Siapa Pun Presidennya, Rakyat Tetap Menderita?!
Publikasi 29/09/2004

hayatulislam.net - Meski banyak kalangan menumpahkan harapan baru pada presiden baru 
terpilih nanti, tampaknya siapapun presidennya tidak akan mudah mengurangi �apalagi 
menghapuskan� berbagai penderitaan rakyat. Bahkan, boleh jadi, ke depan rakyat akan 
semakin menderita. Perubahan baru akan dapat terjadi apabila bukan hanya orang yang 
berubah melainkan juga perubahan system secular yang selama ini justru melahirkan 
penderitaan rakyat tersebut. Sejumlah fakta berikut mendukung asumsi di atas:

1. Pengangguran yang makin mengkhawatirkan.

Berdasarkan estimasi pengamat ekonomi Lin Che Wei, pada tahun 2005, jika pertumbuhan 
ekonomi mencapai lima persen, akan tercipta 1,80 juta lapangan pekerjaan baru; dengan 
angkatan kerja baru 2,16 juta orang maka jumlah pengangguran terbuka mencapai 11,19 
juta orang. Tahun 2006, jika pertumbuhan ekonomi mencapai 5,5 persen, akan tercipta 
1,70 juta lapangan pekerjaan baru; dengan angkatan kerja baru 2,18 juta orang maka 
jumlah pengangguran terbuka mencapai 11,63 juta orang. Tahun 2007, jika pertumbuhan 
ekonomi diperkirakan mencapai 5,9 persen, akan tercipta 1,90 juta lapangan pekerjaan 
baru; dengan angkatan kerja baru mencapai 2,21 juta orang maka jumlah pengangguran 
terbuka mencapai 11,90 juta orang. Tahun 2008, jika pertumbuhan ekonomi diperkirakan 
mencapai 6,4 persen, akan tercipta 2,20 juta lapangan pekerjaan baru; dengan angkatan 
kerja baru mencapai 2,23 juta orang maka jumlah pengangguran terbuka mencapai 11,98 
juta orang (MI, 7/6/2004).

Angka pengangguran di atas belum termasuk setengah pengangguran yang menurut ekonom 
INDEF Iman Sugema, jumlahnya 30,2 juta orang. Dia mengatakan, kondisi tingginya 
tingkat penangguran makin diperparah dengan adanya ancaman pemutusan hubungan kerja 
(PHK) pada sektor usaha strategis, masalah TKI ilegal, dan ancaman relokasi usaha. Hal 
tersebut terjadi karena selama ini pemerintah kurang serius dalam menangani masalah 
pengangguran (MI, 7/9/2004).

2. Pendidikan yang makin mahal.

Menguatnya liberalisasi ekonomi dan krisis multidimensi memberikan legitimasi bagi 
pemerintah untuk melakukan privatisasi pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan yang 
seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah kemudian diserahkan kepada pihak swasta. 
Akibatnya, pendidikan menjadi barang mewah dan sulit dijangkau oleh mereka yang 
berkantong tipis. Saat ini, biaya pendidikan untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) 
saja mulai dari Rp 45 juta hingga 1 miliar menjadi faktanya. Privatisasi pendidikan 
dapat dilihat dari seberapa besar anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah. 
Bila dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, tingkat privatisasi pendidikan di 
Indonesia merupakan yang tertinggi (PR, 26/7/2004).

3. Penggusuran yang tak pernah berhenti.

Penggusuran terus terjadi. Dari berbagai lokasi penggusuran di Jakarta dan kota-kota 
besar lainnya, puluhan ribu orang tiba-tiba menjadi terlantar. Sebagian besar dari 
mereka tak mungkin pergi ke mana-mana. Di desa asalnya mereka juga tak punya apa-apa. 
Di kota pun selama ini mereka hidup di sektor informal dengan kemampuan ekonomi yang 
marjinal. Kalaupun ada tawaran pemindahan ke lokasi lain, sering hal itu tidak 
memberikan akses ekonomi yang mudah. Akhirnya, mereka akan kembali menempati kolong 
jembatan, bantaran sungai, dan lahan-lahan kosong lainnya, yang dekat dengan lokasi 
tempat mereka bisa mengais sesuap nasi.

Dalam kondisi yang tidak ada solusi ini, akan mudah bagi mereka terseret ke dunia 
kriminal. Anak-anak akan lebih aktif lagi untuk mengemis atau menjadi copet kelas 
teri. Para wanita akan lebih mudah tergiur menjadi pelacur kelas kambing, tanpa peduli 
lagi dengan RUU KUHP yang akan mengancam aktivitas itu. Para lelaki dewasa akan 
mencoba bertahan hidup dengan premanisme. 

4. Privatisasi BUMN (Penjualan aset neagara) makin merajalela.

Privatisasi yang terjadi dalam kurun hinghga 2004 ini sebenarnya merupakan perpindahan 
kepemilikan dari Indonesia kepada pihak asing, khususnya Negara besar. Di antaranya 
adalah dibolehkannya swasta asing membangun pembangkit listrik dan ikut menangani 
distribusinya. Kasus terakhir adalah penjualan Indosat ke tangan Singapura, padahal 
perusahaan tersebut sedang sehat dan memberikan keuntungan terbesar. 

Dengan adanya privatisasi seperti itu maka kebutuhan-kebutuhan vital dan strategis 
Indonesia dikuasai oleh pihak asing. Apalagi dengan dikuasainya Indosat oleh Singapura 
yang selama ini menjadi corong AS dengan memojokkan Indonesia, maka satelit Palapa 
berikut berbagai informasi dan komunikasi ada pada genggamannya. Padahal, dalam era 
modern sekarang ini kedua hal tersebut merupakan �leher� suatu negara. Belum lagi 
keinginan untuk memiliki satelit dewasa ini hanya dimungkinkan bagi negara-negara 
kuat. Konsekuensinya, Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini 
kehilangan salah satu kekuatannya, dan kian berada di bawah cengkeraman asing. 
Dampaknya bukan hanya akan dirasakan rakyat Indonesia semata, namun juga secara tidak 
langsung dirasakan oleh negeri Muslim yang lain.

Privatisasi menimbulkan sejumlah bahaya antara lain: (1) Tersentralisasinya aset pada 
segelintir individu atau perusahaan besar; (2) Menjerumuskan negeri-negeri Islam ke 
dalam cengkeraman imperialisme ekonomi; (3) Menambah pengangguran akibat PHK dan 
memperbanyak kemiskinan akibat pengurangan gaji pegawai; (4) Negara akan kehilangan 
sumber-sumber pendapatannya; (5) Membebani konsumen dengan harga-harga yang melambung 
akibat pajak tinggi atas perusahaan terprivatisasi; (6) Menghambur-hamburkan kekayaan 
negara pada sektor non-produktif; (7) Menghalangi rakyat untuk memanfaatkan aset 
kepemilikan umum; (8) Privatisasi media massa akan memberi peluang masuknya serangan 
pemikiran kapitalis atas kaum Muslim.

5. Air yang semakin sulit didapat.

Dalam UU SDA yang belum lama ini disahkan tampak nuansa dominan yang ada di dalamnya 
adalah menjadikan air �baik sungai, danau, air tanah maupun hujan� sebagai komoditi 
pasar dan pengelolaannya membuka peluang besar kepada swasta (privatisasi).

Sidang-sidang dalam KTT Bumi di Johannesburg, Afrika Selatan, yang berkaitan dengan 
sumberdaya air bersih ditengarai telah menjadi sasaran korporasi-korporasi 
internasional. Bank Dunia memainkan peran itu sebagai katalisator pembukaan kran 
privatisasi air. Caranya adalah melalui program water resources sector adjustment loan 
(Watsal).

Kelak, air akan dikuasai oleh swasta. Padahal, realitas menunjukkan di beberapa negara 
seperti Yordania, masalah air menimbulkan konflik antarmasyarakat. Bukankah konflik 
seperti ini yang selama ini dicampuri oleh pihak asing?

6. Harga BBM yang terus merangkak naik.

Sejak tahun 2001 BBM terus naik disesuaikan. Alasan klasik yang diungkapkan pemerintah 
dalam menaikkan harga BBM, termasuk juga tarif dasar listrik (TDL), adalah untuk 
mengurangi subsidi pemerintah terhadap BBM, TDL, serta mengurangi defisit anggaran 
belanja negara (APBN).

Alasan pemerintah tahun yang lalu untuk menaikan harga BBM adalah APBN bisa tersedot 
Rp 150 triliun pada tahun 2004, dua kali lipat dari sebelumnya, bila BBM tidak naik. 
DPR yang dipandang sebagai penjelmaan rakyat, melalui ketuanya Akbar Tanjung, 
menegaskan bahwa apabila pemerintah tidak mampu mencegah aksi spekulan maka pemerintah 
harus menaikkan harga BBM. Pemerintah dan DPR saling mendukung untuk menaikkan terus 
harga BBM.

Sekarang harga BBM dunia melonjak hingga mencapai US$50 perbarel. Namun, karena sedang 
dalam situasi pemilihan presiden, pemerintah hanya menaikkan BBM bagi industri. Nanti, 
setelah terpilihnya pemerintahan baru, persoalan pertama yang akan dihadapinya adalah 
persoalan kenaikan BBM. Peluang besar, harga BBM nanti akan dinaikkan lagi.

Padahal, di tengah-tengah krisis ekonomi yang menghimpit masyarakat saat ini, 
menaikkan harga BBM adalah tindakan yang sangat sewenang-wenang, zalim, dan tidak 
mempedulikan kesulitan yang diderita masyarakat. Padahal, bukankah keberadaan 
pemerintah dan penguasa dimanapun adalah untuk mengatur dan memelihara urusan rakyat?

7. Tarif listrik yang makin mencekik.

Tarif Dasar Listrik (TDL) naik terus secara rutin sesuai dengan keputusan pemerintah. 
Pemerintah mengajukan berbagai alasan untuk terus menaikkan tarif dasar listrik mulai 
Oktober 2003. Akan tetapi, seperti juga banyak disebutkan para pengamat, sebabnya 
adalah karena PLN akan �dijual�. Pembeli atau investor akan senang kalau harga listrik 
sudah mahal sehingga peluang pengembalian modal akan cepat dan mereka tidak mau 
menanggung beban menaikkan harga listrik. Berdasarkan dokumen yang ada, pemerintah 
akan melaksanakan privatisasi terhadap PLN selambat-lambatnya pada tahun 2007, dengan 
proses pemecahan perusahaan yang direncanakan dimulai pada September 2003. Suara untuk 
privatisasi (�menjual�) PLN pun semakin nyaring terdengar.

8. Pertambangan di hutan lindung yang didukung undang-undang.

Pemerintah menetapkan undang-undang yang membolehkan melakukan penambangan di hutan 
lindung yang sebenarnya pada tahun 1999 era pemerintahan Habibie dilarang. Ada 22 
perusahaan yang diizinkan untuk melakukan penambangan (emas dll.) di hutan lindung. 
Mayoritas adalah perusahaan asing. Di antaranya adalah PT Weda Bay (90.020 hektare) di 
hutan Gunung Mirarong-Gunung Tabobo, Maluku Utara; PT Nusa Halmahera (398.600 hektare) 
di hutan Bukit Gauraja-Bukit Saolat, Halmahera Tengah, Maluku; PT Gag Nikel (13.140 
hektare) di Pulau Gag, Sorong; PT Citra Palu Mineral (233.280 hektare) di Sulawesi 
Tengah dan Sulawesi Selatan; PT Galuh Cempaka (3.920 hektare) di Kalimantan Selatan; 
PT Jorong Barutama Greston (14.720 hektare) di Papua; PT Barisan Tropical Mining 
(12.160 hektare) di Sumatera Selatan.

Melalui izin tambang di daerah hutan lindung ini berarti penguasa lebih berpihak 
kepada pengusaha daripada kepentingan rakyat banyak. Padahal, hutan lindung sangat 
berpengaruh terhadap masyarakat. Lebih dari itu, hutan adalah milik rakyat, bukan 
milik penguasa.

Itulah beberapa persoalan �di samping masih adanya segudang persoalan lain� yang 
mendera bangsa ini. Korbannya siapa lagi kalau bukan mayoritas rakyat yang selama ini 
disodori janji-janji manis oleh calon-calon wakil rakyat serta calon-calon penguasa 
dan pejabat pada setiap Pemilu lima tahunan. Faktanya, janji tinggal janji, yang 
terjadi, rakyat tak henti-henti gigit jari, karena terus dibohongi. Akankah hal ini 
dibiarkan terus berlangsung?

Wahai kaum Muslim,

Semua ini terjadi karena sistem yang diterapkan adalah sistem sekularisme-kapitalisme 
dan orang-orang yang menjalankannya tidak lagi peduli kepada urusan rakyatnya. Bila 
persoalan tersebut terus berlanjut maka kezaliman yang dilakukan sebagian orang akan 
berakibat bagi semua orang. Tidak ada kata lain kecuali rakyat harus berani bicara, 
lalu menentang berbagai kezaliman yang dilakukan. Tanpa dakwah dan tanpa amar makruf 
nahi mungkar dari rakyat terhadap penguasa maka hal-hal yang menyakitkan rakyat akan 
terus terjadi.

Lebih dari itu, hanya sistem Islam (syariat Islam) dan orang-orang yang amanahlah yang 
akan dapat mengubah persoalan menyakitkan tersebut menjadi keadilan bagi semua. Kita 
tidak boleh berdiam diri membiarkan berbagai kezaliman dan kemaksiatan terjadi atas 
diri kita. 

Karena itu, marilah kita semua �baik penguasa maupun rakyat� segera mematuhi perintah 
Allah SWT dengan segera menerapkan hukum-hukum-Nya yang akan menjamin kebahagiaan kita 
di dunia dan akhirat. Marilah kita segera menyambut firman-Nya: 

Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak 
kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak 
(pula) dapat mengingkari (dosa-dosa kalian). (Qs asy-Syura [42]: 47). [Buletin 
Al-Islam, Edisi 224] 
Posted by: Redaksi on 29, Sep 04 | 6:20 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/



Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke