Mayoritas islam menganggap syariat yang diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai 
sesuatu yang sakral. Padahal dalam Islam tak ada sesuatu hal pun yang sakral, selain 
Alquran. Syariat adalah produk buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak 
suci dalam konteks tertentu. Itulah sebabnya sebagian besar isi dari syariat adalah 
fiqh yang tidak lain adalah pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat ini juga 
memiliki arti hilangnya kemandirian kaum beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah 
ditetapkan dan umat Islam tak memiliki pilihan lain kecuali mentaatinya. Ia memiliki 
peran yang pasif. Semestinya umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah kebenaran. 

 

Minggu, 01 Agustus 2004
Ziauddin Sardar 
Demokrasi Indonesia Bisa Jadi Contoh 




Ia salah satu penulis Islam progresif. Ada juga yang menyebut dia seorang utopis, 
generalis. Dia, Profesor Ziauddin Sardar. Sardar adalah seorang penulis pemikiran 
Islam kontemporer, sains, dan juga seorang kritikus budaya. Lelaki kelahiran Pakistan 
ini juga penyiar radio, bekerja, antara lain, untuk jurnal ilmiah Nature dan New 
Scientiest. Ia juga editor Futures, sebuah jurnal bulanan mengenai kebijakan, 
perencanaan, dan studi masa depan. Selain itu, ayah tiga anak ini juga mengajar di 
City University, London. Banyak sudah artikel yang keluar dari tangannya. Sardar telah 
menerbitkan sekitar 40 buku. 

Di antaranya adalah The A to Z of Postmodern Life (2002), Aliens R Us (2002), 
Orientalism (1999). Selama seminggu sejak Ahad (25/7) Sardar berkunjung ke Indonesia. 
Ia bertemu dengan masyarakat Islam dari dua ormas besar Indonesia, Nahdlatul Ulama dan 
Muhammadiyah, di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Di sela-sela kunjungannya itu ia 
meladeni berbagai pertanyaan wartawan, termasuk wartawan Republika Ferry Kisihandi dan 
Nina Chairani dalam beberapa kesempatan di Jakarta. Lelaki setengah baya berambut 
sepundak dan gemar berpakaian casual ini tampak penuh semangat menjawab berbagai 
pertanyaan. Terutama pertanyaan yang menantang. ''Semua pertanyaan simpel buat saya,'' 
katanya sambil tertawa. Berikut nukilan wawancara seputar pemikiran dan kehidupan 
pribadinya itu:


Gagasan mengkaji kembali pemikiran Islam semakin gencar. Sebenarnya apa perlunya hal 
itu dilakukan?
Upaya mengkaji kembali pemikiran Islam perlu dilakukan. Ini memberikan dampak pada 
kembalinya peradaban Islam dalam kehidupan kontemporer. Islam memiliki daya untuk 
merespons beragam kondisi kontemporer, dan tak membuat umat islam tertinggal dari umat 
lainnya. Namun nyatanya, kini umat Islam tak mampu menghadapi modernitas. Padahal 
mengkaji ulang pemikiran Islam telah lama dilontarkan para pemikir Islam. Kita bisa 
mengambil contoh Malik bin Nabi, juga ada Jamaluddin Al Afghani maupun Muhammad Abduh. 
Bahkan Malik bin Nabi menyatakan bahwa kolonialisme di negara-negara Islam bukan 
karena Barat yang kuat. Namun, karena kelemahan umat Islam. Mereka tak mampu melakukan 
perubahan untuk merespons perubahan zaman. Pada masa selanjutnya ada pula Muhammad 
Iqbal yang melontarkan gagasan gemilangnya agar Islam mampu merespons kondisi 
kontemporer. Dan, hingga kini umat Islam tampaknya tak mampu memenuhi panggilan 
ijtihad. 
Dalam tataran praktis bagaimana gagasan ini berjalan?
Bagi saya pengkajian kembali pemikiran Islam bukanlah mempersoalkan perlu atau 
tidaknya shalat, haji, puasa, dan ibadah ritual lainnya. Namun, bagaimana Islam dibawa 
ke dalam kehidupan politik, teknologi bahkan transportasi. Dengan demikian, Islam 
memberikan jiwa bagi umat Islam dalam merespons kondisi yang mereka hadapi. Sayang 
memang dalam kenyataannya, umat Islam telah menutup pintu ijtihadnya. 
Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
Penyebab paling utama adalah fakta bahwa konteks dari teks suci kita telah membeku 
dalam sejarah. Seseorang hanya memiliki hubungan interpretatif dengan teks, bahkan 
lebih tidak mungkin jika teks tersebut dianggap sebagai hal yang abadi. Kemudian teks 
tersebut tak mampu untuk merespons tantangan zaman. Itulah sebabnya meski umat Islam 
memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Islam, mereka hanya lebih terfokus pada 
hal yang bersifat ibadah ritual. Dengan demikian, mereka tak menanggap bahwa Islam 
merupakan sebuah pandangan dunia serta sumber etika. Yang mampu memberikan pemecahan 
bagi permasalahan di setiap zaman. Bukankah Islam telah diyakini sebagai agama yang 
selalu sesuai dengan zaman? Artinya ijtihad, pemikiran serta interpretasi baru tak 
akan terjadi. Kemudian membuat umat Islam mengkultuskan syariat pada tingkatan Tuhan. 
Bisa Anda jelaskan mengenai pengkultusan syariat tersebut? Mayoritas islam menganggap 
syariat yang diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai sesuatu yang sakral. Padahal 
dalam Islam tak ada sesuatu hal pun yang sakral, selain Alquran. Syariat adalah produk 
buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak suci dalam konteks tertentu. 
Itulah sebabnya sebagian besar isi dari syariat adalah fiqh yang tidak lain adalah 
pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat ini juga memiliki arti hilangnya 
kemandirian kaum beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah ditetapkan dan umat Islam 
tak memiliki pilihan lain kecuali mentaatinya. Ia memiliki peran yang pasif. 
Semestinya umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah kebenaran. 
Namun pada kenyataannya, pemikir Muslim yang melontarkan gagasan tersebut bukanlah 
mainstream dalam masyarakat Islam. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? 
Memang perlu diakui bahwa para pemikir itu merupakan kalangan minoritas dalam 
masyarakat Islam. Meski demikian, pemikir Muslim yang memiliki gagasan seperti ini 
hari demi hari semakin bertambah. Lihat saja di Amerika, Inggris, dan negara Eropa 
lainnya, jumlahnya kian bertambah. Mereka secara konsisten melontarkan gagasan 
tersebut. Tariq Ramadhan, misalnya, yang merupakan cucu Hasan Al Bana, juga turut 
melontarkan gagasan mengenai pengkajian kembali pemikiran Islam. Dengan demikian, kami 
tak merasa hal ini tak akan berhasil. Meski memang menuntut kami untuk terus berjuang. 
Respons positif terhadap gagasan tampaknya sulit. Sebab, banyak kalangan ulama 
konservatif yang tak setuju. Padahal mereka memiliki pengaruh besar dalam masyarakat 
Islam. Apa komentar Anda?
Ini memang tak mudah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Dan memerlukan 
waktu yang panjang. Namun bagi kami upaya ini akan terus dilakukan. Sampai masyarakat 
Muslim menyadari akan pentingnya upaya pengkajian kembali pemikiran Islam. Artinya 
mereka mesti sadar akan pentingnya terbukanya kembali pintu ijtihad. 
Banyak kalangan yang menyatakan bahwa para pemikir yang melontarkan gagasan tersebut, 
telah terpengaruh pola pikir Barat. Benarkah itu?
Menurut saya anggapan ini salah. Mereka yang melontarkan gagasan pengkajian kembali 
pemikiran Islam merupakan orang alim yang mengkaji secara mendalam kitab suci Alquran. 
Pemikiran-pemikiran yang saya lontarkan juga berdasar pada Alquran. Dengan demikian, 
tak semestinya anggapan tersebut berlanjut. Bahkan dalam pengamatan saya, gaya hidup 
di sebuah negara Asia Tenggara lebih Barat dibandingkan London. Lelaki kelahiran 
Punjab, 1951 ini besar di Hackneyh, kawasan timur London. 
Dia aktivis mahasiswa Muslim. Dia ikut memprotes eksekusi Nasser terhadap pemikir 
Mesir Sayyid Qutb pada 1966, pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza pada 1967 dan 
pembakaran Masjid Al Aqsa tahun 1969. Pada tahun 1970-an, Sardar bergerak antara dua 
pemikir Abu Ala Maududi dan Sayyid Qutb, mengkaji teologi di bawah seorang cendekiawan 
sudan, lalu pada mistisism Sufi di Newington Green dan di Konya, Turki. Semua 
mengecewakannya. Jika bukan karena sikap mereka terlalu kaku pada ketaatan religius 
yang bersifat eksternal atau karena mereka gagal mengamati kejatuhan peradaban Muslim. 
Sardar berkelana ke Iran, Irak, dan Suriah. Di Malaysia, ia berteman dengan kelompok 
Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Mahathir Muhammad, yang kini meringkuk di 
penjara atas tuduhan banyak hal. Ia banyak melakukan lawatan ke berbagai negara. 
Bagaimana kesan Anda dari kunjungan singkat ke Indonesia ini?
Kita tak bisa mendapatkan pandangan objektif lewat kunjungan yang sangat singkat ini. 
Tapi, saya sungguh surprised, kejutan yang menyenangkan. Saya menemukan orang-orang 
yang saya perkirakan bakal berpikiran sempit dan tidak bisa menerima gagasan saya, 
ternyata sangat terbuka dan tertarik pada gagasan saya. Misalnya, saat ke NU, Anda 
tentu berharap bahwa itu adalah organisasi di mana ulama sangat berpegang kuat dan 
tipe pemikiran ulama konvensional menjadi pemikiran yang dominan. 
Tapi, saya surprised, banyak dari orang NU yang saya temui mengakui, para ulama telah 
melakukan kesalahan serius dalam sejarah. Kita perlu menghormati semangat pencarian 
mereka. Mempertanyakan itu perlu tentang apa-apa saja yang tidak cocok lagi 
konteksnya, dan kita sekarang harus berjalan terus. Ketika saya bertemu dengan 
kelompok wanita NU di Medan, saya berdiskusi tentang hukum syariah dan hak-hak azasi 
perempuan. Dan, saya menyebutkan dalam syariah banyak hak perempuan terlanggar, 
berbeda dari semangat persamaan yang ada di dalam Alquran. Misalnya, perempuan harus 
berpakaian yang modest, tetapi mengapa pada laki-laki tidak ada keharusan? Sebab, 
prialah yang memformulasikan syariah. Mereka (para perempuan itu--red.) bisa menerima 
ide saya. 
Anda bertemu dengan generasi muda atau generasi tuanya?
Saya bertemu dengan keduanya. Perbedaannya begini. Saya menemukan generasi mudanya 
lebih menerima ide-ide saya secara lebih terbuka. Tapi, mereka tidak puas karena 
mereka mempertanyakan 'apa yang bisa mereka lakukan'. Mereka mempertanyakan strategi 
ke depannya. Itulah keterbatasan saya. Generasi tuanya, masih bersikukuh bahwa mereka 
tak memerlukan perubahan yang sebanyak itu. Mereka masih berpendapat bahwa ulama 
adalah satu-satunya orang yang bisa berijtihad. Mereka berpendapat bahwa kaum beriman 
tak mempunyai power. 
Isu terorisme yang dikait-kaitkan dengan Islam kini membuat kalangan Muslim berada 
dalam posisi yang sulit. Bagaimana menurut Anda menghadapi masalah ini? Orang-orang 
itu adalah bagian dari kita. Mungkin tetangga kita, keluarga Anda, mereka adalah 
bagian dari kita. Sekalipun, katakanlah, keluarga Bin Ladin. Salah satu yang 
melakukannya adalah keluarga Bin Ladin. Jadi, kita harus menyadari bahwa ekstremis 
adalah bagian dari kita. Dan, pada akhirnya, adalah tanggung jawab kita untuk 
melakukan sesuatu. Yang pertama, tanggung jawab kita adalah berhubungan dengan mereka. 
Sangat sulit berdialog dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai ideologi. 
Tetapi, tetap jadi tanggung jawab kita dan membuat mereka melihat. Beberapa di antara 
mereka bisa menerima. Tapi, yang terpenting, teroris tidak eksis dalam pengasingan. 
Mereka eksis di dalam komunitas. Komunitas ini yang memberikan tempat perlindungan 
bagi mereka. Kita harus membuat komunitas ini menyadari bahwa yang mereka lakukan 
adalah tidak mempromosikan ide Islam. Sebenarnya menegasikan semua hal yang ideal yang 
didukung Islam. (Ia pernah menulis betapa sebenarnya ayat-ayat Alquran yang 
menunjukkan Islam cinta damai jarang dikutip. Di antaranya, Sesungguhnya Allah 
mengasihi orang yang berbuat kebaikan [2:195], Sesungguhnya Allah mencintai 
orang-orang yang adil [5:42]. 
Dalam tulisan Anda, standar ganda pun dilakukan negara-negara Muslim? Maksud Anda?
Hampir di mana pun, kita orang Muslim mempunyai standar ganda. Kita menuding orang 
lain rasis, tetapi kita sendiri lebih rasis di masyarakat kita. Di Sudan, ada orang 
Arab yang berkulit sedikit putih, dan Arab Afrika yang agak hitam. Yang berkulit 
sedikit putih membunuhi yang berkulit hitam. Kalau ini bukan rasisme, saya tak tahu 
apa lagi namanya. Atau kita menuduh orang lain tidak menghargai persamaan, tetapi di 
dalam sendiri kita menolak prinsip dasar persamaan. Kita menuduh Barat tidak 
menerapkan HAM kepada kita, tapi kita belum memberikan dasar HAM pada masyarakat kita 
sendiri. Tentu saja Barat mempraktikkan standar ganda. Tapi, kita juga harus melihat 
ke diri kita sendiri juga. 
Tumbuh suburnya bank syariah dan lain-lain apakah Anda lihat sebagai bagian 
pembangunan kembali Islam?
Tidak. Sudah dua puluh lima tahun bank seperti itu ada di Arab Saudi dan beberapa 
negara lain. Tapi, keberhasilannya belum tampak. Begitu juga, kita punya banyak negara 
Islam. Negara Wahabi di Arab Saudi, negara Islam revolusioner di Iran, ada lagi 
Pakistan. Mereka tak disangkal lagi gagal. Pada akhirnya, kita harus mengatakan, tak 
ada dalam Islam yang mengatakan yudikatif dan eksekutif harus dipisahkan, tak ada 
dalam Islam yang mengatakan tentang peralihan kekuasaan dari yang satu ke yang lain. 
Tapi, satu hal yang belum mereka coba dengan kejujuran dan integritas adalah sistem 
demokrasi dalam Islam. Sejauh yang saya ketahui, demokrasi dalam Islam adalah 
pemilihan Khalifah. Misalnya, pemilihan Umar bin Khattab, Abu Bakar, dari Khulafaur 
Rasyidin berlangsung dalam semangat konsensus demokratik. 
Itulah yang kita perlukan. Mekanismenya bisa saja dengan mekanisme demokrasi 
kontemporer. Mereka yang berpikir ijma hanya terbatas kewenangan ulama, adalah orang 
yang menyangkal kemungkinan ijma digunakan dalam demokrasi. Di mana ijma bisa berarti 
konsensus seluruh rakyat untuk memilih pemimpin tertentu. Ijma bisa digunakan secara 
konsep holistik, bisa digunakan pada masyarakat secara keseluruhan. Bisa digunakan 
untuk mencapai konsensus apa saja, seperti referendum, pemilu. Itulah satu-satunya 
yang belum pernah kita coba. Itulah yang dilakukan Indonesia. Indonesia sedang 
mengeksperimenkannya. Dan, bisa menggunakan, menurut pendapat saya, model yang asli. 
Bagusnya, model ini tidak diimpor dari demokrasi Barat, tapi mengembangkan model 
demokrasinya sendiri. Tentu saja, Anda tak bisa menerapkan demokrasi pada suatu 
masyarakat dalam satu malam. Perlu waktu. Saya rasa, yang dilakukan Indonesia sangat 
unik, dan bisa ditiru negara Muslim lainnya, seperti Arab Saudi. 
Maksud Anda dalam kasus pemilihan presiden?
Ya, tetapi tidak itu saja. Saya berpendapat, tiap negara harus mengembangkan modelnya 
sendri. Misalnya, di Irak adalah masyarakat tribal. Di situ tak mungkin ada konsensus. 
Bila diadakan pemilihan, pasti ada kelompok yang berkuasa dan yang tak berkuasa 
menjadi marah. Sardar meladeni Republika dan Suara Pembaruan sambil makan siang di 
sebuah restoran, di Jakarta, Jumat lalu. Pada kesempatan itu, ia sempat membuka-buka 
buku Islam For Beginners edisi terjemahan yang terletak di meja. ''Begini cara saya 
melihat Islam, bukan hal yang bersifat ritualnya semata,'' katanya sambil mengacungkan 
buku itu. 
Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, kata lelaki yang penuh semangat itu, adalah 
ilmu. ''Anda buka Alquran di halaman mana pun, ada ilm di sana,'' katanya. Pemikiran 
Sardar tentang hubungan antara Islam dan sains pertama kali muncul pada awal 1970-an. 
Al Biruni (940-998) adalah nama yang ia sebut sangat berpengaruh pada pemikirannya. 
Ilmuwan besar dari Turkmenistan itu mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu 
pengetahuan dan filsafat. Sardar yang semasa kecil hidup dalam kekurangan, kini 
menikmati ketenaran dan kekayaan dari buku-bukunya. ''Saya selalu membayar zakat 
saya,'' katanya seraya menambahkan, bahwa ia sudah berhaji. Satu hal yang amat tidak 
disukainya pada masjid-masjid di London. Ia tak suka melihat perseteruan kelompok 
Pakistan dan kelompok India untuk berebut penguasaan atas masjid. Sardar mencatat 
pencariannya tentang arti modernitas bagi kaum Muslim pada buku mutakhirnya 
Desperately Seeking Paradise: Journeys of a Sceptical Muslim. Buku yang terbit pada 
2004 ini,
 sempat ia perkenalkan di toko buku QB, Jakarta, Jumat lalu. 
Anda mengembangkan pemikiran menghidupkan peradaban Islam, sains Islam. Bagaimana Anda 
melihatnya sekarang? Masih relevankah sekarang?
Sekitar setahun lalu, saya menulis di New Scientist, saya menulis semua ide saya 
tentang sains Islam. Yakni, tentang bagaimana sains bisa berhubungan dengan etika 
Islam. Saya tidak terlibat dalam diskursus yang dikembangkan kelompok Maurice 
Bucaille, yang saya sebut Bucaillist. Yakni, orang-orang yang percaya semua sains ada 
di Alquran. Mereka bisa menemukan relativitas, kimia, ada di dalam Quran. Saya tidak 
terlibat dalam diskursus ini. Saya bicara tentang sains yang riil, bukan sistem 
kepercayaan. Tetapi, peran Islam ada di etikanya. Sebab, sebagian besar dari sains 
punya dimensi etikanya. Di situ saya berada. Saya rasa ide itu masih valid. 
Omong-omong, bagaimana sih asal-usul Anda? 
Orangtua saya dari Pakistan. Mereka meninggalkan Pakistan ketika saya berumur sembilan 
tahun. Saya besar di London. 
Dari mana Anda mendapat semangat mendalami Islam?
Pertama dari ibu saya, dia hanya ibu rumah tangga biasa. Pernah bekerja di pabrik. 
Kami berasal dari keluarga miskin. Ayah saya bekerja di pabrik agar kami bisa bertahan 
hidup, kendati ia seorang insinyur di Pakistan. Tapi, ia tak masuk kualifikasi ia 
tidak diterima. Jadi, dia bekerja di pabrik. Jadi, semangat Islam saya berasal dari 
Ibu saya yang pertama, lalu ayah. Lalu keterlibatan saya dengan gerakan Islam di 
Inggris, yang didominasi Jamaah Islamiyah dan Muslim Brotherhood. Saya belajar Islam 
tradisional dari seorang Sudan yang mengelola kelompok usrah di akhir 1960-an dan awal 
1970-an. Tujuh tahun saya bersamanya setiap malam Jumat, mempelajari semua teks klasik 
secara sistematis. Dialah yang memperkenalkan saya pada Al Biruni, Al Ghazali, dan 
kawan-kawan. Kritik saya terhadap kaum ulama adalah karena sebenarnya saya bergaul 
akrab dengan mereka. Sebagai orang muda, saya menjadi sekjen organisasi Islam di 
Inggris. Sangat aktif. Jadi, keluarga dan lingkungan saya sangat Islamis. 
Apa yang Anda lakukan di waktu luang?
Saya selalu bercanda. Yang saya lakukan, saya membaca. Saya membaca apa saja. Saya 
membaca novel, filosofi, komik, surat kabar, majalah serius, segalanya. Saya bahkan 
membaca label botol. Khususnya ingredient-nya, supaya saya tahu apa yang saya makan. 
Saya membaca untuk alasan yang sederhana. Anda tak bisa berpikir dan menulis tanpa 
membaca. Lalu, saya melakukan diskusi-diskusi dengan banyak orang. Diskusi sangat 
penting. Saya mencari tahu, mengapa orang tidak bisa menerima gagasan saya? Apa yang 
salah pada diri saya? Dari sana, saya menulis artikel. 
Selain membaca dan menulis?
Selain itu, saya tidak berolah raga. Saya bisa tenggelam... (tertawa), saya tidak bisa 
berenang. Saya dulu bermain kriket. Sekarang saya cuma menemani anak saya yang fanatik 
dan tergila-gila pada pertandingan kriket. Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, 
kata lelaki yang penuh semangat itu, adalah ilmu. ''Anda buka Alquran di halaman mana 
pun, ada ilm di sana,'' kata Sardar. 

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke