Kebetulan saya sering bertemu TKI/TKW karena ayah saya dulu adalah pejabat Depnaker
(meski levelnya tidak tinggi2 amat:) yang sering menolong TKI/TKW yang bermasalah
(karena PJTKI-nya bermasalah) meski tanpa bayaran dan sering menampung mereka hingga
ada yang sampai 1 tahun.
Para TKI/TKW, bekerja di luar negeri karena ingin mendapat perbaikan hidup. Bayangkan,
di Indonesia, seorang sarjana banyak yang menganggur. Jika bekerja, ada yang dapat Rp
800.000. Gaji pembantu di Indonesia, hanya Rp 250 ribu.
Sementara di luar negeri gaji pembantu berkisar antara Rp 1,5 juta - Rp 2 juta.
Nah siapa yang tidak tertarik? Para TKI/TKW tsb tidak heran berlomba2 ingin bekerja ke
luar negeri, meski harus membayar sejumlah uang dan terkadang tertipu karena PJTKI-nya
tidak baik.
Jadi istilah perdagangan manusia, kurang tepat.
Tapi mengirim TKI/TKW ke Iraq pada saat ini, menurut saya adalah tindakan biadab yang
layak dihukum seberat2nya.
Salam
Agus Nizami
RG Nur Rahmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ini bukan soal akhlak, moral dan iman. Ini soal bejatnya birokrasi yang katanya demi
sesuap nasi atau mau naik Mercy tapi kerja cuma kepala lurah. Kalau mau kaya, kerja
jangan jadi pegawai negeri dong, iya kan?
Ini seperti ibarat pencuri, niat ada tapi tiada kesempatan, maka tiada kecurian.
Kesempatan ada tapi niat tiada, MUNGKIN ada kecurian.
Kesempatan dan niat ada, BABLAS angine.
begitulah.
rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kita banyak bicara mengenai moral, akhlak, iman. Kenyataan dilapangan
memberikan gambaran yang pahit:
RM DH
Senin, 11 Oktober 2004
Casingkem dan Istiqomah, Perdagangan Manusia
Maruli Tobing
Kompas
ISTIQOMAH dan Casingkem akhirnya tiba di Jakarta, Kamis pekan lalu.
Penyambutannya mirip tamu negara. Begitu pesawat terbang yang
ditumpangi dua tenaga kerja wanita ini mendarat di Bandara Soekarno-
Hatta, Cengkareng, pejabat dari berbagai instansi menyongsongnya.
Sementara wartawan yang berjubel dengan kilauan lampu kamera terus
membuntutinya.
Istiqomah dan Casingkem memang bernasib mujur. Umumnya, tenaga kerja
wanita (TKW) yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta disambut para calo
dan kriminal. Para bajingan ini menguras uang mereka, tanpa peduli
hasil jerih payah selama bertahun-tahun di negeri orang. Tidak
sedikit kasus TKW diperkosa atau dibuang dari kendaraan dalam
perjalanan ke kampung.
Akan tetapi, bagi Istiqomah dan Casingkem, hari itu benar- benar
istimewa. Deretan mobil, pejabat, dan aparat keamanan mengawalnya.
Keduanya langsung dibawa menuju Istana Negara. Di sana sudah menunggu
Presiden Megawati Soekarnoputri, yang ingin mendengar langsung apa
yang dialami keduanya di Irak.
Istiqomah dan Casingkem sempat menjadi berita dunia. Keduanya bersama
delapan warga Lebanon dan Jordania diculik sekelompok orang
bersenjata di Irak. Nasib mereka di ujung maut selama sepekan
disekap. Namun, mereka akhirnya dibebaskan penyandera setelah melihat
televisi Al-Jazeera menayangkan imbauan Presiden Megawati.
Keduanya memang tidak menyebut rasa iba penculik setelah mengetahui
identitas mereka. Tetapi, bagi banyak warga Timur Tengah, siksa dan
derita yang dialami sesama Muslim ini selama bekerja di negara Arab
telah lama menjadi keprihatinan. Sebab, banyak di antara mereka
diperlakukan mirip budak.
Tetapi siapakah sesungguhnya Casingkem dan Istiqomah?
CASINGKEM dan Istiqomah hanyalah dua nama dari ratusan ribu tenaga
kerja Indonesia yang saat ini berada di Timur Tengah, Malaysia,
Singapura, Hongkong, Australia, Jepang, Yunani, Amerika Serikat (AS),
dan banyak negara lain di Eropa. Nama Casingkem dan Istiqomah sendiri
sebenarnya tidak ada dalam daftar imigrasi Indonesia maupun laporan
di Depnakertrans dalam hal tenaga kerja Indonesia yang berada di luar
negeri.
Lantas ketika keduanya disandera di Irak, sempat simpang siur nama
dan identitasnya. Istiqomah dan Casingkem memang menggunakan paspor
orang lain sehingga ketika dihubungi keluarga yang nama dan alamat
tertera dalam formulir permohonan paspor, mereka tidak mengenal wajah
yang dimuat di berbagai surat kabar.
Ironisnya, perusahaan pengerah tenaga kerja yang mengirim kedua
wanita ini tidak segera bereaksi, memberi tahu siapa sesungguhnya
kedua wanita yang disandera. Maka yang terjadi adalah spekulasi,
polemik, dan saling menyalahkan di berbagai media massa.
Casingkem dan Istiqomah menyebut tujuan mereka sebenarnya mencari
kerja di Singapura atau Malaysia. Dan itulah yang tercatat dalam
formulir pengisian formulir keberangkatan. Namun, perusahaan pengerah
tenaga kerja Indonesia ternyata mengirimnya ke Jordania. Dari sini
agen tenaga kerja "menjualnya" ke Irak. Padahal, Pemerintah RI telah
memutuskan menghentikan pengiriman tenaga kerja ke daerah gawat itu.
Istiqomah dan Casingkem hanyalah dua dari sekian banyak tenaga kerja
yang dikirim ke negara yang bukan mereka inginkan. Masih beruntung
kedua wanita ini dapat segera kembali ke kampungnya. Ribuan TKW
Indonesia terperangkap dan harus banting tulang selama 2-3 tahun agar
dapat kembali ke kampungnya.
Sebagian dari mereka ada yang mengalami penyiksaan, kerja rodi,
tewas, bahkan dijadikan pelacur. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa
karena paspor dipegang majikan. Upaya melarikan diri akan mirip masuk
kandang macan setelah lepas dari kandang buaya. Aparat keamanan
setempat bukan mustahil menangkap mereka.
Banyak tenaga kerja baru sadar tertipu setelah tiba di negeri
seberang. Tadinya mereka diiming-imingi gaji tinggi, jam kerja sesuai
UU perburuhan setempat, dan tiap tahun dapat pulang kampung. Sebagian
lagi ada yang dijanjikan sebagai perawat, karyawan perusahaan swasta,
dan lain sebagainya.
Namun, setelah tiba di negara tujuan, ternyata bukan negara yang
tadinya dijanjikan. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah
tangga, pelacur, bahkan kerja paksa di lahan pertanian, seperti di
Malaysia. Pemerintah AS malah sempat menangkap pelaku perbudakan
terhadap tenaga kerja Indonesia beberapa tahun lalu.
Celakanya, sebagai pembantu rumah tangga, gaji enam bulan pertama
selalu tidak dibayar. Bahkan ada pula yang tidak dibayar selama
bekerja bertahun-tahun. Alasan majikan, uang tersebut dikirim kepada
perusahaan pengerah tenaga kerja untuk melunasi tiket pesawat dan
biaya lainnya bagi keberangkatan tenaga kerja wanita tersebut.
PERISTIWA demikian bukan hal luar biasa lagi di Indonesia karena
terlalu kerap terjadi dan sudah berlangsung selama lebih dari 20
tahun. Pemerintah sendiri hanya bereaksi sekejap jika ada kasus yang
dihebohkan di berbagai media massa. Setelah itu irama yang sama
kembali berdendang, yakni penipuan dan pemerasan tenaga kerja.
Sementara pelakunya tidak satu pun diseret ke meja hijau dan diganjar
hukuman maksimum di penjara.
Padahal, sejauh batasan Protokol Palermo yang diikuti Indonesia
menjelaskan fakta demikian, maka apa yang dialami para tenaga kerja
itu sangat jelas dan nyata, yakni perdagangan manusia atau perbudakan
modern.
Dalam Pasal 3 protokol itu disebutkan, perdagangan manusia adalah
menerima pembayaran atas penguasaan orang lain dengan maksud
mengeksploitasinya. Batasan ini mencakup transportasi, memindahkan,
menampung, atau menerimanya, yang dilakukan dengan cara mengancam,
atau menggunakan kekerasan atau bentuk paksaan lain, penculikan,
penipuan, pemalsuan, penyalahgunaan kekuasaan, atau memanfaatkan
kelemahan orang tersebut.
Perdagangan manusia dimasukkan dalam kategori kejahatan
terorganisasi. Lingkupnya domestik dan transnasional, yang melibatkan
organisasi kejahatan di dalam maupun luar negeri. Sebagai bentuk
kejahatan terorganisasi, dengan sendirinya mata rantainya mencakup
pejabat korup. Termasuk di instansi tenaga kerja, imigrasi, dan
keamanan.
Tidak heran, dalam banyak kasus domestik, justru korban perdagangan
manusia ini yang meringkuk di penjara saat aparat keamanan melakukan
razia pelacuran, misalnya. Sementara wanita yang menjadi korban
enggan melaporkan kejadian yang mereka alami. Selain takut ancaman
majikan, juga khawatir aparat keamanan malah sekongkol dengan majikan.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut perkembangan bisnis
manusia meningkat dari tahun ke tahun karena keuntungannya yang luar
biasa, bahkan hanya sedikit lebih rendah di bawah perdagangan senjata
dan narkoba. Pemerintah AS memperkirakan 800.000 manusia korban
perdagangan ini di dunia setiap tahunnya.
Faktor lain yang mendorong menjamurnya bisnis manusia ini adalah
akibat lemahnya penegakan hukum. Di banyak negara-termasuk Indonesia-
belum ada undang-undang yang secara khusus melarang bentuk
perdagangan manusia. Di sisi lain, pemerintah malah ikut mendorong
maraknya bisnis demikian melalui kemudahan perizinan, lemahnya
pengawasan, dan korupsi di semua sektor.
"Pelaku perdagangan manusia harus dijatuhi hukuman maksimal.
Perbuatan mereka mengomoditaskan manusia merupakan ancaman terbesar
terhadap martabat manusia,'' ujar Jaksa Agung AS John Ashcroft,
Februari tahun lalu. Ia menyatakan pelakunya pantas diganjar hukuman
maksimal.
Ironisnya, kata Ashcroft, di AS sendiri puluhan ribu wanita dan anak-
anak diperdagangkan setiap tahun. Padahal, seorang saja pun sudah
terlalu banyak. Nurani dan nilai-nilai yang kita anut menentang
perbuatan meraup dollar dari kesengsaraan dan penderitaan manusia. AS
menyatakan perang melawan bisnis jahanam ini.
Akan tetapi, Indonesia bukan AS. Maka di sini tidak dikenal hukuman
maksimal itu. Bahkan ditangkap pun tidak. Malah sebaliknya,
perusahaan pengerah tenaga kerja melaporkan ke polisi agar menangkap
kembali setiap tenaga kerja yang melarikan diri. Padahal, mereka
kabur karena tidak tahan berbulan-bulan di tempat penampungan yang
mirip kandang sapi. *
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
---------------------------------
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.geocities.com/nizaminz
---------------------------------
Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/