From: "Endang Kamajaya Saputra" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue Sep 14, 2004 6:48 pm
Subject: Fwd: Fw: Teori Konspirasi (?)
Diambil dari milis tetangga.
Silahkan ditelaah dan dicermati.
Wassalam,
AA ndang
--- In [EMAIL PROTECTED], "Sonny W." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "faridgaban" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue Sep 14, 2004 6:22 am
Subject: Teori Konspirasi (?)
Salam,
Setiap kali ada pandangan kritis/tandingan terhadap versi resmi atas
sesuatu (teror bom misalnya) segera muncul tudingan "teori
konspirasi". Versi resmi sendiri, anehnya, tidak pernah disebut
sebagai "teori konspirasi"--meski kita tahu Kapolri Da'i Bachtiar,
misalnya, menuding Jemaah Islamiyah secara refleks tanpa proses
penyidikan.
Tudingan "teori konspirasi" sering menjadi label yang hegemonik untuk
membungkam daya kritis. Dalam sejarah Amerika, misalnya,
tudingan "teori konspirasi" diarahkan kepada The Washington Post
dalam Skandal Watergate dan kepada Jaksa Jim Garrison dalam kasus
pembunuhan Presiden John F. Kennedy. Kita tahu, The Washington Post
benar, memang ada "praktek konspirasi" Gedung Putih dalam skandal
tersebut. Kita juga tahu Jim Garrison (dalam film Oliver Stone "JFK"
yang dibuat 30 tahun setelah peristiwa), mengajukan pertanyaan masuk
akal yang menunjukkan bahwa memang ada "praktek konspirasi" dalam
pembunuhan itu.
Banyak yang berpendapat orang Islam sebaiknya "mengakui sajalah bahwa
memang ada orang Islam yang jahat, radikal dan fundamentalis". Tapi,
ajakan seperti ini punya problem yang sama dengan pernyataan Da'i
Bachtiar: sebuah kecenderungan yang memastikan--tanpa investigasi
lebih jauh--bahwa teror bom itu memiliki motif agama.
Mengatakan "ada orang Islam yang jahat" tidaklah memiliki makna apa-
apa. (Tentu saja ada orang Islam yang jahat dan ada yang baik, sama
seperti ada orang Kristen yang jahat atau baik).
Pertanyaan terpenting di sini: Benarkah teror Bom Bali, Bom Marriott
dan Bom Depan Kedubes Australia bermotif agama (dalam hal ini Islam)?
MOTIF, MOTIF DAN MOTIF
Saya kira Detektif Sherlock Holmes akan setuju bahwa motif merupakan
aspek yang penting dalam setiap "crime scene" (tempat kejadian
perkara). Motif, motif dan motif. Tapi, aspek inilah yang sangat
jarang disentuh dalam penyidikan polisi dan pemberitaan media tentang
teror bom di Indonesia sejak Tragedi Kuta 2002.
Di ketiga kasus--baik Bom Bali, Marriot maupun Kedubes Australia--
polisi Indonesia dan Pemerintah George W. Bush serta John Howard
telah memastikan pelakunya: organisasi teror bernama Jemaah
Islamiyah.
Didukung oleh laporan intelejen (khususnya CIA) dan para pengamat
seperti Sydney Jones dan Rohan Gunaratna, mereka menyebut Jemaah
Islamiyah sebagai organisasi Islam lintas negara (Indonesia,
Malaysia, Singapura dan Filipina Selatan) yang "ingin mendirikan
kekhalifahan Islam di Asia Tenggara".
Tapi, dua tahun setelah Bom Bali, dan bahkan setelah ledakan bom di
depan Kedubes Australia kemarin, tetap tidak ada penjelasan yang
lebih maju tentang apa sebenarnya JI dan apa watak organisasi ini.
Selama dua tahun terakhir sejak Bom Bali, polisi dan badan-badan
intelejen telah melakukan banyak hal:
- Menangkap ratusan tersangka, dan menyeret belasan orang ke
pengadilan: antara lain Amrozi (yang disebut sebagai "the smiling
bomber" dan sempat disebut secara keliru sebagai dalang teror Bom
Bali), Mukhlas (disebut sebagai komandan operasi JI) dan Imam
Samudra (disebut sebagai komandan lapangan operasi Bom Bali).
- Pengadilan kini sedang menyidangkan Abu Bakar Baasyir (orang yang
disebut pemimpin spiritual JI).
- BIN telah membantu CIA menangkap Umar Al Faruq (yang disebut
sebagai agen Al Qaedah di Indonesia).
- Aparat keamanan Thailand telah membantu CIA menangkap Hambali (yang
disebut oleh dokumen Gedung Putih sebagai "top JI leader").
- Aparat keamanan Filipina telah menembak mati Faturrahman Al Ghozi
(yang disebut pakar peledak JI).
- Pemerintah Filipina telah memenjarakan Agus Dwikarna (yang disebut
anggota JI fasilitator Al Qaedah di Indonesia).
Banyak hal telah dilakukan, dan melihat daftar tersebut nampak jelas
hampir semua jajaran elit JI telah ditangkap atau dipenjarakan. Tapi
semua penangkapan itu tetap tidak memberi kejelasan tentang apa
sebenarnya Jemaah Islamiyah itu dan benarkah kelompok teror itu
memiliki motif agama.
"Mendirikan kekhalifahan Islam di Asia Tenggara" adalah motif
politik. Dan organisasi yang melakukan kekerasan untuk mencapai motif
tersebut, per definisi, bisa disebut teroris. Tapi, di sini muncul
problem besar.
Klaim terhadap motif Jemaah Islamiyah lebih banyak kita dengar
dari "outsider", bukan dari para tersangka ("insider"). Kita
mendengarnya dari Rohan Gunaratna, kita mendengarnya dari CIA serta
Pemerintah Singapura yang katanya menemukan dokumen di Afghanistan
dan kita mendengarnya dari Menlu Alexander Downer yang mengatakan "JI
adalah Al Qaedah-nya Asia Tenggara".
KEJAHATAN TANPA MOTIF
Persidangan para tersangka menimbulkan lebih banyak pertanyaan
tentang JI ketimbang kejelasan.
Abu Bakar Baasyir menolak disebut pemimpin spiritual JI. Dalam
persidangan, baik Amrozi, Mukhlas maupun Imam Samudra menolak disebut
anggota JI dan mengatakan baru tahu nama Jemaah Islamiyah setelah
ditangkap dan setelah polisi mengatakannya. Mereka menolak BAP polisi
yang, menurut mereka, diperoleh dari intimidasi dan penyiksaan.
Kesaksian memberatkan terhadap para tersangka datang Wan Min Wan Mat,
warga Malaysia, dan Bafana, warga Singapura--keduanya ditahan tanpa
batas waktu dan tanpa proses pengadilan di dua negeri itu.
Para tersangka bisa berbohong, dan merupakan pertahanan yang lazim
jika mereka mengatakan polisi telah menyiksa mereka.
Tapi, taruhlah para tersangka itu benar-benar anggota JI dan benar-
benar melakukan teror bom seperti dituduhkan, tidakkah mereka
mengingkari basis organisasinya sendiri dan juga motif mereka
melakukan kekekerasan?
Sebagai organisasi teror seperti dituduhkan, Jemaah Islamiyah adalah
organisasi teror yang aneh. Para pelaku atau orang yang disangka
sebagai pelaku justru menghindari membuat statement politik, bahkan
tidak mengakui menjadi anggota organisasi itu.
Mereka menghilangkan motif politik dari kejahatan yang mereka
lakukan. Dan tanpa motif politik, kekerasan Jemaah Islamiyah itu
terjatuh menjadi sekadar premanisme biasa atau keisengan belaka.
Lebih dari itu, selama ini tidak ada penjelasan yang memadai untuk
mengkaitkan antara sasaran teror dan motif politik JI.
Mendirikan kekhalifahan di Asia Tenggara hanya bisa dilakukan dengan
menggulingkan beberapa pemerintahan sekaligus di Indonesia, Malaysia,
Singapura dan Filipina. Dan jika motifnya benar untuk mendirikan
kekhalifahan di Asia Tenggara, tidakkah aneh bahwa Amerika dan
Australia yang menjadi targetnya (setidaknya itulah yang ingin
dikesankan)?
"Mendirikan kekhalifahan Islam di Asia Tenggara" adalah motif yang
ambisius. Penyidikan Sydney Jones menyebut bahwa JI sangat
profesional dan terorganisasi. Tapi, mendengarkan kesaksian Amrozi,
Mukhlas, Ali Imron dan Imam Samudra, sangat sulit kita bisa
mengatakan mereka "pejuang yang gigih dan militan".
Kembali ke soal awal. Jika pertanyaannya apakah teror Bom Bali,
Marriot dan Kedubes Australia memiliki motif agama, saya kira
jawabannya jelas: tidak. Klaim yang mengatakan JI memiliki organisasi
besar, rapi, punya motif ambisius dan wataknya menakutkan
adalah "teori konspirasi" itu sendiri.
Salam,
fgaban
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/