Munir, Bom Natal & Kolonel Gombal


Oleh Aboeprijadi Santoso

Sebulan silam, 7 September 2004, Munir, pejuang HAM itu,
meninggalkan kita. Kalangan aktivis di Belanda sudah tahu dia akan
datang, karena itu, berita kematiannya yang mendadak seperti
memotong sebuah perjalanan bersama yang masih terrentang panjang ke
depan. Dia datang sekaligus berpisah. Bagi saya, yang waktu itu
berada jauh dari Amsterdam, kedatangannya yang sekaligus menutup
usia itu berarti kehilangan sohib sekaligus kehilangan momen
berpisah. Saat itu, di tengah sebuah konferensi di Hanoi, Vietnam,
teman-teman aktivis Indonesia sibuk bertukar berita seputar Munir,
sementara saya masih terkejut dan tertegun lama. ..

Munir adalah sebuah sosok yang tak mudah dilupakan. Orangnya kalem,
sederhana, berrambut merah. Dia kecil, namun mewakili semangat besar
yang tak kunjung lekang. Pertengahan 1995, kami berkenalan di kantor
Lembaga Bantuan Hukum Surabaya, di belakang Stasiun Gubeng. Lewat
Munir, saya mendapatkan jaringan mahasiswa dan aktivis-aktivis Timor
Timur yang waktu itu dikejar-kejar oleh serdadu-serdadunya Harto.
Kisah aktivis-aktivis ini merupakan bagian dari khasanah tragedi HAM
panjang yang diderita warga Tim-Tim di bawah Orde Baru. Dibanding
dengan aktivis-aktivis Tim-Tim yang giat di Jakarta, London dan
Lisbon, nasib mereka yang di Jawa Leste, di Surabaya, Malang dan
Jember itu, berbeda. Mereka terpencil, bergerak klandestin dan tak
banyak dipedulikan oleh sesama aktivis. Tetapi, Munir amat peduli.

Aktivis seperti Munir terbilang jarang: sederhana tapi berkepedulian
besar. Ancaman yang dapat membuat dirinya takut, begitu dia pernah
bilang, tak lain adalah perasaan takut itu sendiri. Munir takut
dihinggapi ketakutan. Takut baginya membuat dia mati secara
spiritual. Sebaliknya, ketakutan terhadap rasa takut membuat dirinya
tegak, yakin-diri, dan hidup dengan prinsip, semangat dan
pikirannya ... sampai awal September lalu di Amsterdam.

Di Jakarta, saya mendengar orang kalangan mapan sering kesal
terhadap suara suara Munir yang kritis dan tajam. Protes-protesnya
di media massa tentang kesewenangan penguasa rupanya membuat
kenyamanan hidup kelas menengah di Jakarta terganggu. Di Aceh,
ketika saya mewawancarai seorang serdadu TNI di Lhok Sukon (Juni
2003), dia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya berperang
melawan GAM, Gerakan Aceh Merdeka, namun tak sekali pun prajurit ini
mengumpat musuhnya itu. Tetapi, begitu dia berbicara soal HAM,
wajahnya berubah, kesal dan menghujat aktivis-aktivis HAM. "Terutama
Munir itu," tambahnya. Logis, gerilya GAM serupa orang desa, tentara
tak mengenalinya, sedangkan Munir adalah sosok yang menghias media,
mudah dikenali.

Jadi, ketimbang gerilya bersenjata, Munir yang tak bersenjata lebih
menakutkan bagi tentara. Dia menjadi target hujatan, sekaligus
simbol di kala tentara tak mampu menemukan musuh mereka. Maklumlah,
para prajurit tsb merupakan bagian dari aparat dan institusi yang
tak pernah dibesarkan dengan kesadaran HAM para pimpinannya.
Tradisinya malah kebalikannya. Pantas, Munir pun bukan seorang yang
memusuhi prajurit atau pun jenderal. Bahkan dia sering ngobrol
dengan mereka, termasuk yang sering ditudingnya sebagai pelanggar
HAM berat. Terakhir kali saya berjumpa Munir, di halaman belakang
kantor Imparsial, Menteng, Jakarta, April 2004, Munir bercerita
tentang bagaimana jenderal-jenderal itu berdiskusi tentang anggaran
Darurat Militer Aceh yang ambur adul. Munir punya daya ingat
fotografis dan daya analisis yang kuat. Saya kehilangan seorang
sohib yang hangat dan narasumber yang amat menarik.

Sampai saya turunkan kolom ini, hasil otopsi Munir belum diketahui.
Otoritas Belanda telah menahan seluruh awak dan penumpang Garuda tsb
selama dua jam, mewawancarai sejumlah narasumber yang relevan berjam-
jam dan memeriksa segala hal, termasuk makanan dan sisa makanan di
pesawat, kemudian melakukan otopsi. Menurut sumber-sumber di
Belanda, penelitian medis itu diperpanjang dengan 6 minggu. Jadi,
total 9 minggu diperlukan waktu untuk mengkaji temuannya. Sebelum
otopsi, tiga dokter, satu dokter Indonesia dari pesawat dan dua
dokter Belanda, telah memeriksa jenazahnya dan ketiganya menolak
menyatakan bahwa Munir mengalami "een natuurlijke dood" (meninggal
secara alami). "Ada yang aneh, nih!" kata salah satu dokter tsb
tanpa memberi rincian. Alasannya boleh jadi bersifat tehnis-medis.
Jadi, andaikan benar, ini belum mengatakan sedikitpun tentang
indikasi non-medis atau rekayasa.

Misteri kematian di pesawat, bukan kisah baru. Pada 1997 pemerintah
Soeharto mengundang seorang tokoh Tim-Tim dari Lisbon untuk
menghadiri perayaan 17 Agusus 1997 di Jakarta. Tamu itu adalah Jose
Martins-III, bekas pembantu dekat operasi intelejens Ali Moertopo
dan Benny Moerdani ketika tentara Indonesia menyusup ke Tim-Tim
(1974) jauh sebelum invasi. Martins yang kaya dokumen otentik dari
tahun 1974-1975 (saya pernah dikasih lihat di rumahnya di Lisbon,
1993), membawa sejumlah dokumen, menumpang pesawat KLM dari Lisbon
via Amsterdam dan meninggal mendadak setiba di Jakarta. Konon dia
diracun. Yang pasti, dokumennya hilang dan kasusnya tetap gelap.

Saya tidak ingin berspekulasi ada apa di balik kematian Munir. Tapi
ada sebuah ilustrasi � mungkin, 'a telling story' - tentang
bagaimana seorang pegiat HAM seperti Munir harus bergerak di tengah
remang-remang politik seputar aparat negara. Di situ, Munir
menyerempet bahaya.

Masih ingat bom Natal yang mengguncang enam buah gereja di Jakarta -
Gereja Matraman, Katedral, Kanisius, Koinonia, Santa Anna di Jakarta
dan Oikumene di Halim Perdana Kusumah - pada 24 dan 25 Desember
2000?

Beberapa saat setelah "pesta bom" laknat itu, seorang pastor
bergegas menuju Rumah Sakit Dr. Cipto, Salemba, untuk menjenguk
korban. Seorang pemuda tegap menyertainya dan di tengah jalan,
pastor itu bertanya, Anda ini siapa? "Saya mahasiswa pastoral, Romo"
jawabnya. Sang Romo lega, dan berbincang terus. Belakangan, Romo ini
menyarankan agar mahasiswa itu kembali saja ke Katedral untuk
membantu keamanan di sana. Mahasiswa tsb menyanggupinya dan dengan
spontan memberi hormat dengan menempelkan jari-jari kanannya ke
dahi. "Siap, Pak!" serunya cepat.

Betapa terkejut si Romo. Lho, kok memberi salut militer? Dan tadi
menyebut "Romo", kok sekarang "Pak"? Siapa gerangan orang yang
mengaku "mahasiswa pastoral" ini? Kontan Romo ini menelpon Munir,
yang kemudian memberi tahu seorang bos aparat setempat, petinggi
berinisial G.M, yang kita sebut saja "Kolonel Gombal". Kolonel
Gombal segera memerintahkan satuannya memeriksa tempat
tinggal "mahasiswa" tsb. Ternyata, si "mahasiswa" ini belakangan
hari sering tampak di sekitar Gereja Katedral, dan dikamarnya
ditemukan kartu anggota korps - sebuah korps yang paling tenar dan
cemar di republik ini. Kolonel Gombal segera memfotokopi kartu
keanggotaan korps tsb dan berkas-berkas lainnya. Difotokopi? Mengapa
tidak disita?

Berdasarkan keterangan Kolonel Gombal, Munir memastikan bahwa
si "mahasiswa" tsb berperan krusial. Tapi, pasti, Munir kecewa besar
dan bingung, mengapa si "mahasiswa" dan fotokopi berkas-berkas itu
kemudian menghilang, sementara Kolonel Gombal itu bungkam, lantas
aparat mengaku "kehilangan jejak".

Munir tidak tinggal diam dan kepada media massa, dia
mengatakan, "kita tahu kok, siapa kira-kira di balik bom itu".
Seminggu kemudian, giliran rumah Munir dikejutkan oleh bom.
Berikutnya, sang Romo tadi mendapat ancaman. Ujung ekornya, kasus
bom Natal itu tak pernah terbongkar tuntas.

Kisah tadi saya susun berdasarkan keterangan alm. Munir kala itu dan
beberapa sumber lain. Delapan tahun setelah saya bertemu Munir di
Surabaya dan empat tahun setelah bom meledak di katedral dan di
rumahnya, para aktivis Tim-Tim yang korban persekusi Orde Baru tadi
telah duduk di parlemen di Dili, Romo yang waspada itu masih giat
dengan kegiatan kemanusiaannya dan Kolonel Gombal yang misterius itu
sudah naik pangkat, ikut menyelidiki kasus-kasus bom Bali dan
Marriot. Dan Munir tinggal sebuah kenangan.

Kenangan sepanjang 1995-2004 itu seperti simbolis � semacam isyarat-
isyarat zaman. Membantu korban persekusi, menyelidiki teror bom,
keharusan waspada bagi para pembela HAM, serta permainan gelap
seputar aparat � semua itu adalah bagian dari dinamika transisi yang
harus digeluti dan ditembus dengan nyali dan keteguhan dari pejuang
HAM semacam Munir. Selama tabir gelap masih menyelimuti teror dan
membungkus aparat, kita masih membutuhkan seribu orang Munir.

Terima kasih atas jasamu, selamat beristirahat, Cak Munir!

(Dikembangkan dari Kolom Ahad penulis, Radio Nederland, 10 Oktober
2004)
 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke