Evolusi Pemahaman Keagamaan

Oleh: Ahmad Fuad Fanani

 

Dewasa ini, tafsir-tafsir keberagamaan yang muncul di masyarakat 
lebih banyak  berasal dari satu arah, yaitu tafsir dari lembaga 
keagamaan. Selain itu, tafsir keagamaan yang ada juga terlalu 
berorientasi pada pemahaman keagamaan yang bersifat vertikal dan 
legal-formal. Artinya pemahaman keagamaan yang dipupuk adalah yang 
berhubungan dengan ibadah ritual, doktriner, dogmatis, dan 
berhubungan dengan kesadaran langit (ketuhanan). 

Sementara itu, tafsir-tafsir lain yang dilakukan secara radikal dan 
kreatif kadangkala sering ditolak kemunculannya dengan berbagai 
alasan yang dipaksakan. Padahal, sebuah kebenaran tafsir keagamaan 
tidak serta merta muncul dari satu sisi, namun harus digali dari 
berbagai segi dan perspektif. 

Sebuah tafsir tunggal agama sesungguhnya jauh dari sehat karena akan 
mengakibatkan terjadinya penyelewengan pada pesan agama yang awalnya 
bertujuan mulia. Karena, sikap dasar bawaan manusia tidak jauh dari 
kenaifan, keserakahan, dan nafsu menundukkan lainnya. Hal itu 
terbukti ketika khalifah Al-Ma'mun pada masa Dinasti Abbasiyah 
menerapkan mihnah (inkuisisi) yang berisi kewajiban penduduk untuk 
berpaham teologi Mu'tazilah. Peristiwa lain nampak pada penguasa 
Taliban tempo hari yang memaksakan penerapan syariat Islam secara 
radikal pada penduduk Afghanistan. Begitu juga lembaga gereja-gereja 
Katholik sebelum Konsili Vatikan Kedua yang membekukan pemahaman 
keagamaan sebagai sesuatu yang eksklusif dengan menyatakan "tidak ada 
keselamatan di luar gereja". (Perlu dicatat bahwa setelah Konsili 
vatikan Kedua, gereja Katholik menjadi sangat inklusif karena mereka 
mengakui bahwa di luar gereja, yakni dalam kepercayaan dan agama 
selain Katholik, juga terdapat keselamatan). 

 

Evolusi Pengetahuan Agama

Doktrin yang banyak tertanam dalam benak pikiran dan perilaku umat 
beragama adalah bahwa kebenaran agama bersifat tunggal, pasti, dan 
tuntas. Mereka menganggap, bahwa agama adalah wilayah yang harus 
disucikan dari kreatifitas dan kritik manusia. Sebab, agama adalah 
wilayah milik Tuhan yang terjamin kebenarannya. Orang yang berani 
mengkritik agama justru dianggap orang yang gila, aneh, jauh dari 
kebenaran.

Namun, bila kita kembali ke sejarah turunnya agama-agama di dunia, 
sesungguhnya agama tidak bisa lepas dari unsur kreatifitas manusia. 
Bila wilayah agama dianggap sebagai wilayah Tuhan semata, lantas 
kenapa muncul agama-agama baru yang bertugas sebagai pelengkap dan 
penyempurna agama terdahulu? Seperti agama Islam yang berita turun 
dan kebenarannya terdapat dalam kitab Injil, dan agama Nasranipun ada 
dalam kitab Taurat milik agama Yahudi. Artinya, secara tidak langsung 
dapat dipahami bahwa Tuhan sangat paham atas kondisi perubahan zaman, 
alam, serta tingkat pengetahuan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan 
menurunkan agama-agama yang --meminjam istilah Frithjof Schuon- di 
dalamnya terdapat titik temu bersama yang mestinya harus digali dan 
dimunculkan.

Evolusi agama yang berwujud pada keberagamaan manusia itu, menurut 
Robert N. Bellah berjalan sesuai dengan tingkat perkembangan 
kebebasan dan situasi masyarakat yang mengelilinginya. (Beyond 
Belief, 2001) Fokus utama evolusi keagamaan adalah sistem simbol 
keagamaan itu sendiri. Maksudnya, arah utama perkembangannya adalah 
simbolisasi dari yang sederhana menuju simbolisasi yang 
terdiferensiasi. Evolusi dari agama primitif menuju ke agama historis 
dan kemudian berkembang menjadi agama modern adalah contoh bagaimana 
agama berubah dari pengaruh situasi kekuasaan okultis yang 
bermetaformosis dengan keyakinan  yang bersifat rasional. 

Berkaitan dengan evolusi keagamaan di atas, Abdul Karim Soroush, 
seorang pemikir Islam liberal dari Iran yang sering dijuluki 
sebagai "Luther Islam", mengajukan teori penyusutan dan pengembangan 
keagamaan. Dalam cara kerja teori ini, sebuah kebenaran teks 
keagamaan tidaklah bersifat final. Artinya, meskipun agama adalah 
sebuah doktrin dari Tuhan yang dijamin kebenarannya, akan tetapi 
pemahaman agama masih bersifat relatif dan terbuka dari berbagai 
interpretasi baru. (Reason, Freedom, and Democracy in Islam, 2000) 
Nilai kebenaran sebuah agama dapat dilihat dari dua hal, yaitu 
kebenaran teologis dan kebenaran historis. Kebenaran teologis pada 
dasarnya yang mengetahui hanyalah pencipta agama itu sendiri (baca � 
Tuhan). Tidak ada satu  pihak pun yang berhak merasa paling tahu 
tentang kebenaran teologis ini. Sedangkan kebenaran historis sebuah 
agama dapat dilacak dari sejauh mana agama tersebut dapat bermanfaat 
dan membebaskan umat manusia dari belenggu-belenggu kejahatan. Jadi, 
antara kebenaran agama  dan pemahaman agama haruslah diberikan garis 
demarkasi yang jelas dan ketat.

Soroush juga menegaskan, bahwa dalam pemahaman keagamaan, mutlak 
diperlukan adanya evolusi yang bersifat dinamis, kritis, dan 
progresif. Oleh karena itu, ilmu agama haruslah diposisikan sama 
dengan ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat manusiawi dan bersifat 
relatif (tidak ada kebenaran tunggal). Pengetahuan agama dan 
kebutuhan zaman yang baru haruslah dicarikan jawabannya terus menerus 
dengan ijtihad para agamawan seperti halnya ilmu kemanusiaan lain 
semisal biologi, fisika, kimia, astronomi, dan sebagainya.

Orang yang menghindari pemikiran evolusi keagamaan dengan dalih 
menjaga kemurnian agama sesungguhnya secara tidak langsung justru 
membekukan agama sehingga agama menjadi kehilangan elan vitalnya dan 
cenderung menjadi kekuatan yang tidak membebaskan bagi pra 
pemeluknya. Ilmu atau pemahaman keagamaan tidaklah bersifat sempurna 
dan berlaku sepanjang waktu, sebab ia terikat dengan sistem budaya 
yang juga senantiasa berubah. Maka, pemahaman keagamaan yang terus 
berkembang adalah salah satu bentuk usaha reformasi dan kebangkitan 
keberagamaan. 

            

Membaca dan Memaknai Agama

Sesuai dengan watak evolusi agama yang harus diejawantahkan, maka 
tradisi kritik dan pemunculan tafsir yang heterogen menjadi suatu 
kemestian yang wajar dan tak terelakkan. Tradisi ini bertujuan agar 
peran-peran profetik agama sebagai kekuatan moral dan pembebasan 
lewat perilaku pemeluknya dapat muncul lagi ke permukaan. Keragaman 
tafsir juga mempunyai nilai positip sebagai upaya kontekstualisasi 
teks agama pada problem-problem kemanusiaan masa kini. 

Dalam pemunculan keberagaman tafsir keagamaan, metode dekonstruksi 
yang dicetuskan oleh Jacques Derrida layak dijadikan alternatif 
paradigma dan cara kerja. Metode yang pada awalnya dipakai dalam 
bidang sastra dan filsafat ini, bertujuan untuk membongkar, menguak, 
atau meleburkan setiap jenis struktur yang dipaksakan kebenarannya, 
sehingga tidak menyisakan ruang untuk bertanya, menggugat, atau 
mengkritik. 

Dalam bidang keagamaan, dekonstruksi terhadap teks ini memungkinkan 
kita untuk membongkar monopoli tafsir atas otoritas tertentu yang 
menegaskan mengenai "kebenaran" atas nama Tuhan, negara atau 
penguasa. Sehingga definisi dan praktek pencarian "kebenaran" menjadi 
demokratis dan berparadigma antroposentrik. Dalam hal ini, manusia 
menjadi pusat tafsir yang berusaha untuk menggali kebenaran yang 
beragam secara obyektif. 

Evolusi keagamaan yang menghargai pluralitas itu dengan sendirinya 
menekankan adanya --meminjam istilah Mohamed Arkoun�historisitas 
logos dalam pembacaan teks. Maksudnya, dalam pembacaan teks agama 
mutlak diperhatikan rentang waktu kemunculan, kompleksitas, serta 
latar belakang ideologi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, 
Arkoun mengkritik adanya sebuah pensakralan pengetahuan agama (taqdis 
al-afkar ad-diniyyah) yang sering terjadi pada umat beragama. (Al-
Islam: Al-Akhlaq wa al-Siyasah, 1990) Sebab, sebuah pensakralan  
menjadikan manusia terbelenggu pada kebenaran tunggal dan penerimaan 
tanpa reserve sebuah  penafsiran teks keagamaan. Padahal, kemunculan 
teks pada masa lalu pasti tidak terlepas dari dimensi politis dan 
ideologis sang pengarang. 

Berkaitan dengan itu, Arkoun menawarkan kita agar jernih dan jeli 
membedakan pemikiran keagamaan yang ada pada era klasik, skolastik, 
dan modern. Untuk itu, model pembacaan teks dengan metode 
hermeneutika yang berusaha menghadirkan teks masa lalu agar bisa 
terpakai pada zaman sekarang layak dilakukan. Dalam metode ini, latar 
belakang kemunculan teks, maksud pengarang, struktur bahasa, nilai 
atau simbol pengetahuan, dan kontekstualisasi adalah sebuah lingkaran 
yang senantiasa berkelindan. Sehingga, sebuah teks keagamaan tidak 
serta merta dipakai secara simbolik tanpa mengkaji makna substantif 
dan moral yang ada di baliknya.

Dengan bahasa dan istilah berbeda, Mohammad Abed Al-Jabiri juga 
menegaskan, bahwa krititisme dalam pembacaan dan pemaknaan kembali 
teks keagamaan mutlak dilakukan. Sedangkan metodologi yang ditawarkan 
adalah metode strukturalis; analisis sejarah, dan kritik ideologi. 
Metode strukturalis digunakan sebagai pembacaan teks secara literal 
dan membatasinya dalam melokalisir kebenaran yang bersifat sementara. 
Sedangkan analisis sejarah adalah mencari pertautan pemikiran sang 
pengarang teks dengan ruang lingkup sejarah budaya, sosial, politik, 
serta sosiologisnya. Kritik idelogi mengungkap maksud pengarang dalam 
penciptaan karya melalui episteme yang dirujuknya. (Post 
Tradisionalisme Islam, 2000).

Dengan model pembacaan dan pemaknaan agama yang tidak terjebak pada 
simbol dan homogenitas seperti diatas, maka umat beragama dapat 
diharapkan menjalankan keberagamaan baru yang humanis dan 
membebaskan. Penegasan Soroush bahwa "agama terakhir sudah datang, 
akan tetapi pemahaman agama yang terakhir belum datang" adalah kata 
kunci untuk memulai keberagamaan baru. Ke depan, umat beragama 
diharapkan dapat saling hidup bersama dengan menghargai perbedaan, 
melakukan dialog antar-intra iman, serta giat bekerjasama untuk 
memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan dan menggalakkan 
demokratisasi. Wallahu A'lam.[]

 

Ahmad Fuad Fanani.Ketua Lembaga Studi Keislaman DPP IMM, Peneliti 
Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) PP Muhammadiyah




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke