Harian Fajar, Rabu 15 September 2004 Analisis Berita Bom Kuningan Kita Perlu Penyelidik Independen
Oleh Agus Sopian Seperti juga serangkaian teror bom di Indonesia lainnya, Bom Kuningan, Jakarta, bukanlah perkara sederhana sebagaimana ungkapan kritikus media dan kebudayaan Jean Baudrillard dalam The Spirit of Terrorism. Di sana, Baudrillard kurang lebih mengemukakan bahwa terorisme adalah kelanjutan baru dari seri perang dunia. Perang Dunia Pertama mengakhiri supremasi Eropa dan era kolonial. Perang Kedua menyudahi Nazisme. Perang Dunia Ketiga, sebagai suatu Perang Dingin dissuasive, mengakhiri komunisme. Dan sekarang, Perang Dunia Keempat, adalah berhadapannya kekuatan periveral melawan adikuasa global. Perang ini tak ubahnya seperti seorang hacker remaja Filipina, yang bermodalkan laptop, mencoba menerobos sistem yang sudah terintegrasi dengan virus �I love you� untuk merusak semua jaringan. Ide dasarnya: memberi peringatan atau bahkan impuls untuk menolak pelbagai eksistensi sistem yang sempurna, suatu sistem integral yang mendekati supremasi absolut. Ringkasnya, seperti David melawan Goliath. Tentu saja, pandangan itu bukan opini orang kebanyakan. Ia berada jauh di sebuah labirin gelap dan lebih mewakili fantasi-fantasi mereka yang hendak berambisi menyelesaikan persoalan dunia dengan jalan teror. Dengan kata lain, pandangan itu sepenuhnya merupakan visi seorang teroris yang berimajinasi bahwa semakin suatu sistem terkonsentrasi secara global, semakin lemah sistem itu pada suatu titik tunggal. Visi yang mungkin senafas dengan aksi kamikaze serdadu Jepang saat berlangsung Perang Dunia Kedua dulu. Baudillard menyebut fenomena ini sebagai �menggandakan kematian untuk memberi nilai tambah pada efisiensi teknologis.� Perang itu sendiri (mungkin) di mata teroris, penting dilakukan demi membuka situasi stagnan dari tiadanya perlawanan memadai terhadap adikuasa global, sekurang-kurangnya sejak 1990-an. Ia suatu yang bersifat la greve des evenements, yang oleh pemikir Macedonio Fernandez dari Argentina, difrasekan sebagai �era mogoknya peristiwa-peristiwa�. Puncak visi adalah berakhirnya era dominasi dan hegemoni. Persoalannya adalah bagaimana kalau teror bom bukan dilakukan oleh mereka yang direpresentasikan sebagai kekuatan periveral itu, melainkan justru lebih merupakan momen yang diciptakan oleh adikuasa global? Michael C. Ruppert, penulis Crossing the Rubicon: The Decline of the American Empire at the End of the Age of Oil menuding Wakil Presiden Richard Cheney sebagai tersangka Peristiwa 9/11 yang menghancurkan World Trade Center sekaligus menghadirkan kematian massif pada warga sipil. Cheney disebut-sebut bukan saja merencanakan penyerangan, tetapi juga terlibat operasi langsung dengan mengendalikan sejumlah perangkat sistem komando, kontrol dan komunikasi, mulai di Pentagon hingga Situation Room di Gedung Putih. Serangan itu, demikian Ruppert, merupakan bentuk final dari orkestrasi logistik dan personil pemerintah Amerika demi mempersiapkan diri dalam memasuki puncak krisis ekonomi yang dideterminasi oleh melemahnya kontribusi struktur perminyakan. Ia, setelah diidentifikasi sebagai serangan terorisme, memberi jalan masuk Amerika ke Timur Tengah dan wilayah penyangga sekitarnya, taruhlah Afghanistan. Inilah barangkali yang membedakan watak kapitalisme Amerika dan Jepang. Untuk mengatasi minyak, Jepang sangat terbiasa pergi ke pasar untuk melakukan penetrasi harga, sedangkan Amerika pergi ke sumbernya untuk mengambilnya langsung tanpa harus repot berurusan dengan si pemilik sumur. Jalan pikiran Ruppert sarat dengan teori konspirasi, teori yang jauh lebih susah ditarik kebenarannya ketimbang teori empirik. Semakin canggih sebuah konspirasi, tentu saja semakin sulit dibuktikan. Teori konspirasi bisa berdiri di atas basis peristiwa-peristiwa dan fakta yang dihubung-hubungkan secara sewenang-wenang tanpa harus tunduk pada sebab-akibat dan kronologi. Sebuah fakta tunggal bisa menghadirkan seribu teori konspirasi. Malangnya, di berbagai kasus berbau terorisme, teori konspirasi adalah teori yang paling mudah berkembang. Semakin subur pertumbuhannya ketika pihak-pihak berwenang gagal memberikan informasi yang masuk akal. Masuk akal dalam artian, informasi dihadirkan dengan fakta-fakta solid, bukti pendukung memadai, dan alur kronologis yang jelas. Dalam kasus Bom Kuningan � yang bisa dipastikan sebagai buah tindakan teroris (bila kita mau adil dengan pengertian bahwa siapa pun yang membikin teror layak disebut teroris, seperti juga mereka yang menulis novel disebut novelis dan pengarang cerpen disebut cerpenis) � terlampau banyak pertanyaan menggantung dan hingga kini belum lagi dapat dijelaskan oleh pihak berwenang. Satu contoh, bom itu disebut-sebut hendak menyasak target utama Kedutaan Besar Australia. Utang penjelasan mereka yang melontarkan kemungkinan ini adalah bahwa hingga kini gedung tersebut masih berdiri kokoh, seolah tak pernah dianiaya oleh kejadian apapun. Bom hanya merusak pagar besi gedung tersebut, tenda tempat petugas satpam dan polisi berjaga-jaga, selain menghanguskan beberapa pohon di sana. Kerusakkan parah justru dialami oleh bangunan dalam perimeter gedung tadi. Tak kurang 10 bangunan di sekitarnya, dalam cincin radius antara 200 - 300 meter, rusak berat. Ini terutama menimpa Plaza 89, Menara Gracia, Graha Binakarsa, kantor eks Bank Upindo, Sentra Mulia, serta kantor Kementerian Usaha Kecil dan Menengah. Korbannya? Ini lebih menggelikan lagi. Tak ada warga Australia yang tewas. Korban tewas seluruhnya warga Indonesia, mulai tukang kebun di kedutaan besar itu, satpam sampai pelalulalang. Melihat sasaran yang masih segar bugar dan korban yang justru tak dapat didefinisikan sebagai target utama, kita bisa saja menyebut bahwa aksi itu merupakan buah tindakan amatiran. Yang tak masuk akal, �tindakan amatiran� ini jelas-jelas dilakukan oleh kalangan expert yang sangat paham akan bom dan perilaku ledakannya. Polisi sendiri menduga-duga bahwa Bom Kuningan memiliki kesamaan dengan Bom Bali dan Bom Marriot. Ketiga-tiganya, dengan ekspresi ledakan yang sedemikian dahsyat dan otak pelaku yang belum lagi tertangkap, nyata-nyata sulit diterima nalar sehat sebagai aksi amatiran. Bom Kuningan pada akhirnya menyisakan begitu banyak pertanyaan, mulai siapa tersangka pelakunya, apa sesungguhnya target mereka, motivasi mereka dan banyak lagi. Buru-buru menudingkan telunjuk kepada sosok hantu Jemaah Islamiyah hanya akan mengikis kepercayaan publik pada aparat berwenang sebagai pihak yang bisanya cuma main tuding. Jemaah Islamiyah yang juga dituduh berada di dua kasus besar sebelumnya, baik Bom Bali maupun Bom Marriot, hanya melahirkan �kebenaran hukum� versi pengadilan, dan tak berhasil melahirkan kebenaran fungsional yang dapat diterima publik secara luas. Kenapa dinilai gagal? Aparat berwenang hingga kini belum lagi bisa menyajikan bukti-bukti pendukung kuat, analisa sebab-akibat yang tangguh, dan fakta-fakta kronologis yang solid tentang keterlibatan mereka. Tumbuh-suburnya teori konspirasi juga menyiratkan betapa tidak mudahnya publik mempercayai kerja kepolisian. Inilah barangkali saat yang tepat bagi aparat berwenang untuk memberikan jalan masuk pada penyelidik independen. Mereka tak hanya sekadar membantu, tetapi juga memiliki posisi independen. Posisi ini penting dimiliki, mengingat ada beberapa pihak yang nyata-nyata punya akses ke teknologi bom. Di luar hantu Jemaah Islamiyah, militer dan polisi itu sendiri jelas memiliki akses tinggi ke teknologi tersebut. Alhasil, penyelidik independen harus juga diberi legitimasi untuk memeriksa eksponen-eksponen yang dianggap Jemaah Islamiyah, pihak kepolisian, pun pihak militer. Semua diperlakukan sama sebagai subyek penyelidikan. Siapa pun yang punya kapasitas dan kapabilitas bisa menjadi penyelidik independen, termasuk unsur media. Mungkin tidak mudah, dan hampir muskil. Tapi, wartawan Seymour Hersh dari The New Yorker telah membuktikan bahwa isu terorisme bukanlah sesuatu yang mengawang-awang dan tak dapat dijangkau sama sekali oleh aktivitas jurnalisme. Ketika mencoba melihat perspektif lain dari semangat Amerika melawan terorisme melalui penyerbuannya ke Irak, Hersh melihat bahwa penyerbuan itu tak melulu dapat diterjemahkan sebagai urusan keamanan nasional belaka, melainkan ada dimensi lain. Dimensi ini lahir ketika hawkish Gedung Putih Richard Perle, yang santer disebut-sebut sebagai salah seorang peletak dasar serangan Amerika atas Irak itu, pernah bertemu dengan seorang taipan perdagangan senjata. Pertanyaannya kini, berapa banyak Indonesia memiliki wartawan investigator? Kalau mau lebih provokatif, berapa banyak wartawan investigator yang memiliki kemampuan untuk berbicara dalam skala liputan internasional mengingat isu terorisme adalah isu dunia paling mutakhir belakangan ini? Jawabannya tak lebih dari jumlah jari dalam satu tangan kita. Untuk membuktikan, kita bisa melihat situs International Consortium of Investigative Journalists, sebuah proyek di bawah The Center for Public Integrity yang menghimpun para reporter investigatif dari berbagai belahan dunia. Hanya dua orang �ta? Agus Sopian, anggota badan pendiri Yayasan Pantau, Jakarta, pekan lalu berada di Makassar untuk berdiskusi dengan wartawan di lingkungan Fajar Group. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

