Sebagai bahan pemikiran atas tulisan tersebut:
QUR'AN DAN HORISON PENULISAN
Ini adalah kolom terakhir saya di Koran Tempo untuk bulan
Ramadan ini. Saya kira ada baiknya jika saya bercerita barang sedikit
mengenai konteks penulisannya. Saya akan mencoba memakai konteks
"personal" ini untuk melihat hubungan antara Qur'an dan para
penafsirnya.
Kolom-kolom ini saya tulis selama saya tinggal di
University of Michigan (UM), Ann Arbor, Amerika Serikat. Tinggal di
universitas ini mempunyai dua "dampak hermeneutis" yang mendalam pada
diri saya. Pertama, saya berada jauh di luar Indonesia, dan berada
pada sutau "jarak" yang membuat saya tidak lagi merasa terikat dengan
peristiwa yang berlangsung sehari-hari di Jakarta. Saya mengikuti
semua berita di tanah air via internet. Tetapi, saya merasa tidak
"terikat" secara lekat dengan peristiwa itu.
Kedua, selama berminggu-minggu, saya menikmati koleksi perpustakaan UM
yang luar biasa kayanya. Hampir setiap hari saya "tersesat" di gedung
Graduate Library yang terdiri dari enam lantai. Saya selalu menyukai
lantai 4A yang memuat ribuan koleksi literatur Islam dalam pelbagai
disiplin. Berada dalam perpustakaan ini, saya seperti "berenang" di
dalam lautan naskah yang tak bertepi.
Membaca Qur'an dalam situasi semacam itu tentu akan menghasilkan cara
pembacaan tertentu yang berbeda dengan kalau kita berada dalam situasi
lain. Saya membayangkan "situasi lain" yang ekstrem, yaitu Sayyid Qutb
yang selama dipenjara oleh Presiden Mesit, Jamal Abdul Nasser, antara
tahun 1960-1966 menyelesaikan tafsirnya yang terkenal, Fi Zilalil
Qur'an, sebuah tafsir yang menjadi landasan bagi fundamentalisme Islam
modern. Membaca "tafsir" itu (Dr. Husein Az Zahabi dalam At Tafsir wal
Mufassirun tidak menyebut karya Qutb ini sebagai tafsir, tetapi
sekedar ta'ammulat atau refleksi pribadi atas Qur'an), kita akan
merasa adanya tendensi yang "patetis" serta kegeraman di dalamnya.
Dunia, di mata Qutb, seperti sawah yang dilumat habis oleh tikus, dan
"kita" seperti geram ingin menghabisi tikus-tikus itu.
Sementara seorang penafsir Syi'ah modern, At Thabathaba'i, penulis
tafsir Al Mizan, membaca Qur'an dalam situasi yang berbeda. Seperti
Fakhruddin Ar Razi, penulis tafsir berjilid-jilid, Mafatihul Ghaib, At
Thabathaba'i menulis tafsir dalam ruang perpustakaan yang tenang,
dalam keadaan yang soliter, sebagai seorang "filsuf" yang memandang
dunia dari suatu ketinggian.
Dengan kata lain, Qur'an adalah suatu kitab yang membuka horison
penulisan yang tanpa batas. Kadang-kadang saya bertanya: ribuan tafsir
telah ditulis oleh para sarjana, baik dari lingkungan Arab atau di
luarnya. Kenapa masih saja ada orang yang ingin menulis tafsir
kembali. Apakah satu tafsir yang tebal seperti ditulis oleh Ar Razi
itu tidak cukup? Saya membayangkan bahwa di dalam Qur'an terkandung
suatu "dimensi erotis" yang selalu memanggil orang-orang untuk kembali
dan menongok.
Adonis, seorang filsuf dan penyair modern dari Syria, baru-baru ini
menulis buku, An Nash al Qur'ani wa Afaqul Kitabah (Teks Qur'an dan
Cakrawala Penulisan). Di mata Adonis, Qur'an adalah suatu "cetakan",
sebuah paradigma, yang benar-benar memulai suatu cakrawala penulisan
yang baru. Pengaruh Qur'an bukan saja pada tingkat diskursus
keagamaan, tetapi juga "membentuk kembali" seluruh diskursus literer
masyarakat Arab. Adonis, saya kira, membayangkan suatu "periode
Qur'anik" yang benar-benar berbeda secara paradigmatik dari zaman
sebelumnya.
Saya kira, jika ada sesuatu yang disebut mukjizat dalam Qur'an, maka
hal itu terletak pada fakta berikut ini: Qur'an mengandung kemungkinan
untuk lahirnya "dunia alternatif" yang hampir tanpa batas. Setiap
penafsir Qur'an, saya kira, bukan sekedar bertindak untuk menjelaskan
maksud Qur'an, tetapi menciptakan "dunia baru", cetak biru sosial
baru, rencana baru yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Qur'an,
sebagaimana setiap Kitab "Suci" yang lain, adalah firman-plus-
tindakan. Saya ingin menyebutnya sebagai firman performatif.
Maksudnya: teks Qur'an bukan seperti umumnya teks, tetapi teks yang
membentuk "dunia lain", kehidupan alternatif yang lebih baik. Dan
pembentukan itu jelas berhubungan dengan kondisi sejarah yang riil.
Bisakah kita mengatakan bahwa para penafsir Qur'an itu sebenarnya
sedang "menulis" kembali kitab itu? Wallahu a'lam.****
(Ulil Abshar-Abdalla)
(Koran Tempo, 9 Nopember 2003)
--- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > Fyi,
> > Cuma jadi wacana pemikiran aja....dicomot dari millist tetangga
> >
> > =============
> >
> > Ilmu Pengetahuan Sains" Islam: Apakah Al-Quran Islam
> > Mengandung Keajaiban-keajaiban Ilmiah?
> >
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/