http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=687 
Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd:
Sekularisme Ada dalam Sejarah, Tak Ada dalam Kitab
Tanggal dimuat: 14/9/2004


Beberapa waktu lalu, JIL mengadakan workshop dua hari seputar �Kritik Wacana Agama� 
yang diikuti pelbagai aktivis LSM dan organisasi lintas agama di Hotel Millenimum, 
Jakarta (28-29/8/2004). Berikut petikan wawancara ekslusif JIL dengan Nasr Hamid di 
sela-sela perhelatan workshop soal wacana agama, proses demokrasi di dunia muslim, 
sampai perasaannya harus berada jauh dari kampung halamannya, Mesir.
 
Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual asal Mesir yang kini bermukim di Belanda, 
menghabiskan waktu dua pekan (sejak akhir Agustus-pertengahan September) di Indonesia. 
Sepanjang dua pekan itu, sosok intelektual bersahaja ini menyempatkan diri bertukar 
gagasan dan berdialog dengan pelbagai kalangan. Selain mengisi seminar di UIN Jakarta 
dan universitas lainnya, pakar ilmu Alqur�an berbadan gempal ini juga mengisi 
�pengajian� ilmu Alqur�an di Pondok Pesantren Salafiyah Assyafiiyyah Asembagus 
Situbondo. Jaringan Islam Liberal (JIL) kebagian jatah mengadakan workshop dua hari 
seputar �Kritik Wacana Agama� yang diikuti pelbagai aktivis LSM dan organisasi lintas 
agama di Hotel Millenimum, Jakarta (28-29/8/2004). Di sela-sela perhelatan workshop 
itulah, Novriantoni (salah seorang redaktur JIL) sempat berbincang-bincang dengan Nasr 
Hamid tentang pelbagai persoalan, mulai dari teori ilmu Alqur�an, soal wacana agama, 
proses demokrasi di dunia muslim, sampai perasaannya harus berada jauh dari kampung
 halamannya, Mesir. Berikut Petikannya. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, selama dua hari workshop, kita menangkap perkembangan 
pemikiran Anda dari gagasan tentang �Alqur�an sebagai teks� (al-Qur��n kan nash) yang 
dapat dianalisis dengan perangkat analisis teks yang lazim, menuju gagasan tentang 
�Alqur�an sebagai wacana� (al-Qur��n kal khith�b). Apa bedanya?

NASR HAMID ABU ZAYD: Bedanya seperti perbedaan antara posisi Mushaf dan Alqur�an itu 
sendiri. Alqur�an adalah hidup dan merupakan fenomena yang dinamis dan efektif dalam 
kehidupan keseharian kita. Posisi itulah yang tidak mampu dijangkau oleh Mushaf 
sebagai sekumpulan teks yang mati. Jadi, kita memiliki dua fenomena tentang Alqur�an: 
Alqur�an sebagai fenomena yang dinamis; dan Mushaf sebagai fenomena teks. Dalam 
Mushaf, yang penting adalah teks itu sendiri. Sementara yang menjadi titik perhatian 
dalam fenomena Alqur�an sebagai wacana adalah soal kenyataan (al-w�qi`). Dalam fakta 
sejarah, selama 23 tahun Alqur�an merupakan fenomena yang dinamis, dialogis, 
debat-sanggah, dan mengikut mekanisme take and give.
 
NOVRIANTONI: Apakah selama 23 tahun pertamanya itu dia tetap dianggap sakral?

NASR: Sakral dalam artian apa? Kalau sakral diartikan �tetap dan tidak dinamis�, 
kenyataannya orang-orang muslim pertama zaman itu mengajukan pelbagai pertanyaan dan 
menuntut jawaban Alqur�an. Manusia zaman itu berinteraksi dengan sesuatu yang sakral 
dengan cara yang hidup. Artinya, mereka bertanya, Alqur�an menjawab; mereka membantah, 
Alqur�an menyanggah. Titik sentral perdebatan itu ada pada sosok Nabi Muhammad. 
Ambillah contoh dari ayat Alqur�an, �yas�al�naka `anis syahril har�m qit�lun f�h� 
(mereka bertanya tentang status perang pada bulan-bulan yang terlarang). Kalau Anda 
menganalisis ayat itu sebagai sebuah teks, Anda akan mengatakan bahwa ayat itu 
menghalalkan perang sekalipun di bulan-bulan terlarang. Tapi ketika dia dianalisis 
sebagai sebuah wacana, kita akan menemukan bahwa kaum muslim ketika itu sangat gentar 
ketika harus berperang di bulan-bulan terlarang. Sebab, itu merupakan pelanggaran atas 
aturan yang standar berlaku dalam mayarakat tribal Arab ketika itu. Di sini
 Alqur�an mengajak dan memotivasi kaum muslim untuk berperang walaupun �qit�lun f�h 
syad�d� (sangat berat bagi mereka). 

Urusan perang bagi mereka yang hijrah dari Mekkah ke Madinah itu tentu sangat berat. 
Bagaimana mungkin mereka berani berperang melawan kekafiran, toh yang mereka perangi 
tak lain adalah sanak saudara mereka sendiri dari kaum Quraisy. Dari sinilah kita 
dapat memahami mengapa redaksi Alqur�an di situ begitu keras. Jadi ayat yang 
menganjurkan untuk berperang melawan kaum musyrik (yang notabene masih sanak saudara 
kaum muslim sendiri ketika itu), merupakan pelecut semangat bagi kaum muslim yang 
peragu. Tidak mungkin kita menganggap ayat itu berlaku umum sebagai anjuran perang 
tanpa tedeng aling-aling. 

Makanya, ketika menjumpai redaksi Alqur�an yang berbunyi �uqtul�hum haits 
tsaqiftum�hum� (perangilah mereka dimanapun engkau jumpai!), kita tidak bisa 
menganggapnya sebagi perintah yang langsung dan mutlak. Ayat ini dapat diletakkan 
sebagai bagian dari pelecut semangat, khusushya bagi mereka yang ragu dan takut untuk 
berperang. Artinya, redaksi yang ada di sini bersifat dialogis. Kaum Muslim ketika itu 
mungkin tidak punya beban untuk berperang melawan orang Parsi dan Romawi. Tapi melawan 
sanak saudara mereka sendiri, orang Arab seperti mereka (sekalipun musyrik), tentu 
sangat berat dan dilematis. Jadi di sini Alqur�an mengajak untuk keluar dari rasa 
waswas tadi, karena sedang membentuk tatanan mayarakat baru.

NOVRIANTONI: Kalau begitu, Alqur�an itu sangat ideologis, ya!?

NASR: Kalau mau mengatakan begitu, katakanlah! Saya menamakannya sebagai wacana 
(al-khit�b). Setiap wacana tentu saja mengandung unsur yang ideologis, dan itulah yang 
terjadi. Kita tidak perlu takut mengatakan demikian, sebab Allah kemungkinan juga 
sangat ideologis. 

NOVRIANTONI: Ini seperti terkait dengan tesis Anda yang mengatakan bahwa selain bagian 
dari mut�j tsaq�f� (produk kebudayaan), Alqur�an juga berperan sebagai mutij tsaq�f� 
(produsen peradaban)!

NASR: Mungkin. Bagi saya, persoalannya bukan pada fakta bahwa Alqur�an adalah �produk 
budaya�, tapi lebih pada aspek �produsen budaya� itu tadi. Sebab dalam pengandaian 
sebagai produsen budaya, semua aktivitas yang ideologis itu tadi sangat dimungkinkan. 
Terus terang, saya sebetulnya takut menggunakan tesis tersebut, karena kita dapat 
memperhatikan fakta bagaimana Alqur�an mampu menjadi penggerak itu semua. Kini kita 
punya persoalan serius dalam memahami Alqur�an: absennya pendengar Alqur�an awalnya, 
sehingga kita kesulitan meletekkan konteksnya. Dalam sebuan wacana, tentu ada pihak 
penyampai dan pendengar. Tapi sekarang pendengar pertamanya sudah tidak ada. 

Kita ambil contoh sederhana tentang bagaimana sebuah wacana bekerja. Saya tak jarang 
sengaja membentak anak sulung saya untuk menyampaikan pesan lain kepada anak saya yang 
paling bungsu. Saya tentu tidak sampai hati memarahi si bungsu yang masih kecil itu. 
Tapi dengan memarahi yang sudah besar, si bungsu tahu bagaimana sikap saya dalam 
persoalan tertentu. Jadi ada pesan bersayap di dalam wacana yang sedang saya sampaikan 
kepada anak sulung saya. Wacana yang saya sampaikan itu punya lebih dari satu fokus. 

Makanya, saya selalu mengatakan bahwa proses dialog dengan kalangan Islamis itu tetap 
penting. Bukan dalam rangka memuaskan mereka dengan pemikiran kita, tapi untuk memberi 
pesan kepada yang lain: pihak ketiga yang ikut menyimak dialog tersebut secara 
diam-diam. Kalangan Islamis mungkin sudah tidak penting Anda ajak untuk berpikir 
mendalam, karena mereka sudah sangat ideologis. Tapi yang penting adalah pihak ketiga 
yang diam itu. Dialog selalu penting untuk pihak pendengar, dan dari situlah 
terciptanya wacana. Itulah kelebihan sebuah wacana. Sementara teks, hanya terdiri dari 
pengarang dan pembaca. Ketika Alqu�an menjadi teks pertama kali, dia tetap mampu 
menciptakan kebudayaan yang betul-betul hidup. Tapi setelah itu banyak pihak yang 
mengambil hukum-hukum mutlak, walaupun sebetulnya tidak ada yang namanya hukum mutlak 
itu. 

Misalnya, Anda mengambil hukum mutlak dari redaksi ayat �waqtul�hum haitsu 
tsaqiftum�hum (bunuhlah mereka dimanapun engkau jumpai) atau �waikhr�jul bait aktsaru 
fitnah� (mengeluarkanmu dari tempat tinggalmu lebih dari sebuah petaka). Artinya, di 
sini akan ada proses penyelewengan makna dari teks yang sebenarnya. Nah, dalam sebuah 
wacana, diperlukan analisis yang lebih lanjut menyangkut kondisi sosial-politik-budaya 
ketika teks itu dilahirkan. Kata �musyrik� misalnya, tidak bisa kita mutlakkan pada 
siapa saja. Kata �kafir� juga demikian. Kalau pembunuhan pada kaum musyrik merupakan 
perintah yang mutlak, tidak mungkin Nabi membiakan penghuni Mekkah yang musyrik itu 
tetap hidup ketika terjadi proses Penaklukan Mekkah (fath makkah). 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, Anda getol sekali mengajak mengembangkan kesadaran 
kritis-ilmiah dalam kajian atas Kitab Suci, terutama Alqur�an. Apa saja tantangan 
dalam membentuk kesadaran kritis-ilmiah itu?

NASR: Tantangannya banyak sekali. Dari institusi resmi dan dogma-dogma yang dipoduksi 
dan reproduksi berkali-kali oleh kalangan konservatif. Mereka dengan leluasa 
mengembangkan dogma-dogma mereka di pelbagai media massa. Dan itu sangat berat untuk 
ditantang, karena mereka mengklaim memperjuangkan Islam yang otentik. Media dogma yang 
paling krusial tentu saja masjid. Jadi, kita punya berbagai peringkat produsen dogma; 
institusi keagamaan resmi, media massa, dan khatib-khatib di masjid. Dogma bertebaran 
di segenap penjuru itu.

Hilangnya etos keilmuan dan tidak adanya pendidikan yang hakiki juga menyebabkan 
tantangan kita semakin berat. Institusi pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana 
murid bisa berpikir, tapi memaksa mereka untuk menghafal untuk lulus ujian. Tantangan 
lain adalah buku-buku yang tidak mendidik kesadaran kritis-ilmiah dalam beragama. Saya 
tidak menyebut buku sebagai salah satu tantangan terberat. Buku mungkin dibaca dan 
mungkin diabaikan. Tapi, buku merupakan salah satu bagian dari gerakan yang integral 
dalam proyek pencerahan. Meski begitu, saya tidak terobsesi untuk dapat melakukan 
pencerahan melalui buku-buku yang saya karang. Satu-dua buku yang mengajak berpikir 
kritis-ilmiah tentu tidak dapat diandalkan, dibanding banyaknya buku yang mengajar 
secara detil cara-cara melenyapkan kesadaran kritis-ilmiah. 

Makanya diperlukan komunikasi yang lebih banyak lagi dengan orang lain. Tak jarang 
komunikasi langsung secara individual lebih memungkinkan kita untuk menyebarkan 
pengetahuan secara baik. Saya beruntung kini bermukim di Belanda, sebab bisa mengajar 
mahasiswa muslim dari pelbagai negara, tidak hanya orang Mesir. Makanya, kadang-kadang 
saya berpikir, orang lain ingin mencelakakan kita, tapi Allah menginginkan skenario 
lain. Saya punya mahasiswa dari Iran, Turki, dan juga Indonesia; cukuplah bagi saya. 
Saya kira di dunia Islam kini sedang muncul kesadaran penuh semangat untuk membangun 
masyarakat baru. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, dalam buku al-Khit�b wat Ta�w�l (Wacana dan Penakwilan), Anda 
mengeluhkan kalangan yang mengklaim kalau kita hanya perlu mengadopsi sains dan 
teknologi Barat, tanpa perlu mengadopsi nilai-nilai seperti individualisme, kebebasan, 
demokrasi, dan lain-lain. Mungkinkah sains dan teknologi berkembang tanpa prasyarat 
budaya seperti individualisme, kebebasan berpendapat, dan lain-lain?

NASR: Mungkin saja kita mendapat segenap produk sains dan teknologi itu tanpa 
prasayarat budaya tertentu. Tapi kita tetap saja akan menjadi konsumen dan importir. 
Menurut saya, ketika kita mengadopsi nilai-nilai budaya Barat, tidak otomatis kita 
telah membebek kepada mereka. Barat juga tidak satu front. Barat terdiri dari beragam 
masyarakat dengan eksperimen sejarah masing-masing. Sekularisme Jerman tentu bukan 
sekularisme Perancis. Sekularisme Perancis berbeda dengan sekularisme Inggris. 
Sekularisme Belanda tidak sama dengan sekularisme Amerika. Jadi perbincangan tentang 
Barat dengan meletakkannya dalam satu keranjang juga keliru. 

Makanya, kita perlu berbincang soal interaksi, lebih spesifik interaksi yang terbuka 
antara nilai-nilai kita dengan nilai-nilai lain. Ini bukan soal pembebekan. Kita 
sering mendengar klaim bahwa kita memiliki nilai-nilai sedemikian rupa yang berbeda 
dengan nilai-nilai orang lain. Padahal, nilai-nilai yang diklaim tersebut tak jarang 
hanya ada dalam fantasi kita sendiri. Apa yang menghalangi kita untuk mendapat nilai 
kebebasan individu dari konsep dan nilai-nilai Islam sendiri? Apakah Islam melulu 
berdiri atas dasar paksaan?

NOVRIANTONI: Mungkin persoalannya karena Islam lebih banyak menekankan soal keadilan 
dibandingkan kebebasan. Akibatnya kebebasan seakan-akan bukan bagian penting dari 
nilai-nilai Islam!

NASR: Saya paham itu. Tapi saya tidak menganggap adanya pertentangan nilai di dalam 
Islam. Mungkin persoalannya hanya pada bagaimana meletakkan prioritas; bukan 
pertentangan antar nilai. Sebab, kita tidak mungkin mencapai taraf masyarakat sosialis 
dan berkeadilan sosial tanpa ditopang kebebasan individu yang memadai. Mungkin itu 
bisa saja terjadi, tapi akan gagal dengan segera. Inilah yang kita saksikan dari kasus 
kegagalam eksperimentasi sosialisme di negara-negara Arab umumnya. Sosialisme selalu 
dipaksakan dengan mengorbankan kebebasan individu. Kebebasan mendapatkan roti 
mengorbankan kebebasan berpendapat. Tapi pada akhirnya terbukti, kebebasan 
berpendapatlah yang sesungguhnya memperjuangkan kebebasan mendapat jatah roti pada 
awalnya. 

NOVRIANTONI: Apa penyebab defisit kebebasan di negara-negara muslim; persoalan 
politik, budaya, atau apa?

NASR: Politik, sosial dan ekonomi! Jadi bukan problem politik semata. Lebih dalam dari 
itu adalah persoalan sosial-budaya, khususnya menyangkut pendidikan atau bagaimana 
cara kita mencetak generasi sejak dini. Kita punya problem dalam mendidik di 
lingkungan rumah tangga karena terlalu banyak menekankan asas ketaatan. Saya tidak 
menganjurkan semua anak bertindak durhaka pada orang tuanya masing-masing. Yang kita 
harapkan: bila anak ditanya, dia bisa menjawab; Ada proses dialog dalam lingkungan 
keluarga. 

Nah, dogma ketaatan yang mutlak pada level rumah tangga ini rupanya meluas ke sistem 
pendidikan di sekolah, sampai tingkat perguruan tinggi. Di dalam perkuliahan, tidak 
ada perdebatan. Para pengajar menjadikan peneliti sebagai jongos. Nilai ketaaatan di 
rumah tangga berlanjut ke level yang paling makro: rezim politik. Keluar dari kerangka 
ketaatan pada rezim dianggp penentangan terhadap negara. Yang dipentingkan kemudian 
adalah konsensus dan harmoni. Konflik ditekan sama sekali. Jadi persoalan defisit 
kebebasan bermula dari level yang paling mikro sampai level yang paling makro. Makanya 
di dunia muslim, struktur makro berupa rezim politik, merefleksikan ketaaatan mutlak 
pada level keluarga tadi. Rezim-rezim politik selalu bisa memaksakan kehendak 
ideologisnya dalam kurikulum pengajaran dan pendidikan. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, sekarang terjadi gelombang demokratisasi yang cukup 
menjanjikan di sejumlah negara muslim. Apa yang terbayang dalam benak Anda ketika 
melihat proses demokratisasi di Indonesia?

NASR: Saya tidak punya banyak informasi tentang proses demokratisasi di Indonesia. 
Tapi melihat pemilu presiden terakhir, dengan kontestasi banyak calon, tidak adanya 
salah satu calon yang memperoleh suara mutlak, tradisi pemilu yang reguler, dan adanya 
kontrol yang kuat atas pemilu, saya menganggapnya sebagai bagian tradisi transparansi 
yang mungkin tidak terjadi di banyak negara muslim lain. Di Iran ada pemilu, tapi 
tetap saja terkungkung oleh kerangka sistem negara Islam. Jangan lupa, di Indonesaia 
perempuan sudah menjadi kepala negara, dan sekarang menjadi calon kepala negara. Itu 
pantas kita apresiasi sekalipun mendapat banyak tantangan dari kalangan Islam 
konservatif dan kelompok lainnya. 

Bagi saya, kalau proses demokratisasi di Indonesia berkembang secara progresif 
--mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang merintanginya-- kita akan punya tiga contoh 
demokrasi di negara muslim, di samping contoh Turki dan Iran. Memang terdapat variasi 
yang mencolok antara ketiga contoh tersebut. Tapi yang penting, masyarakat Islam 
merasa dipimpin oleh pemerintahan yang demokratis, sekalipun dalam format Islam 
seperti di Iran. 

NOVRIANTONI: Apakah demokrasi yang diformat dalam kerangka negara Islam seperti Iran 
itu tidak problematis?

NASR: Betul! Di Iran, mereka mengklaim sedang menjalankan demokrasi Islam tanpa 
membolehkan nonmuslim untuk berkompetisi di dalam sistem demokrasi tersebut. Tapi Iran 
saya rasa masih berada dalam kerangka negara demokratis, karena di sana ada parlemen 
atau dewan yang dipilih langsung secara reguler dengan instrumen-instrumen demokrasi. 
Dan lebih dari itu, di sana ada hasrat dan kesempatan untuk mengganti kekuasaan secara 
reguler. Itu tidak sama dengan beberapa negara Arab yang kita lihat saat ini. Semua 
itu bagi saya sangat penting. 

Sekarang, kita perlu lebih jeli memperhatikan perkembangan sosial-politik Iran. Kini 
di Iran, gagasan velayat-e-faqih sedang berada dalam tantangan. Perlu diingat, itu 
semua tentu tidak mungkin terjadi kecuali dalam iklim yang relatif demokratis. 
Beberapa perkembangan dan gejolak yang kini terjadi di Iran, menurut saya masih bagian 
dari indikator proses yang sehat, bukan tanda pesakitan. 

NOVRIANTONI: Bagaimana dengan proyek �demokratisasi� Irak?

NASR: Demokratisasi di Irak jelas tidak menjanjikan! Sederhana saja, proses perubahan 
apapun yang dijalankan langsung dari atas akan sulit menuai sukses. Dari ekserimen 
sejarah kita tahu, proses perubahan apapun yang dipaksakan dari atas tidak akan 
berhasil. Pada level masyarakat, mungkin mereka terlihat seakan-akan menerima proses 
perubahan, tapi sesungguhnya bentuk penerimaan itu semu dan terpaksa belaka. Inilah 
yang sebetulnya sedang kita saksikan di Irak. 

NOVRIANTONI: Khaled Khistaini, kolumnis al-Syarq al-Awsath asal Irak, optimis akan 
proses demokratisasi Irak. Menurutnya, rakyat Irak pada dasarnya berbudaya, gemar 
membaca, demokratis, sekuler, dan sifat-sifat baik lainnya!

NASR: Kita perlu berhati-hati ketika mengatakan rakyat ini atau itu pada esensinya 
berwatak demikian. Kondisi rakyat selalu berubah. Kita perlu ingat pengalaman Irak 
selama kurang lebih 30 tahun di bawah rezim diktator yang bengis. Dari pengalaman itu, 
rakyat Irak tidak dapat dibayangkan akan tetap berada dalam kondisi tertentu tanpa 
proses perubahan. Makanya, saya selalu menentang bentuk-bentuk generalisasi dalam 
berpikir. Saya tidak mau mengatakan bahwa rakyat Mesir pada esensinya lemah-lembut dan 
santun, misalnya. Sebab, suatu ketika rakyat Mesir bisa menjadi kasar dan sangat 
beringas. 

Menobatkan sifat-sifat dasar tertentu terhadap suatu masyarakat, terkadang berubah 
menjadi klaim yang justru mengabaikan pelbagai kompleksitas perubahan pada masyarakat 
itu sendiri. Sebuah pepatah mengingatkan kita, �Air yang sama tidak akan menempuh arus 
yang sama dua kali.� Artinya, rakyat Irak tidak mugkin tetap dalam kondisi yang 
demokratis --kalau itu pernah terjadi-- setelah sekian lama berada dalam kungkungan 
rezim otoriter. Makanya, saya tidak dapat menerima anggapan seperti itu. Watak manusia 
pada dasarnya tidak tetap. Manusia bukanlah data-data yang konstan.

NOVRIANTONI: Bagaimana prediksi Anda tentang masa depan demokrasi di dunia Arab?

NASR: Khusus pada dimensi politik, cukup menjanjikan. Tapi kalau kita tarik pada level 
yang lebih luas, demokrasi di sana baru akan sampai pada level demokrasi pemilu saja. 
Jadi belum akan sampai pada level demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai 
kebebasan. Artinya, di sana akan ada banyak partai, elit, dan prosedur-prosedur 
demokrasi. Tapi demokrasi sebagai sebuah konsep yang bersendi kebebasan individu, 
akuntabilitas, dan lain-lain, akan sulit tercapai. Demokrasi yang akan muncul di 
negeri Arab adalah demokrasi tribalistik. Sebab, kebebasan individu tidak akan pernah 
ada. Para calon anggota dewan akan giat melakukan kampanye di desa dan wilayah 
sukunya, sebab masyarakat sangat fanatik terhadap calon yang berasal dari daerah dan 
sukunya masing-masing. 

NOVRIANTONI: Apakah lemahnya individulisme dalam demokrasi Arab ini menandakan bahwa 
individualisme itu sendiri merupakan nilai-nilai Barat yang tak mungkin diadopsi oleh 
negara muslim?

NASR: Saya tidak mengatakan bahwa individualisme sebagai sebuah nilai betul-betul 
sudah raib dari negeri Arab. Yang hilang adalah kebebasan individu untuk mengambil 
keputusan dan memilih. Padahal itu semua merupakan prasyarat untuk menegakkan 
kebebasan politik. Kebebasan politik tidak akan terjadi bila kebebasan pndidikan, 
berkeyakinan, mengeluarkan pendapat, dan lain-lain tidak terwujud.

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, sebagian orang menganggap konsep syura dan ijmak sebagai 
akar-akar demokrasi dalam Islam. Bagaimana pendapat Anda?

NASR: Saya tidak yakin dan tidak pernah berpikir seperti itu. Menurut saya, konsep 
syura bukanlah konsep Islam. Kata syura termuat di Alqur�an dalam bentuk deskriptif 
saja (sh�rah washfiyyah). Misalnya, dalam bentuk redaksi: �wa �amruhum sy�ra bainahum� 
(perkara mereka diselesaikan dengan cara rembukan). Dalam sejarahnya, syura merupakan 
prosedur yang digunakan elit-elit Quraisy ketika mereka menghadapi pelbagai problem 
bersama, sebagaimana yang dipraktekkan ahli nadwah dan mal� atau para elit suku 
Quraisy. Mereka berembuk ketika ingin menetapkan keputusan yang bersentuhan langsung 
dengan kepentingan masing-masing suku. Inilah bentuk syura yang sudah dipraktekkan 
sebelum Islam. Jadi sama sekali bukan inovasi Islam. Ini ditunjang fakta sosiologis 
bahwa ketika itu tidak mungkin satu suku saja yang mengambil keputusan sembari 
mengabaikan suku lainnya. 

NOVRIANTONI: Tapi etos seperti kan tetap dapat dijadikan modal sosial-kultural bagi 
sebuah demokrasi!?

NASR: Saya tidak cenderung pada pemikiran seperti itu. Saya berpikir, kita sudah hidup 
dalam dunia baru, dimana demokrasi sebagai sebuah nilai dan sistem sudah tidak 
membutuhkan banyak legitimasi dari khazanah masa lampau kita lagi. Kalau kita masih 
merepotkan diri mencari legitimasi dalam khazanah masa lampau kita, mungkin akan 
muncul orang lain yang menyibukkan diri mencari legitimasi dari landasan mereka. Yang 
perlu diingat juga, syura dalam kasus Islam berbeda dari demokrasi. Syura tidak dalam 
posisi mulzimah (mengikat). Sekarang kita punya pilihah: apakah ingin negara demokrasi 
atau nomokrasi? Demokrasi adalah pemerintah yang berlandaskan hukum rakyat, sementara 
nomokrasi adalah hukum syariat. 

Saya mengerti kalau ada kekhawatiran sekiranya demokrasi akan menggiring mayoritas 
rakyat menentang syariat. Tapi kita juga punya problem yang sama dengan konsep syura; 
apakah syura itu mengikat seorang penguasa atau hanya sekedar mengingatkan (mu`limah) 
dan bagian dari nasihat belaka. Kita tahu, di Kerajaan Arab Saudi juga ada Majlis 
Syura. Tapi Majlis Syura di sana ditentukan langsung oleh raja untuk menangani 
urusan-urusan tertentu. Mungkin model ini lebih tepat disebut Majlis Khubar� (dewan 
pakar). Saya berpandangan bahwa konsep Majlis Syura di sana lebih dekat pada konsep 
Majlis Khubar�. Setiap institusi pemerintahan tentu membutuhkan dewan pakar yang 
bekerja untuk menyampaikan pendapat dan pandangan mereka dalam proses pengambilan 
keputusan pada sebuah institusi. Jadi, ini mirip saja dengan dewan penasehat. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, pendahulu Anda, Ali Abdur Raziq, telah meletakkan fondasi 
sekularisme dari basis ajaran Islam melalui buku Al-Isl�m wa Ush�lul Hukm (Islam dan 
Dasar-dasar Pemerintahan). Tapi bagi saya masih kabur: adakah akar-akar sekularisme 
yang cukup solid dalam sejarah Islam?

NASR: Ada dua jawaban. Kalau kita bicara tentang Islam yang hidup, dinamis, dan 
bergerak, maka jawabannya �ada�. Tapi kalau kita bicara tentang Islam di dalam buku, 
atau Islam dogmatik, jawabannya �tidak ada�. Jadi, sekularisme sebetulnya ada dalam 
fakta sejarah, tapi tidak ditemukan rumusannya di dalam buku. Kalau Anda mengikuti 
sejarah Islam sejak mulai muncul sampai kurun waktu tertentu, Anda akan dapatkan tidak 
adanya penyatuan antara otoritas agama dengan otoritas politik. Institusi-institusi 
keagamaan, seperti madrasah fikih, kalam, atau tasawwuf, merupakan lembaga yang dalam 
batas tertentu independen dari kekuasaan politik. Mayoritas ahli fikih tidak senang 
menjadi pegawai pemerintah. Kita tahu, Khalifah al-Mansh�r pernah berkeinginan 
mengadopsi kitab al-Muwattha� karangan Imam Malik untuk dijadikan undang-undang 
pemerintah. Tapi Imam Malik menolaknya. 

Ada ungkapan menarik yang dikemukakan Imam Malik dalam penolakannya: �Laqad balaghat 
linn�s �r⒔ (orang-orang sudah punya multipendapat). Artinya, Imam Malik menyadari 
perbedaan pandangan hukum yang sangat beragam di masyarakat, dan mereka berbuat sesuai 
pemahamannya tentang hukum tersebut. Makanya, Imam Malik menolak formalisasi hukum 
melalui bukunya. Imam Abu Hanifah juga menolak ketika dirinya hendak dinobatkan 
sebagai ql�d� pemerintah. Ini artinya, para ahli fikih itu senantiasa ingin menjaga 
tingkat independensi dirinya ketika berhadapan dengan kekuasaan politik pemerintah.

NOVRIANTONI: Tapi al-Ghazali pernah mengungkapkan �al-d�n uss was shulth�n h�ritsuh, 
m� l� ussa lahu famahd�m wa m� l� h�ritsa lahu fadl�i�� (agama adalah fondasi dan 
kekuasaan adalah proteksinya; yang tidak berfondasi akan rubuh, yang tidak berproteksi 
akan lenyap). Tidakkah ungkapan ini merefleksikan perlunya penyatuan agama dan 
kekuasaan pemerintah?

NASR: Ungkapan seperti itulah yang saya katakan sebagai dogma. Kalau kita analisis, 
dogma ini menafsirkan apa yang terjadi ketika dia dikatakan oleh al-Ghazali. Kita 
tahu, al-Ghazali adalah seorang ahli fikih dan ilmu kalam yang merupakan bagian dari 
lingkaran kekuasaan (inner circle) pemerintahan ketika itu. Sementara sosok-sosok lain 
berusaha menjaga tingkat independensinya dari rezim penguasa --paling tidak pada level 
pemikiran. Memang tidak mungkin kita indepen secara mutlak dari negara, karena pada 
akhirnya kita tetap hidup di sebuah tatanan negara, dan suatu waktu bisa menjadi 
pegawai birokrasi negara. 

Tapi eksperimen al-Ghazali ini saya kira penting. Kita tahu, Al-Ghazali adalah seorang 
kepada Madrasah Nidz�miyyah, sekolah negeri pada masa Daulah Abbasiyah. Pada zamannya, 
Daulah Abbasiyyah secara ideologis bertentangan dengan Daulah Syi�iyyah. Kalau kita 
membaca buku al-Ghazali, al-Munqidz Minad Dlal�l, kita akan menemukan bahwa seorang 
al-Ghazali secara intelektual telah �dimanfaatkan� oleh kekuasaan pemerintah ketika 
itu. Dalam bukunya, Fadl�ihul Bh�tiniyyah, kita akan menemukan betapa kerasnya 
konfrontasi al-Ghazali terhadap Kaum Bathiniyyah demi mempertahankan ideologi 
Abbasiah. Jadi, al-Ghazali di sini bergerak bukan atas dasar keyakinan intelektualnya. 

NOVRIANTONI: Apa Anda ingin mengatakan al-Ghazali berpikir ideologis ketimbang 
epistemologis, seperti kritik Anda terhadap Muhammad Emarah yang ditengarai berpikir 
ideologis ketika mengeritik Ali Abdur Raziq?

NASR: Tidak mengapa berpikir ideologis, dan itu bukan aib. Siapapun memang tidak bisa 
lepas dari cara berpikir ideologis. Al-Ghazali sendiri mengaku bahwa dia berpikir 
secara ideologis di dalam bukunya al-Munqidz Minad Dlal�l. Posisi seperti itulah yang 
perlu kita ketahui ketika mencermati ungkapan-ungkapannya. Di dalam bukunya, 
al-Ghazali mengatakan bahwa dia di kemudian hari sadar bahwa kegiatan belajar mengajar 
dan penulisan yang dia lakukan bukan dilandaskan untuk pengabdian kepada Allah. Dia 
mengatakan itu sendiri dan menyesal. 

NOVRIANTONI: Untuk siapa dia abdikan karya-karya intelektualnya?

NASR: Tidak penting untuk siapa. Tapi yang penting adalah makna dari pengakuan itu 
sendiri. Ini pengakuan al-Ghazali sendiri, dan kita perlu menghargai itu. Sebab dialah 
satu-satunya pemikir yang melakukan proses otokritik (naqd dz�t�). Dari kesadaran 
itulah kemudian dia meminta izin pemerintah untuk berangkat haji dan menetap di 
Masjidil Haram. Lalu dia berangkat ke Yerussalem untuk kemudian menempuh jalur 
tasawwuf. 

Selain kasus al-Ghazali kita juga bisa mencermati kasus Khalifah al-Makmun. Kita tahu, 
ketika dia mengukuhkan pandangan Muktazilah tentang �keterciptaan Aqur�an� (khuluqul 
Qur��n), tujuannya bukanlah pencerahan intelektual ataupun rasionalisme sebagaimana 
yang kita sangka. Yang sebenarnya terjadi, rezim penguasa ingin melakukan kontrol atas 
pemikiran, sembari menyebarkan pemikiran yang disenangi penguasa semata. Dari sini, 
kita mesti meletakkan tragedi Ibn Hanbal (mihnat Ibn Hanbal) sebagai bagian dari 
kepahlawanan politik, bukan kepahlawanan pemikiran. Artinya, Ibn Hanbal ketika itu 
ingin menyampaikan pesan bahwa, negara tidak perlu ikut campur dalam persoalan 
pemikiran. Persoalan seperti itu merupakan urusan ahli ilmu kalam, dan negara tidak 
berhak ikut campur. Tapi sayangnya negara tetap saja menggunakan wewenangnya dalam 
persoalan seperti itu. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, di sela-sela workshop Anda pernah berbicara soal hilangnya 
dimensi humor dalam pola keberagamaan masyarakat Mesir, khususnya setelah 
kecenderungan fundamentalisme dan dan radikalisme agama menguat. Padahal, kelakar 
keagamaan (nuktah) adalah bagian budaya masyarakat Mesir. Anda bisa cerita lebih 
banyak!?

NASR: Saya menamakan fenomena ini sebagai fenomena keberagamaan yang murung atau 
depresif (al-tadayyun al-mukta�ib). Artinya, ketika Anda mendengar orang lain 
berkelakar tentang agama, Anda merasa kikuk karena tidak membayangkan orang yang kuat 
agamanya akan banyak berkelakar dan melontarkan joke-joke. Padahal, kelakar keagamaan 
itu sendiri merupakan bagian dari keberagamaan. Dalam pola keberagamaan ini, Anda 
selalu murung, dengan dahi berkedut, dan raut muka kencang dan masam. 

NOVRIANTONI: Fahmi Huwaydi menyebutnya pola keberagamaan yang pemberang (at-tadayyun 
al-gh�dib)!

NASR: Saya menyebutnya keberagamaan yang depresif (al-tadayyun al-mukta�ib). Marah 
berbeda dengan depresi. Marah merupakan bagian kebiasan dan emosi, semenetara depresi 
bagian penyakit. Makanya, bagi saya kita tidak sekedar mengidap keberagamaan yang 
pemberang, tapi depresif. Keberagamaan yang pemberang mungkin banyak dialami kawula 
muda. Saya tetap menghargai pola keberagamaan seperti itu, baik yang ditunjukkan 
kalangan Islamis maupun liberal. Pada mereka memang ada bentuk kemarahan dan gairah 
untuk perubahan. Saya lebih jauh mengatakan, keberagamaan yang depresif tak jarang 
menjadi bagian dari kombinasi antara keberagamaan yang pesakitan dan keberagamaan yang 
komersil (al-tadayyun al-tuj�r�). 

NOVRIANTONI: Apa pula keberagamaan yang komersil itu?

NASR: Di negara-negara Arab kini, Islam merupakan bagian dari komoditas. Dengan Islam, 
Anda bisa menjadi juru nasehat dan mendapat uang berlimpah dari Negara-negara Teluk. 
Kasus pemikir Mesir, Muhammad Emarah, adalah contoh yang tepat dalam soal ini. Dia 
sering disebut pemikir Islam �tercerahkan� (al-mustan�r). Hanya saja, ketika berbicara 
di media massa Mesir, dia mengenakan pakaian casual sebagaimana kita gunakan. Tapi 
ketika berbicara di media massa dan televisi Negara-negara Teluk, dia mengenakan 
pakaian ala syekh dengan abaya dan tasbih yang melingkar di tangan. Saya kadang 
berpikir, kalau ingin menyalahi idealisme saya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai 
kebebasan dan akal, saya bisa saja menjadi milyuner. Saya bisa bermain seperti 
permainan yang diperagakan sosok-sosok seperti Emarah dan Abdus Shabur Syahin. Saya 
bisa memasih-masihkan lidah ketika melafazkan �waq�la an-Nab� shallalL�h `alaih wa 
sallam� (dia memberatkan ucapannya dengan eksen khas juru dakwah). Saya yakin bisa
 mengerjakan itu dan mendapat banyak uang dari Negara Teluk. Saya tinggal mengumumkan 
pertobatan dari pemikiran-pemikiran saya selama ini, dan menobatkan diri sebagai juru 
bicara kaum antiakal dan antipencerahan. 

NOVRIANTONI: Tapi dengan begitu Anda murtad dari idealisme Anda sendiri!

NASR: Tepat sekali! Yang ingin saya katakan dari cerita tadi, Islam bukan agama yang 
menuntut kita menjadi orang-orang yang menjengkelkan dan menakutkan. Yang diinginkan 
Islam adalah sosok lembut, santun dan mencintai kelakar. Saya tidak ingin menjadi 
orang yang tegang tiap saat, karena itu bertentangan dengan semangat Alqur�an sendiri. 
Dalam Alqur�an dikatakan, �walau kunta fadzzan ghal�dzal qalbi, lanfaddl� min haulik� 
(kalau Engkau kasar dan keras hati, mereka akan hengkang darimu). Ini yang perlu 
diperhatikan setiap juru dakwah. Mereka harus banyak tersenyum, utamanya kepada musuh. 
Juru dakwah tidak bertugas untuk memuaskan para pendukungnya, tapi lebih penting 
berpersuasi kepada para musuhnya. Makanya, dibutuhkan strategi dan kemampuan 
berkomunikasi yang santun. 

Makanya saya berkesimpulan, ketika kaum muslim sudah hilang kemampuan untuk tersenyum, 
itu sudah menandakan kelemahan iman. Sebaliknya, secara psikologis, orang yang kuat 
imannya tidak perlu takut ketawa, bercanda, berkelakar, dan lain sebagainya. Kalau 
Anda cepat marah dan selalu depresi dan murung, berarti imanmu masih lemah, 
seakan-akan hidup hanya dilingkari ketakutan akan sanksi-sanksi agama. Artinya, secara 
teologis Anda telah mempersepsi Tuhan sebagai Dia yang murka sepanjang masa, dan tidak 
punya tugas lain kecuali menghitung kesalahan dirimu. Anda dengan begitu telah 
melupakan dimesi Tuhan yang Mahapengampun dan Mahapenyayang. 

NOVRIANTONI: Prof. Nasr, pemikir seperti Hassan Hanafi menamai proyek pemikirannya 
dengan �Tradisi dan Pembaruan� (al-Tur�ts wat Tajd�d). Al-Jabiri mencanangkan �Kritik 
Nalar Arab� (Naqdul `Aqlil `Arab�), dan Arkoun melancarkan �Kritik Nalar Islam� 
(Naqdul `Aqlil Isl�m�). Mengapa Anda tidak menamakan proyek Anda dengan nama tertentu?

NASR: Saya kurang senang dengan kata �proyek�. Kata itu mengandaikan bahwa kita sedang 
menjalankan sebuah misi profetik tertentu (muhimmah ras�liyyah), bukan sedang 
melakukan aktivitas pemikiran. Saya kira, di dalam kalimat dan misi itu ada semacam 
hiperbola. Hassan Hanafi jelaslah seorang peneliti yang sangat terhormat, sebagaimana 
al-Jabiri dan Arkoun. Saya juga seorang akademisi. Di dunia intelektual, kita mestinya 
menunjukkan semacam kerendahan hati. Boleh saja kita punya banyak proyek, selain 
proyek tadi. Kita juga punya proyek pemikiran Muhammad Syahrur. Mestinya tugas 
peneliti adalah menekuni perkerjaannya sendiri, dan jangan berpretensi untuk menjadi 
seorang guru. Tugas seorang peneliti adalah bagaimana menyiapkan sebuah penelitian 
yang bermutu. Sebuah penelitian yang bermutu mensyaratkan kita untuk selalu 
mengembangkan instumen-instrumen penelitian dan metodologi yang kita gunakan. Kita 
juga perlu selalu mendengar kritik yang dialamatkan kepada kita, lantas melakukan
 koreksi-koreksi. 

Sebagai orang yang berkonsentrasi pada bahasan tentang ilmu-ilmu Al-qur�an, mungkin 
saya tidak paham 1000 % bidang bahasan yang saya geluti. Spesifikasi ilmu Alqur�an 
rupanya menuntut saya untuk melakukan penelaahan yang ekstensif terhadap pelbagai 
bidang lain dalam pemikiran Islam, seperi fikih, kalam, tasawwuf, sejarah, dan 
lainnya. Saya juga membutuhkan perangkat ilmu modern seperti hermeneutika, semiotika, 
dan lain-lain. Saya juga butuh wawasan tentang politik dan saya harus membacanya. Jadi 
saya tidak berpretensi untuk punya proyek mercusuar, misalnya dialog lintas dunia, dan 
proyek-proyek obsesif lainnya.

NOVRIANTONI: Anda tentu membaca perkembangan teori hermeneutika modern. Tapi kita 
jarang menemukan kutipan literatur Barat dalam buku Anda. Apakah Anda sengaja 
menyembunyikannya sebagai sebuah strategi pengetahuan?

NASR: Tidak. Dalam beberapa buku, saya mencantumkan rujukan-rujukan itu. Saya mengutip 
Gadamer dan lain-lain. Ketika saya mengutip seorang yang populer, saya mesti 
meyebutnya. Tapi banyak dari buah pikiran mereka tersebut yang sudah saya baca, lantas 
bermetamorfosa dalam diri saya, sehingga sulit bagi saya untuk menisbatkannya pada 
seseorang. Misalnya, saya menemukan sebuah istilah, lalu saya terangkan dengan bahasa 
saya sendiri, sehingga sulit bagi saya untuk menisbatkannya pada orang lain. Saya juga 
tidak ingin buku saya terlalu dipenuhi istilah-istilah teknis dan kutipan-kutipan yang 
tidak perlu. Mungkin banyak orang bangga ketika menggunakan pelbagai istilah teknis 
ilmiah yang dikutip dari mana-mana. Tapi saya tidak suka itu, dan berusaha sekuat 
tenaga mengungkapankan istilah itu dengan bahasa saya, tanpa mengabaikan gagasan dasar 
dari konsep tersebut. Kadang-kadang gagasan dasar itu sudah menjadi seperti gagasan 
saya sendiri, dan saya tidak tahu akarnya dari mana: Gadamer, Paul
 Ricour, al-Jurjani, atau dari mana. Nah, pikiran-pikiran Gadamer, Ricour atau 
al-Jurjani sudah seperti pikiran saya sendiri saking seringnya saya menyebut mereka 
ketika mengajar. 

Saya tidak memungkiri keterpengaruhan diri saya oleh pemikir-pemikir lain. Tapi 
keterpengaruhan itu bukan keterpengaruhan yang harfiah. Saya membaca mereka secara 
tuntas dan bahkan mengajarkannya secara berulang-ulang. Tapi untuk mengutipnya lagi, 
saya terkadang merasannya tidak lagi bermakna. Saya tidak perlu mengutip Edward Said, 
atau Chomsky yang sudah banyak dikutip orang lain, khususnya kalangan Islam. 

Soal kutipan, bagi saya hanya perlu dicantumkan kalau Anda tidak yakin bahwa sebuah 
pemikiran tersebut benar-benar pemikiran Anda. Tentu tidak aib ketika Anda menyebut 
dari mana sumber pemikiran Anda, karena tidak ada pemikiran yang datang 
sekonyong-konyong dari ruang hampa. Tapi saya yakin, buku yang saya baca sudah seperti 
terkunyah. Saya misalnya, sudah membaca al-Jurjani lebih dari seratus kali sembari 
mengajarkannya. Jadi sudah sulit bagi saya mengatakan bahwa al-Jurjani berpikir 
begitu, sebab saya sudah mengungkapkannya dengan bahasa yang sangat kontemporer. 
Makanya tidak mungkin lagi menyebut mana sumbernya, apalagi saya selalu membaca dengan 
cara yang bebas sambil mengambil sedikit petikan-petikan dan kutipan-kutipan. 

NOVRIANTONI: Anda tentu tahu pentingnya interaksi pengetahuan dan kekuasaan. Mengapa 
Anda tidak berusaha menyosialisasikan gagasan-gagasan Anda melalui struktur 
pemerintahan seperti Thaha Husein atau Muhammad Abduh?

NASR: Masalahnya sederhana saja. Saya bersedia menjadi menteri dengan cara-cara yang 
demokratis dan setia menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Pada masa pemerintahan 
Partai Wafd dulu di Mesir, para menteri direkrut melalui pemilu. Sekarang problemnya, 
pemerintah punya ideologi yang tidak demokratis. Saya menganggap, saat ini sangat 
tidak mungkin untuk keluar dari kerangkeng sistem yang sudah dibuatkan sedemikian rupa 
oleh rezim penguasa. Saya tidak rela bekerja di bawah tekanan. Apabila ada sebentuk 
demokrasi dalam menjalankan tugas, tidak melulu memperturutkan titah rezim, saya 
mungkin mau menerima jabatan. Tapi kalau presiden menginginkan saya menjadi menteri 
dengan kerangka sistem sedemikiran rupa, saya akan terperangkap dalam sistem tersebut. 
Banyak sekali para intelektual yang sudah terperangkap dalam jerat rezim. Ini mungkin 
lain dari kasus Thaha Husein. Dia terpilih menjadi menteri dengan cara-cara yang 
demokratis dan dalam iklim yang relatif demoktaris. 

NOVRIANTONI: Terakhir: kenapa Anda tidak menujukkan simbol-simbol keislaman dalam 
sehari-hari Anda?

NASR: Banyak murid saya di kampus Universitas Kairo dulunya yang menanyakan mengapa 
saya tidak membaca basmalah dan salawat ketika mengajar. Soalnya bukan saya menentang 
ungkapan itu. Saya menganggap itu semua sebagai ungkapan masjid, bukan di lingkungan 
akademik. Saya ingin membedakan antara al-j�mi` (masjid) dengan al-j�mi`ah (perguruan 
tinggi). Di perguruan tinggi, saya tidak perlu basa-basi dengan semua itu. Saya cukup 
menayakan �apa kabar kalian�, �sampai di mana pemahaman kalian�, dan lain-lain. Bagi 
banyak orang, keduanya disatukan sedemikian rupa. Bagi saya, ketika ke masjid, orang 
tidak sedang mencari pengetahuan, melainkan nasihat. Tapi di perguruan tinggi, orang 
butuh banyak pengetahuan, bukan diocehi nasihat-nasihat keagamaan. Yang terjadi 
sekarang, perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam mirip masjid; lebih banyak memberi 
nasihat daripada pengetahuan. Padahal mahasiswa mencari pengetahuan, kan!? [*]

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke