fyi
 
----- Original Message ----- 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0410/14/utama/1325523.htm
 
Kamis, 14 Oktober 2004  
        
        
        


"God Spot" dalam Puasa Kuasa 



Oleh Abdul Munir Mulkhan 

RAMADHAN di saat pemimpin baru nasional hadir: Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, dan 
Ketua DPD, perlu diberi makna fungsional dan profetik dalam puasa kuasa.

Dengan puasa kuasa, orang kaya bisa memperlakukan diri sebagai si miskin, penguasa 
bisa menjadi rakyat jelata, dan manusia bisa bertindak bagai malaikat yang bebas 
kepentingan duniawi dan kebutuhan seksual.

Dari sini seseorang memperoleh pencerahan batin sehingga ada pada posisi (baca: maqom) 
yang oleh Danah Zohar dan Ian Marshall disebut god spot atau titik tuhan. Inilah 
maksud idul fitri, yaitu kembalinya manusia pada kesucian diri seperti anak manusia 
yang baru dilahirkan, yang diperoleh setelah sebulan menjalani ritual puasa.

PUASA merupakan ajaran kemanusiaan otentik dengan tujuan agar manusia bisa bertindak 
lebih manusiawi bagaikan malaikat, bahkan perilakunya seolah menjadi cermin aura 
ketuhanan. Inilah yang dalam tradisi sufi disebut hulul ketika sifat-sifat kemanusiaan 
yang cenderung culas tereliminasi sehingga yang tersisa hanya sifat-sifat ketuhanan. 
Keadaan demikian dipahami sebagai saat Tuhan meminjam tubuh-tubuh manusia bagi 
kehadiran-Nya di alam kehidupan duniawi.

Aura ketuhanan (baca: god spot) bisa mengubah perilaku seseorang sehingga bersedia 
mengorbankan kepentingan diri guna membela kaum tertindas, rakyat miskin yang 
tertindas dan diperlakukan tidak adil atau kaum mustadl�afin. Puasa perlu dipahami 
sebagai media transendensi saat seseorang bisa mengkritik dan menertawai diri sendiri, 
golongan dan partainya, serta melakukan radikalisasi tradisi sehingga bebas dari pola 
kelakuan culas dan maksiat.

Sayang, selama ini ibadah puasa lebih banyak dipahami sebagai grand bonus pahala saat 
setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka lebar. Pemahaman 
demikian tentu tidak salah, namun perlu dipertanyakan ketika puasa lebih mendorong 
seseorang beramal sekadar menghapus dosa yang pernah dilakukan tanpa mengubah perilaku 
culas dan maksiat yang selama ini biasa dilakukan. Semangat shalat tarawih di malam 
hari, mendaras Al Quran, memberi makanan dan pakaian kepada anak yatim, memberi takjil 
(pembuka puasa), dan menghadiri majlis-majlis pengajian, cenderung ditujukan untuk 
memutihkan dosa maksiat, tetapi tak membuat seseorang berhenti berlaku maksiat dan 
culas untuk menjadi lebih saleh sesudah Ramadhan usai.

Oleh karena itu, ritual puasa tahun ini perlu diartikan sebagai puasa kuasa untuk bisa 
memperoleh god spot. Penanda pencapaian god spot ialah saat seseorang mengubah 
perilakunya secara radikal sehingga melakukan keluarbiasaan atau abnormalitas lebih 
dari sekadar manusia umumnya. Keberhasilan melakukan ritual puasa perlu diukur dari 
perubahan perilaku menjadi lebih saleh dan manusiawi.

Setiap orang bisa mencapai god spot dengan cara berbeda di sepanjang perjalanan 
hidupnya; tiba-tiba bisa melakukan tindakan yang hampir mustahil dalam keadaan normal. 
God spot adalah suatu pencerahan batin dan spiritual seperti kegembiraan, kebahagiaan, 
dan kecerdasan luar biasa, atau bisa mengangkat beban yang selama ini tak mungkin 
dilakukan. Inilah mungkin pengalaman rohani Umar ibnu Khattab yang berubah dari 
memusuhi Nabi Muhammad SAW menjadi pembela paling berani, seorang bandit menjadi 
santun saat orang yang selama ini disakiti dan dibuat menderita menjadi penyelamatnya 
ketika ia hampir kehilangan nyawa tanpa harapan, atau dua orang musuh bebuyutan 
menjadi teman karib sinorowedi (Jawa) saat keduanya harus saling menolong dalam 
situasi kritis tanpa harapan memperoleh bantuan orang lain.

Situasi god spot bisa muncul pascapenderitaan luar biasa atau sakit parah yang hampir 
tak dapat disembuhkan. Di puncak penderitaan, kesulitan, dan sakit parah itu seseorang 
"tiba-tiba" memperoleh jalan kesembuhan, terbebas dari derita dan putus asa. Peristiwa 
penyanderaan yang dialami tenaga kerja Indonesia (Casingkem dan Istiqomah) oleh suatu 
kelompok di Irak beberapa waktu lalu bisa menimbulkan kesadaran baru dan etos kerja 
yang membuat keduanya menemukan jalan mematahkan rantai setan kemiskinan yang selama 
ini membelit hidupnya.

Oleh karena itu, ritual puasa bukan sekadar tidak makan-minum, tidak melakukan 
hubungan seksual dengan suami atau istri di siang hari, tidak berkata kotor, dan 
shalat tarawih di malam hari. Ritual puasa adalah ajaran tentang bagaimana seseorang 
berlatih menahan diri tidak melakukan sesuatu yang justru halal dan membuatnya senang. 
Tanpa perubahan perilaku sesudah Ramadhan usai, ritual puasa tak lebih dari sebuah 
kelaparan dan kedahagaan di siang hari. Kegagalan ritual puasa ialah ketika usai 
shalat Hari Raya (Idul Fitri), kebejatan moral, maksiat, korupsi, ketidakpedulian sang 
penguasa dan pemimpin politik dan keagamaan kepada rakyat dan umatnya yang menderita, 
miskin, tertindas, dan diperlukan tidak adil tetap berlangsung.

Kemaksiatan bukan sekadar buka warung makan di siang hari, berzina, dansa-dansi, minum 
minuman keras, atau mengonsumsi narkoba. Kemaksiatan hebat justru merupakan tindakan 
penguasa yang tidak peduli pada nasib mustadl�afin, merampok harta rakyat dan negara 
dengan korupsi, menyalahgunakan kekuasaan bagi kepentingan diri, golongan, dan partai, 
menafsir kaidah hukum dan memanipulasi prosedur birokrasi bagi keuntungan pribadi. 
Teror bom dan bom bunuh diri yang membuat orang lain yang dipandang sesat dan kafir 
merupakan maksiat ganda karena merusak tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang bisa 
memakan korban orang tak berdosa. 


Komitmen pada ajaran puasa tak cukup dengan menutup warung makan dan restoran di siang 
hari, menutup kafe di malam hari, menghentikan segala bentuk perjudian atau 
prostitusi, dan menghancurkan segala jenis minuman keras. Penutupan warung makan dan 
restoran di siang hari bisa bertentangan dengan ajaran puasa bagi kaum musafir (orang 
yang bepergian dari kampung halaman). Selain itu, penutupan berbagai kegiatan ekonomi 
bisa membuat banyak orang yang mayoritas memeluk Islam kehilangan sumber ekonomi dan 
menderita, anak- anak mereka kehilangan harapan.

Lebih strategis jika ritual puasa dijadikan momentum aktivis gerakan keagamaan 
menyusun sistem sosial dan ekonomi, yang memungkinkan berfungsinya etika kesalehan 
dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam kebingungan dunia global mengembangkan tata 
kehidupan yang lebih berkeadilan dan manusiawi, kajian tentang sistem kesalehan sosial 
dan ekonomi itu diharapkan bisa memberi rekomendasi tata kehidupan dunia yang lebih 
saleh, yang bisa dipahami bangsa- bangsa di dunia dalam beragam agama dan ideologi. 
Kegiatan seperti ini lebih bermakna daripada jihad dan aksi mati syahid yang lebih 
mengesankan sebuah keputusasaan.

Aksi mati syahid yang dilakukan sepihak dengan pertimbangan meluasnya ketidakadilan 
dunia global yang diderita negeri-negeri Muslim, akibat dominasi negara-negara sekuler 
yang dituduh kafir, bisa berarti merupakan pelecehan ketuhanan karena merusak hukum 
natural Tuhan (sunnatullah). Tindakan demikian bisa merusak sistem ilmu pengetahuan, 
tatanan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan global. Pada saat yang sama berbagai 
komunitas Muslim menderita dan aktivis gerakan keagamaan mudah dituduh sebagai 
teroris. Sama halnya dengan aksi militer yang dilakukan negara-negara Barat, terutama 
yang dipimpin Amerika Serikat, atas nama demokrasi dan usaha penghancuran basis-basis 
terorisme merupakan pelecehan kemanusiaan dan ketuhanan itu sendiri.

TUHAN sendiri dengan tegas menyatakan tak berkehendak menjadikan semua manusia menjadi 
beriman dan saleh. Tujuannya agar manusia belajar dari sejarah dan pengalaman duniawi. 
Tuhan memberi izin kepada setan untuk mengganggu orang-orang beriman dan saleh di 
sepanjang sejarah duniawi. Tuhan tidak mematikan setan yang konon bahkan terus beranak 
pinak, sementara malaikat diberi kehidupan abadi tetapi tak bisa beranak pinak, hingga 
masa depan dunia dipenuhi setan. Di sisi lain, doktrin kiamat sendiri dipahami sebagai 
peristiwa masa depan yang menunjukkan kehancuran moral, kemaharajalelaan maksiat, dan 
kejayaan dajjal atau setan. Kita mungkin salah memahami wahyu tentang keberanakpinakan 
setan dan keselibatan malaikat yang hidup abadi seperti kesalahan memahami makna 
fungsional teologi kiamat itu.

Tafsir bahwa Tuhan tak melipatgandakan sanksi dosa dan bonus lipat ganda pada tiap 
tindakan saleh mungkin perlu dikaji ulang. Rekonstruksi tafsir tentang pahala amal 
saleh dan dosa maksiat penting dilakukan saat orang-orang yang tampak rajin 
bersedekah, berpuasa penuh selama Ramadhan, pergi haji setiap tahun atau umrah setiap 
saat, dan setiap hari jamaah shalat di masjid, ternyata tidak berhenti melakukan 
korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan.

Jihad di jalan Allah dan kesalehan yang dipihaki dan dibela Tuhan mungkin perlu diberi 
arti lebih fungsional dan profetik tentang kemampuan mewujudkan keadilan, kemakmuran, 
dan pembelaan kepada kaum tertindas, orang- orang miskin, dan diperlakukan tidak adil 
atau kaum mustadl�afin. Tidak peduli apakah mereka memeluk Islam atau agama lain, 
bahkan yang dituduh kafir sekalipun.

Jihad dan kesalehan adalah aksi kemanusiaan otentik sesudah puasa kuasa yang dengan 
itu seseorang memperoleh god spot. Inilah akar teologis yang membuat Umar ibnu Khattab 
mau melecehkan kemaharajaannya sebagai khalifah, memanggul sendiri sekantong gandum 
bagi rakyatnya yang kelaparan. Atas pertimbangan serupa, pakaian resmi Presiden dan 
tim kabinetnya bisa diganti dengan batik, seperti anggota DPR, DPD, dan DPRD. Mungkin 
perjalanan dinas pejabat negara perlu dilakukan dengan biaya yang serendah mungkin. 
Triliunan rupiah uang negara untuk membeli jas bagi elite politik nasional atau daerah 
dan perjalanan dinas bisa digunakan untuk memenuhi hajat hidup kaum miskin, buruh, dan 
pedagang kaki lima yang tergusur dari tempat kerjanya. Bersediakah kita puasa kuasa 
bagi kepentingan rakyat dan umat manusia sebagai bukti kesalehan otentik dan jihad fi 
sabilillah?

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke