Great! Concise! tanpa harus ngotorin pikiran dengan gara2 siNganu dan katanya siHantubalau... si author berhasil menuliskan kegalauannya atas ketidak adilan PEMERINTAH terhadap sistem dan budaya di Bali, sekaligus mengangkat tema Pertanian itulah yg perlu digarap lagi...
Congrat! NO wehehe and NO weks --- In [EMAIL PROTECTED], "antonhartomo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pertanyaan : apa yang DIRI KITA SENDIRI SUDAH kerjakan. Salam > > > --- In ppiindia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/9/17/o2.htm > > Bangkitkan lagi Kebanggaan Sektor Pertanian > Oleh Dr. Ir. Wayan Windia > > KITA memiliki potensi yang kuat di sektor pertanian. Kemudian, > potensi itu mendapat dukungan yang kuat dari penduduk yang umumnya > masih hidup dalam budaya pertanian. Masalahnya, apakah kita semua > (khususnya pemerintah) memiliki concern dan kepercayaan untuk > membangkitkan kembali kebanggaan sektor pertanian. Kemudian sektor > ini harus dikembangkan sebagai ujung tombak dan tulang punggung > perekonomian bangsa. > > Pada zaman dulu, hingga tahun 1950-an, ada kebanggaan tersendiri bagi > keluarga di Bali yang memiliki lumbung. Lumbung juga sekaligus > sebagai bagian dari pertanda status sosial masyarakat. Lumbung adalah > sebagai pertanda kekuatan ekonomi keluarga. Saat ini, di mana kita > sudah berada dalam dunia yang meterialistik/kapitalistik, kebanggaan > itu harus dicerminkan dengan keberdayaan ekonomi petani. Oleh karena > itu, diperlukan dukungan yang kuat dan sungguh-sungguh (berupa > proteksi dan subsidi) bagi petani, agar mereka dapat segera keluar > dari kemiskinan strukturalnya. Setelah itu, barulah kita berusaha > membangkitkan kebanggaan sektor pertanian, dengan memanfaatkan hasil- > hasil riset tentang pertanian. Tanpa inovasi yang memadai, yang > dihasilkan dari kegiatan riset, dan juga tanpa membangun sarana yang > diperlukan untuk kegiatan ekspor (packing house), maka kebanggaan > sektor pertanian tak akan pernah kembali. > > Sudah Saatnya > > Sektor pariwisata yang diagung-agungkan di Bali pada dasarnya adalah > sektor yang sangat rapuh. Masa-masa jaya sektor pariwisata sudah > berlalu. Berbagai macam bom, perang antarnegara dan konflik internal, > berbagai penyakit menular, kondisi keamanan di Bali, polusi, > kemacetan lalu lintas, dan lain-lain, telah banyak mengurungkan minat > wisatawan untuk datang (lagi) ke Bali. > > Dengan mengalaman seperti itu (terakhir dengan meletusnya bom mobil > di Kuningan, Jakarta), maka sudah saatnya pemda di Bali (khususnya) > mulai mengalihkan perhatiannya pada sektor pertanian. Sektor > pertanian yang kuat akan menjadi fundamental ekonomi yang kuat bagi > Bali. Patut ditekankan bahwa perhatian pada sektor pertanian, > bukanlah berarti kita meninggalkan sedemikian rupa sektor pariwisata > kita. > > Perhatian pada sektor pertanian justru harus diartikan agar sektor > pertanian mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, hingga mampu > sepenuhnya mendukung kepentingan sektor pariwisata di Bali (dan > sekitarnya). Di samping itu, sektor pariwisata hanya perlu diberikan > stimulan, kontrol, dan koridor, dan kemudian biarkan sektor ini > mengurus dirinya sendiri, dengan mengadakan promosi, dan lain- lain. > > Sementara itu, untuk membangun sektor pertanian agar segera bangkit, > perlu segera dibangun industri-industri pengolahan, packing house, > pemberian proteksi dan subsidi, dan lain-lain. Data pada Pemda Bali > menunjukkan bahwa sektor industri (pengolahan produk pertanian) di > Bali memang dalam kondisi yang paling lemah. Selama sekitar 30 tahun, > sejak tahun 1971, pembangunan sektor industri memang menunjukkan > posisi yang paling lemah. Selama 30 tahun, sumbangannya pada PDRB > Bali hanya meningkat sekitar 3%. Namun, sumbangannya pada penyerapan > tenaga kerja meningkat sekitar 13%. Hal ini jauh berbeda dengan > sumbangan sektor pariwisata di Bali. Selama kurun waktu itu, > sumbangan sektor pariwisata pada PDRB Bali meningkat sektor 65%, > namun sumbangannya pada proses penyerapan tenaga kerja hanya > meningkat 30%. > > Oleh karena itu, cukup ada alasan untuk mulai memperhatikan > pembangunan sektor industri (pengolahan) untuk mendukung sektor > pertanian. Sementara itu sektor pariwisata tak perlu kita urus lagi. > Biarkan mereka berkembang sendiri. Sudah tentu banyak subsidi dan > proteksi yang telah diberikan kepada sektor pariwisata di Bali. > > Bahkan, ketika diberlakukan lagi VoA (Visa on Arrival), sektor > pariwisata sangat gelisah, demikian pula dengan elite politik. > Tetapi, kenapa hal yang serupa tidak dilakukan terhadap keberadaan > sektor pertanian yang mati suri? Ini adalah sebuah ketidakadilan. > Apakah karena sektor pertanian merupakan sektor yang ''kotor'', dan > tidak glamor? > > Sementara itu ketidakadilan yang sama juga telah dilakukan oleh Pemda > Bali terhadap organisasi petani yang mengurus irigasi, yakni sistem > subak. Semua desa adat di Bali telah diberikan hibah dan fasilitas > oleh Pemda Bali, baik berupa uang dan sarana transportasi. Bahkan, > Pemda Gianyar sebelum pemilu memberikan dana masing-masing Rp 15 juta > kepada setiap banjar adat di Gianyar untuk membangun koperasi. > Tetapi, kenapa tidak diberikan juga kepada sistem subak kita? Apakah > karena subak tidak memiliki potensi bargaining politik? > > Hal ini berarti bahwa sektor pertanian secara sistematis memang telah > terus diperlemah, dan tidak ada pembelaan kepada mereka. Sementara > itu, mereka sendiri tak tahu entah ke mana harus mengadu. Sebab, > sejak lembaga sedahan agung tidak dikembangkan sebagai lembaga yang > mandiri untuk mengurus kelembagaan sektor pertanian (subak), maka > sudah sejak itu subak kita sudah kehilangan induknya untuk mengadu. > Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali kebanggaan sektor > pertanian, maka lembaga sedahan agung yang mandiri sangat perlu > dibangkitkan kembali. Hal ini penting, agar ada sebuah lembaga yang > jelas untuk memediasi kepentingan subak pada level pengambil > keputusan di tingkat kabupaten/kota. > > Tidak Murah > > Sama dengan proses pemberdayaan sektor-sektor lainnya, pemberdayaan > sektor pertanian agar kembali dapat dibanggakan, tentu saja tidak > murah. Oleh karena itulah diperlukan komitmen yang mantap dari > pemerintah (daerah). Misalnya saja, untuk proses penggemukan sapi > Bali agar beratnya dapat meningkat dari 300 kg menjadi 400 kg dalam > waktu empat bulan, diperlukan modal paling tidak sekitar Rp 7 juta > per ekor. Padahal, untuk penggemukan sapi diperlukan paling tidak > empat ekor sapi per petani, agar bisnisnya dapat berlanjut dan > efektif. Karena modal yang diperlukan lumayan besar, maka tidak > banyak peternak yang dapat melakukannya. Padahal, pasar untuk sapi > Bali sangat besar (baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor), > serta keuntungannya bisa mencapai sekitar Rp 1,3 juta per ekor. > Malaysia dan Singapura memerlukan ribuan sapi Bali setahun, karena > aroma daging sapi Bali terbaik di dunia. Kecil kemungkinan berkembang > penyakit sapi gila, karena makanannya pada umumnya bahan-bahan > natural. > > Demikian pula halnya di subsektor pertanian tanaman pangan, nelayan, > pekebun, dan lain-lain. Diperlukan dana yang sapadan untuk > membangkitkan kehidupan kelompok, agar mereka tidak diperas oleh > rentenir. Dengan demikian, mereka dapat melakukan proses input- output > dengan lebih efisien. > > Patut dicatat bahwa kasus-kasus yang mengguncang sektor pariwisata, > dengan semakin banyaknya bom yang diledakkan (terakhir di Kuningan), > sudah tiba saatnya bagi birokrat dan elite politik mengalihkan > pandangan dan komitmennya pada sektor pertanian. Jangan sampai telat. > Kalau telat, sektor pertanian akan hancur. Seirama dengan kehancuran > sektor pertanian itu, maka sektor pariwisata di Bali akan ikut > mengalami kehancuran serupa. Kalau hal ini terjadi, maka Bali > memerlukan waktu lama untuk bangkit kembali. > > > Penulis, staf dosen pada Jurusan Sosek Fakultas Pertanian Unud > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

