Mas Djunaedi, Ada dua catatan saya untuk tulisan ini: 1. Syafi'ie Anwar menyatakan: "Saya ingin menambahkan teori atau pendekatan yang keempat, yaitu pendekatan yang menekankan perlunya verifikasi empirik. Kita tak bisa begitu saja mengatakan ini dan itu. Diperlukan verifikasi empirik yang mendalam ketika mengatasi atau menyelidiki kasus tersebut. Saya mengajukan ini karena ketiga pendekatan tersebut memiliki banyak kelemahan, terutama teori konspirasi yang sangat populer di Indonesia./..."
Tapi justru di situ persoalannya. Teori konspirasi muncul karena "bukti-bukti empirik" tak pernah dimunculkan jelas kepada publik. Ditambah lagi, pihak aparat bertingkah laku aneh-aneh yang tak masuk akal (Amerika menolak mengizinkan Umar Faruk dan Hambali diinterogasi oleh Polri dengan alasan tak jelas. Padahal justru dari dua tokoh ini muncul tuduhan keterlibatan Baasyir dan hantu Jemaah Islamiyah yang dikaitkan dengan semua aksi pembomnan. Sementara perwira polisi setingkat Goris Mere makan-makan dengan Ali Imron, "teroris" kasus Bom Bali di Starbuck... Wajar kalau di kalangan masyarakat muncul dugaan aneh-aneh. Apalagi kita tahu, sejak dulu ada kelompok-kelompok radikal yang "dibina" oleh intelijen...."" 2. Sangat senang saya membaca pernyataan Musthafa Abd. Rahman, orang Indonesia, wartawan Kompas yang belasan tahun tinggal di Mesir, fasih bahasa Arab, kuliah di Al-Azhar, tahu dan menghayati adat-istiadat Timur Tengah, kontekstual.... Omongannya masuk akal, wajar, proporsional dalam membahas terorisme. Memang beda, omongan orang yang "memahami" dengan yang sekadar tahu sepotong-sepotong. Kebetulan dua-duanya saya kenal baik (Syafi'i Anwar dan Musthafa) sejak saya jadi wartawan dulu. Rio --- djunaedi sahrawi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalaamu'alaikum wrwb, Salam Sejahtera > > Tulisan menarik dibaca ketika berita-berita tentang > berbagai aksi terorisme kembali menyeruak, seperti > soal serangan teroris 9/11, dan yang teraktual, > serangan terhadap Kedubes Australia di Jakarta. > _________ > > http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=414 > > Teori Konspirasi Selalu Meneror Kebenaran > Tanggal dimuat: 15/9/2003 > > Tepat hari Kamis, 11/09/03 yang lalu, Radio 68H > Jakarta mengadakan diskusi untuk mengevaluasi 2 > tahun > perang melawan terorisme. Berbagai pandangan, mulai > dari analisis suasana geo-politik global di Timur > Tengah, sampai persoalan meningkatnya radikalisasi > agama di Indonesia dibahas dalam diskusi tersebut. > Diskusi tersebut mendatangkan antara lain, Dr Syafii > Anwar, Ismail Yusanto dan Musthafa Abd Rahman. > Berikut > perbincangan mereka: > > Dr Syafii Anwar: > > Saya melihat tiga respon atau pendekatan terhadap > tragedi 11 september 2001 di dunia Islam. Pertama, > mereka yang percaya pengeboman di New York itu > dilakukan kelompok Islam radikal, atau dalam bahasa > Barat disebut kelompok fundamentalis Islam. kelompok > ini yakin betul dengan keabsahan pendapatnya, dan > mereka mengait-ngaitkan tragedi itu dengan operasi > Jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin. > > Kedua, mereka yang melihatnya sebagai sebuah fakta, > tapi lebih percaya pada teori konspirasi atau teori > komplotan. Kelompok ini percaya teori konspirasi > karena tidak percaya kelompok Islam melakukan aksi > dahsyat tersebut. Bagi mereka, tragedi itu tak > lebih, > dilakukan antek-antek Amerika, baik Yahudi, Kristen, > atau lainnya. Pendekatan kedua ini laris berkembang > di > negeri kita. > > Ketiga, mereka yang mengambil posisi ambivalen; > mengutuk peristiwa tersebut di satu sisi, tapi > pendapat mereka tetap ngambang alias tidak jelas di > sisi lain. Itu disebabkan mereka mempertimbangkan > bahwa itu semua sulit dibuktikan. > > Nah, saya sendiri berpendapat bahwa ketiga-tiganya > punya kelebihan dan kekurangan. Saya ingin > menambahkan > teori atau pendekatan yang keempat, yaitu pendekatan > yang menekankan perlunya verifikasi empirik. Kita > tak > bisa begitu saja mengatakan ini dan itu. Diperlukan > verifikasi empirik yang mendalam ketika mengatasi > atau > menyelidiki kasus tersebut. Saya mengajukan ini > karena > ketiga pendekatan tersebut memiliki banyak > kelemahan, > terutama teori konspirasi yang sangat populer di > Indonesia. > > Teori konspirasi adalah teori yang dibangun atas > dasar > prakonsepsi, asumsi-asumsi atau bahkan imajinasi > yang > sudah kita bangun lebih dulu, dan itu sulit > dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dia selalu > mengarah pada apa yang disebut pharanoia within > reason. Jadi ada semacam pharanoia dalam akal > pikiran. > Teori konspirasi juga biasa mengembangkan apa yang > dalam ilmu komunikasi disebut sistimatically > distortion of information, informasi yang sengaja > didistorsi secara sistimatis, sehingga sulit untuk > dipertanggungjawabkan. Teori konspirasi juga > mengarah > pada terrorizing of the truth, meneror kebenaran itu > sendiri, karena sulit dibuktikan. Nah, itulah yang > perlu disaring. > > Sangat sulit mengatakan siapa pelaku terorisme itu > hanya dengan mengandalkan teori konspirasi. > > Terus terang, di kalangan Islam terdapat juga dakwah > yang mengarahkan pada aksi-aksi yang radikal. Ada > banyak ajaran yang berangkat dari asumsi-asumi > pembedaan dan pengotak-ngotakan. Dalam bahasa agama, > itu bisa disebut minna waminkum, kita dan mereka, us > and them. Ini disebabkan tafsir atas ayat-ayat > Alqur�an yang sudah mengalami proses radikalisasi. > > Ayat walan tardl� dan lain sebagainya dapat > dijadikan > misal. Ayat tersebut secara semena-mena > ditransformasikan sedemikian rupa, ditambahi muatan > politik, dan dikeluarkan dari konteksnya yang asli. > Lantas dia menimbulkan state of mind yang cenderung > melakukan terrorizing of the truth atau terorisme > atas > kebenaran itu sendiri. > > Dalam konteks sekarang, inilah yang mungkin > dilakukan > orang-orang yang ingin mencari popularitas diri. > Mereka menegasikan bahwa dalam Islam terdapat > bentuk-bentuk radikalisme. Mereka berusaha keras > menolaknya. Padahal, hasil kajian-kajian yang ada > --termasuk yang pernah saya lakukan sejak tahun > 1980-1984�memperlihatkan banyak sekali buku-buku dan > pamflet-pamflet yang secara terang-terangan > melakukan > aksentuasi atas ajaran-ajaran Islam yang radikal. > > > > Musthafa Abd. Rahman: (Wartawan Kompas untuk kawasan > Timur Tengah): > > Saya sangat terkejut mendengar lagu Usamah bin Ladin > di Indonesia. Di Timur Tengah sekian tahun, saya > justru tidak mendengar Usamah dilagukan. Usamah > terlanjur dijadikan simbol atau inspirator terorisme > internasional. Tentu kata terorisme di sini masih > dalam tanda kutip, sebab defenisi terorisme itu saja > sampai sekarang belum final. Di Timur Tengah, masih > saja ada polemik yang tak habis-habisnya tentang apa > definisi terorisme. > > Saya akan menyampaikan fenomena pertarungan antara > Amerika Serikat dengan gerakan Islam Politik, dan > mungkin, sekelumit tentang bagaimana masa depannya. > > Tragedi 11 september 2001 merupakan titik kulminasi > pertarungan antara gerakan Islam Politik dengan > Dunia > Barat, khusunya Amerika Serikat. Sesungguhnya, > pertarungan sudah dimulai jauh sebelum itu, > persisinya > sejak awal tahun 1970-an, ketika meletus perang > Arab-Israel pada tahun 1973. Waktu itu, Presiden > Mesir, Anwar Sadat, untuk pertama kalinya > mengumandangkan bendera Islam dalam melawan Israel. > > Perang lalu disusul oleh embargo minyak yang > dilakukan > negara-negara Arab konservatif seperti Kuwait, Arab > Saudi, dan Uni Emirat Arab atas Barat. Sebelum itu, > perlawanan atas kekuatan Barat di Timur Tengah > dipersonifikasikan dalam wujud Isreal dan itu > diusung > oleh kekuatan nasionalisme Arab, baik dalam bentuk > Naserisme di Mesir, dipimpin Gamal Abden Naser > ataupun > Baathisme, alias kekuasaan Partai Baath di Suriah > dan > Irak. Khadafisme yang dipimpin Moammar Qadhafi di > Libya juga. > > Gerakan-gerakan itu, semuanya memiliki latar > belakang > nasionalisme Arab yang kuat. Tapi kekalahan > negara-negara Arab terhadap Israel dalam perang > 1967, > sungguh menyakitkan. Tanah Arab yang sangat luas > seperti Gurun Sinai, Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran > Tinggi Golan, dicaplok. Kekalahan nasionalisme Arab > itu akhirnya memicu bangkitnya gerakan Islam Politik > di Timur Tengah. > > Dalam perang tahun 1973, Sadat tak lagi mengobarkan > nasionalisme Arab, tapi memilih mengibarkan Islam. > Itu > kemudian diringi oleh embargo minyak dari negara > Arab > konseravatif atas Barat. Pada puncaknya, kita > menyaksikan meletusnya Revolsi Islam di Iran pada > 1979. > > Ternyata, pertarungan Amerika dan gerakan Islam > Politik, di kemudian hari bukan semakin memuncak. > Kenapa? > > Pada waktu Irak menginvasi Kuwait, Amerika Serikat > dan > kekuatan Barat terpaksa ikut campur dan berperang. > Setelah mengusir Irak dari Kuwait, Amerika bukannya > mengevalusi kebijakan politiknya di Timur Tengah, > tapi > justru semakin menguatkan cengkramannya. Iniah yang > memicu reaksi balik yang sangat keras, khususnya > dari > kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Laden. Selama > dekade-dekade terakhir ini, pertarungan terus > === message truncated === ===== Satrio Arismunandar News Producer, Trans TV News Department, Fl. 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000 ext. 4027, Fax: 791-84558, Telp rumah: 771-2348 HP: 0813 1504 7103 "rajawali selalu terbang sendirian takdirnya adalah ketinggian, keberanian dan keanggunan dan juga kesepian..." Rio, Juli 2004 _______________________________ Do you Yahoo!? Declare Yourself - Register online to vote today! http://vote.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

