Suara Karya
Oct. 15, 2004

Puasa, Kemiskinan, Dan Pendusta
Oleh Humam S Chudori

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan puasa warung-warung 
makanan masih buka (hanya saja ditutupi dengan kain) dan masih saja ada 
pembelinya. Ironisnya, orang yang masuk ke warung itu (barangkali jika mau 
memeriksa KTP-nya) masih juga orang yang beragama Islam (?). Bahkan 
penjualnya pun -- hampir bisa dipastikan -- kebanyakan orang yang mengaku 
beragama Islam.
Mungkinkah mereka yang makan pada siang hari adalah orang yang mendapat 
dispensasi tidak berpuasa (orang yang sudah sangat jompo, orang yang sakit, 
orang yang sedang dalam perjalanan, ibu-ibu yang sedang hamil atau 
menyusui)? Lantaran Islam sebagai agama tidak memberatkan pemeluknya, 
memberikan toleransi kepada mereka yang tak mampu melaksanakannya. Tetapi, 
kenyataannya mereka yang makan di siang hari di warung, bukan mereka 
tergolong yang mendapatkan dispensasi. Melainkan yang masih kuat berpuasa. 
Tidak ada alasan yang secara syara' bisa membolehkan mereka tidak berpuasa 
dalam bulan Ramadhan. Mengapa demikian?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baiklah kita pahami terlebih dahulu 
dalil nakli yang menjadi landasan perintah puasa ini. Dalam Al Quran, Allah 
telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu 
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu 
bertakwa." (Q.S. 2/Al Baqarah: 183).
Firman Allah tersebut di atas akan dikutip oleh para kyai, ulama, dai, 
muballigh, khatib, dan ustad untuk mengingatkan umat Islam akan kewajiban 
melaksanakan ibadah puasa pada setiap Ramadhan. Baik dalam khotbah Jumat, 
ceramah agama di masjid-masjid, mushola, surau, di kantor-kantor. Terutama 
kantor yang memiliki masjid. Betapa tidak, karena ayat di atas merupakan 
rujukan atas perintah Allah dalam pelaksanaan salah satu rukun Islam.
Jika mencermati secara teliti firman Allah tersebut, maka yang mendapat 
perintah berpuasa adalah orang-orang yang beriman. Bukan orang (yang 
mengaku) beragama Islam. Nah, orang yang (merasa) beriman pasti akan 
terpanggil dengan firman Allah di atas. Jika tidak, kendati mengaku beragama 
Islam, yang bersangkutan tak akan mau berlapar-lapar dan berhaus-haus di 
siang hari. Tak heran apabila pada bulan Ramadhan kegiatan yang seharusnya 
hanya boleh dilaksanakan pada malam hari (makan dan minum) masih saja 
berlangsung pada siang hari. Meskipun kegiatan ceramah agama berlangsung di 
mana-mana. Bukan hanya di tempat-tempat ibadah. Melainkan pula di kantor, 
media massa (cetak maupun elektronik), bahkan tidak sedikit himbauan --  
dengan spanduk, misalnya -- agar menghormati bulan Ramadhan.
* * *
Diakui atau tidak, pemahaman masyarakat kita terhadap agama masih terlalu 
sempit. Kendati ulama cukup banyak. Barangkali karena hal-hal yang paling 
hakiki sama sekali tidak tersentuh. Agama dipahami sebatas surga-neraka atau 
pahala-dosa. Agama hanya dimaknai sekitar pelaksanaan ritual ubudiyah.
Orang belajar ngaji, misalnya. Sampai saat ini masih banyak orang belajar 
ngaji yang tujuannya sekedar untuk 'menabung' pahala. Bukan memahami agama 
secara utuh (baca: kaffah) untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan 
sehari-hari. Padahal Nabi Muhammad SAW diturunkan ke dunia ini bukan sekedar 
untuk dicontoh bagaimana cara beliau membaca Al Quran. Melainkan (terutama) 
untuk dijadikan uswatun hasanah. Beliau pernah bersabda 'innama buistu li 
uttamima makarimal akhlaq' -- sesungguhnya aku diutus untuk menyempunakan 
akhlak manusia
Puasa merupakan salah satu jalan untuk melaksanakan riyadhah ruhaniah, harus 
dikerjakan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Masalah keimanan 
(termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan ibadah mahdhah) tentu saja, tak 
bisa ditafsirkan menurut logika manusia. Karena, masalah keimanan adanya di 
dalam kalbu. Bukan pada rasionalitas. Demikian juga dengan pelaksanaan 
ibadah Ramadhan (Berpuasa di bulan Ramadhan). Karena itu, orang yang mengaku 
beragama Islam (mestinya juga beriman) tidak sepatutnya meninggalkan 
kewajiban ini, kecuali jika ada sesuatu yang bisa digolongkan sebagai uzur 
syar'i. Sebab, meninggalkan kewajiban berpuasa sama artinya telah melanggar 
ketentuan Tuhan.
Menafsirkan berpuasa agar orang bisa ikut merasakan penderitaan fuqoro wal 
masakin, tentu saja, boleh-boleh saja. Penafsiran ini memang tidak terlalu 
keliru. Namun, jika ini yang dipahami sebagai tujuan orang berpuasa -- tak 
dapat disangkal -- bisa saja orang yang memang kehidupannya sudah 
"Senin-Kemis" tidak perlu lagi berpuasa. Jika orang yang sudah terbiasa 
dengan hidup miskin (yang nota bene merupakan sebagian besar penduduk negeri 
ini). Apakah mereka masih perlu berpuasa? Toh, tanpa puasa pun mereka sudah 
terbiasa hidup kelaparan. Hidup dalam kekurangan.
Menyimak firman Allah di atas, sesungguhnya, yang mendapat perintah berpuasa 
adalah orang-orang yang beriman (miskin maupun kaya). Tujuan berpuasa adalah 
agar laalakum tattaqun - menjadi manusia yang bertakwa. Bukan agar merasakan 
laparnya orang miskin. Bagaimana pun juga, puasa menjadi bagian dari 
ketaatan manusia akan aturan-Nya. Bukankah manusia dan jin diciptakan-Nya 
tidak lain agar beribadah kepada-Nya - wamaa kholaqtul jinna wal insa ila 
liya'budun? (Q.S.51/Adz Dzariyaat: 56).
* * *


Entah lantaran penduduk di negeri ini mayoritas Muslim. Maka orang pun sudah 
merasa bangga dengan identitas ke-Islam-annya. Yang ditandai, misalnya, 
agama yang ditulis di KTP adalah Islam. Atau simbol-simbola lainnya . 
Bersorban, berjenggot, atau berjilbab. Sementara, itu, kelakuannya masih 
jauh dari yang dicontohkan dalam perilaku Rasulullah. Meskipun setiap bulan 
Ramadhan tiba, di mana-mana dipasang spanduk, 'Marhaban ya Ramadhan', 
'Hormatilah orang yang berpuasa', dan semacamnya. Tapi, bukan sekali dua 
kali penulis menjumpai perempuan berjilbab yang dengan seenaknya makan atau 
minum pada siang hari di mal atau di tempat umum lain.
Mungkinkah kita sudah merasa puas bila sudah bisa memasang spanduk semacam 
itu? Kita sudah merasa menyambut Ramadhan dengan hal-hal yang (sebetulnya) 
kurang perlu. Pada bulan Ramadhan seharusnya ibadah kita harus diusahakan 
untuk tidak dilakukan secara atraktif. Tak perlu digembar-gemborkan. 
Bukankah puasa merupakan ibadah sirri, artinya orang tidak perlu tahu apakah 
kita puasa atau tidak. Karena ibadah puasa itu merupakan pekerjaan ibadah 
untuk-Nya.
Di bulan Ramadhan masjid atau musholla mendadak ramai. Bukan hanya untuk 
kegiatan semacam pengajian, sholat taraweh, itikaf atau bertadarus Al Quran. 
Melainkan pula kegiatan bermalas-malasan (baca; tidur-tiduran). Biasanya hal 
ini dilakukan usai melaksanakan shalat Jumat. Kalau bukan pada bulan 
Ramadhan, usai pelaksanaan sholat Jumat masjid nyaris sepi. Tetapi, selama 
bulan Ramadhan berlangsung, usai sholat Jumat hingga menjelang Asar, masjid 
penuh orang. Mungkin lantaran tidur orang yang sedang berpuasa dinilai 
sebagai ibadah. Maka, jangan heran bila banyak orang yang 'beribadah' di 
masjid usai shalat Jumat.
Pada bulan Ramadhan, segala kebaikan akan dibalas dengan berlipat ganda. 
Sebagaimana firman-Nya yang tercantum dalam sebuah hadits Qudsi: "Satu 
kebajikan (dilipatgandakan) menjadi sepuluh dan akan Kutambah (lagi), dan ke 
satu kejahatan akan Aku hapuskan. Shaum itu untuk-Ku dan kepunyaan-Ku, dan 
aku sendiri yang akan membalasnya. Shaum itu penghalang dan perisai dari 
siksa Allah bagaikan tameng senjata dari serangan pedang."
Barangkali karena ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan mendapat nilai 
plus. Tak heran jika bulan Ramadhan banyak orang melakukan ibadah. 
Bertadarus, itikaf, banyak melakukan shalat sunah, dan sebagainya. Pada 
bulan suci ini menjadi saat penting untuk 'menabung' pahala. Karena amaliah 
manusia akan mendapatkan 'bonus' pahala. Sayangnya, mungkin karena merasa 
sudah punya banyak 'tabungan' pahala dan 'bonus' pahala. Arkian, usai 
Ramadhan orang pun kembali ke 'fitrah'. Padahal sebelas bulan kemudian tanpa 
terasa 'tabungan' dosa kita lebih banyak daripada 'tabungan' pahala. 
Akibatnya, kita tergolong ke dalam manusia yang bangkrut. Karena, neraca 
amaliah kita defisit.
* * *
Jika agama Islam dipahami hanya sebatas hablum minallah, dalam rangka ritual 
ubudiyah. Hanya sebatas ibadah mahdhah. Maka, jangan heran bila Rasulullah 
pernah bersabda yang artinya, "Banyak orang yang bershaum yang tidak 
mendapatkan bagian (pahala), hanyalah lapar belaka, dan banyak pula orang 
yang berjaga malam (untuk shalat dan zikir) yang tidak mendapatkan bagian 
(pahala) dari berjaganya itu kecuali hanyalah (kelelahan ) dari 
berjaga-jaganya itu saja."
Namun, yang lebih mengerikan lagi apabila kita termasuk ke dalam golongan 
pendusta agama. Sudah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ritual ubudiyah 
tetapi masih juga dinilai Tuhan sebagai pendusta agama. Karena hablum 
minallah kita tidak memberi dampak positif kepada manusia. Kita hanya 
bersibuk diri dengan (merasa) melakukan hablum minallah tanpa merasa perlu 
melakukan hablum minannas. Padahal tak ada satu pun kegiatan hablum 
minaallah yang terlepas dari hablum minannas.
Orang yang dinilai oleh Allah sebagai pendusta agama, adalah bukan mereka 
yang tidak melaksanakan ibadah mahdhah. Bukan tak pernah melakukan ritual 
iubudiyah semata-mata. Melainkan yang disebut pendusta agama adalah mereka 
yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, 
orang yang shalat tetapi lalai, dan yang senantiasa berbuat riya, serta 
enggan menolong (orang lain) dengan barang yang berguna. (Q.S: 107/Al maun : 
1 - 7).
Nah, yang menjadi masalah sekarang adalah sudah berapa puluh kali kita 
melakukan ibadah shaum di bulan Ramadhan? Sepanjang hidup kita? Namun, 
apakah puasa kita sudah memberikan dampak positif, teraplikasikan dalam 
kehidupan sehari-hari? Benarkah puasa yang kita lakukan tidak membuat kita 
tergolong dalam pendusta agama lantaran ketidakpedulian kita dalam terhadap 
kaum dhuafa? Sehingga istilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin 
tetap saja berlaku. Sudah puluhan kali berpuasa, tetapi tak juga sanggup 
menggugah hati kita untuk peduli terhadap kaum dhuafa. Kita berpuasa dengan 
berbuat riya (badan diloyo-loyokan, di kantor ngantuk, bermalas-malasan biar 
puasa kita 'disaksikan' orang lain). Dan, kita merasa puas bila berhasil 
meyakinkan orang lain bahwa kita sedang berpuasa.
Tak heran, setelah bulan Ramadhan berakhir, kegiatan 'menabung' dosa pun 
mulai kita lakukan lagi. Akibatnya, meskipun sudah melaksanakan puasa 
sebulan penuh. Ibadah ini tak membekas sama sekali. Kemiskinan tetap 
bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita.
Kita berharap mudah-mudahan ibadah puasa Ramadhan kali ini bisa menjadikan 
kita tidak tergolong dalam pendusta agama. Tidak membuat kita menjadi orang 
yang suka cedera janji. Sebab, paling tidak, sehari lima kali kita berikrar 
"Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin" - 
Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, 
Tuhan seru sekalian alam. Insya-Allah! ***
(Penulis adalah pekerja seni, aktivis Komunitas Sastra Indonesia). 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke