KORAN MASUK SEKOLAH
Rajin Membaca Banyak Tahu, Malas Membaca Sok Tahu!
Esai: Ibnu Adam Aviciena

Ngomongin Indonesia, dari sisi manapun, memang memprihatinkan. Negeri 
ini dituduh sebagai negeri tempat lahirnya teroris. Australia bahkan 
menyatakan Indonesia sebagai negara yang paling berbahaya bagi 
negaranya. Pendidikan? Wah, bikin pusing. Untuk bisa sekolah SD harus 
mengeluarkan uang ratusan ribu. Apalagi yang perguruan tingginya, 
nyampe puluhan juta. Sementara pendapatan masyarakat sangat kecil, 
jauh dari cukup untuk memasukan anaknya ke sekolah. 
Berbicara prestasi juga sama menyedihkannya. Negara kita ini, menurut 
Human Development Index pada 2003, hanya menempati posisi ke-112 dari 
175 negara. Sedangkan menurut The Politic Economic Risk Constitution, 
Indonesia menempati posisi paling buncit, yaitu pringkat ke-12 dari 
12 negara. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan mutu guru. Satu 
guru SD, menurut hasil penelitian Badan Pusat Statistik, itu harus 
mengajar 22 orang. 
Keterpurukan bekas jajahan Belanda ini mengundang perhatian banyak 
pihak. Misalkan saja Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Komunitas 
tersebut selama tiga hari, yaitu 15-17 September, menyeleggarakan 
seminar dan lokakarya di Sukabumi, tepatnya di Grand Hotel Pakidulan. 
Semiloka yang mengusung permasalahan minat baca ini dibuka oleh H 
Mahtum Mastoem, SE, MBA, Ketua Pelaksana Harian Serikat Penerbit 
Surat Kabar (SPS Pusat).
Acara yang disponsori oleh News in Education (NiE) Indonesia, World 
Association of Newspaper (WAN) dan Serikat Penerbit Surat (SPS) 
mengundang pembicara Kukuh Sanyoto, Sabarudiin Tain, Drs H Dadang 
Daily, Msi; Maulana Wahid Fauzi, dan Dr H Iim Wasliman, MPd, Msi. 
Kukuh Sanyoto, direktur eks NiE Indonesia yang memaparkan Peran NiE 
dan KMBI dalam Menyiapkan Pembaca Masa Depan menyampaikan betapa 
rendahnya minat baca orang Indonesia. "Orang Indonesia lebih banyak 
menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk membeli 
koran," jelasnya.
Sebuah langkah yang sangat bagus sudah dimulai oleh WAN di Norwegia 
dengan terbitkannya buku yang bernama paspor untuk siswa SD�bisa juga 
SMP dan SMA. Buku seukuran kartu pos ini berisi tugas-tugas yang 
fleksibel. Tiap tugas dirancang untuk bisa diselesaikan selama satu 
minggu. Semuanya berhubungan dengan koran. Salah satu contoh tugas 
pada buku itu ialah siswa diminta menuliskan tiga buah judul artikel 
yang menarik hatinya. 
Tentu saja agar siswa mampu menuliskan tiga buah judul artikel ia 
harus membacanya terlebih dahulu. Di kelas, mereka nanti diminta 
mempresentasikan apa yang diketahuinya dari tiga tulisan tersebut. 
Proses semacam ini diharapkan pembelajaran yang holistik bisa 
tercapai. Karena, betul kata pembicara, semua bagian koran bisa 
dijadikan bahan pelajaran. Dari mulai iklan, surat pembaca, berita, 
esai, dan yang lainnya. Anak bisa memeriksa mana kata baku dan mana 
yang tidak, tatabahasa, majas, penggunaan tanda baca. Kalau ia sudah 
mengerti teori desain, desain iklan bisa dikomentari juga.
Mari perhatikan kalimat-kalimat berikut yang ada pada halaman 8 buku 
paspor ini: "Siapa nama tokoh/idola yang kamu baca di surat kabar 
hari ini, dan kamu ingin berjumpa denganya. Nama tokoh/idola....... 
(Seandainya kamu berjumpa) Ajukan kepada tokoh/idola itu tiga buah 
pertanyaan: 1. .........2. ...... 3. ..... Kemudian coba kamu 
bayangkan, sekiranya terjadi suatu peristiwa hebat di sekolahmu 
(misalkan sekolahmu juara olimpiade matematika tingkat nasional). 
Atau sesuatu yang menyedihkan terjadi di sekolahmu (misalkan 
sekolahmu bocor waktu hujan).
Seandainya kamu seorang "wartawan cilik" untuk Majalah Sekolah, apa 
bentuk pertanyaan yang akan kamu ajukan kepada tokoh/idola tersebut 
berkaitan dengan kedua peristiwa yang menimpa sekolahmu itu?
Tuliskan di kertas yang lain sejumlah pertanyaan untuk tokoh itu, dan 
buatlah wawancara dengan teman sekelas (misalkan, jadikan temanmu itu 
sebagai tokoh/idola tersebut? Kemudian cek, bagaimana hasil wawancara 
tersebut!"
Yang tidak kalah menarik, di setiap halaman buku saku itu dicantumkan 
kalimat mutiara yang menggugah. Misalkan kata-kata Ali bin Abi 
Thalib, Mahatma Ghandi, dan lain sebagainya. Contoh: Kepuasan 
terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah 
kemenangan yang hakiki (Mahatma Gandhi).
Sabarudin Tain yang menjadi pembicara bersama Kukuh Sanyoto 
menjelaskan bahwa bangsa tanpa minat baca sangat berbahaya. "Anah-
anak bangsa akan tertinggal dalam segala aspek, lahirnya masyarakat 
berbudaya rendah, egois, sulit menerima perubahan dan primitif, tidak 
kritis dan emosional," katanya. Katua Komunitas Minat Baca Indonesia 
(KMBI) Pusat ini menerangkan penyebab tidak adanya minta baca. 
Beberapa penyebab itu antara lain lingkungan yang tidak mendukung, 
sarana bacaan yang terbatas dan tidak menarik, serta rendahnya minat 
dan daya beli.
Selain itu Sabarudin juga membandingkan jumlah surat kabar dengan 
penduduknya. Beberapa negara yang dijadikan perbandingan tersebut 
ialah Jepang, Srilanka, Singapura, Malaysia, Filipina, India, dan 
Indonesia. Perbandingan surat kabar Jepang yang diterbitkan dengan 
jumlah penduduknya pada 1991 adalah 1:1,73. Artinya hampir setiap 
orang Jepang membaca satu koran. Angka yang tidak jauh berbeda 
terjadi pada tahun berikutnya, 1994 dan 1995, yaitu 1:1,74. Dari 
semua negara tersebut tadi, Jepang merupakan yang paling gemar 
membaca media massa. Berikutnya Singapura, Srilanka, Malaysia, 
Filipina, lalu India. Sedangkan Indonesia ada pada urutan terakhir. 
Perbandingannyapun mencengangkan: 1:35,5; 1:40,2; dan 1: 41,8 untuk 
tahun 1991, 1994, dan 1995. Angka-angka itu sederhananya bisa 
dipahami sebagai ukuran tinggi rendahnya minat baca negara masing-
masing.

Koran Masuk Sekolah
KMBI Sukabumi merupakan satu dari sepuluh KMBI yang ada. Sembilan 
KMBI berikutnya masing-masing: KMBI DKI Jakarta, KMBI Banten, KMBI 
Bandung, KMBI Semarang, KMBI Yogyakarta, KMBI Surabaya, KMBI Lampung, 
KMBI Riau, dan KMBI Bali. KMBI sendiri didirikan pada 23 Januari 
2004, hasil seminar "Meningkatkan Minat Baca" yang diadakan oleh SPS 
dengan dukungan WAN di Merak, Banten. Program komunitas ini sejalan 
dengan program Newspaper in Education (NiE) atau Koran Masuk Sekolah 
(KMS), yaitu meningkatkan minat baca di seluruh lapisan masyarakat 
Indonesia.
KMBI memang menarik. Komunitas yang ada sejak 10 bulan lalu itu 
memiliki visi: terbentuknya masyarakat berbudaya membaca sejak dini 
guna membentuk bangsa yang cerdas dan kritis untuk kesejahteraan umat 
manusia; dan memunyai misi: membentuk komunitas gemar membaca sejak 
dini dari semua tingkatan usia, jenjang pendidikan, di seluruh 
pelosok Indonesia guna melahirkan bangsa yang cerdas. Sementara 
mottonya, meski pendek, tetapi menghentak: rajin membaca banyak tahu, 
malas membaca sok tahu.

Radar Yunior 
Saya adalah salah seorang peserta semiloka tadi dari Radar Banten. 
Yang mendapat undangan sebetulnya bukan saya, melainkan Maulana Wahid 
Fauzi, redaktur Radar Yunior. Radar Yunior ialah suplemen Radar 
Banten Sabtu yang mengupas permasalahan remaja, terutama pendidikan. 
Di Radar Banten saya baru dua bulan magang. Maulana Wahid Fauzi atau 
lebih dikenal dengan Siuzi yang menjadi pembicara mengajak saya. 
Sebelum di Radar Banten saya pernah di LKBN Antara Serang dan Tabloid 
Wisata. Keduanya ditinggalkan karena semester 4 dan 6 masih sibuk 
kuliah.
Radar Yunior, meski tak sehebat koran-koran Malaysia dan Singapura, 
untuk Banten atau bisa juga untuk Indonesia cukup luar biasa. Walau 
hanya terbit mingguan, sebagai suplemen ia sudah mendekati konsep 
koran masuk sekolah. Halaman pertama, liputan utama, membahas masalah 
remaja yang lagi aktual seperti seputar pelarangan film remaja dan 
PON beberapa waktu lalu. Halaman dua: Jendela Sekolah (berisi profil 
sekolah dan karya siswanya seperti puisi, cerpen, atau sejenisnya), 
Kiprah Dindik (berisi program dinas pendidikan provinsi yang 
berhubungan dengan remaja), Profil (berisi profil klab, komunitas, 
orang, atau yang lainnya selama berhubungan dengan remaja). Halaman 
tiga: Dongeng, Asal Kamu Tahu (berisi pengetahuan umum semisal 
tentang listerik, hujan, dan lain-lain), Komik, Si Raban (berupa 
kartun), dan komik kiriman pelajar. Halaman empat: Jalan-Jalan 
(berisi tulisan tentang tempat-tempat bernilai sejarah dan wisata di 
Banten). 
Yang membedakan suplemen ini dengan suplemen remaja koran nasional 
adalah selain dari gaya penulisan yang meremaja, juga waratwannya 
yang terjun langsung ke lapangan, ke sekolah-sekolah menemui pelajar 
menanyakan langsung bagaimana pendapat mereka tentang peristiwa yang 
lagi hot di provinsi Banten, provinsi koran lokal berada dan pelajar 
bersekolah.
Awalnya, seperti juga dengan masalah apapun, Radar Yunior kurang 
dikenal. Bertanya ke siswa ini, apakah tahu Radar Yunior, ia gelang 
kepala. Bertanya ke yang satunya, dijawab tidak tahu. Sekarang, 
pertanyaan itu tidak usah ditanyakan. Ajukan saja pertanyaan ke 
pedagang koran di loper pada pukul 9 atau 10. "Ada Radar Banten 
(Yunior)?". Kemungkinan jawabannya, "Sudah habis...." **



Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang aktif di Rumah Dunia dan 
Sanggar Sastra Serang. Buku barunya yang akan segera keluar adalah 
Matahati Matahari: Mana Bidadari yang Pernah Kuminta? (Penerbit 
Beranda) dan Panggil Aku Bunga (Penerbit GIP).




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke