--- In [EMAIL PROTECTED], "yerww" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-
cetak/0409/10/naper/1258844.htm

"ANDA mencari Pak Koh? Mari saya antar," seorang mahasiswa menawarkan 
diri untuk
mengantar Kompas menemui Prof Dr Koh Young-hun. Di sebuah ruangan 
berukuran 2,5
x 5 meter di Kampus Hankuk University of Foreign Studies, Koh 
menyambut
kedatangan Kompas.

PAK Koh-demikian ia disapa oleh mahasiswanya-adalah Ketua Jurusan 
Kajian Melayu-
Indonesia (Department of Malay-Indonesian Studies) Hankuk University 
of Foreign
Studies (HUFS). Maka, bukan sesuatu yang mengejutkan jika mendengar 
kefasihannya
berbahasa Indonesia.

Dari ruang kerjanya di kawasan Imun, Kota Seoul, Korea Selatan, Koh 
tidak hanya
memimpin Kajian Melayu-Indonesia. Dari sana Koh juga mengelola Pusat 
Kebudayaan
Indonesia yang ia rintis bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia 
(KBRI) sejak
tahun 2001.

Terdorong untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Korea 
Selatan, Koh
membiayai sendiri berbagai kegiatan dan menyewa sebuah tempat di 
dekat kantor
KBRI. Berjalan setahun, tetapi tetap tidak ada dukungan berarti dari 
pihak
Indonesia. Akhirnya ia memutuskan menarik kantor Pusat Kebudayaan 
Indonesia itu
ke ruang kerjanya yang kecil dan disesaki buku-buku, yang sebagian 
besar
berbahasa Indonesia dan Melayu.

Pusat Kebudayaan Indonesia menjadi ajang pengenalan budaya Indonesia 
kepada
masyarakat Korea Selatan dan diarahkan untuk membantu para tenaga 
kerja
Indonesia jika menghadapi masalah di tempat kerjanya.

Januari lalu Pusat Kebudayaan Indonesia menggelar konser grup musik 
Dewa di
Suwon, Provinsi Gyeonggi, untuk menghibur ribuan TKI yang bekerja di 
Korea
Selatan. Koh mendapat sponsor dari beberapa perusahaan Korea Selatan 
yang
menanamkan modal di Indonesia, tetapi ternyata itu tidak cukup.

"Saya merugi sekitar 40.000 dollar AS. Untung tidak sampai menjual 
rumah,"
ungkap ayah dari Koh Byoung-seo (15) dan Koh Soo-min (13). Kedua 
anaknya itu
adalah "representasi" Melayu-Indonesia-yang pertama lahir di Jakarta 
dan yang
kedua lahir di Kuala Lumpur.

Meski berjalan sendiri dan harus merugi, Koh tidak jera. Ia bertekad 
tetap
mempromosikan kebudayaan Indonesia dan mengabdikan hidupnya untuk 
Indonesia.
Alasannya bersahaja, tetapi menyentuh. Katanya, "Sejak kuliah sampai 
sekarang
saya berkecimpung dalam hal- hal yang berkaitan dengan Indonesia. 
Saya bisa
menjadi seperti ini karena Indonesia."

KOH yang lahir di Jeonju-ibu kota Provinsi Jeollabuk, 27 September 
1957,
menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya di Jurusan Kajian Melayu-
Indonesia HUFS
pada tahun 1981. Dari situlah ia mulai berkenalan dengan karya 
kesusastraan
Indonesia, terutama karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Sebelum mengikuti wajib militer pada tahun 1983, Koh telah meraih 
gelar magister
kesusastraan dari almamaternya, HUFS. Ia mengkaji novel Perburuan 
karangan
Pramoedya.

"Ketika kuliah saya membaca sejumlah novel karya sastrawan Indonesia. 
Saya
menyimpulkan bahwa novel-novel Pak Pram adalah karya kesusastraan 
Indonesia yang
unggul dan berwibawa," tuturnya.

Sejak itu ia terus mengkaji karya-karya Pramoedya, utamanya tetralogi 
Bumi
Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan 
Rumah Kaca
(1988). Tetralogi ini, menurut Koh, adalah karya novel sejarah 
Indonesia yang
membawa wawasan baru.

Mengkaji karya-karya tersebut bagi Koh sama dengan membicarakan dan 
menganalisis
dunia dan alam pemikiran Pramoedya.

"Seorang novelis tidak hanya menyajikan kehidupan, melainkan juga 
intuisi dan
tafsiran tentang kehidupan," jelas Koh, yang menulis novel Kampus-ei 
Star-del
(Bintang-bintang di Kampus). Sejak diterbitkan tahun 1983 novel yang 
mengisahkan
seorang pemuda yang lari dari wajib militer itu telah tujuh kali 
dicetak ulang.

Tahun 1986 Koh sempat mengajar setahun di HUFS sebelum menempuh S2 di 
Malaysia
dalam bidang teater Malaysia modern.

Semangatnya yang semakin meluap- luap untuk mengkaji karya Pramoedya 
membawanya
ke Indonesia pada tahun 1988. Akan tetapi, keinginannya menempuh S3 
di Indonesia
kandas. Ketika itu, tidak seorang pun yang berani menjadi 
pembimbingnya di
tengah gencarnya pelarangan karya-karya Pramoedya di bawah rezim 
Soeharto.

Selama dua tahun di Jakarta, Koh mengumpulkan bahan-bahan kajian 
tentang
Pramoedya, sambil mengajar pada Pusat Studi Korea di Universitas 
Nasional.
"Pengumpulan bahan untuk S3 saya banyak dibantu oleh Pak HB Jassin 
dan Pak Pram
sendiri. Mereka adalah dokumentator yang luar biasa," ujarnya.

Ia berhasil meraih gelar doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 
Malaysia,
pada tahun 1993. Disertasinya kemudian dibukukan oleh Dewan Bahasa 
dan Pustaka
Malaysia dengan judul Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-
novel
Mutakhirnya (1996). Ia sedang menjajaki kemungkinan buku tersebut 
diterbitkan
dalam bahasa Indonesia. "Buku saya itu ada juga di rak buku Pak 
Pram," kata Koh
bangga.

WAJAH cerah Koh tiba-tiba meredup begitu ia mulai bercerita tentang 
perjalanan
hidup Pramoedya pada masa Orde Baru yang penuh tekanan. Ia 
mengungkapkan, betapa
Pemerintah Indonesia pada masa itu menempuh berbagai cara untuk 
menekan
Pramoedya, mulai dari pelarangan karya-karyanya sampai upaya 
diplomatik yang
dilancarkan agar Pramoedya tidak memenangi hadiah Nobel.

Beberapa kali Pramoedya masuk nominasi penerima hadiah Nobel untuk 
bidang
kesusastraan, tetapi tidak pernah berhasil. Menurut Koh, "Itu berkat 
intervensi
Pemerintah Indonesia melalui diplomatnya di luar negeri."

Selembar copy surat yang dikirim seorang sastrawan Indonesia kepada 
HB Jassin
pada tanggal 5 Januari 1990 menjadi pegangan Koh. Dalam surat 
tersebut, menurut
Koh, sastrawan itu menceritakan pertemuannya dengan seorang diplomat 
yang secara
tidak sengaja mengungkapkan bahwa Pramoedya tidak bisa mendapat 
hadiah Nobel
adalah karena keberhasilan diplomasi Indonesia.

"Saya menceritakan apa yang saya ketahui ini berdasarkan hasil 
analisis dan
penelitian saya sebagai seorang sarjana. Bukan sekadar sebagai 
seorang yang pro
Pak Pram," tambahnya.

Pada ujung percakapan dengan Kompas, Koh menuliskan tiga alamat surat
elektroniknya. Salah satunya, $. Ia pun kembali tersenyum. (Nasru 
Alam Aziz)
--- End forwarded message ---




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke