SURAT KEMBANG KEMUNING:

"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [2].


Apakah tema "L'Ecrivain  enggag� et son editeur: un m�tier de tous le danger" 
[Sastrawan berpihak dan penerbitnya: suatu pekerjaan menantang segala bahaya"] sebagai 
persoalan pokok "Hari Sastra", masih relevan dengan keadaan Indonesia sekarang? 
Demikian dipertanyakan oleh para Indonesianis asing setelah acara dibuka oleh Dorien 
Kouijzer, penanggungjawab l'Institut N�erlandais sambil mengundang seluruh hadirin 
untuk selanjutnya ikut-serta dalam kegiatan-kegiatan 'Institut. Pertanyaan ini dijawab 
oleh Ibrahim Isa dan Joesoef Isak: "sangat relevan". Joesoef Isak mengingatkan bahwa 
buku-buku Pram sekalipun sekarang beredar leluasa di tokobuku-tokobuku, tapi secara 
resmi larangan pemerintah Orba terhadap karya-karya Pram dan teman-temannya, sampai 
sekarang masih saja belum dicabut. Sedangkan Ibrahim Isa menunjuk kepada kasus Bambang 
Harimurti dari Majalah Tempo yang dijatuhi hukuman satu tahun penjara.Menurut catatan 
John  H.McGlynn dari Yayasan Lontar, Jakarta, selama Orba hampir 2.000 judul buku 
telah dikenakan pelarangan [Lihat:John McGlynn, "Shapes of Censorship During The New 
Order", makalah yang diedarkan di Hari Sastra, Paris, 9 Oktober 2004].


McGlynn membedakan dua macam sensor yaitu dari pemegang kekuasaan politik yang 
disebutnya sensor vertikal dan sensor horisontal. McGlynn mengambil sebagai contoh 
sensor vertikal:Dekrit No. 1381 dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 
pada Nopember 1965 yang melarang semua buku yang ditulis oleh mereka yang tergabung 
dalam PKI dan organisasi-organisasi yang dekat dengan PKI.Sedang sensor horisontal 
adalah sensor yang dilakukan oleh pihak-pihak di luar kekuasaan politik tapi atas nama 
"ketertiban umum atau pembela kepercayaan umum" melakukan tindakan pemberangusan 
sendiri. Pelarangan "Langit Makin Mendung" pada tahun 1971 karya Kipanjikusmin yang 
disiarkan oleh majalah Sastra, telah diangkat sebagai contoh sensor horisontal oleh 
McGlynn. Barangkali "Sweeping buku-buku kiri" pada awal tahun 2000an, dan misteri 
dibalik penerbitan Memoire Dr.Soebandrio tentang Tragedi Nasional September 1965 bisa  
dikategorikan kedalam sensor horisontal. Tentu saja demo dan tuntutan minta maaf serta 
ganti rugi terhadap Harian Kompas setelah memberitakan kekejaman FIS [Front Islamique 
de Salut, Front Islam Untuk Penyelamatan] Aljazair, yang dengan tenang menggorok 
batang leher orang-orang yang tidak disukai, aku kira termasuk kategori sensor 
horisontal pula. Hal yang mirip juga dialami oleh Harian Kompas setelah menerbitkan 
cerita pendek [cerpen] "Segulung Cerita Tua", dengan tokoh utama seorang penganut 
agama Hindu. Tidak lama setelah cerpen tersebut disiarkan, tanpa penjelasan, tiba-tiba 
Harian Kompas mengumumkan supaya menganggap cerpen tersebut tidak pernah disiarkan. 


Kategori sensor lain berupa sensor diri [autocensure]. Pramoedya memandang budaya 
"tepo seliro" merupakan perwujudan dari sensor diri penulis [Lihat: Pramoedya A.Toer, 
"Litt�rature, Censure et Etat:Dans Quelle Mesure Un Roman Est-il Dangereux?", Jakarta 
4 septembre A995. Artikel yang diedarkan di Hari Sastra]. Oleh adanya sensor diri ini 
maka penulis membatasi diri dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Sensor diri 
begini sampai-sampai dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa l'Ecole des Hautes Etudes en 
Sciences Sociales [leHESS, Paris] bimingan Denys Lombard, ketika menulis tesis mereka.


Kategori yang terletak di antara sensor vertikal dan horisontal adalah pembakaran 
patung "Perahu" karya Tisna Sanjaya oleh pihak militer di Bandung [Lihat:Harian 
Pikiran Rakyat, Bandung, 22 Februari 2004 ]. Aku katakan berada "di antara" karena ia 
diambil oleh penguasa lokal [cq. Kodam Siliwangi] dan bukan pemerintah pusat.


Tentu saja contoh-contoh untuk ketiga jenis sensor tersebut bisa dideretkan lebih 
panjang lagi, tapi agaknya semua contoh  hanya memperlihatkan bahwa masalah 
pemberangusan masih merupakan masalah aktual di negeri kita.


Bisakah sastra-seni berkembang subur di tengah suasana penuh ancaman kekangan dan 
pemberangusan bahkan teror fisik terhadap para sastrawan-seniman? Pertanyaan aktual 
inilah yang diangkat oleh Asosiasi Pasar Malam Paris dalam "Hari Sastra" Pertama, 9 
Oktober lalu. 


Mengapa sastra dikaitkan dengan penerbit? Sastra dan penerbit sangat erat 
kaitannya.Boleh dikatakan penerbit merupakan nadi kehidupan sastra tulis.Sastra tulis 
tidak bisa dibayangkan jika tanpa penerbit. Ketika berhadapan dengan ancaman sensor 
dan teror fisik demikian, maka Asosiasi Pasar Malam melihat pekerjaan sastrawan dan 
penerbitan merupakan pekerjaan yang menentang segala bahaya. Masih adanya ancaman 
sensor terhadap kehidupan sastra-seni mempertonkan kepada dunia wajah demokrasi di 
Indonesia sampai detik ini sampai-sampai Duta Besar Amerika Serikat (AS), [sekalipun 
bukan pahlawan HAM--JJK], untuk Indonesia, Ralph L.Boyce, Senin (11/10) mengatakan, 
Indonesia belum cukup memadai dalam melakukan penegakan hak asasi manusianya (HAM) 
sebagai prasyarat pemulihan kembali hubungan militer dengan Amerika Serikat 
(AS).pemerintah AS, yang juga bukan pahlawan Hak Asasi, turut mengkritik keadaan HAM 
di negeri kita [Lihat:Harian Suara Pembaruan, Jakarta,12 Oktober 2004]. Organisasi 
kemanusiaan seperti Amnesty Internasional [AI] pun tidak ketinggalan menyampaikan 
kritiknya terhadap pemerintah Indonesia. Dikatakan oleh AI: ""tentara menyiksa dan 
membunuh di luar prosedur hukum para pengacau keamanan di Provinsi Aceh" [Lihat: 
Harian Suara Pembaruan, Jakarta, 12 Oktober 2004].


Dengan mengangkat tema sentral  "L'Ecrivain  enggag� et son editeur: un m�tier de tous 
le danger" [Sastrawan berpihak dan penerbitnya: suatu pekerjaan menantang segala 
bahaya"], Asosiasi Pasar Malam melalui "Hari Sastra" Pertama ini telah mengangkat 
masalah hakiki dan universal dalam kehidupan sastra-seni.


Dalam situasi penuh bahaya begini, bagaimana mengembangkan sastra-seni? Joesoef Isak 
dan Penerbit Hasta Mitra melalui forum "Hari Sastra" Pertama ini telah menjawab 
permasalahan ini dengan tegas dan jelas, sedangkan Pram dalam makalah yang disebarkan 
oleh Asosiasi"Pasar Malam"   menjelaskan apa yang patut dilakukan oleh para sastrawan 
sebagai sastrawan.


JJ.KUSNI
--------
Koresponden Majalah Medium Jakarta, untuk Paris, Perancis. 

[Bersambung...]


Catatan:
Ibrahim Isa bersama bersama seorang penananggungjawab l'Institut N�erlandais, Paris , 
penggiat Asosiasi Pasar Malam di Hari Sastra Indonesia Pertama di Paris, 9 Oktober 
2004, saat sidang  jeda sejenak .[Dokumen JJK].



































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke