Kompas, 16.10.04

Pipit Rochijat Kartawidjaja: 
Pemilu 2004 Masih Pemilu "Mudah-mudahan" 

Usai sudah Pemilihan Umum 2004 yang diakui paling kompleks itu. Yang tersisa kini 
adalah keharusan
mengevaluasi pelaksanaan tiga kali pemilu itu. Salah satu aspek yang kerap luput 
adalah aspek teknis
pemilu. 

DARI sedikit orang yang tekun mencermatinya, muncul nama Pipit Rochijat Kartawidjaja, 
pendiri Watch
Indonesia di Berlin. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mulyana Wira Kusumah, 
mengakui, pria
Indonesia asli kelahiran Bandung, 30 Agustus 1949, yang sejak tahun 1971 sudah 
bermukim di Berlin
itu merupakan penulis buku paling produktif mengenai Pemilu 2004. Persoalan yang 
diangkat Pipit
senantiasa membawa pada pemahaman mendalam mengenai segi teoritik dan aspek 
teknikalitas pemilu.
Khusus tahun ini, sudah tiga kali Pipit berada di Indonesia untuk melihat dari dekat 
kehebohan
Pemilu 2004. Padahal, biasanya rata-rata hanya sekali setahun pria eksentrik ini 
pulang ke
Indonesia, menjenguk keluarga yang sebagian besar masih tinggal di Surabaya. Berikut 
petikan
perbincangan Kompas dengan Pipit yang sebagian besar dilakukan di Taman Ismail Marzuki 
(TIM) pada
penghujung September 2004 menjelang kembalinya Pipit ke Jerman.

Apa yang Anda lihat dari pelaksanaan Pemilu 2004 ini?

Pemilu hanya merupakan salah satu bagian sistem ketatanegaraan republik yang 
demokratis dan mengacu
hukum. Sayangnya, banyak elemen teknis pemilu yang masih perlu diperbaiki. Yang dulu 
tidak terpikir,
sekarang jadi masalah. Mungkin dulu banyak yang tertidur waktu undang-undang (UU) 
dibahas.

Apa kelemahan teknis yang Anda temukan itu?

Banyak, mulai masalah alokasi kursi DPR, penetapan caleg, cara pencoblosan, kampanye, 
sampai
organisasi penyelenggara pemilu. Peran KPU (pusat) unik, terlalu dominan, bisa membuat 
semua
peraturan dan petunjuk teknis. Penetapan daerah pemilihan gabungan juga membawa 
masalah. Pada daerah
pemilihan yang bukan merupakan hasil penggabungan, konflik internal partai politik 
(parpol) bisa
ditekan. Tetapi, penggabungan itu malah memancing konflik internal parpol. Uang bisa 
pegang peranan.
Kalau kondisinya begitu, kita boleh khawatir karena caleg yang kelak terpilih tentu 
pertama kali
mencari cara balik modal. Sistem keparpolan kita bisa terus terpuruk. Yang kelihatan 
sekali
bermasalah adalah soal alokasi kursi DPR. Itu persoalan tersulit di dunia. Kita ini 
suka
mengotak-atik angka, parpol pun sering ngalap berkah dari otak-atik angka. Problem 
kalkulus pemilu
itu kan tidak jauh beda dengan hitungannya orang yang meramal nasib. Tetapi, begitu 
masuk ke
hitungan pemilu, kita kacau.

Alokasi kursi yang bermasalah teknis menjadi kelemahan mencolok undang-undang pemilu?

Soal alokasi kursi, kita malah diajari melanggar aturan main yang kita buat. 
Pelanggaran dibikin
enteng, KPU dipaksa main akal-akalan, sementara yang membuat UU lempar batu sembunyi 
tangan.
Akibatnya, jatah kursi Sumatera Utara, Lampung, dan Sumatera Selatan "dicuri" dengan 
memberi
legitimasi istilah kursi yang bisa digerak-gerakkan, mirip iklan toko obat kuat saja.

Perbaikan lain yang Anda pikirkan?

Pemilu setahun tiga kali itu kan gila. Padahal, kita kan macam-macam milihnya. Tidak 
harus dirombak
total memang, tetapi perbaikan elemen teknisnya harus. Ketika tingkat partisipasi 
turun, orang masih
bisa bilang kita tetap lebih tinggi daripada Amerika Serikat. Padahal, itu hanya di 
tingkat
nasional, tingkat daerah lebih tinggi. Itu harus dilihat juga dong, justru daerahnya 
lebih penting.
Kalau dipisah, rakyat dipicu untuk tetap dalam posisinya sebagai penagih janji. Kalau 
lokal dipisah,
masyarakat bisa lebih tahu apa kebutuhannya. Dengan digabung, caleg daerah kan bisa 
memanipulasi,
hanya numpang caleg pusat saja. (John) Kerry (calon presiden Amerika Serikat dari 
Partai Demokrat)
saja berkeliling ke mana-mana, sementara kita pada ke mana?

Langkahnya....

Kita harus membuat UU pemilu sekarang untuk lima tahun ke depan. Alokasi kursi dengan 
kuota pasti
bermasalah, jumlahnya pasti membengkak. Kalau UU siap lebih cepat, caleg punya 
kesempatan panjang
untuk menawarkan jualannya. Para begawan pemilu mancanegara bilang, sistem pemilu 
jangan
digonta-ganti dulu, harus diteliti dengan sabar.

Di Jerman, untuk sampai pada kesimpulan sistem pemilu memenuhi harapan atau tidak, 
perdebatannya
sejak tahun 1949 sampai tahun 1965. Yang jelas, pencoblosan itu merupakan ekspresi 
kontan rakyat
terhadap peserta pemilu.

Kita ini mau membangun parpol, tetapi kalau masyarakat terus emoh sama parpol sebagai 
penyambung
lidah rakyat itu, bagaimana nasib demokrasi? Demokrasi hanya berfungsi dengan 
kehadiran organisasi
sebagai wakil kepentingan kolektif. Di sini politik kayak sesuatu yang "di luar sana". 
Padahal, kita
negara republik yang mengaku demokratis, bukan negara feodal. Pemilu 2004 itu baru 
awal setelah kita
mendapatkan konstitusi baru hasil amendemen. Pemilu kemarin kan penuh dengan 
"mudah-mudahan".
Mudah-mudahan dapat caleg bagus, dapat presiden bagus. Ya kita lihat saja nanti.

Pemilu presiden-wakil presiden juga termasuk pemilu "mudah-mudahan"?

Sekarang ini sebenarnya ujian terhadap pemilu baru dimulai. Sejak pencalonan, koalisi 
yang
membingungkan dalam pemilu presiden memperkuat kecenderungan "penghancuran" parpol. 
Bisa-bisanya
Partai Demokrat bergandengan dengan Golkar, terus Golkar dengan sebagian PKB, PDI-P 
dengan sebagian
PKB juga. Golkar didemo mahasiswa, dicela Gus Dur yang saktinya kayak apa, tetapi 
tetap tegar. Baru
sekarang ini parpol kocar-kacir. Golkar rusak, kemudian PDI-P.

SETIAP kali pulang ke Indonesia, sebagai selingan, Pipit selalu menyempatkan diri 
mencari segala
terbitan yang berbau misteri dan supranatural. Prinsipnya: semakin aneh-aneh, semakin 
menimbulkan
pertanyaan, justru semakin menarik sebagai hiburan. Dari bacaan jenis ini, Pipit pun 
tahu bahwa
Susilo Bambang Yudhoyono kalau dirunut-runut merupakan keturunan Ki Ageng Buwono 
Keling, putra Raden
Brawijaya, Majapahit. "Entah bener atau tidak, itu yang ditulis di sini. Mungkin saja 
banyak yang
percaya," kata Pipit sembari menunjukkan sebuah tabloid terbitan akhir September. "Ini 
yang di
Jerman sana tidak ada. Di sini, ada-ada saja," kata Pipit dengan tawa berderai.

Masuk ke Jerman Barat tahun 1971, setahun berikutnya Pipit kuliah di jurusan 
elektronika pada
Technische Universitaet Berlin. Sepanjang di Jerman, Pipit aktif di organisasi 
Perhimpunan Pelajar
Indonesia (PPI). Meskipun jauh di seberang, kritik keras terhadap perpolitikan 
Indonesia tidak
surut. Bagi sebagian petinggi, beragam tulisan Pipit dalam bahasa satire selalu 
dianggap dibarengi
maksud meledek. Buahnya, tahun 1987 paspornya sempat dicabut dan baru dikembalikan 
Pemerintah
Indonesia sebelas tahun kemudian. Pipit yang tetap warga negara Indonesia itu menikah 
dengan Reni
Patria Isa, orang Indonesia yang kini warga Jerman. Pasangan ini dikarunia putri 
tunggal, Indrawati
(21 tahun). Sejak Mei 1992 hingga kini, Pipit merupakan staf Lembaga Negara untuk 
Pengadaan Pasar
dan Struktur Kerja (Andesagentur fuer Struktur und Arbeit) pada Kementerian untuk 
Tenaga Kerja,
Sosial, Wanita, dan Kesehatan (Ministrium fuer Arbeit, Soziales, Gesundheit und 
Frauen) Negara
Bagian Bradenburg. "Sebelum Jerman bersatu, saya pelayan restoran," cerita Pipit.

Bagaimana Anda melihat konstruksi pemerintahan Yudhoyono yang tidak mendapat dukungan 
mayoritas DPR?

Rakyat yang mendukung Yudhoyono bisa jadi musuh kalau janji waktu kampanye tidak 
terpenuhi. Janji
menghapus pengangguran pasti akan mendapat reaksi pasar. Jangan dikira begitu presiden 
naik, rakyat
langsung jadi makmur. Yudhoyono dipilih oleh sekitar 60 persen pemilih yang 
menggunakan hak
pilihnya.

Peta di parlemen nanti?

Koalisi parpol kecil-kecil itu akan berhadapan dengan Koalisi Kebangsaan yang menjadi 
mayoritas. Ini
seperti presiden di Brasil setelah rezim militer lengser, presidennya dari parpol 
kelas menengah.
Padahal, jangan lupa, eksekutif itu juga tergantung pada legislatif. DPR yang mau 
lengser tetapi
ngebut menyelesaikan undang-undang, itu juga salah satu cara membebani pemerintahan 
Yudhoyono nanti.
Itu cara Koalisi Kebangsaan mengganjal pemerintahan baru. Nantinya, blokade kubu 
mayoritas parlemen
bisa terjadi kalau mereka menolak bulat-bulat kemauan eksekutif. Bisa juga dengan 
membolos sehingga
sidang parlemen tidak kuorum.

Tidak ada celah?

Yudhoyono bisa akal-akalan menggunakan peluang mengeluarkan peraturan pemerintah 
pengganti UU
(perpu). Memang kemudian harus disetujui DPR, tetapi apa jadinya jika DPR diberondong 
perpu? Alasan
keadaan memaksa kan bisa-bisanya saja. Sekarang bikin, besok masuk ke DPR. Kalau tidak 
disetujui,
ubah sedikit dan dikembalikan lagi ke DPR. Kalau terus diberondong, bisa teler juga, 
tidak sempat
diapa-apakan di DPR. Belum selesai satu, sudah dikasih yang lain.

Sepuluh tahun memerintah, (Presiden Argentina) Menem mengirim 545 dekrit ke parlemen 
dan 267 yang
diakui parlemen. Di Brasil juga seperti itu. Sepanjang 1988-1995, Presiden Brasil 
mengeluarkan 1.249
dekrit dan 862-nya yang itu-itu juga.

Ada kiat agar pemerintahan mendatang bisa terus berjalan efektif?

Kalau mau semua janjinya terlaksana, koalisi harus dibentuk sejak awal agar Yudhoyono 
tidak diganggu
parlemen. Presiden harus pintar-pintar melakukan kooptasi parlemen. Bisa saja beberapa 
orang dari
Koalisi Kebangsaan direkrut jadi menteri sehingga mereka tidak bersatu-padu lagi. Cara 
lain yang
paling gampang mencegah parlemen mogok ya dengan main sogok. Mogok sogok!

Jika ada rancangan UU yang direstui sebelum lengser, katanya sogokannya bisa sampai Rp 
19 miliar.
Lebih gampang cara ini karena anggota DPR kan sudah habis-habisan ketika masih menjadi 
caleg. Atau
kalau Yudhoyono pintar, setujui saja penambahan kursi DPR jadi 700 atau 1.000 kursi 
sekalian.
Semakin besar anggota, kinerjanya semakin buruk. Semakin banyak anggota DPR, semakin 
sulit mereka
mengambil keputusan. Parlemen ribut sendiri. (Sidik Pramono) 

-- 

***********************************************************************
Watch Indonesia! e.V.                   Tel./Fax +49-30-698 179 38 
Planufer 92 d                           e-mail: [EMAIL PROTECTED] 
10967 Berlin                            http://home.snafu.de/watchin    

Bitte beachten Sie unsere neue Bankverbindung.

Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10)
IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF

Bitte unterst�tzen Sie unsere Arbeit durch eine Spende.
Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinn�tzig und besonders 
f�rderungsw�rdig anerkannt.
***********************************************************************


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke