Lampung Post Jum'at, 17 September 2004 Terorisme: Antara Radikalisme Agama dan Politik * Firdaus Muhammad, Koordinator Lingkar Kajian Komunitas AFKAR Circle Bandar Lampung
Dentuman bom yang berkekuatan besar (high eksplosive) di depan Kedutaan Besar Australia di Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (9-9) menelan ratusan korban. Tak pelak, peristiwa tersebut menghentak kesadaran kita bahwa ancaman teroris berada di tengah-tengah aktivitas kita yang melahirkan rasa tidak aman selalu menghantui. Kutukan dunia internasional terhadap aksi teroris yang merenggut jiwa tak berdosa itu, makin menunjukkan lemahnya kinerja aparat intelijen dan profesionalitas kepolisian kita dalam menjinakkan terorisme di Tanah Air. "Tragedi Kuningan" ini merupakan rangkaian sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan teroris makin mengancam keamanan menjelang pilpres 20 september mendatang. Peristiwa "bom politik kekerasan" yang memalukan dan memilukan bangsa di mata internasional ini ditengarai dilakukan kelompok jaringan teroris pimpinan Dr. Azahari dan Noordin Moh. Top. Tokoh teroris asal Malaysia yang diduga kuat terlibat sejumlah pengeboman di Tanah Air masing-masing bom Bali, Hotel J.W. Marriott, dan Kuningan ini adalah kelompok Islam radikal. Dr. Azahari adalah seorang mantan dosen Fakultas Teknik dan Ilmu Geoinformasi Universitas Teknologi Malaysia, yang juga tercatat peraih gelar Ph.D. dalam kajian model statistik di Reading University Inggris. Aksi sistematis jaringan ini kembali menguatkan stigma terorisme atas nama agama sebagai bentuk perlawanan atas keculasan politik pemerintah dan imprealisme global. Radikalisme Agama Pelaku pengeboman kantor Dubes Australia yang ditujukan kepada Australia itu, dispekulasi dari gerakan Islam garis keras sebagai jaringan yang berafiliasi dengan kelompok Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang merupakan jaringan terorisme internasional terbesar. Untuk melihat persoalan ini, kita dapat mengurai teror dalam konteks lebih luas beserta agenda-agendanya untuk memengaruhi kebijakan politik dunia yang hegemonik atas kelompok tertentu. Dalam nalar ini, teror dibaca sebagai anomali dari agama sebab ajaran agama tidak mengajarkan kekerasan memperjuangkan ideologinya. Karena itu, teror, harus dibaca sebagai tindakan menimbulkan rasa tidak aman atau rasa takut yang berlebihan dan sangat bertentangan dengan kemanusiaan dan nilai-nilai agama. Namun, aksi teror yang dilakukan kelompok garis keras di mana pun, termasuk di Indonesia--yang merupakan negara penganut muslim terbesar di dunia--dapat tumbuh sebagai reaksi dan aksi perlawanan atas imperialisme barat terhadap dunia Islam, seperti invasi ke Irak. Dalam sejarahnya, gerakan teroris tumbuh sebagai gerakan ancaman dunia tercatat pascainvasi Rusia atas Afghanistan. Kelompok garis keras yang didirikan Osama bin Laden seorang miliarder keturunan Arab Saudi. Osama bin Laden rela menghabiskan hidupnya menjadi pimpinan jaringan teroris dunia yang cukup ditakuti hingga detik ini, pada tahun 1989, ia mendirikan Al Qaeda. Dalam perkembangannya, kekuatan dunia (barat) tidak mampu menelusuk dalam membongkar jaringannya. Ketidakmampuan menelisik anatomi gerakan global mereka makin menguatkan jaringan teroris ini untuk melumpuhkan kepentingan barat (AS) atas dunia Islam. Perlawanan tak mengenal lelah dalam melawan imperialisme barat ini dibangun melalui jaringan teroris yang melahirkan ketakutan dan ancaman dunia. Jika benar tindakan teroris selalu mengatasnamakan agama, terjadi ironi agama yang berlebihan, sebab agama mana pun secara ideologis dan moral tidak membenarkan tindak kekerasan. Terorisme, dalam konteks ini, dibaca sebagai persoalan moral yang sulit sebagai tindakan simbolis yang dirancang dengan skenario cukup canggih dan terstruktur, untuk memengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik penguasa dengan cara kekerasan yang sering dibenturkan dengan kesucian sebuah agama. Tindak kekerasan atas nama agama menjadi bagian wacana politik yang tumbuh dari akar fundamentalisme. Fundamentalisme tidak tumbuh dari akar ideologi. Munculnya gerakan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme global. Gerakan-gerakan antiglobalisasi di kalangan kelompok garis keras dari kelompok beragama ini menyiratkan perlawanan laten mereka terhadap kebijakan politik luar negeri negara-negara barat terhadap dunia Islam, sekaligus perang terhadap kapitalisme Barat. Hal itu kemudian melahirkan gerakan militansi berlebihan sehingga dalam melihat sesuatu selalu hitam putih yang mengklaim kebenaran (truth claim). Karakter gerakannya sangat brutal dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Mereka tidak mengenal kompromi, toleransi, dan condong tertutup dengan komunitas di luar kelompoknya, serta sulit menerima pluralitas bahkan kelompok yang tidak sepaham dengan ideologi gerakannya adalah musuh dan karena itu mereka menghalalkan tindak kekerasan. Artinya, jihad digiring masuk dalam wilayah politik untuk melakukan perlawanan dengan dalih perang suci (holy war). Satu hal yang paling membahayakan masa depan bangsa ini adalah ancaman gerakan teroris oleh kelompok-kelompok radikal yang "diperalat" kekuasaan. Jika asumsi ini benar, belitan masalah tak kunjung teruai sebab skenario memainkan emosi mereka akan memperpanjang usia konflik dan disintegrasi. Penciptaan ruang radikalisme oleh (aparat) negara melalui gerakan organisasi garis keras dalam mengekpresikan diri menjadi ancaman "dalam selimut" negara sendiri. Lebih ironis, sebagaimana pernah disinyalir (alm) Munir, S.H., jika kekuatan ini justru dijadikan "alat" (mudah-mudahan tidak) dalam memperpanjang lajur kekerasan sistematis tadi, dapat saja menimbulkan radikalisme politik. Skenario dan Radikalisme Politik Serangan bom mobil berdarah di luar Kedutaan Besar Australia sebagai tindakan biadab yang merupakan skenario menciptakan rasa tidak aman dan ancaman bagi masyarakat luas. Meskipun bom ini ditujukan ke Kedutaan Australia, implikasi politiknya cukup besar, kaitannya dengan pencitraan pemerintah. Peristiwa ini tak pelak menjatuhkan kredibilitas Indonesia di mata dunia dalam melawan teroriasme, bahkan melahirkan stigma Indonesia sarang teroris. Lebih dramatis lagi, aksi bom bunuh diri ini terjadinya di tengah kesibukan kepolisian mengendus keberadaan kelompok Dr. Azahari, termasuk dengan mengajak Ali Imron "jalan-jalan" di salah satu kafe sebagai pancingan. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Implikasi lain dari kejadian ini adalah tumbuhnya rasa tidak aman dan kepanikan menjelang putaran pilpres kedua yang tinggal menghitung hari. Resistensi akibat peristiwa tragedi kemanusiaan menjelang pilpres putaran kedua membuahkan resistensi tindak kekerasan menjadi hantu ancaman global yang setiap saat dapat memakan korban jiwa dari anak-anak bangsa yang tidak berdosa. Karena itu, aksi tersebut dilakukan kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab untuk mengacaukan kondisi dan instabilitas perpolitikan. Kaitan hal ini, penulis mencoba melihat peristiwa ini sebagai bagian dari skenario dan rekayasa politik, guna melahirkan kepanikan dan kegamangan politik secara berlebihan. Asumsinya, segala keputusan politik sangat tergantung dari kultur dan nilai politik penguasa. Dalam ini, terdapat dua fenomena problematik yang menarik dicermati yakni; "skenario kecil dan besar". Kelompok garis keras dan negara memiliki posisi lebih bersifat subordinatif ketimbang mutualis, tidak heran jika kekuasaan memainkan atau mengkreasi gerakan radikal dengan "memberi ruang" dalam sekat-sekat skenario yang membelit. Jika demikian adanya, berarti kita memang berada dalam belitan skenario kecil dan besar sekaligus tanpa disadari. Penciptaan "skenario kecil" ditandai perilaku elite politik yang konspiratif selalu mengundang konflik dengan melahirkan kegamangan yang cukup dilematis bagi masyarakat. Perseteruan elite politik untuk kepentingan politik sesat yang cukup pragmatis. Akibatnya, terjadi polarisasi hingga pada tataran grass root yang menelantarkan kepentingan politik kebangsaaan secara universal. Dalam proses-proses yang disesaki dengan deal-deal elite tersebut menciptakan suhu makin memanas dan mengabaikan agenda bangsa yang sesungguhnya, menciptakan keamanan dan kesejahteraan rakyat. Dalam kondisi yang demikian, mereka melupakan betapa rapuhnya simpul-simpul integrasi kebangsaan dan nasionalisme dalam membendung kekuatan besar sebagai musuh laten yang mengancam eksisitensi bangsa besar ini, bernama imprealisme global. "Skenario kecil" berupa perebutan kekuasaan yang dimainkan elite melengahkannya dengan "skenario besar" yang dijalankan imperialisme barat menjadi ancaman bagi integrasi bangsa dalam rajutan nasionalisme kita. Jika asumsi ini, coba dirajut relevansinya, dapat dibaca reaksi Australia melalui John Hower dan Alexander Downer masing-masing perdana menteri dan menteri luar negeri Australia yang mengutuk keras aksi bom "tragedi Kuningan" itu sebagai bagian skenario besar itu. Indikasinya, tampak dari upaya mereka mencoba membangun opini dunia bahwa bom tersebut bukan intimidasi terhadap negaranya. Memburuknya hubungan Indonesia dan Australia pascajajak pendapat di Timor Timur dan bom Bali dan Kuningan menjadi makin meruncing, menandai skenario asing mengobok-obok integritas nasionalisme kebangsaan kita. Atas dasar ini, ditengarai akan melahirkan skenario besar yang mengancam nasib bangsa di tengah sibuknya elite politik dengan perebutan kekuasaan dan melupakan nasib bangsa ini menjadi sulit mandiri dari jeratan hegemoni dan imperialisme global melalui Australia yang menjadi perpanjangan tangan negara adidaya Amerika Serikat. Mungkin saya dapat dianggap terjebak dalam sebuah kekhawatiran yang berlebihan, tapi jika kita sekali lagi mencoba mencermati skenario besar ini. Tentu tidak berlebihan jika kemudian terhentak panik akan masa depan bangsa ini yang berada dalam ancaman imperialisme barat yang sistematik. Hal inilah yang tampaknya terabaikan akibat pergulatan politik dalam skenario kecil yang mengedepankan kepentingan personal dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa yang cukup pelik. Jika hal ini tidak kita sadari, intimadasi kekerasan akan menjadi bagian perilaku anak bangsa yang mengorbankan sesamanya. Perilaku elite politik yang berkompetisi meraih kursi kekuasaan an sich dengan cara masing-masing, berakibat terlupakannya agenda sesungguhnya bangsa ini berhadapan "musuh besar" yakni; sulitnya keluar dari jeratan hegemoni kolonialisme barat. Sekiranya elite tidak menyadari hal itu, sulit menjinakkan terorisme yang tumbuh dari akar perlawanan terhadap imprealiseme global itu dengan tindak kekerasan mereka yang nyatanya merugikan kita semua. Kiranya hal ini menjadi kesadaran kolektif anak bangsa ini untuk melawan terorisme dengan "jihad kemanusiaan" dengan menyemai perdamaian. Semoga! Wallahu a'lam. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

