Wahhhh, gimana kalau nyanyi lagu dizaman perjuangan tahun 45an dulu: "Sepasang mata bola"?
Rama Bargawa Swandana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: --- In [EMAIL PROTECTED], "Pabrisal" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Wah anda ketinggalan kereta. Lagu kebangsaan SBY bukan lagi Garuda Pancasila, tetapi udah diganti menjadi "Pelangi Di matamu". > saya berharap Pak SBY tidak henti - hentinya mengumandangkan lagu kebangsaan dan Panca sila kita selam 5 tahun mendatang, jiak perlu seluruh anggata kabinetnya disaku baju harus selalu ada lagu kebangsaan dan pancasila. > dengan demikian alam bawah sadar pemikiran para pemimpin kita akan terbentuk cinta tanah air dan rakyatnya dan selalu bertindak sesuai dengan Pancasila kita, sehingga dapat dipastikan akan selalu ingat kepada tuhan yang maha esa. > > Majulah Negriku, Majulah bangsaku... > sesungguhnya kita pernah jaya diwaktu yang silam > jangan biarkan negri kita tertinggal > jangan biarkan rakyat kita tertinggal > jadilah negri yang sangat luar biasa > jadilah rakyat yang sangat luar biasa > kita pasti bisa, bisa mencapai kesuksesan tersebut. > > > > > wasaalam > > -----Original Message----- > From: Danardono HADINOTO [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, September 27, 2004 5:41 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [ppiindia] Mochtar Pabottingi: Kalau SBY Macam-macam, Saya > Hantam! > > > Memang, mas Satrio, issue central kini adalah pemberantasan KKN. Bukan saja di Indonesia, negara2 yang baru bangkit ex Uni Sovyet semua kejangkitan penyakit KKN, parah sekali. Akibatnya timbul pembrontakan, tak kunjung habis. > > Juga di Amerika selatan. Pembrontakan jadi gerakan abadi. Tak ada negara AL yang bebas pembrontakan. Tetapi pimpinan negara tetap adem ayem berkorupsi ria. > > Memajukan ekonomi (terutama secara makro) dengan sekaligus mengembang biakkan KKN tidaklah sulit, ini terjadi dizaman orba, tetapi in the long run, ini tak membawa manfaat, bahkan merugikan perkembangan. > > Salam > > RM D Hadinoto > > > > Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Koran Tempo, 26 September 2004 > Mochtar Pabottingi: > "Kalau SBY Macam-macam, Juga Saya Hantam" > > Hampir pasti, merujuk hasil sementara perhitungan > suara pemilihan presiden, pasangan Susilo Bambang > Yudhoyono-Jusuf Kalla akan tampil menjadi orang > pertama dan kedua di republik ini untuk lima tahun > ke depan. Artinya, tak lama lagi, Indonesia akan > mempunyai pemimpin baru. Tentu tugas mereka tidak > ringan. Banyak soal mesti diselesaikan, termasuk > memenuhi janji-janji yang sudah ditebar. > > Kemenangan pasangan Yudhoyono-Kalla, dalam pengamatan > pengamat politik dari LIPI Mochtar Pabottingi, > sesuatu yang sangat menarik. "Kita bersyukur rakyat > memilih dengan cerdas," kata Mochtar dalam > sebuah wawancara dengan Mustafa Ismail, Diah Ayu > Candraningrum, dan Edy Can dari Tempo di rumahnya > di Jakarta Timur, Jumat (24/9). Berikut petikannya. > > Bagaimana Anda melihat kemenangan SBY-Kalla? > > > Sangat menarik, menurut saya. Kita bersyukur rakyat > memilih dengan cerdas. Lalu, karena cerdas > itulah maka yang salah dihukum. PDIP telah dihukum > sebelumnya pada pemilu legislatif. Sedangkan > Megawati dihukum pada pilihan presiden kedua ini, dan > itu memang pantas dia terima, karena dia tidak > melaksanakan agenda kabinet Gotong-royong. Bukan hanya > tidak dilaksanakan, bahkan dalam banyak hal > dikhianati. > > Misalnya? > > Misalnya pemberantasan KKN. Malah KKN berlipat ganda > selama pemerintahan Megawati. Padahal, dulu, > saya mendukung Megawati bertahun-tahun. Saya membela > Megawati sejak 1992 sampai 2001. Itu dengan > risiko karier saya sendiri. > > Apa yang mendorong Anda membela Megawati pada waktu > itu? > > Saya melihat bahwa Megawati antitesis dari Soeharto, > dari Orde Baru. Kita juga berharap seseorang > yang anaknya Bung Karno kira-kira akan membela rakyat. > Kenyataannya kan tidak demikian. > > Masyarakat memilih SBY karena sadar akan perubahan > atau karena SBY ganteng? > > Semua faktor itu, saya kira. Karena dia simpatik, > charming dan memang ada pancaran watak yang > benar-benar baik dari dirinya. Tetapi saya kira juga > karena orang kecewa pada Megawati, misalnya > dengan adanya penggusuran di malam Lebaran. Itu kan > tidak benar dan itu menyakitkan, > > lo. Apalagi dikerjakan oleh orang yang dipilih > rakyat sendiri, yang didukung rakyat karena > dianggap mampu mengemban suara mereka. > > Dalam perebutan menuju kursi kekuasaan Mega didukung > Koalisi Kebangsaan yang terdiri dari partai > besar, dan ternyata gagal.... > > Orang tahu mereka partai-partai terkorup, ya Golkar, > PDIP. Jadi, susah untuk menarik simpati > rakyat. Kita tahu betul Golkar banyak sekali > malingnya. Mereka juga tidak solid. Banyak gejolak di > dalamnya. Koalisi itu juga bagi-bagi jabatan dan uang. > Itu berbeda koalisi SBY dengan PKS. Ini > terhormat. Sepanjang saya tahu, PKS tidak minta > jabatan. Mereka cuma mengajukan prinsip-prinsip > untuk disetujui, seperti penegakan hukum, pemerintah > yang bersih, dan lain-lain. SBY setuju. Itulah > prinsip-prinsip yang baik. Masyarakat membaca itu. > > Basis Partai Demokrat di DPR kecil, apakah itu tidak > akan merepotkan pemerintahan SBY kelak? > > Walaupun basis SBY di DPR itu kecil, tetapi tidak > masalah. Karena yang besar-besar, > kredibilitasnya sungguh terpuruk. Partai politik besar > tidak punya kredibilitas dan rakyat pun sudah > tidak simpati lagi terhadap mereka. Lembaga DPR dan > DPRD sendiri sudah menjadi sorotan masyarakat > yang luar biasa. Di mata masyarakat, apa ini, kok kita > dirampok saja terus-menerus oleh mereka. > Dirampok soal anggaran, dirampok soal anggaran > pembangunan, macam-macamlah, uang kedeudeh. > > Artinya, jika DPR selalu mencereweti kerja eksekutif, > akhirnya mereka akan berhadapan dengan rakyat? > > Kalau kita hitung rakyat, siapa yang memberi mandat > kepada SBY, maka DPR tidak bisa sembarangan. > DPR harus tahu diri. Kalau tidak tahu diri, DPR akan > menjadi sasaran masyarakat. Kalau dia mau > macam-macam atau menghalang-halang (kebijakan SBY) dan > sebagainya, DPR harus mempunyai argumen yang > kuat. Bukan argumen yang dicari-cari. Sepanjang > SBY-Jusuf Kalla itu bisa tetap memegang amanah > rakyat dan tidak mengkhianatinya, maka selama itu ia > akan selalu kuat berhadapan dengan DPR. > > Apakah mungkin kasus Gus Dur jatuh dulu bisa terulang > pada SBY-Kalla ini? > > Susah. Pertama SBY bukan Abdurrahman Wahid. Kalau > Abdurrahman Wahid berkata pagi begini, siang > lain, malam lain lagi. Sebenarnya Abdurrahman Wahid > menjatuhkan dirinya sendiri. Orang sudah neg > pada waktu itu. Pakai sandal. Bukan berarti > desaklarisasi yang dia lakukan, tetapi karikatural. > Banyak hal-hal menurut saya kurang pas. Kalau SBY > tidak begitu. Dan juga sekarang, Undang-Undang > Dasar tidak seperti dulu, sudah berubah, tidak boleh > sembarangan, tidak boleh gampang mengganti. > > * * * > > Mochtar lahir Bulukumba, Sulawesi Selatan, sekitar > sebulan sebelum proklamasi Indonesia merdeka, > tepatnya pada 17 Juli 1945. Ia sempat kuliah di > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas > Hasanuddin, 1963-1964. Namun, ia tidak betah dan > pindah ke Jurusan Bahasa Inggris di universitas > yang sama dan berhasil memperoleh gelar sarjana muda. > > * * * > Di mana titik kritis pemerintah SBY? > > Saya kira lebih pada bisa tidak menangani > utang-utang jatuh tempo, misalnya, juga bidang energi, > subsidi minyak, bidang pengangguran----pengangguran > yang banyak sekali itu. > > Penyelesaian konflik? > > Itu juga masalah. Tetapi itu bukan hanya tugas SBY. > Karena sejak dulu, itu tugas kita bersama > untuk menyelesaikan. > > Ada yang menilai dalam sejumlah hal, ia terlalu > hati-hati sehingga terkesan lamban? > > Mungkin. Tetapi dia tidak lamban. Apalagi kan ia > berpasangan dengan Jusuf Kalla. Jusuf Kalla itu > penerobos. Dengan kombinasi itu, saya kira bagus. > > SBY kan seorang militer, apakah ini tidak menjadi > ancaman bagi demokrasi? > > Ada tiga hal yang bisa menjawab mengapa hal itu > dikatakan sulit terjadi. Pertama, kredibilitas TNI > sudah terpuruk. Kalau dia memegang lagi kendali, dia > harus kredibel. Bahwa orang memang merindukan > keamanan, itu memang iya. Tetapi TNI masih nggak > kredibel. Kedua, masyarakat kita sudah lain dengan > di era Orde Baru. Sekarang, masyarakat kita berani > mempertaruhkan apa saja. Seperti kasus Tempo, > banyak kan yang memperjuangkan kemenangan dan bebasnya > Tempo. > > Ketiga, UUD kita sudah lain. Dan DPR, kalau saya > bayangkan ke depan, dengan orang PKS yang masuk > ke situ, meskipun kecil jumlahnya, ada unsur-unsur > anggota parlemen yang menempatkan diri dan > berperilaku 180 derajat dibandingkan apa yang selama > ini dilakukan Golkar dan lain-lain. Mereka > (orang PKS) tidak menerima amplop, mereka berani > menolak (hal-hal yang tidak layak diterima). Di > samping itu, Golkar, PDIP, PPP itu amburadul ke dalam, > karena mereka memang berpolitik tidak > prinsipil. Mereka berpolitik dengan uang saja. > > Tetapi bagaimana pun minoritas bisa dikalahkan oleh > mayoritas? > > Bisa dikalahkan kalau argumennya bagus. Kalau > argumennya asal menang-menangan saja, dengan > konyol-konyolan, dia akan berhadapan dengan rakyat. > > * * * > Dari Makassar, ia hijrah ke Yogya dan melanjutkan > studi bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada > dan menjadi sarjana pada 1973. Gelar MA diperoleh pada > Department of Sociology, University of > Massachusetts Amherst, 1980-1982. Gelar Ph.D. diraih > dari Department of Political Science University > of Hawaii at Manoa, 1989. > > * * * > Golput diperkirakan mencapai 20 persen--cukup besar. > Bukankah itu bisa menjadi ganjalan legitimasi > bagi SBY? > > Saya kira bukan menolak. Tidak menerima barangkali, > namun tidak menolak. Mereka (orang golput) itu > mengatakan, saya tidak mau, karena saya tidak percaya > dua-duanya. Beda sama tidak mendukung sama > menolak. Ini pun golput sekarang diperkirakan sekitar > tujuh persen. > > Tapi ada perkiraan bisa 20 persen? > > Ya mungkin. Tapi yang tidak masuk suara itu bukan > berarti golput. Kadang-kadang karena hanya malas > saja, tidak terlalu serius. Saya tidak terlalu melihat > (golput signifikan). > > Jadi, apa yang penting diperhatikan SBY? > > Yang sangat penting diperhatikan SBY adalah tetap > setia memegang amanah rakyat. Jangan sampai > mengkhianati, seperti dilakukan Megawati. Misalnya dia > (Megawati) membela wong cilik, tapi wong > cilik selama tiga tahun diinjak-injak terus. Itu yang > harus dipegang. Yang harus dicatat betul-betul > oleh SBY-Jusuf Kalla adalah apa yang membuat rakyat > banyak itu memilih dia. Apa harapan-harapannya. > Bertahanlah selalu pada harapan-harapan itu, selalu > setia pada itu. > > Masalahnya, apakah rakyat punya kesempatan mengontrol > mereka? > > Rakyat secara umum kesempatannya hanya lima tahun > sekali. Tapi ada segelintir orang, rakyat juga, > entah itu LSM, mahasiswa, intelektual, mungkin ada > dari kalangan pemerintah juga, yang akan > mengkritik. Meskipun saya mendukung kuat (SBY), tapi > kalau macam-macam, saya hantam keras itu. Yang > penting, pers dan masyarakat harus bahu-membahu > mengawasi pemerintah. Karena itu modal kita. > > Kalau dorongan-dorongan lewat mahasiswa, LSM, dan > sebagainya kan tidak terlalu kuat? > > Kalau maksudnya untuk menjatuhkan langsung, memang > susah. Dan kita juga tidak ingin itu terjadi. > Memang pilihannya lima tahun sekali. > > Oh ya, mengapa Anda mendukung SBY? > > Dibandingkan dengan calon-calon lain, dia bagus kok. > Dari awal saya dukung itu. Terakhir, dua > bulan terakhir sebelum ini, di mana-mana saya bicara, > pilih ini, bagus itu. > > Anda tidak masuk dalam tim SBY? > > Nggak, dan tidak ingin masuk dalam tim---(saya > mendukung secara) personal. > > Bagaimana dengan intelektual yang langsung masuk ke > tim capres itu. Padahal, mereka kan tempat > masyarakat merujuk, kalau intelektual memihak, > masyarakat kehilangan rujukan? > > Ya nggak. Kalau selalu ada yang bisa dijadikan > rujukan. Tidak semuanya kan (yang masuk ke tim > itu). Dan masyarakat jangan manja juga dong, mereka > bisa berpikir sendiri. Jadi saya nggak terlalu > khawatir (intelektual masuk ke dalam tim sukses). Di > mana-mana begitu kok. > > Apakah ini tidak terkesan menggadaikan > intelektualitas? > > Saya tidak melihat begitu. Saya tidak melihat > negatif. Menurut saya, (mereka bergabung dalam tim > capres) itu bagus. Tim itu kan butuh orang-orang > pintar. Kan bagus malah hasilnya. Mutu jadinya. > Coba kalau preman-preman masuk ke situ? Repot kita > kan. Kalau saya sih positif saja melihatnya. Saya > tidak melihat itu salah. > > Mengapa Anda sendiri tidak menjadi tim sukses? > > Saya alergi terhadap itu. Saya tetap pertahankan > kredibilitas saya dan kemurnian penilaian saya. > Saya selalu berusaha untuk bersuara secara bebas, saya > ingin suara saya tidak ada embel-embelnya. > > Bagaimana nasib Koalisi Kebangsaan itu? Katanya akan > menjadi kekuatan penyeimbang. Seberapa kuat > mereka? > > Sama sekali tidak kuat. Tetapi yang paling mendasar > bagi saya, kalau ingin bicara kasar: koalisi > di antara maling itu susah. Koalisi koruptor itu > susah. Dan kita tahu betul Golkar banyak sekali > korupnya. PDIP juga begitu. Koalisi orang-orang korup > itu susah sekali, karena dia cuma tahu uang. > Tidak menghormati prinsip-prinsip. Itu pada dasarnya > koalisi yang lemah. Lain halnya koalisi antara > Partai Demokrat dan PKS, itu lebih kuat. Meskipun di > Partai Demokrat ternyata sudah bolong-bolong, > terbukti dengan soal pemilihan ketua DPRD DKI. Tapi > meskipun Partai Demokrat bolong-bolong, PKS > tetap setia. Jadi, koalisi kebangsaan sendiri menurut > saya sama sekali tidak solid. Buktinya kemarin > sudah kalah. Mereka tidak bertahan lama. > > Jadi, partai-partai besar itu nanti akan hancur? > > PDIP dan Golkar pasti akan timbul gelombang > internal. Ada Munas yang nanti akan ramai sekali. PKS > mungkin yang akan besar. Karena disiplin mereka > tinggi. Mereka juga berpola prinsipil dan logika. > Itu bisa menarik hati banyak orang. PAN juga > sebenarnya masih bisa. Untuk PDIP, akan susah tanpa > Mega, bahkan lebih susah daripada Golkar, karena > banyak kader Mega yang datang dari kalangan > minoritas. > > * * * > Selain dikenal sebagai pengamat politik, Mochtar juga > dianggap sebagai penyair. Sejak 1971, ia telah > aktif menulis puisi di sejumlah majalah sastra dan > budaya seperti Basis dan Horison. Kumpulan puisi > itu kini telah dibukukan dan diberi judul Dalam Rimba > Bayang-bayang (2003). Menulis puisi baginya > sebagai upaya untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak > kanan. > > Aktivitas membuat puisi ini memang sempat tersendat > ketika ia harus menyelesaikan kuliah S-2 dan > doktoral di luar negeri. Ia harus menyelesaikan kuliah > dengan beasiswa dari Fulbright-Hayes, East > West Center dan Ford Foundation itu tepat waktu. "Saya > banyak membaca buku. Membaca membutuhkan > waktu yang banyak," kata peneliti senior LIPI ini. > > * * * > Anda juga dikenal sebagai penyair. Bagaimana perbedaan > puisi dan politik? > > Politik: kita diajar untuk berpikir dengan > menggunakan nalar. Sedangkan puisi: kita diajarkan > untuk menjelajah dan meloncat serta mengembangkan > imajinasi, apakah itu dengan kenangan, sesuatu > yang ingin dicapai, dan sebagainya. Sastra perlu > politik, sedangkan politik perlu imajinasi. > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > --------------------------------- > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

