SURAT KEMBANG KEMUNING:
"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [1]. Subuh jam 05:00 pagi, tanggal 8 Oktober 2004, sebuah "mesin eksplosif" telah diledakkan di KBRI Paris. Esoknya pada jam 14:00 "Hari Sastra Indonesia" Pertama dilangsungkan di gedung l'Institut N�erlandais yang terletak di 121 rue de Lille, 75007 Paris. Dua lambang berhadap-hadapan di hari yang sama seakan menunjukkan bahwa keduanya dalam kehidupan umat manusia selalu bertarung, kalah atau mengalahkan. Bahwa usaha memanusiawikan manusia, masyarakat dan kehidupan akan selalu berhadapan dengan tindak anti kemanusiaan. Seperti dikatakan oleh Lynda Plem, sosiolog dan filosof muda Perancis: "Usaha memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat akan selalu berhadapan dengan tindakan anti kemanusiaan sehingga pekerjaan tersebut merupakan usaha utama manusia yang tidak gampang dan sangat kompleks" [Lihat: Wawancara Lynda Plem dengan Philippe Lefait, wartawan budaya tivi Perancis France2, 01:50]. Dua simbol: Karena ledakan bom adalah lambang dari tindak kriminal anti kemanusiaan, sedangkan sastra, secara hakekat merupakan usaha memanusiawikan manusia, masyarakat dan kehidupan. Tapi pencegahan usaha ini pun dialami langsung di dunia sastra itu sendiri, melalui sensor dan pelarangan-pelarangan oleh pemerintah di berbagai negeri. Sensor dan pelarangan yang anti hakekatnya anti kemanusiaan inilah justru yang menjadi tema utama "Hari Sastra Indonesia" pertama di Paris. Tema yang mempunyai arti universal. Sesuai dengan makna dua lambang tersebut maka "Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia Pasar Malam" telah memilih tema "L'Ecrivain enggag� et son editeur: un m�tier de tous le danger" [Sastrawan berpihak dan penerbitnya: suatu pekerjaan menantang bahaya". Sesuai dengan tema ini maka "Pasar Malam" mengundang secara khusus Joesoef Isak penerbit karya-karya Pramoedya A.Toer dan alternatif lainnya dari Indonesia atas dukungan Kedubes Perancis di Jakarta, mengundang sastrawan-sastrawan terkemuka Belanda yang ada kaitannya dengan Indonesia,penerbit-penerbit terkemuka di Paris seperti Gallimard dan Actes Sud. Sejarawan Hobsbawn, sastrawan terkemuka Inggris John Le Carr�e, editor terkemuka Perancis Bertrand Py, demikian pula para sastrawan Belanda yang berhalangan datang, secara khusus mengirimkan ucapan selamat dan penghargaaan pada kegiatan yang diselenggarakan oleh "Pasar Malam" ini. Sehingga jika ada yang mengkritik kegiatan "Hari Sastra Indonesia" di Paris ini sebagai "besar pasak daripada tiang", "kebesaran nama" karena diri pengkritik tidak diundang dan sejumlah sastrawan eksil Indonesia di Belanda, Jerman, Swedia, Tiongkok dan tempat-tempat lain tidak diundang, barangkali kritik -- sekalipun kritik diperlukan -- begini terlalu lancang diucapkan. Lancang karena berangkat dari ketidaktahuan tapi menagih perhatian. Ucapan beginipun selain melecehkan penyelenggara [Pasar Malam, cq. Johanna Lederrer , ketua Pasar Malam] juga melecehkan Kedubes Perancis di Indonesia, Kedubes Belanda di Paris, para penerbit terkemuka Perancis, para Indonesianis serta pengarang-pengarang dari berbagai negeri yang menghadirinya dan memberikan ucapan selamat. Lebih konyol lagi jika pengkritik mengatakan bahwa penyelenggara kegiatan ini telah menjual tempat melebihi kapasitas gedung. Bahwa yang hadir berjubel bahkan banyak yang berdiri, hal ini dimungkinkan karena toleransi "Pasar Malam" sebagai penyelenggara kegiatan sekaligus sebagai penghargaan terhadap perhatian publik Perancis. Hal begini sudah mereka hitung dari segi konsumsi. Dari awal hingga akhir kegiatan, ruangan tidak menampakkan adanya tempat-tempat kosong. Kesempatan ini sekaligus digunakan oleh berbagai pihak untuk melakukan lobbie bagi kegiatan-kegiatan berikutnya di bidang sastra Indonesia. Yang disayangkan, kegiatan ini tidak mendapat tanggapan sedikitpun dari pihak KBRI Paris, tidak juga dari Atase Kebudayaan. Padahal "Hari Sastra Indonesia" sangat berkaitan dengan tugas diplomasi Atase Kebudayaan. Kalau pun tidak hadir, apa gerangan salahnya dan handikap politik apa untuk menyampaikan sepatah dua terhadap kegiatan budaya yang baru pertama kali diselenggarakan di Perancis dan merupakan bidang pekerjaan dari Atase Kebudayaan? Pendapat beginilah yang aku dengar dari banyak peserta dari berbagai negeri terhadap absennya dan tidak adanya sambutan dari KBRI. Apa gerangan fungsi Atase Kebudayaan RI di luar negeri jika tidak tanggap terhadap kegiatan-kegiatan yang relatif ilmiah, tanpa motif politik apapun dan bahkan menguntungkan Indonesia begini? Kritik begini aku sampaikan kepada KBRI Paris, karena aku mencintai Indonesia dan merasa tetap Indonesia serta menginginkan adanya politik diplomasi baru yang benar-benar republiken, bebas dari segala penjara pola pikir dan mentalitas kadaluswarsa yang tidak manusiawi. Pada masa jabatannya, SBY-Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden demi nilai-nilai Republiken dan nilai-nilai keindonesiaan, selayaknya memperhatikan soal kejelasan politik diplomasi ini. Republik Indonesia [RI] bukan hanya milik pemegang kekuasaan politik dan seluruh eselonnya. RI adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Tanpa rakyat Indonesia, RI, SBY-Kalla, apalagi KBRI di mana pun tidak mempunyai arti apa-apa. Sangat sederhana untuk memahami bahwa KBRI mewakili negara dan bangsa, lebih utama dari itu, mewakili nilai-nilai republiken. Membelakangi nilai-nilai seperti yang telah dibuktikan oleh KBRI Orba, hanya membuatnya sebagai sasaran tudingan dunia internasional dan menjadi terisolasi. Mudah-mudahan tulisan ini sampai ke hadapan SBY-Kalla yang aku pahami menghadapi tantangan jabatan yang sangat tidak ringan. JJ.KUSNI -------- Koresponden Majalah Medium Jakarta, Untuk Paris, Perancis. [Bersambung...] Catatan: Joesoef Isak dan Ibrahim Isa bersama pengarang Belanda dan dua penterjemah dalam Hari Sastra Indonesia Pertama di Paris, 9 Oktober 2004.[Dokumen JJK]. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

