpilih,
menolak dikatakan pemilihan ini berbau Koalisi
Kerakyatan. Ia menegaskan kembali posisi Partai
Kebangkitan Bangsa yang menyatakan netral dalam
pemilihan presiden putaran kedua, 20 September
mendatang. Namun Fathorrasjid sedikit menekankan
pentingnya pemimpin yang kuat.

Fathorrasjid: Saya tidak ada sepeserpun itu keluar
duit dan sebagainya. Anda bisa tanya. Paling-paling
kita sekedar ngundang makan, kita ngomong, kita samain
posisi, dan ambillah. Ternyata itu lebih menyentuh dan
itu lebih menarik simpati, daripada yang lain. 

Kita bedakanlah. Urusan pilihan presiden adalah
pilihan rakyat kan? Apalagi PKB sudah kita katakan
bahwa kita netral secara kelembagaan, tidak ngambil
peran aktif. Tetapi yang terpenting bahwa sesungguhnya
yang kita tawarkan bukan macam apa, tapi kita tawarkan
ke depan Jawa Timur ini butuh kepemimpinan yang kuat.
Dan itu butuh dukungan semua pihak.

Demikian ketua DPRD Jawa Timur terpilih Fathorrasjid.

Yang kemudian menjadi pertanyaan sekarang adalah
apakah suasana pemilihan ketua DPRD Jawa Timur itu
bisa menggambarkan kecenderungan warga Jawa Timur
mendukung Koalisi Kerakyatan. Yang jelas naiknya
Fathorrasjid bisa melukiskan titah Koalisi Kebangsaan
di Jakarta memang kerap nggak nyambung dengan elit
partai koalisi itu di daerah.

Lalu bagaimana dengan elit partai di daerah dengan
konstituennya? Zainuddin Maliki, Rektor Universitas
Muhammadiyah Surabaya melihat apa yang terjadi di DPRD
Jawa Timur itu bukan gambaran pilihan rakyat.
Menurutnya apa yang disebut dengan Koalisi Kebangsaan
mau pun Koalisi Kerakyatan hanyalah jargon-jargon
kampanye belaka. 

Zainuddin: Koalisi kebangsaan itu konsepnya diharapkan
peta di Jakarta itu lalu terjabarkan juga di daerah.
Ternyata kalau diukur dengan pemilihan ketua DPRD,
koalisi itu tidak berjalan. Akan tetapi bukan berarti
bahwa ini kemudian juga merefleksi pada pola perilaku
pemilihan tanggal 20 September nanti dalam rangka
memilih presiden. Ini tidak otomatis.

Nah kemudian koalisi rakyat ini memang menarik ya,
tapi sesungguhkan koalisi rakyat itu bentuknya kayak
apa kan tidak ada yang tahu, kan begitu? Ini merupakan
jargon untuk kampanye yang menurut saya bahasa
kampanye yang bagus, tetapi kongkrit penjelmaannya
kayak apa, itu tidak jelas. Bagaimana rakyat
berkoalisi dengan elit, gitu? Rakyat bargainningnya
kayak apa, kan enggak jelas juga? Rakyat akan
mendapatkan apa? Rakyat selama ini tetap aja
mendapatkan janji. Termasuk janji perubahan, perubahan
apa kan? Rakyat belum tahun juga kan? 

Kalau demikian adanya, maka pantas saja titah
koalisi-koalisian itu sulit dijalankan hingga tingkat
bawah. Apalagi dengan kenyataan bahwa pemilih
Indonesia kian mandiri dalam menjatuhkan pilihan. Tapi
itu bukan 100 persen. Karena kini, titah
koalisi-koalisian itu dibarengi bayangan uang,
perintah komandan, perintah atasan, dan ancaman
kekerasan.

Junito Drias melaporkan untuk Gema Warta dari
Surabaya, Jawa Timur.

Radio Nederland
http://www.rnw.nl/in/berita/gemawarta.html#4147156


                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Shop for Back-to-School deals on Yahoo! Shopping.
http://shopping.yahoo.com/backtoschool


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke