saya ada temen, kerja di sebuah perusahaan kapal pengangkut minyak sawit, dia cerita, 
itu kapal punya jalur di beberapa pelabuhan besar di indonesia, 
medan-padang-lampung-makassar, tujuannya membawa minyak sawit ke 
singapura-philipina-india, ini adalah usaha yang sangat bagus, untungnya besar, tapi 
ada yang menyedihkan setelah mengetahui keadaan sebenarnya, tahukah anda? sumber daya 
alam (sda) asli dari indonesia, sumber daya manusia (sdm) asli orang-orang indonesia, 
pemilik kapal, asli orang singapura, hik hik hik.. kapan putra-putri indonesia akan 
tergugah dan bangkit, untuk membenahi ekonomi di tanah air ini.. dan.. memang.. asli.. 
pemerintah harus mendukung bila ada putra-putri indonesia yang ingin terjun dalam 
bisnis agraria.. semoga..

salam buat semua..

----- A Nizami [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Jumlah penduduk Indonesia ada 220 juta jiwa. Ini adalah pasar ke 4 terbesar di dunia.
Seandainya setiap penduduk menghabiskan Rp 100 ribu per tahun untuk:
1. Beras
2. Gula
3. Kedelai
4. Ayam
5. Sapi
 
Maka ada pasar senilai Rp 20 trilyun lebih untuk tiap produk tersebut. Bagaimana 
caranya agar Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri secara mandiri?
 
Pupuk bahannya tidak perlu dari luar, cukup pakai kotoran kerbo/sapi yang dulu biasa 
disebut pupuk kandang.
 
Mudah2an presiden Indonesia yang baru, SBY, punya visi dan misi yang jelas untuk itu.
 
Salam
Agus Nizami


rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagaimana nihh pakar2 kita dibidan agrikultiral? mBah soel dan adik2 
yang belajar dibidang ini? benarkah?

Salam

RM D Hadinoto


Negara Agraris Tanpa Komoditas Andalan?

Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan kesuksesan surplus beras 
para petani menjerit. Persoalan klasik kembali terulang. Panen raya 
tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, bencana!


TUGAS yang diemban Pemerintah Megawati Soekarnoputri di sektor 
pertanian, pada awalnya, memang tidak gampang. Sektor ini diterpa dua 
gejolak eksternal beruntun. Anomali iklim El Nino pada 1997-1998 dan 
berulang 2001 serta krisis ekonomi (1997-1999) membuat kinerja sektor 
pertanian terpuruk. 

Namun, belakangan, "panen" di sektor ini bisa dituai. Setidaknya 
pencapaian produksi tanaman pangan - dalam hal ini beras - yang cukup 
signifikan. Pada 2004 Indonesia surplus beras. 

Produksi nasional pada 2004 sebanyak 53,7 juta ton gabah kering 
giling (GKG), meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 51,13 juta 
ton GKG. Jika dikonversi menjadi beras maka jumlahnya menjadi sekitar 
33 juta - 34 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan konsumsi beras 
nasional sebanyak 30 juta-31 juta ton. 

Menurut Dirjen Bina Produksi dan Tanaman Pangan, Deptan, Mohammad 
Jafar Hafsah, peningkatan produksi beras tak lepas dari keberhasilan 
Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksimantap) yang 
dicanangkan Deptan sejak 1 Oktober 2002.

Selanjutnya, pejabat Deptan dan Perum Bulog dalam berbagai kesempatan 
menyatakan, Indonesia tengah menjajaki ekspor beras. Kondisi ini 
sepertinya mengulang sukses swasembada beras pada 1984, di era 
Pemerintahan Soeharto. Indonesia yang selama ini menjadi pengimpor 
beras akan segera beralih menjadi pengekspor beras. Sebuah prestasi 
yang membanggakan. 

Yang menjadi pertanyaan, apakah hal ini juga merupakan kebanggaan 
petani? Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan kesuksesan surplus 
beras, para petani menjerit. Persoalan klasik kembali terulang. Panen 
raya tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, bencana! Harga gabah 
mereka anjlok sedemikian rupa sehingga tak lagi sebanding dengan 
biaya produksi. Petani tekor.

Hal yang sama terjadi pada komoditas pertanian lainnya, selain beras. 
Komoditas perkebunan pun mengalami hal serupa sehingga seolah-olah 
negara agraris ini tak punya andalan komoditas pertanian. 

Jelas sudah bahwa keberhasilan atau perkembangan sektor pertanian tak 
bisa dilihat dari ukuran angka produksi semata. Lebih penting dari 
itu adalah apa yang telah dinikmati petani. Hasil pertanian harus 
dipasarkan. Itu berarti menyangkut tata niaga yang rumit termasuk 
kebijakan impor komoditas serupa, bea masuk, dan seterusnya. 



"Subsidi pupuk dan tetek bengek subsidi lainnya serta kebijakan impor 
jalur merah dan sebagainya tak akan ada artinya bila pemerintah tutup 
mata terhadap penyelundupan. Ini salah satu contoh bahwa masing-
masing institusi di pemerintahan perlu koordinasi," kata kata Ketua 
Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Ir Winarno Tohir, kepada 
Pembaruan.

Bila masing-masing departemen hanya mementingkan targetnya sendiri 
maka yang menjadi korban adalah petani. 

Winarno tidak sependapat bila Indonesia yang notabene negara agraris 
disebut tidak punya produk andalan pertanian. "Kita punya banyak 
produk andalan terutama dalam subsektor perkebunan, namun karena 
tidak di-back up pemerintah secara tepat, jadinya seolah-olah kita 
tak punya produk andalan," katanya. 


Perkebunan

Perkebunan merupakan potensi yang besar dalam meningkatkan pendapatan 
negara dan kesejahteraan rakyat. Potensi itu dapat dilihat dari 
beragamnya komoditas yang dihasilkan perkebunan besar maupun 
perkebunan rakyat, mulai dari tebu, kelapa, kelapa sawit, karet alam, 
kakao, teh, tembakau, kopi, dan lada. Sayang, peningkatan nilai 
tambah dari keunggulan komparatif yang seharusnya dapat diolah dari 
sektor perkebunan belum dapat dioptimalkan. 

Perkebunan di Indonesia ternyata masih berkutat pada peningkatan 
produksi primer dan ekspansi areal tanpa diimbangi dengan peningkatan 
nilai tambah dan pemasaran yang kuat. Indonesia pun hanya berperan 
sebagai penyedia bahan baku bagi negara-negara maju. Ironisnya lagi, 
ekspansi perkebunan dengan redistribusi lahan melalui Perkebunan Inti 
Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) ternyata belum membuahkan hasil yang 
baik. Kredit yang dikucurkan untuk pengelolaan perkebunan inti dan 
petani plasma dalam pola PIR-Trans ternyata hanya menelantarkan 
ribuan petani dan kredit macet dari ratusan perusahaan perkebunan. 

Sampai saat ini, disinyalir sejumlah perkebunan swasta yang 
bermasalah dan ditangani oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional 
(BPPN) justru kembali lagi kepada pemilik lama yang dijual dengan 
harga murah. 

Sekalipun data Deptan menyebutkan ada pertumbuhan sektor perkebunan, 
itu harus dilihat sebatas pada produktivitas, bukan pada peningkatan 
nilai tambah atau pengolahan. Dengan demikian, peningkatan produksi 
selama periode lima tahun terakhir tidak terlalu memberikan 
kontribusi peningkatan nilai yang berarti karena masih mengandalkan 
produk primer dan dipengaruhi oleh harga internasional. 

Kondisi ini seharusnya diikuti dengan perubahan kebijakan pemerintah 
untuk mendorong lebih banyak peningkatan nilai tambah dan industri 
pengolahan komoditas perkebunan di dalam negeri. 

Ke depan, pembangunan pertanian sudah waktunya tidak lagi terfokus 
pada usaha bercocok tanam saja (on-farm), tetapi juga diimbangi 
dengan pengembangan usaha hulu pertanian. Hal ini sudah mulai 
dirintis. 

Usaha sub sektor on-farm adalah mengubah cara bertani dari usaha 
bercocok tanam komoditas tunggal menjadi usaha dengan komoditas yang 
beragam dan bernilai ekonomis tinggi. 

Sedangkan usaha hulu antara lain dengan mengembangkan usaha 
perbenihan. Logikanya, dengan perkembangan pertanian tentu saja 
kebutuhan benih dengan kualitas terjamin terus meningkat. 

Sebagai contoh, menurut Menteri Pertanian Bungaran Saragih, impor 
benih hortikultura masih cukup besar yakni rata-rata mencapai 2.600 
ton per tahun.

On-farm juga diimbangi dengan usaha hilir pertanian (downstream 
agribusiness) dan kegiatan penunjang (supporting system of 
agribusiness). 


PEMBARUAN/HERI S SOBA 

dan DWI ARGO SANTOSA







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke