Republika
Senin, 11 Oktober 2004

SBY-nomics
Oleh : Adiwarman A Karim

Majalah Investor edisi 5 Oktober 2004 menurunkan liputan utama tentang 
SBY-nomics. Menggabungkan nama kepala negara dengan economics mulai dikenal 
sejak 1980-an, diawali dengan istilah Reaganomics. Setelah selama berpuluh 
tahun kebijakan ekonomi AS diwarnai dengan kebijakan yang berfokus pada sisi 
permintaan, maka Presiden Reagan dengan tim ekonominya memperkenalkan 
kebijakan yang lebih berfokus pada sisi penawaran (supply side economics). 
Hal ini disebabkan sisi permintaan ekonomi AS ketika itu telah jenuh, 
sehingga peningkatan permintaan tidak akan efektif mendorong pertumbuhan 
ekonomi bahkan akan meningkatkan inflasi. Nah, karena dianggap memberikan 
paradigma baru dalam kebijakan ekonomi, maka disandingkanlah nama Reagan 
dengan economics: Reaganomics.
Sebenarnya menyandingkan kebijakan ekonomi (nama) seorang kepala negara 
dengan economics tidak begitu tepat. Kebijakan ekonomi (economic policy) 
tidak dapat serta merta disebut ilmu ekonomi (economics) karena ilmu ekonomi 
terdiri dari hipotesis ekonomi, teori ekonomi, prinsip ekonomi; sedangkan 
kebijakan ekonomi sebatas pada hipotessi yang akan diuji oleh pemerintahan 
yang ada dengan cara menerapkan serangkaian program ekonomi. Terlepas dari 
tepat tidaknya, nyatanya beberapa media memopulerkan adanya Suhartonomics, 
Habibienomics, dan sekarang SBY-nomics.
Mengacu pada paparan SBY-nomics dalam majalah tersebut, tampaknya ekonomi 
pertanian dan pedesaan akan mendapat perhatian penting. Jika desa dan sektor 
pertanian dibangun, para pekerja di sektor itu akan menikmati nilai tambah 
yang lebih tinggi, daya beli meningkat, permintaan akan barang dan jasa 
meningkat sehingga akan mendorong pertumbuhan industri manufaktur.
Pendekatan sejenis ini pernah populer dalam berbagai jurnal ilmiah di tahun 
1980-an yang dikenal dengan New Keynesian in Country Side. Sebagaimana 
lazimnya pendekatan Keynes, pemerintah memainkan peran penting melalui 
instrumen kebijakan fiskal yang terutama akan digunakan daerah pedesaan. 
Dasar pemikirannya adalah satu rupiah yang digunakan di pedesaan akan 
memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan bila digunakan di 
perkotaan. Satu juta rupiah di pedesaan jauh lebih bernilai dan dapat 
menghasilkan output jauh lebih besar daripada satu juta yang sama digunakan 
di perkotaan.
Pendekatan ini bukannya tanpa kritik. Kaum monetaris mengingatkan dengan 
menulis teori Money Illusion in Farmer's Wage yaitu adanya ilusi uang 
seakan-akan para petani bertambah kaya karena bertambah banyak uang padahal 
daya beli uang yang mereka miliki tidak bertambah. Bila belanja fiskal 
pemerintah yang digunakan ke pedesaan itu tidak tepat cara, misalnya dengan 
membagi-bagikan uang ke setiap desa, maka uang di daerah pedesaan bertambah 
banyak seketika sehingga terjadi kenaikan harga-harga. Upah petani 
meningkat, pendapatan dari hasil penjualan produk pertanian meningkat, namun 
permintaan petani akan barang-barang dari daerah perkotaan meningkat, biaya 
hidup di pedesaan meningkat, sehingga secara riil tingkat kesejahteraan 
petani tidak meningkat.
New Keynesian in Country Side akan efektif bila digunakan untuk membangun 
infrastruktur yang dapat menekan biaya transportasi produk-produk dari 
pedesaan ke perkotaan. Program seperti ABRI Masuk Desa (AMD) yang pernah 
populer di zaman Jenderal Jusuf merupakan salah satu contoh. Di zaman 
Rasulullah SAW, belanja Baitul Maal yang digunakan untuk membangun 
infrastruktur mencapai sepertiga dari total pengeluaran. Di zaman Umar bin 
Khattab RA, dua kota perdagangan, Kuffah dan Basrah, yang menjadi entry-port 
perdagangan internasional juga dibangun dengan uang Baitul Maal. Peran 
pemerintah dalam kerangka pemikiran ekonomi syariah memang penting. Ibnu 
Khaldun mengatakan bahwa pemerintah adalah ibu segala pasar, bila ia sakit 
maka sakitlah pasar dan demikian sebaliknya. Dari sisi pandang ekonomi 
syariah, New Keynesian ada benarnya, namun bukan seluruh kebenaran (not the 
whole truth).
Pendekatan Keynesian bila dilakukan dengan cara yang tepat memang akan 
efektif mendorong pertumbuhan sektor riil, dan peranan pemerintah sangat 
penting dalam menyediakan infrastruktur. Namun seringkali pendekatan ini 
tidak dipahami asumsi yang mendasarinya sehingga menimbulkan iklim usaha 
yang terlalu banyak diatur (over-regulated) dan bergantung pada pemerintah 
(government-driven). Mekanisme pasar tidak berjalan semestinya karena banyak 
distorsi yang ironisnya ditimbulkan oleh terlalu banyaknya intervensi 
pemerintah.
Dalam kerangka pemikiran ekonomi syariah, mekanisme pasar adalah suatu 
keharusan. Biarlah pasar berjalan kesepakatan permintaan dan penawaran 
selama tidak ada distorsi. Namun bila terjadi distorsi, maka pemerintah 
wajib intervensi. Itu sebabnya ketika harga gandum naik di Madinah dan para 
sahabat meminta Rasulullah SAW mematok harga, Rasul menolak dan mengatakan 
biarlah Allah yang menentukan harga. Ketika harga gandum naik di zaman Umar 
bin Khattab karena terjadi paceklik, Umar juga menolak menetapkan harga. Ia 
memilih mengimpor gandum dari Fustat (Mesir) untuk menjamin pasokan gandum. 
Begitu pula ketika harga suatu jenis barang naik di Madinah karena para 
pedagang yang baru pulang dari Syam mendapat keuntungan besar dari 
perdagangan mereka, Umar pun menolak menetapkan harga. Ia melarang 
perdagangan barang tersebut untuk sementara waktu untuk mencegah kenaikan 
harga akibat dorongan impulsif membeli (impulsive buying). Jadi bila 
distorsi terjadi pada sisi penawaran, intervensi pemerintah terbatas pada 
sisi yang terdistrosi. Begitu pula bila distorsi pada sisi permintaan.
Ketika harga-harga naik di zaman Ibnu Taimiyah yang diakibatkan adanya 
pedagang yang menimbun barang untuk mengambil keuntungan berlebih, maka 
beliau menganjurkan pemerintah menetapkan harga pada harga barang tersebut 
sebelum terjadinya distorsi, di samping tentunya menghukum para penimbun. 
Jadi bukannya pemerintah tidak boleh menentukan harga, malah menurut Ibnu 
Taimiyah pemerintah harus menetapkan harga bila distorsi yang terjadi bukan 
pada sisi permintaan atau penawaran secara riil.
Nah, bila dalam sektor riil pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi 
sebagai 'ibu segala pasar', tidak demikian untuk sektor keuangan. Dalam 
kerangka pemikiran ekonomi syariah, pemerintah tidak dapat menggunakan 
kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut Al Ghazali, 
tugas utama pemerintah di sektor keuangan adalah menjaga nilai uang, bukan 
melakukan ekspansi moneter yang malah akan menimbulkan inflasi. Dari sisi 
pandang ekonomi syariah, Monetarist Economics ada benarnya, namun bukan 
seluruh kebenaran (not the whole truth).
Semoga SBY-nomics dapat memilah, memilih, dan merumuskan apa yang terbaik 
untuk bangsa ini. Bismillahi majreha wamursaha inna rabbi laghafurur rahim. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke