Catatan Akhis Pekan (CAP) Adian Husaini, MA ke-69 di Hidayatullah.com.
http://www.hidayatullah.com/modules.php?
name=News&file=article&sid=1373
"Harga Nyawa Manusia dalam Tradisi Kolonialisme"
//Huntington meminta Barat melakukan "serangan dini" dan "intervensi
defensif" menghadapi "Islam". Sebutan "teroris" adalah doktrin
ofensif Barat menghadapi Islam//Bartolome de Las Casas (1474-1567),
seorang pastor Ordo Dominican, menceritakan perilaku penjajah Kristen
Spanyol terhadap penduduk asli Amerika, saat mereka menjajah wilayah
itu. Kata de Las Casas, mereka membantai dengan sangat sadis siapa
saja yang ditemui, tanpa peduli apakah penduduk itu wanita hamil,
anak-anak atau orang tua. Para penjajah itu juga membuat aturan, jika
ada seorang penjajah Kristen terbunuh, maka sebagai balasannya, 100
orang Indian juga harus dibunuh. (The Christians, with their horses
and swords and lances, began to slaughter and practice strange
cruelties among them. They penetrated into the country and spared
neither children nor the aged, nor pregnant women, nor those in
childbirth, all of whom they ran through the body and lacerated, as
though they were assaulting so many lambs herded into the sheepfold�
and because sometimes, though rarely, the Indians killed a few
Christians for just cause, they made a law among themselves that for
one Christian whom the Indians might kill, the Christians should kill
a hundred Indians). (Lihat, Philip J. Adler, World Civilization, hal
311).
Betapa mahalnya, harga nyawa seorang Kristen dibandingkan dengan
harga nyawa orang Indian. Satu nyawa orang Kristen, harus dibalas
dengan 100 nyawa orang Indian. Tetapi, hal itu bukan hanya terjadi
pada nyawa orang Indian. Nyawa orang-orang Aborigin, penduduk asli
Australia, dan juga orang-orang Afrika juga diperlakukan sama. Murah
harganya dimata para penjajah. Sejarah perdagangan budak-budak Afrika
sangat mengenaskan. Dalam lintasan sejarah Afrika, tidak ada yang
lebih kontroversial selain kasus perdagangan budak trans-atlantik
dari Afrika ke Barat.
J.D. Fage, dalam bukunya, A History of Africa (1988), menyebutkan,
bahwa dalam tempo 220 tahun (1650-1870), sekitar 10 juta manusia,
diekspor sebagai budak dari Afrika ke `Dunia Baru'.
Bagaimana sekarang? Apakah logika kaum kolonial Kristen Spanyol itu
masih diterapkan di muka bumi?
Pada 8 September 2004, Kantor Berita Associated Press (AP)
mengumumkan bahwa jumlah tentara AS yang mati di Iraq sudah mencapai
1.003 orang, sejak Perang itu dilancarkan Maret tahun 2003. Jumlah
itu sudah termasuk 3 warga sipil AS yang bekerja untuk tentara AS.
Segera setelah itu, Menteri Pertahanan AS, Donald H. Rumsfeld
mengingatkan, agar `musuh-musuh AS' tidak `underestimate' terhadap
kemauan bangsa AS dan sekutu-sekutunya untuk menimbulkan penderitaan
di Iraq atau di mana saja. Ia memperingatkan, bahwa musuh-musuh AS
terlalu memandang rendah bangsa AS dan sekutu-sekutunya. Kata
Rumsfeld: "The progress has prompted a backlash, in effect, from
those who hope that at some point we might conclude that the pain and
the cost of this fight isn't worth it. Well, our enemies have
underestimated our country, our coalition. They have failed to
understand the character of our people."
Pemerintahan Bush, menurut AP, telah lama mengkaitkan konflik di Iraq
dengan peperangan melawan terorisme. Padahal, Komisi penyelidik
peristiwa 11 September 2001, telah menyimpulkan, bahwa antara Iraq
dan al-Qaeda tidak mempunyai hubungan kolaboratif sebelum 11
September 2001. Apapun, setelah itu, tentara-tentara AS di Iraq terus
melakukan serbuan-serbuan dan pembunuhan-pembunuhan terhadap rakyat
Iraq. Dan pada 9 September 2004, AP melaporkan, bahwa jumlah penduduk
Iraq yang mati diperkirakan antara 10.000-30.000 orang, sejak invasi
AS ke Iraq tahun lalu.
Inilah yang barangkali dikatakan Rumsfeld, musuh-musuh AS gagal
memahami bangsa AS, bahwa jika satu nyawa orang AS mati, maka harus
dibalas dengan tebusan berpuluh kali lipat. Tidak berbeda filosofinya
dengan apa yang dilakukan penjajah Kristen Spanyol terhadap kaum
Indian dulu. Pesan Rumsfeld sangat jelas, jangan coba-coba melawan
kehendak dan titah negara adikuasa itu.
Cara berpikir serupa bisa disimak dalam kasus pembunuhan terhadap
rakyat Palestina, dimana AS masih terus memperlakukan Israel anak
emasnya. Sejak meletusnya intifadah ke-2, pada 28 September 2000,
jumlah warga Palestina yang terkorban sudah mencapai 3250 orang.
Sementara jumlah kaum Yahudi yang mati sekitar 800 orang. Jika
berlaku aksi serangan terhadap warga Yahudi, maka Israel akan
melakukan serangan balasan yang membunuh berkali-kali lipat jumlah
warga Yahudi yang terbunuh. Sebuah pola pikir yang juga sama dengan
yang digunakan penjajah Kristen Spanyol terhadap kaum Indian.
Kasus Iraq, yang diawali invasi AS pada Maret 2003 sudah berlangsung
hampir dua tahun. Pada 11 September 2004 ini, peristiwa WTC juga
sudah memasuki tahun ketiga. Pada kasus WTC, logika kolonial juga
diberlakukan. Untuk nyawa sekitar 2.700 orang AS, maka harus ditebus
dengan puluhan ribu nyawa orang Afghanistan dan Iraq.
Koran Tempo (12 November 2001), menurunkan berita berjudul "Noam
Chomsky: Lebih Jahat dari Serangan Teroris". Profesor linguistik di
MIT itu menyimpukan: "Pengeboman Afghanistan adalah kejahatan yang
lebih besar dari pada teror 11 September."
Dalam Perang Vietnam, logika kolonial Kristen Spanyol juga
diterapkan. Jeremy Isaacs dan Taylor Downing, dalam buku `Cold War'
menceritakan, menyusul terbunuhnya beberapa tentara AS di Vietnam
pada 7 Februari 1965, Presiden AS segera memerintahkan aksi serangan
balasan yang sangat dahsyat. Senjata kimia dan pemusnah massal yang
luar biasa ganasnya terhadap manusia dan alam digunakan untuk
mengalahkan musuh.
Dalam upaya untuk memaksa Vietnam Utara duduk di meja perundingan, AS
menggunakan bahan peledak berkekuatan tinggi, bom napalm, dan cluster
bombs. AS juga menjatuhkan 18 juta gallon herbisida yang
menghancurkan hutan tropis dan area persawahan. Tak hanya itu,
senjata kimia yang sangat beracun, bernama Agent Orange, pun
digunakan. Tanpa peduli, kota-kota dan hutan dihancurkan untuk meraih
kemenangan. Tentang hal ini, seorang pejabat AS menyatakan: "We had
to destroy the town in order to save it." (Kita harus menghancurkan
kota ini untuk menyelamatkannya).
Masalah Perang Vietnam juga menyaksikan satu tragedi dalam sejarah
AS, yaitu terbunuhnya Presiden John F. Kennedy pada 22 November 1963.
Robert Mc Namara dalam memoarnya percaya bahwa jika Kennedy tidak
dibunuh, maka AS tidak akan terlibat dalam Perang Vietnam. Fim JFK
garapan Oliver Stone juga menggambarkan kaitan antara pembunuhan
Kennedy dengan penolakannya terhadap keterlibatan AS dalam Perang
Vietnam.
Murahnya harga nyawa penduduk jajahan bisa disimak dalam berbagai
kasus. Di Afghanistan, pada Juli 2002, 48 warga sipil mati dan 117
luka-luka, akibat serangan bom pesawat tempur AS. Ketika itu, warga
sipil Afghan tersebut sedang mengadakan pesta perkawinan. Pada Mei
2004, peristiwa serupa terjadi lagi di Iraq. Lebih dari 40 warga
sipil yang sedang mengadakan pesta perkawinan dihujani bom oleh
pesawat AS. Tidak ada pertanggungjawaban apa-apa atas peristiwa itu.
Dan AS dengan entengnya menyatakan, bahwa tindakan pembunuhan itu
dilakukan sebagai serangan balasan, karena pesawat AS dihujani
tembakan.
Namun, dalam dunia mafia, tindakan balas dendam yang lebih dahsyat
itu sebenarnya bukan hal aneh. Tindakan itu dilakukan untuk membuat
kapok, agar lawan tidak coba-coba untuk melawan lagi. Dalam bukunya,
Rouge State: A Guide to the World's Only Superpower, Mantan Pejabat
Deplu AS, William Blum mengungkap studi internal "US Strategic
Command" tentang "Essentials of Post-Cold War Deterrence". Dikatakan,
bahwa tindakan AS yang kadang kelihatan `out of control', irasional,
dan pendendam, bisa jadi menguntungkan untuk menciptakan rasa takut
dan keraguan pada musuh-musuhnya. (That the US may become irrational
and vindictive if its vital interests are attacked should be a part
of national persona we project to all adversaries).
Seperti diketahui, kasus Iraq yang terus berlarut-larut merupakan
salah satu peristiwa yang begitu banyak memunculkan protes di seluruh
penjuru dunia. Jutaan manusia di negara-negara Barat sendiri bangkit
menentang penyerbuan dan pendudukan AS terhadap Iraq. Tanpa
menafikan, bahwa Saddam Hussein juga telah melakukan kekejaman yang
luar biasa terhadap rakyatnya, maka serbuan dan pendudukan AS
terhadap Iraq merupakan akhir dari era `Pax Americana'. Tatanan dunia
yang diatur oleh negara-negara Barat itu sendiri melalui PBB dan
hukum internasional telah dihancurkan sendiri oleh AS.
Skenario Huntington
Jika kita merenungkan kembali apa yang terjadi sekarang ini di
berbagai belahan dunia - di Palestina, Chechnya, Rusia, Filipina
Selatan, Iraq, Arab Saudi, Indonesia, dan sebagainya - ternyata mirip
sekali dengan apa yang berulangkali dinyatakan oleh Samuel P.
Huntington dalam berbagai tulisannya. Juga, sebuah analisis yang
dibuat oleh Michele Steinberg, pada 26 Oktober 2001,
berjudul `Wolfowitz Cabal' is an Enemy Within U.S. di "Executive
Intelligence Review", yang menganalisis, Perang Iraq adalah batu
skenario menuju `Perang Global' yang menghadapkan `Islam dengan
Barat'. ("But Iraq is just another stepping stone to turning the anti-
terrorist `war' into a full-blown `clash of civilizations', where the
Islamic religion would become the enemy image in a New Cold War").
Apa yang terjadi sekarang adalah sebuah `skenario' yang menyeret
dunia pada dua kutub yang berhadapan: Barat dengan Islam. Kaum Muslim
perlu memahami dan menyadari situasi dan pola baru dalam hubungan
internasional. Kaum Muslim sangat perlu berhati-hati untuk tidak
terjebak dalam skenario ini. Kita perlu memahami, bagaimana dampak
Tragedi WTC dan Bom Bali terhadap kaum Muslim di Palestina, Kashmir,
Chechnya, Moro, Indonesia, Malaysia, dan sebagainya. Aksi-aksi
pengeboman yang memakan korban rakyat sipil yang tidak tahu apa-apa -
jika benar dilakukan sebagian elemen Muslim - terbukti justru
menyulitkan posisi kaum Muslim dalam perjuangan melawan pemurtadan
dan kezaliman global. Memang, dalam soal pandangan hidup, secara
konsepsual, terjadi perbedaan fundamental antara peradaban Islam
dengan peradaban Barat, tetapi hal ini bukan berarti lalu kaum Muslim
boleh malakukan aksi fisik kapan saja terhadap Barat.
Dunia Islam, misalnya, hingga kini menolak tekanan Barat untuk
memasukkan para pejuang Palestina ke dalam daftar teroris. Sebab,
faktanya, mereka merupakan korban terorisme Zionis Israel. Ketika
penjajah Belanda menduduki Indonesia, para ulama bersepakat
mengeluarkan Resolusi Jihad dan Soekarno membentuk `kamp kaum
radikal'. Kaum Muslim Indonesia, misalnya, saat ini menghadapi
imperialisme budaya, ekonomi, politik, dan pemikiran yang sangat
dahsyat. Maka, jalan perjuangan yang terbaik untuk memerdekakan
negeri Muslim terbesar ini adalah melalui perjuangan ilmu, budaya,
ekonomi, dan politik. Kecuali, jika kaum Muslim diserang secara fisik
seperti di Maluku dan Poso.
Memahami kondisi dan situasi memerlukan pengorbanan yang besar.
Itulah perjuangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Itulah yang
dilakukan oleh Barat dalam menyusun skenario tata dunia baru pasca
Perang Dingin. Mereka berjuang dengan ilmu. Mereka kerahkan ilmuwan-
ilmuwan untuk memasuki babak baru dalam situasi baru pasca Perang
Dingin.
Huntington, misalnya, disamping seorang guru besar ilmu politik di
Harvard University, Huntington juga merupakan penasehat kawakan dalam
politik luar negeri AS. Dalam tahun 1977-1978 ia menjabat sebagai
koordinator Perencanaan Keamanan untuk Dewan Keamanan Nasional
(National Security Council) di Gedung Putih. Diantara buku-bukunya
adalah The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-
Military Relations (1957), The Common Defense: Strategic Programs in
National Politics (1961), Political Order in Changing Societies
(1968), American Politics: The Promise of Disharmony (1981), The
Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (1991), The
Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), dan
Who Are We? The Challenges to America's National Identity (2004).
Bukunya yang sangat terkenal dan kontroversial adalah The Clash of
Civilizations and the Remaking of World Order. Buku ini sudah
mengarah untuk menempatkan Islam sebagai tantangan terpenting bagi
peradaban Barat, pasca runtuhnya komunisme. Hal itu ditekankan lagi
saat berdialog dengan Anthony Giddden, pada akhir musim semi tahun
2003, bahwa militan Islam adalah ancaman terhadap Barat. (We must
distinguish between militant Islam and Islam in general, but militant
Islam is clearly a threat to the West-through terrorists and rogue
states that are trying to develop nuclear weapons, and through a
variety of other ways).
Dalam menghadapi apa yang disebut sebagai `militan Islam' itu,
Huntington mendukung langkah dilakukannya tindakan `preemptive
strike' oleh AS dan Barat. Ia menekankan lagi, bahwa musuh utama
Barat adalah Islam militant. (I would add that a strategy which
allows for preemptive war against urgent, immediate and serious
threats is absolutely essential for the US and other Western powers
in this period. Our enemies-primarily the militant Islam, but also
other groups-cannot be deterred, that much is obvious, so it is
essential-if they are preparing an attack against us-that we attack
first).
Nasehat Huntington itu terbukti efektif, dan telah diaplikasikan oleh
pemerintah AS. Pada awal Juni 2002, doktrin preemptive strike
(serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif)
secara resmi diumumkan. Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini, AS
telah mengubah secara radikal pola "peperangan" melawan "musuh".
Sebelumnya, di masa Perang Dingin saat menghadapi komunis, AS
menggunakan pola containtment (penangkalan) dan deterrence
(penangkisan). Kini menghadapi musuh baru � yang diberi nama teroris -
AS menggunakan pola preemptive strike dan defensive intervention.
Jadi, dalam menghadapi `militan Islam', atau negara-negara musuh,
yang memiliki senjata kimia, biologis, dan nuklir, AS akan merasa
leluasa menyerang mereka.
Dari kasus doktrin `preemptive strike' ini tampak bagaimana pola
pikir `bahaya Islam' yang dikembangkan ilmuwan - dan sekaligus
penasehat politik Barat - seperti Huntington, berjalan cukup efektif.
Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran
langsung, yang dikehendaki, meskipun tanpa melalui persetujuan atau
mandat PBB. Pola pikir Huntington, bahwa `Islam' lebih berbahaya
dari `komunis' juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS
tersebut. Padahal, jika dipikirkan dengan serius, manakah yang lebih
hebat kekuatannya, apakah Usamah bin Ladin atau Uni Soviet? Mengapa
untuk menghadapi negara adikuasa yang memiliki kekuatan persenjataan
hebat setanding dengan AS, hanya digunakan kebijakan `containtment'
dan `deterrence', sedangkan untuk menghadapi `militan Islam' harus
digunakan strategi `preemptive strike'?
Di Majalah Newsweek, Special Davos Edition, December 2001-February
2002, Francis Fukuyama juga mencatat: "Radical Islamist, intolerant
of all diversity and dissent, have become the fascists of our day.
That is what we are fighting against."
Jika "militan Islam", "fundamentalis Islam" dan "radikal Islam"
ditempatkan sebagai musuh Barat yang paling utama saat ini, sehingga
dikatakan Fukuyama, mereka harus diperangi, maka tentunya perlu
didefinisikan terlebih dahulu, siapakah yang disebut
sebagai "militan", "fundamentalis" atau "radikal" itu? Dan apakah
dunia bisa secara fair dan adil menerapkan definisi itu untuk semua
jenis manusia, bangsa, agama, dan negara? Bahwa, semua yang radikal,
baik Kristen, Yahudi, Hindu, atau Islam, harus ditumpas. Apakah
begitu keadaannya? Mengapa sekarang hanya Islam yang diperangi?
Mengapa kaum fundamentalis Kristen yang merajalela di AS tidak
ditumpas?
Bernard Lewis dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa
fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya: "Islam as such is not
enemy of the West� But a significant sumber of Muslims - notably but
not exclusively those whom we call fundamentalists � are hostile and
dangerous, not because we need enemy but because they do. Lalu ia,
bahwa fundamentalis Islam adalah mereka yang anti-Barat dan memandang
Barat sebagai sumber kejahatan yang merusak masyarakat
Muslim. "Fundamentalists are anti-Western in the sense that they
regard the West as the source of the evil that is corroding Muslim
society."
Definisi Lewis ini tentu saja sangat bias dan fleksibel untuk
diterapkan bagi siapa saja yang mengkritik Barat. Padahal, faktanya,
Barat memang banyak terlibat dalam berbagai aksi kekerasan dan teror
serta memberikan dukungan terhadap rezim-rezim represif dan otoriter
di berbagai negara. Begitu banyak cendekiawan yang mengkritik sejarah
peradaban dan politik Barat. Mengapa hingga kini, Barat tidak mau
menyelesaikan masalah Palestina? Bukankah secara jelas, Israel
berulangkali melanggar hukum internasional? Bukankah sumber dari
masalah di Iraq saat ini adalah serangan dan pendudukan AS? Karena
itu, William Blum, memberi nasehat kepada pemerintah AS, jika ingin
menghentikan kemelut di dunia internasional.
Kata Blum, jika ia menjadi Presiden AS, ia sanggup menghentikan aksi
terorisme terhadap AS hanya dalam beberapa hari. Dan itu bersifat
permanen. Caranya, pertama, ia akan meminta maaf kepada semua janda
dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah
imperialisme AS. Kedua, ia umumkan dengan jiwa yang tulus, ke seluruh
pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir, dan umumkan
bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51.
Lalu, Blum - andai jadi Presiden AS - akan memotong anggaran belanja
pertahanan AS, sekurangnya 90 persen, dari angka 330 milyar USD per
tahun. Itulah yang akan dikerjakan Blum pada tiga hari pertamanya di
Gedung Putih. Tapi, katanya, pada hari keempat, ia akan dibunuh. "On
the fourth day, I'd be assassinated." Wallahu a'lam. (KL, 9 September
2004)
-----Original Message-----
From: Lare Grage [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 14, 2004 2:07 PM
To: rm_danardono
Subject: Re: [ppiindia] Re: Bom di Kedutaan Australia
Hello rm_danardono,
Tuesday, September 14, 2004, 1:36:42 PM, you wrote:
rm_danardono> Jadi lihat2lah, mas Yustam, tak asal
rm_danardono> teroris itu suci. Buat saya
rm_danardono> terorit Kristen di Spanyol (ETA) dan di
rm_danardono> Irlandia juga jahanam. Tak
rm_danardono> perduli agama,mas. Jangan kita bela2
rm_danardono> mereka yang pure teroris. Iraq
rm_danardono> dan Afganistan itu lain, seperti Vietnam dulu. OK lahhh.
Saya pribadi sependapat dengan Anda, Pak. Setiap gerakan yang tega
mengumpankan orang lain yang tidak bersalah (bukan tidak berdosa,
karena dosa urusan Tuhan Yang Maha Kuasa), adalah keji, biadab dan
patut di basmi.
--
Best regards,
Lare
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/