Blank--- Maaf Bila x posting ---

Undangan Publik Focus Group Disccusion
Menuju Aksi Tani Nasional 24 September 2004

Militerisme Penghalang Agrarian Reform
Jakarta, 17 September 2004


Pengantar.
Konflik agraria, sejauh ini, cenderung bersifat struktural atau vertikal[1], yakni 
antara masyarakat, terutama petani, nelayan dan masyarakat adat dengan negara. Konflik 
ini tumbuh sebagai bentuk resistensi masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan negara 
yang dinilai tidak adil, memarginalkan masyarakat dan memprioritaskan kepentingan 
pemodal[2]. Dengan demikian, konflik tersebut secara inheren merupakan cerminan 
tingginya apresiasi dan pengharapan masyarakat akan perlunya penegakan reforma 
agraria. Wujudnya ialah adanya akses masyarakat dalam hal penguasaan lahan, kedaulatan 
dalam membangun ketahanan pangan, penataan produksi dan pengelolaan pasar bagi 
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapan-harapan tersebut, sejauh ini sulit 
diwujudkan, karena adanya kebijakan pembangunan yang lebih mementingkan pertumbuhan 
dan aumulasi modal sehingga aspek pemerataan dan keadilan terabaikan. 

Perjuangan Raforma Agraria merupakan agenda penting bagi terwujudnya harapan 
masyarakat akan keadilan dan kesejahteraan. Berbagai analisis dan penelitian mencatat 
bahwa kemiskinan masyarakat, terutama petani, nelayan dan masyarakat adat berakar pada 
kurangnya bahkan tiadanya akses masyarakat dalam hal penguasaan lahan[3] - [TERMASUK 
TERKUASAINYA KEKAYAAN AGRARIA OLEH PERUSAHAAN-PERUSAHAAN DI BAWAH SAYAP INSTITUSI 
KEAMANAN NEGARA � TNI & POLRI]. Sebaliknya, konsentrasi penguasaan lahan berada pada 
segelintir pemodal yang secara stkrutural memang diuntungkan oleh paradigma 
pembangunan yang kapitalistik. Petani beralih profesinya sekadar menjadi buruh tani, 
yakni rela menjajakan tenaga dan pengabdiannya di lahan-lahan yang telah dikuasai oleh 
pemilik modal. Petani kehilangan haknya atas lahan, sementara kepatuhannya pada 
pemilik modal cenderung berisfat mutlak. Akibatnya, buruh tani telah menjadi kelompok 
masyarakat yang paling rentan menjadi korban dari tiadanya keadilan agraria. Upah dan 
jaminan sosial buruh tani sangat terbatas, padahal beban tanggung jawab berat dan jam 
kerjanya tingginya.

Kenyataan ini sesungguhnya telah menjadi dasar bagi lahirnya berbagai kritikan seperti 
dilontarkan para pemerhati agraria, pakar pembangunan  dan kelompok masyarakat yang 
peduli pada pemajuan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Kritikan-kritikan 
tersebut, sejauh ini belum membawa hasil yang menggembirakan seperti tercermin dari 
tingginya intensitas konflik agraria,[4] [PENYELESAIAN DENGAN PRAKTEK MIITERISTIK] 
langgengnya praktek pembangunan kapitalistik[5] dan meluasnya kemiskinan dan 
keterbelakangan dalam masyarakat. Rendahnya kompetensi aparat menerapkan keadilan 
agraria seperti diamanatkan UUPA 1960, menguatnya gagasan ekonomi kapitalistik dan 
rendahnya konsolidasi gerakan rakyat untuk mewujudkan reforma agraria, merupakan 
beberapa faktor penyebabnya. Begitu pula, kontroversi seputar konsep dan strategi 
perjuangan agraria mengakibatkan berlarut-larutnya ketidakadilan agraria dalam 
masyarakat. Dengan demikian, kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat, masih 
merupakan harapan yang harus terus diperjuangkan ketimbang suatu realitas yang 
menggembirakan. 

Dari kenyataan ini, dapatkah kita simpulkan bahwa MILITERISME ADALAH SALAH SATU 
PENGHALANG REFORMA RGRARIA?

Bentuk Kegiatan.
Focus Group Discussion dengan format presentasi atas studi kasus represifitas [secara 
politik dan ekonomi] gerakan tani oleh empat serikat tani tingkat nasional [AGRA � 
Aliansi Gerakan Reforma Agraria, API � Aliansi Petani Indonesia, FSPI � Federasi 
Serikat Petani Indonesia dan STN � Serikat Tani Nasional]. FGD juga mengundang Duta 
Besar Kuba - selaku keynote speaker 
demi pembelajaran untuk membangun gerakan reforma agraria � dan Gunawan Wiradi [pakar 
agraria].

Pelaksanaan FGD.
FGD dilaksanakan pada hari Jumat, 17 September 2004 pukul 14.00 � 17.00 di Aula Lt. 2 
Sekretariat Bina Desa Jl. Saleh Abud 18 � 19 Otto Iskandardinata, Jakarta 13330 Telp 
(021) 8199749.

Untuk Konfirmasi :
Donny Pradana WR, S.Hut - Hp 08568075066

-----
Tanah, Modal, Teknologi yang Modern-Murah-Massal
untuk Pertanian Kolektif di Bawah Dewan Tani/Rakyat
-----

Pengurus Pusat
Serikat Tani Nasional
Jl. Sawo Kecik Raya No. 2
Tebet - Jakarta Selatan 12840
Telp/Fax +62-21-8319881
Hp +62-856-8075066
Email : [EMAIL PROTECTED]


---------------------------------------------------------------------------

[1] Lihat Dianto Bachriadi dan Noer Fauzi, hlm. 3-5 (Pembaruan Agraria adalah agenda 
inklusif dengan reformasi sosial secara menyeluruh)

[2] Pemerintahan Orde Baru dibangun untuk mengabdi pada kepentingan modal/kapital � 
dengan paradigma pembangunan yang berorientasi PERTUMBUHAN. Dan untuk mengamankannya, 
Orde Baru menggunakan KEKUATAN BERSENJATA � yang mewujud dalam penerimaan paradigma 
DWI FUNGSI ABRI di akhir dekade 60-an.

[3] SP 1993 mencatat jumlah petani yang menguasai tanah kurang dari 1 ha sekitar 
22.856.254 jiwa (84%) dengan proporsi tanah yang dikuasai sekitar 31%. Sedangkan 
petani yang menguasai  lebih dari 1 ha berjumlah 4.421.746 jiwa (16%) dengan proporsi 
tanah yang dikuasai sebesar 69%. 

[4] Hasil studi kolaboratif yang dilakukan KPA mencatat bahwa dalam 4 wilayah studi, 
yakni Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan  Bali terjadi tidak kurang dari 113 
kasus sengketa agraria yang melibatkan 64.452 KK. Lihat Dianto Bachriadi dan Noer 
Fauzi, 1998, hlm. 3.  

[5] Menurut Max Weber, pertanda paling umum mengenai adanya kapitalisme ialah 
perhitungan rasional atas kapital. perhitungan rasional tersebut meliputi: pertama, 
pemilikan semua sarana fisik untuk produksi seperti tanah, bahan-bahan mentah, mesin, 
peralatan dan seterusnya. Kedua, akuntansi melbatkan kebebasan pasar, yaitu tidak 
adanya pembatasan-pembatasan irasional atas perdagangan. Ketiga, akuntansi 
kapitalistik membutuhkan teknologi rasional.  Selengkapnya lihat Max Weber,  hlm. 
105-107  





[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke