http://www.waspada.co.id/seni_&_budaya/budaya/artikel.php?article_id=51810
16 Sep 04 14:17 WIB Urgensi Menyatukan Ejaan Bahasa Indonesia (Melayu) Di Antara Negara-negara Penutur Bahasa Melayu WASPADA Online Oleh Farhan Kurniawan * Indonesia adalah negara dengan penduduk penutur Bahasa Melayu terbesar, setelah Malaysia dan Brunei (Bahasa Melayu di Indonesia dikenal dengan Bahasa Indonesia, sebagaimana di Malaysia dikenal dengan Bahasa Malaysia, dan di Brunei dikenal dengan Bahasa Brunei). Uniknya, sebagai penutur terbesar Bahasa Melayu, penduduk Indonesia sebagian besar bukanlah Melayu asli, melainkan Melayu lisan, alias Melayu bahasa saja. Sebagaimana penutur Bahasa Arab di negeri-negeri Syam, Mesir, Afrika Utara hingga tepi Lautan Atlantik. Mereka kebanyakan bukanlah Arab asli, melainkan Arab lisan. Tidaklah disangkal bahwasanya keberadaan negara Indonesia selama 59 tahun belakangan telah memainkan peranan penting dalam meningkatkan dan memajukan Bahasa Melayu. Indonesia telah menjadikan Bahasa Melayu semakin tersebar dan mendarah daging di Kepulauan Nusantara, karena Bahasa Indonesia notabene adalah Bahasa Melayu. Meskipun demikian sangatlah disayangkan bahwa ejaan dan standardisasi Bahasa Melayu di negara-negara pemakai Bahasa Melayu tidaklah sama. Masing-masing negara mempunyai kaidah tersendiri yang membuat para penutur Bahasa Melayu di setiap negara mempunyai gap. Kesemuanya itu bukanlah tidak alasan. Kultur kolonialialisme dan imperialisme di masing-masing negara hingga kini masih teramat kuat, meskipun era kolonialisme dan imperialisme telah pergi lebih dari setengah abad yang lampau. Warisan kolonial masa lalu untuk memecah belah bangsa-bangsa berkultur Melayu di Nusantara ini masih lekat kuat dalam benak sebagian orang dan sulit untuk dihilangkan begitu saja, khususnya dalam hal budaya dan bahasa. Mengapa tidak terpikirkan kembali oleh kita, bangsa-bangsa penutur Bahasa Melayu, untuk menyempurnakan ejaan yang telah ada. Karena kendala ketiadaan pembakuan kolektif ejaan telah merugikan kita bersama, bangsa-bangsa penutur Bahasa Melayu, secara budaya dan ilmu pengetahuan kita mengalami kesenjangan satu sama lain. Buku-buku, karya-karya ilmiah, dll. yang ada di Malaysia sulit dibaca dan dinikmati oleh penduduk Indonesia. Sebagaimana buku-buku yang terbit di Indonesia akan sulit dibaca oleh orang-orang Malaysia dan Brunei. Kesemuanya karena perbedaan standarisasi bahasa. Bukankah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) telah membuat gap yang teramat jauh bagi para pengguna dan bagi perkembangan bahasa Melayu kontemporer. Sebagaimana Ejaan Van Ophuysen yang telah mengikis habis pemakaian huruf Arab (Jawi/Pegon) dalam Bahasa Melayu di Hindia Belanda pada era kolonial. Kebijakan Indonesia yang merujuk ke bahasa-bahasa suku jika susah menjumpai padanan kata, dan Malaysia yang merujuk ke bahasa. Inggris telah menjauhkan para penutur Bahasa Melayu di kedua negara. Seolah-olah yang satu berjalan ke arah barat, dan yang lain ke arah timur. Jika hal ini tidak segera dipertemukan, akan semakin menjauhkan masing-masing kita, saudara serumpun, satu sama lain. Di saat bangsa-bangsa lain memikirkan bersatu kembali, mengapa kita tidak melakukannya. Padahal kita semua, sebelum datangnya kolonialis Barat ke Kepulauan Nusantara, adalah bangsa-bangsa yang mempunyai masa lalu yang bermiripan dan berhampiran. Islam disebarkan ke seluruh kepulauan Nusantara dengan pengantar Bahasa Melayu (dengan huruf Jawi/Pegon), dikarenakan kultur Melayu yang berada di mulut Selat Malaka, jalur perdagangan internasional dari dulu hingga kini. Mengapa kita masih lebih suka menggunakan Bahasa Inggris dalam berinteraksi dengan sesama penutur Bahasa Melayu. Mengapa kita tidak belajar dari bangsa Arab. Arab telah menemukan jati dirinya kembali secara budaya dan bahasa, juga nasionalisme, pasca kolonialisme meskipun para kolonialis Barat telah mengkapling-kaplingnya secara budaya dari Samudera Atlantik hingga Teluk Persia (minal muhith ila al khaleej). Kepergian kolonialisme adalah baliknya budaya dan bahasa asli. Meskipun tidak sedikit kata-kata bahasa Arab kontemporer berasal dari bahasa asing, khususnya Perancis, di Afrika Utara, namun kaidah bahasa Arab dan tata kata (sintaksis) tetaplah satu. Buku-buku dan karya-karya ilmiah yang terbit di tepi Laut Atlantik dapat dibaca dan dinikmati oleh orang-orang Arab Teluk. Sebagaimana juga negara-negara Francophone (pengguna Bahasa Perancis) dari Perancis, hingga Kepulauan Comoros, pedalaman Afrika, sampai Quebec memakai satu kaidah bahasa Perancis. Begitu pula halnya dengan negara-negara Anglophone dan negara-negara pemakai Bahasa Jerman, seperti Jerman, Austria, Swiss. Lalu mengapa kita para penutur Bahasa Melayu tidak melakukan demikian. Mengapa sekat-sekat kebanggaan lokal, kepentingan dan nasionalisme sempit dalam berbahasa masih mendominasi masing-masing kita. Mengapa kita tidak sebaiknya memakai ejaan standar ganda. Misalnya, jika kata "universiti" dipakai di Malaysia, di Indonesia memakainya juga, disamping memakai kata "universitas", alias keduanya betul. Begitu juga halnya "televisyen" dan "televisi", "tauladan" dan "teladan", "satai" dan "sate", "perbezaan" dan "perbedaan","Amerika Syarikat" dan "Amerika Serikat", "bercadang" dan "berencana", "lemari es" dan "peti sejuk", "cawangan" dan "cabang", "suruhanjaya" dan "komisi", "pilihan raya" dan "pemilihan umum", "timbalan" dan "wakil", dll. Saya justru menemukan bahwa persaudaraan dan keserumpunan hakiki kita, bangsa-bangsa penutur Melayu, lewat hubungan non-government saja, alias antar rakyat, bukan itikad baik antarpemerintah. Misalnya, muhibah antar artis-artis Malaysia dan Indonesia, semisal Raihan, Sheila on7, Siti Nurhalizah, dll., disamping persaudaran itu dapat saya jumpai dari tradisi comot mencomot kata-kata yang banyak terjadi antar media cetak Indonesia dan Malaysia (saya yakin media-media cetak tersebut saling comot mencomot dengan tanpa sepengetahuan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Indonesia, ataupun Dewan Bahasa dan Pustaka di Malaysia sebagai lembaga otoritas bahasa di masing-masing negara). Seperti pada saat ini, kita sering menjumpai kata-kata: akhbar, khabar yang asalnya Malaysia (dalam EYD, kabar), berjaya, terkandung, pegiat, dll. yang mungkin lima atau sepuluh tahun yang lalu masih terasa asing bagi kita di Indonesia. Sudah tiga dasawarsa EYD diberlakukan di Indonesia, hampir seusia Ejaan Soewandi ketika digantikan dengan EYD. Karena itu sudah saatnya kita mengevaluasi dan mengkritisi kembali ejaan ini sesuai dengan semangat jaman dan dinamika yang berkembang di tengah masyarakat, serta dinamika internasional, pada saat ini. * Penulis adalah mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo dan Pengamat Sastra. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

