http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=173710&kat_id=16
Republika Senin, 27 September 2004 Terorisme Sebagai Kritik Diri Abd A`la Pengamat Sosial-Politik Setiap terjadi aksi terorisme, kutukan terhadap tindakan itu pasti bermunculan dari mana-mana. Namun tidak lama kemudian, aksi serupa sering berulang kembali. Demikian pula, perang terhadap kejahatan kemanusiaan itu telah dinyatakan oleh berbagai kelompok dan lembaga di seluruh dunia, tapi kehidupan dari saat ke saat terus dibayang-bayangi oleh kekerasan teroristik dan semacamnya. Kenyataan tragis itu menunjukkan bahwa penyelesaian terhadap terorisme sejauh ini belum sepenuhnya mampu menguak akar-akar yang menyebabkan terjadinya aksi kekerasan itu. Penanganan yang selama ini dikedepankan lebih menitikberatkan kepada pola yang lebih bersifat reaktif dibandingkan dengan penyelesaian yang sistematis dan pola pandang yang holistik. Sebagai sebuah kebiadaban, kita tentu memiliki kewajiban moral untuk mengutuk perbuatan anarkis yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan universal dan ajaran agama substansial itu. Namun kutukan saja tentu tidak cukup. Bahkan genderang perang yang ditabuh saat ini untuk melawan terorisme juga tidak memadai. Lebih dari itu, kita memerlukan sebuah refleksi diri. Aksi terorisme yang terjadi beruntun itu perlu dijadikan kritik diri terhadap cara penyelesaian terorisme secara khusus dan paradigma atau tatanan kehidupan yang kita anut secara umum. Konkretnya, kita dituntut untuk menyikapi aksi kejahatan kemanusiaan ini secara holistik, dan pola pandang yang lebih adil dan objektif. Menyudutkan fundamentalisme agama Pandangan dominan yang berkembang dewasa ini sering menyudutkan kaum fundamentalis sebagai pelaku aksi terorisme dan kejahatan lain sejenis. Hal ini pada gilirannya mengantarkan kita kepada sikap yang cenderung apriori dengan melakukan simplifikasi persoalan bahwa pelaku di balik itu adalah pasti kaum fundamentalis agama tertentu. Pandangan demikian memang tidak seluruhnya salah, tapi juga tidak seluruhnya benar. Secara kasuistik memang harus diakui, banyak pelaku yang melakukan tindak kekerasan itu dimotivasi semacam "semangat keagamaan". Hal itu terjadi bersamaan dengan penciptaan agama sebagai ideologi yang dikembangkan untuk melawan kelompok lain yang dianggap memiliki ideologi yang bertentangan dengan ideologi yang dianutnya. Dalam dunia modern, pengembangan agama sebagai ideologi muncul bersamaan dengan dampak-dampak negatif yang dibawa kultur modernitas. Armstrong melalui The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity, and Islam (2000) menjelaskan dengan telak bahwa selain memberikan kemudahan, memperluas cakrawala, dan "memberdayakan" umat manusia, kultur modern juga sering menekan harga diri umat manusia. Pada saat yang sama, pandangan manusia yang serba rasional yang menjadikan diri mereka sebagai tolok ukur segalanya dan telah membebaskan mereka dari ketergantungan kepada Tuhan mengantarkan mereka ke dalam kerentanan moral, serta kelemahan martabat diri mereka. Dalam kondisi seperti itu, akal (modernitas) terkadang (bahkan sering) menjadi demonik dan melakukan kejahatan sebesar atau bahkan lebih besar dari kejahatan yang dilakukan kaum fundamentalis. Keangkuhan sebagian negara Barat dan sepak terjang mereka yang sering melanggar hak asasi manusia di Dunia Kedua dan Dunia Ketiga tanpa sedikit pun merasa bersalah merupakan salah satu bukti konkret dari kejahatan para pembela kultur modernitas itu. Menyikapi hal itu, kelompok-kelompok dari berbagai macam-macam agama -- Yahudi, Kristen, dan Islam -- yang merasa terancam dengan realitas kemodernan yang mengitari mereka terjebak ke dalam sikap keberagamaan parsial dan mengukuhkan diri sebagai kaum fundamentalis yang ekstrem. Sama dengan kaum modernis yang hanya berpegang kepada rasionalitas semata, kaum fundamentalis ini meletakkan teologi yang mereka anut di atas landasan-landasan rasio sehingga iman menjadi sepenuhnya rasional yang tercerabut dari akar-akar moralitasnya yang perennial. Akibatnya moralitas agama yang sangat menekankan kepada rahmat, kasih sayang, solidaritas sosial, dan sejenisnya mengalami pemudaran, berganti menjadi eksklusivisme yang menekankan klaim kebenaran sepihak, serta menegasikan kebenaran kelompok lain, atau menganggap sesat kelompok yang berbeda dengan kelompok sendiri. Untuk mengembangkan kebenaran itu dan melawan kesesatan, mereka tidak jarang menggunakan cara-cara yang sarat dengan kekerasan, termasuk tindakan teror. Gerakan ekstremisme ini senyatanya nyaris terdapat pada semua agama yang saat ini hidup di dunia modern. Sebagai secuil contoh, dalam agama Yahudi terdapat kelompok Ortodoks yang dipimpin Gordon yang menekankan perlawanan terhadap modernitas. Untuk itu, kelompok ini harus "bekerja keras" dalam kehidupan dunia, di mana tempatnya hanyalah Palestina. Daerah itu dalam anggapan mereka hanya milik kaum Yahudi, dan kaum atau komunitas lain tidak boleh menduduki tempat itu. Dalam dunia Kristiani, hal seperti itu dapat dilihat dari khotbah Dwight Moody dari kelompok Konservatif yang menyatakan bahwa Kristus akan datang dengan pakaian berlumuran darah dan akan menumpahkan darah umat manusia. Sejarah Islam juga mengenal adanya kelompok-kelompok radikal semacam itu. Terorisme sebagai peringatan Apa yang disampaikan Thornton -- seperti diangkat Azra dalam Pergolakan Politik Islam (1996) -- mengenai macam-macam terorisme sangat relevan untuk diangkat kembali. Ia membagi terorisme ke dalam dua kategori; pertama, inforcement terror yang dilakukan penguasa (atau negara) untuk menindas ancaman terhadap kekuasaan mereka (atau dan melakukan hegemoni kekuasaan); dan kedua, agitatorial terror yang dimunculkan kelompok tertentu dengan tujuan mengganggu suatu tatanan politik yang ada, dan atau menguasai tatanan tersebut. Meskipun pelakunya berbeda, dan polanya tidak sama, kedua bentuk teror tersebut -- terorisme resmi dan tidak resmi itu -- memiliki dampak yang nyaris serupa, terjadinya ancaman ketakutan dalam kehidupan masyarakat luas dan jatuhnya korban dalam beragam bentuknya. Berdasarkan tipologi teror itu, ada kecenderungan di kalangan masyarakat, lembaga, atau negara untuk mereduksi pemahaman aksi terorisme hanya dalam bentuknya yang bersifat agitatorial teror, dan melupakan model terorisme yang lain. Padahal jika kita mau jujur, banyak penguasa di dunia yang melakukan tindak kekerasan terhadap rakyatnya yang dilihat dari sudut mana pun sejatinya merupakan aksi terorisme. Demikian pula ada beberapa negara Barat yang kebijakan politik luar negerinya sering menistakan dan membuat derita masyarakat-masyarakat lain yang sepenuhnnya berada dalam bingkai tindakan teroristik. Model-model terorisme ini sering terlewati dari pengamatan kita; atau bahkan sebagian kita menganggapnya sebagai sesuatu yang legal. Merebaknya terorisme yang dilakukan kelompok tertentu di masyarakat seharusnya dijadikan kritik diri, atau -- meminjam ungkapan Arsmtrong (2000) -- sebagai peringatan terhadap pola pandang kita yang tidak adil dalam menyikapi terorisme. Jika kita ingin menghentikan aksi semacam itu, kita seharusnya mengutuk bukan kepada pelaku terorisme tidak resmi, tapi juga kepada penguasa dan negara yang melakukan tindakan serupa. Kita perlu memahami bahwa salah satu pemicu munculnya terorisme yang tidak resmi -- sampai batas tertentu -- diakibatkan oleh kebijakan penguasa dan negara yang masih jauh dari rasa keadilan yang hakiki. Terkait dengan itu, penghentian terorisme meniscayakan kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk merekonstruksi tatanan global dan nasional yang lebih mencerminkan keadilan bagi semua. Dari sini perlu dikembangkan suatu dialog yang lebih terbuka antar sesama umat manusia, dan antara rakyat dan penguasa, serta antara satu negara dengan negara lain yang diletakkan di atas kesetaraan dan keadilan. Lebih dari itu, agama sudah saatnya dilepaskan dari nuansa politisasi dan dikembalikan kepada visinya yang transformatif sebagai nilai-nilai moral yang harus dijadikan dasar dalam penciptaan kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

