Media Indonesia
      Jum'at, 17 September 2004

      OPINI

      Ulama dan Pencegahan Terorisme
      Hasanudin, Visiting Research Fellow Kumamoto University, Japan
     
      TIDAK lama setelah teror bom di Kedutaan Besar Australia, Adnan Buyung Nasution 
(ABN) berkomentar keras. Ia mengkritik sikap ulama yang menurut dia kurang tegas dan 
keras suaranya terhadap isu terorisme. Menurutnya, para ulama kurang memberikan 
pengertian tentang makna jihad kepada publik, sehingga banyak orang yang secara keliru 
memahami konsep itu, dan terjerumus dalam tindakan teror.

      Kritik semacam itu sebetulnya sudah lama bergaung, terutama di luar negeri. Umat 
Islam secara umum sering dituduh tidak jelas posisinya dalam isu terorisme ini. Mereka 
sering disebut silent majority, karena mayoritasnya cenderung diam terhadap setiap 
kejadian teror. Sebagian kecil yang lain malah cenderung menyatakan dukungan terhadap 
kegiatan teror itu, walau tidak secara langsung melibatkan diri. Kalaupun ada 
kelompok-kelompok dari umat Islam yang bersuara keras terhadap terorisme, mereka ini 
umumnya adalah kelompok minoritas. Kecaman terhadap terorisme itu bahkan nyaris tak 
terdengar meskipun tindakan itu telah menjadikan umat Islam sendiri sebagai korban, 
sebagaimana terjadi di Turki, Arab Saudi, serta di Indonesia.

      Umat dan pemimpin Islam, termasuk para ulama, berada dalam keraguan dalam 
bersikap terhadap isu terorisme. Di satu sisi sudah sangat jelas bahwa teror yang 
membunuh penduduk sipil itu adalah perbuatan biadab dan bertentangan dengan ajaran 
Islam. Namun di sisi lain, negara-negara yang selama ini jadi sasaran teror itu adalah 
mereka yang juga telah mempraktikkan tindakan teror, dan telah membunuh penduduk 
sipil. Tindakan mereka justru dilakukan secara sistematis dan terorganisasi, sehingga 
lebih besar skala akibatnya. Terlebih, yang menjadi korban tindakan itu adalah umat 
Islam.

      Sebagaimana kita ketahui, negara yang paling sering jadi sasaran teror adalah 
Amerika dan Israel. Belakangan ini Rusia juga mulai jadi sasaran. Israel adalah negara 
yang telah sejak lama melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat Palestina dengan 
jumlah korban yang luar biasa. Sedangkan Amerika adalah sponsor utama bagi kejahatan 
itu. Kejahatan Amerika tersebut semakin menggila pascaperistiwa 11 September, yaitu 
dengan melakukan serangan membabi buta terhadap Afganistan dan Irak. Sedangkan Rusia 
telah melakukan kekejian yang serupa pada kasus Chechnya.

      Sikap yang umum ditunjukkan oleh para pemimpin Islam adalah sikap kritis. Di 
satu sisi mereka mengecam tindakan teror oleh kelompok-kelompok radikal Islam, tapi 
pada saat yang sama mereka juga mengecam teror oleh negara seperti yang telah disebut 
di muka. Di tengah kumandang genderang perang terhadap terorisme yang dimotori oleh 
Amerika dengan semboyan either you are with us or against us suara para pemimpin Islam 
itu kemudian jadi terdengar bimbang.

      Menarik untuk diperhatikan bahwa sikap ulama terhadap isu ini sebenarnya juga 
tidak konstan, tapi tergantung pada situasi yang dihadapinya. Di masa lalu para ulama 
mengharamkan serangan dengan bom bunuh diri sebagaimana marak terjadi belakangan ini 
di Palestina. Dulu, ketika pasukan Hizbullah dari Lebanon melakukan bom bunuh diri, 
dari Mesir keluar fatwa yang menyatakan bahwa bom bunuh diri adalah perbuatan yang 
berkonsekuensi dosa yang besar. Jadi, pelaku bom bunuh diri kelak masuk neraka, kata 
mereka. Namun, sekarang situasinya berubah. Beberapa tahun yang lalu keluar fatwa dari 
ulama-ulama Mesir yang justru mendukung tindakan ini sebagai jalan perjuangan. MUI 
sendiri juga mengeluarkan fatwa senada.

      Berkaitan dengan hal ini kita sebenarnya perlu melakukan kritik terhadap para 
ulama. Fatwa-fatwa yang keluar berkenaan dengan isu bom bunuh diri umumnya memiliki 
cacat fundamental, yaitu tidak turut dipertimbangkannya faktor korban dari tindakan 
itu. Ulama hanya memandang tindakan itu sebagai sebuah jalan perjuangan. Dalam konteks 
ini memang ada peluang pembenaran, karena pada dasarnya Islam memang memuji 
orang-orang yang mati dalam rangka mempertahankan keyakinannya. Hanya saja perlu 
diperhatikan bahwa semua itu baru bisa dibenarkan bila serangan ditujukan pada sasaran 
militer. Yang banyak kita saksikan dewasa ini justru serangan terhadap sasaran-sasaran 
sipil. Padahal ajaran Islam melarang pembunuhan terhadap penduduk sipil di tengah 
medan perang terbuka sekalipun.

      ***

      Kembali ke soal kritik ABN tadi, perlu kita evaluasi sejauh mana ulama bisa 
berperan dalam pencegahan terorisme? Efektivitas seruan ulama dalam isu terorisme 
sangat tergantung pada tingkat kepatuhan umat. Pada sisi ini kita harus berhadapan 
pada kenyataan bahwa di Indonesia kepercayaan umat kepada ulama sudah demikian rendah. 
Hal ini karena ulama selama ini sudah terlalu jauh memainkan peran-peran partisan yang 
lebih mengusung kepentingan pribadi/kelompok ketimbang kepentingan umat dalam berbagai 
isu.

      Terlebih, perlu diingat bahwa kelompok-kelompok radikal yang terlibat dalam 
tindakan teror umumnya adalah kelompok yang eksklusif dan tertutup. Mereka hanya patuh 
kepada ulama/pimpinan kelompok mereka sendiri. Dalam banyak kasus mereka justru 
menganggap ulama-ulama 'konvensional' sebagai bagian dari 'kekuatan kafir' yang sedang 
mereka perangi. Ini berarti bahwa suara ulama 'konvensional' itu sebenarnya tak akan 
ada pengaruhnya bila dimaksudkan untuk membuat para calon teroris itu membatalkan 
niatnya.

      Pengembangan kajian kontekstual terutama terhadap isu-isu perdamaian seperti 
yang dilakukan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) sedikit banyak bisa menurunkan 
peluang radikalitas di tengah umat. Namun tujuan ini memerlukan waktu yang panjang 
untuk mencapainya, sehingga hasilnya tak bisa segera kita lihat. Di sisi lain hal ini 
juga bukan tanpa risiko. Kalau dilakukan secara kurang hati-hati, hal ini justru 
berakibat mengentalnya radikalitas itu. Berbagai reaksi keras terhadap JIL adalah 
contoh nyatanya.

      ***

      Sudah sering diberitakan bahwa kelompok-kelompok radikal itu mengorganisasikan 
diri mereka di tengah komunitas umum, namun mereka melakukannya secara eksklusif. 
Pengajian-pengajian mereka, misalnya, sangat tertutup dan tidak melibatkan penduduk 
setempat. Ini sebenarnya sebuah situasi yang menguntungkan dalam konteks 
mengisolasikan mereka agar mudah diidentifikasi. Selanjutnya tinggal dibangun 
kewaspadaan serta kerja sama antara masyarakat dan aparat keamanan.

      Pada akhirnya kita harus sadar bahwa kunci persoalan ini terletak pada pulihnya 
komunikasi dan keterikatan umat pada ulama. Ulama memang perlu back to basic, kembali 
ke tengah umat, melakukan kontak rutin dengan mereka, serta memantau dinamika yang 
berkembang di tengah mereka. Ini bisa membantu umat dalam mengidentifikasi unsur-unsur 
radikal tadi, sehingga gejala-gejala awal aktivitas teror tadi dapat segera dikenali 
dan dikendalikan sebelum berubah menjadi tindakan riil.

      Ulama tentu bukan satu-satunya pihak yang perlu back to basic. Yang terutama 
harus melakukan hal ini tentu adalah aparat keamanan, terutama yang bergerak di bidang 
intelijen. Kejadian teror bom di Kuningan ini menunjukkan bahwa aparat kita telah 
demikian lalai dalam melaksanakan tugas. Serangan bom yang terjadi tak lama setelah 
pernyataan Kapolri bahwa situasi keamanan sangat kondusif menunjukkan bahwa aparat 
kita tidak punya informasi yang akurat tentang adanya kemungkinan serangan. Apakah 
kita harus maklum karena Kepala BIN serta Kapolri sedang sibuk membantu kampanye salah 
seorang calon presiden?***
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke