betul, menurut data kabar-kabari
di amrik nggak ada pabrik tekstil, adanya pabrik pesawat, mobil dan
kawan-kawannya.
tapi mobil bisa pake produk japan atau india (bajaj), atau
Kancil...pesawat pake CN-235...hehehhe


On Tue, 28 Sep 2004, amartien wrote:

> 
> 
> "belajar pakai sarung ah, biar bebas dari Jeans".
> 
> Jangan gitu dong.  Pakai jeans jl. cipaganti di bandung kan boleh. Yang nggak ya itu 
> lho buatan levis, gap, dll. meskipun mereka bikin produknya ada yg di bikin di 
> indonesia juga.
> 
> 
> 
> 
>  --- On Tue 09/28, mBah Soeloyo < [EMAIL PROTECTED] > wrote:
> From: mBah Soeloyo [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Tue, 28 Sep 2004 06:58:04 -0000
> Subject: [ppiindia] Re: FW: Presiden SBY dan tantangan Hegemoni Amerika (1)
> 
> waah.... belum siap mutusin hubungan segalanya<br>dengan Amrik....<br>Nanti pedagang 
> baso, bala-bala, bakwan malang,<br>mie... sampai Bogasari dengan gandum segitiga 
> biru<br>dan roda terbangnya dari mana dapat bahannya, Mas?<br><br>Masih jauuuuh.... 
> selama negara-negara lain juga<br>tergantung "pangannya" dari Paman 
> Sam...;-).<br><br>soel<br>----------------<br>(belajar pakai sarung ah, biar bebas 
> dari Jeans)<br><br><br>--- In [EMAIL PROTECTED], Danardono HADINOTO <br><[EMAIL 
> PROTECTED]> wrote:<br>> Dulu bung Karno sangat anti AS, kok ya digusur  dan 
> dipecundang <br>sampai mati ngenes dengan dukungan umat Islam, kaum nasionalis 
> <br>dibantai, masuk pulau Buru. Umat Islam, terutama kekuatan <br>fundamentalis 
> lama, seperti Masyumi dengan sorak sorai mengusung pak <br>Harto ke singgasana, yang 
> membuka politik pro AS.<br>>  <br>> Gimana kalau RI putuskan hubungan diplomatik 
> dengan AS, Uni Europa <br>dan semua negara2 kulit putih? Kita nyanyi "Indonesia 
> raya, merdeka, <br>merdeka, hiduplah dst". <br>>  <br>> Gimana mas Tampubolon?<br>>  
> <br>> <br>> <br>> Mohammad-Riyadi Tampubolon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:<br>> <br>> 
> "Presiden SBY dan tantangan Hegemoni Amerika (1)"<br>> <br>> RI dengan Muslim 190 
> juta akan terus dalam pengawalan AS. Seperti <br>negeri<br>> muslim lain, RI akan 
> dipaksa menerapkan `viktimisasi Islam'. <br>Bagaimana SBY<br>> menghadapi hal ini? 
> Baca CAP ke-71 Adian Husaini, MA<br>> <br>> Menyusul kemenangan Susilo Bambang 
> Yudhoyono (SBY) dalam pemilihan<br>> Presiden Indonesia secara langsung pada 20 
> September 2004, banyak <br>kalangan<br>> di Barat yang menyambut gembira. Koran 
> Berita Harian yang terbit di <br>Kuala<br>> Lumpur, 23 September 2004, menulis satu 
> judul berita: Australia <br>raikan<br>> kemenangan `rakan Barat'. <br>> <br>> 
> Ditulis dalam berita ini, bahwa koran-koran yang terbit di Australia<br>> menyambut 
> gembira kemenangan SBY atas Megawati dan menyebut SBY <br>sebagai<br>> `rakan 
> Barat'. Harian The Australian edisi 22 September 2004, <br>menyebutkan,<br>> bahwa 
> SBY
> 
>  adalah rakan (kawan) Barat, musuh terorisme, dan seorang<br>> demokrat yang 
> konsisten. Kemenangan SBY, tulis koran ini, merupakan<br>> kekalahan kaum ekstrimis 
> agama, yang melihat demokrasi sebagai<br>> bertentangan dengan Islam. <br>> <br>> 
> Bagaimanakah menyikapi berita-berita semacam ini di media massa <br>Barat?<br>> 
> Sejak bergulirnya proses pemilihan Presiden secara langsung, cerita-<br>cerita<br>> 
> dan isu tentang hubungan SBY dengan Barat dan kalangan Kristen sudah<br>> bertiup 
> kencang. Sampai-sampai istrinya, yang bernama Kristiani, <br>juga<br>> sempat 
> diisukan sebagai seorang pemeluk Kristen. Ketua Partai <br>Demokrat<br>> kebetulan 
> juga seorang pemeluk Kristen. Banyak SMS beredar yang<br>> menyebutkan, bahwa SBY 
> pernah menyatakan, "AS adalah tanah air saya <br>yang<br>> kedua". Juga beredar SMS 
> tentang sejumlah dana yang diterima SBY <br>dari AS. <br>> <br>> Banyak lagi 
> berita-berita lainnya seputar masalah itu, yang intinya<br>> memberikan gambaran 
> seolah-olah SBY adalah antek AS, yang kalau <br>menjadi<br>> Presiden Indonesia, 
> maka ia akan menjalankan agenda-agenda AS, <br>terutama<br>> dalam masalah ekonomi, 
> politik, dan terorisme internasional. <br>> <br>> Kebenaran cerita-cerita seputar 
> hubungan dan sikap SBY terhadap <br>Barat dan<br>> AS masih perlu dibuktikan dan 
> diklarifikasi. Kaum Muslim Indonesia <br>tidak<br>> perlu tergesa-gesa menvonis. 
> Masih ada waktu untuk menilai dan <br>menunggu,<br>> bagaimana sikap dan kebijakan 
> SBY dalam melakukan hubungan dengan <br>Barat,<br>> khususnya AS. Satu hal yang 
> patut dihargai adalah keberanian SBY <br>yang<br>> secara tegas menyatakan tidak 
> akan membuka hubungan diplomatik <br>dengan<br>> Israel. Lebih penting dari itu, 
> para ulama dan cendekiawan, <br>seyogyanya<br>> menjalankan fungsinya sebagai ulama 
> dan cendekiawan, untuk terus<br>> memberikan nasehat, saran, amar ma'ruf dan nahi 
> munkar kepada <br>pemerintah<br>> baru. <br>> <br>> Dialog dan komunikasi juga perlu 
> dibangun dengan baik. Para ulama <br>dan<br>> cendekiawan juga perlu senantiasa 
> bersikap
> 
>  k
>  ritis dan hati-hati <br>dalam<br>> menerima dan menyebarkan informasi, sehingga 
> dapat dengan tepat<br>> menyampaikan al-haq kepada pemerintah. Bukankah menyampaikan 
> <br>kalimah yang<br>> haq kepada penguasa merupakan jihad yang sangat mulia? <br>> 
> <br>> Dalam konteks politik global saat ini, di bawah cengkeraman super 
> <br>power<br>> tunggal, yang memiliki kekuatan besar untuk menjungkir-balikkan 
> <br>situasi<br>> politik dan ekonomi suatu negara, maka tidaklah mudah bagi 
> satu<br>> pemerintahan untuk menerapkan kebijakan dan sikap politik yang 
> <br>mandiri,<br>> tanpa mengindahkan kebijakan politik AS dan sekutu-sekutunya. 
> <br>Disamping<br>> masalah perekonomian, politik dalam negeri, sosial, kebudayaan, 
> dan<br>> pendidikan, salah satu masalah pelik yang dihadapi pemerintah <br>Indonesia 
> di<br>> bawah SBY adalah masalah "terorisme" yang telah menjadi isu politik 
> <br>utama<br>> dalam politik internasional, menggantikan isu HAM, demokrasi, 
> dan<br>> lingkungan hidup. <br>> <br>> Dalam satu audiensi dengan Komisi Hankam DPA, 
> beberapa waktu lalu, <br>sebelum<br>> meletusnya bom Bali, saya menulis satu paper 
> yang diantaranya berisi<br>> usulan agar Indonesia merumuskan definisi "terorisme" 
> sesuai dengan<br>> kepentingan bangsa Indonesia sendiri. Maka, definisi terorisme 
> yang <br>tepat<br>> bagi Indonesia, adalah "setiap tindakan yang berpotensi 
> <br>menghancurkan<br>> bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia". Maka, 
> terorisme, <br>dapat<br>> mencakup aktivitas di bidang politik, ekonomi, sosial, 
> keamanan, dan<br>> sebagainya. Pengedar uang palsu, koruptor kelas kakap, bandar 
> <br>narkotika<br>> dan obat-obatan terlarang, produsen VCD porno, penjual rahasia 
> <br>negara<br>> kepada pihak asing, perusak lingkungan kelas berat, gerakan 
> <br>separatis<br>> bersenjata, dan sejenisnya dapat dijerat dengan pidana 
> terorisme,<br>> sebagaimana aksi-aksi pengeboman dan pembunuhan terhadap warga 
> <br>masyarakat. <br>> <br>> Dalam kamus terorisme internasional yang berlaku saat 
> ini, tidak ada<br>> definisi yang objektif, fair, dan ad
> 
> il terhadap tindakan terorisme <br>di<br>> dunia internasional. Sebab, kamus 
> terorisme memang ditentukan oleh <br>AS.<br>> Siapa yang teroris dan siapa yang 
> bukan teroris, diukur berdasarkan<br>> kepentingan AS. Pejuang Palestina, seperti 
> Hamas, harus dicap <br>sebagai<br>> teroris, tetapi aksi-aksi pembunuhan rakyat 
> Palestina oleh Ariel <br>Sharon<br>> dan kawan-kawan, dan juga pembunuhan terhadap 
> sekitar 500.000 anak-<br>anak<br>> Iraq dengan embargo ekonomi pasca Perang Teluk I, 
> bukanlah dinilai <br>sebagai<br>> tindakan terorisme. Para pembantai ratusan ribu 
> kaum Muslim di <br>Bosnia, dan<br>> pemerkosa ribuan muslimah Bosnia pun tidak masuk 
> dalam daftar <br>teroris<br>> internasinal yang berbahaya. Sekali lagi, mereka 
> (Sloban Milosevic,<br>> Rodovan Karadzik, dan kawan-kawan), tidak dimasukkan dalam 
> daftar <br>teroris<br>> internasional, karena korbannya adalah Muslim atau bukan 
> warga AS! <br>> <br>> Tetapi, mantan bintang pop, Cat Steven (Yusuf Islam) -- yang 
> <br>Muslim --<br>> pada 22 September 2004, dilarang masuk AS, karena dicurigai ada 
> <br>hubungan<br>> dengan teroris Kasus Yusuf Islam kembali menunjukkan betapa 
> <br>sensitif dan<br>> paranoid-nya penguasa AS saat ini dalam menghadapi kaum 
> Muslim,<br>> sampai-sampai Menteri Luar Negeri Inggris, Jack Straw, melakukan 
> <br>protes<br>> terhadap tindakan AS tersebut. <br>> <br>> Mengapa AS begitu 
> sensitif dan paranoid terhadap Islam? Untuk <br>memahami hal<br>> ini, bisa disimak 
> sebuah buku berjudul The High Priests of War <br>(Washington<br>> DC: American Free 
> Press, 2004), karya Michel Colin Piper. Buku ini<br>> memaparkan dengan sangat lugas 
> dan jelas profil-profil tokoh<br>> neo-konservatif yang berpengaruh besar dalam 
> penyusunan kebijakan <br>politik<br>> luar negeri AS, pasca Perang Dingin. Secara 
> mencolok pengaruh <br>kelompok ini<br>> dipertontonkan pada kebijakan penyerangan 
> terhadap Irak, tahun <br>2003. <br>> <br>> Pada 24 Oktober 2002 -- beberapa bulan 
> sebelum serbuan AS ke- Iraq -<br>-<br>> Michel Kinsley, seorang penulis Yahudi 
> Liberal, menuli
> 
> s 
>  bahwa peran<br>> sentral Israel dalam perdebatan tentang kemungkinan Perang atas 
> <br>Irak,<br>> adalah ibarat "gajah dalam ruangan". "Setiap orang melihatnya, 
> <br>tetapi<br>> tidak seorang pun menyebutkannya." <br>> <br>> Kini, sosok lobi 
> Israel itu diperjelas lagi oleh Michel Colin <br>Piper, dalam<br>> bukunya ini. 
> Piper menyebutkan, belum pernah dalam sejarah AS <br>terjadi<br>> dominasi politik 
> AS yang begitu besar dan mencolok oleh `tokoh-tokoh<br>> pro-Israel' seperti dimasa 
> Presiden George W. Bush. Kelompok garis <br>keras<br>> itu dikenal sebagai kelompok 
> "neo-konservatif" (neo-kon). Sebagian <br>besar<br>> anggota neo-kon adalah Yahudi. 
> Salah satu prestasi besar kelompok <br>ini<br>> adalah memaksakan serangan AS atas 
> Iraq, meskipun elite-elite <br>militer AS<br>> dan Menlu Colin Powell sendiri, 
> semula menentangnya. <br>> <br>> Piper menulis: "That the war against Iraq was 
> deliberately <br>orchestrated by<br>> a small but powerful network of hard-line 
> "right wing" Zionist<br>> elements-the self-styled "neoconservatives" - at the high 
> levels of <br>the<br>> Bush administration, skillfully aided and abetted by 
> like-minded <br>persons<br>> in public policy organizations, think tanks, 
> publications and other<br>> institutions, all of which are closely interconnected 
> and, in turn, <br>linked<br>> to hardline "likudnik" forces in Israel." <br>> <br>> 
> Piper membahas peran kelompok garis keras Zionis Yahudi di AS dengan<br>> 
> menguraikan satu persatu latar belakang dan tokoh-tokoh yang <br>terlibat<br>> dalam 
> konspirasi neokonservatif ini, seperti Richard Perle, William<br>> Kristol, Donald 
> Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Rupert Murdoch, juga <br>ilmuwan dan<br>> kolomnis 
> terkenal seperti Bernard Lewis, Charles Krauthammer, dan<br>> tokoh-tokoh Kristen 
> fundamentalis seperti Jerry Falwell, Pat <br>Robertson,<br>> dan Tim LaHaye. Philip 
> Golub, seorang wartawan dan dosen di <br>University of<br>> Paris VIII, menulis 
> tentang strategi kelompok neo-kon. <br>> <br>> Menurutnya, kelompok ini telah 
> berhasil menjadikan Presiden
> 
>  Bush <br>sebagai<br>> kendaraan untuk menjalankan satu kebijakan berbasis <br>pada 
> `unilateralism',<br>> `permanent mobilisation', dan `preventive war'. <br>> <br>> 
> Apa yang ditulis oleh Piper kemudian seperti menjadi kenyataan. Itu <br>bisa<br>> 
> dilihat dengan apa yang kemudian dilakukan oleh AS terhadap Iraq, <br>Syria,<br>> 
> dan belakangan ini terhadap Iran dalam kasus nuklirnya. Sebelumnya, <br>tahun<br>> 
> 1994, Piper sudah menggegerkan AS dengan bukunya, "Final <br>Judgement", yang<br>> 
> membongkar peran agen rahasia Israel, Mossad, dalam pembunuhan John <br>F.<br>> 
> Kennedy. Piper berkeliling ke berbagai negara untuk menjelaskan isi <br>buku<br>> 
> yang di AS tak dapat dijual di toko-toko buku utama. Pada Maret <br>2003,<br>> Piper 
> diundang berceramah di Zayed Center for Coordination and <br>Follow-Up,<br>> Abu 
> Dhabi. Ceramahnya mendapat liputan luas di media-media Arab. <br>Ketika<br>> itu, 
> menjelang serangan AS atas Iraq, Piper sudah mengingatkan, <br>bahwa<br>> serangan 
> atas Iraq dilakukan atas pengaruh lobi Israel, dalam <br>kerangka<br>> mewujudkan 
> impian kaum Zionis untuk membentuk "Israel Raya" (Greater<br>> Israel/Eretz 
> Yisrael). <br>> <br>> "President Bush seems to be driven by Christian fundamentalism 
> and <br>strong<br>> influence of the Jewish lobby," kata Piper. <br>> <br>> Serangan 
> AS atas Iraq merupakan tahap awal dari sebuah Perang Besar <br>yang<br>> sudah jauh 
> dirancang oleh kelompok neo-kon ini. Ari Shavit, seorang<br>> penulis Yahudi, 
> menulis di koran Ha'aretz (9 April 2003), bahwa <br>perang<br>> atas Iraq disusun 
> oleh 25 intelektual --sebagian besar Yahudi-- yang<br>> mendorong Presiden Bush 
> untuk mengubah wacana sejarah. Tulisan <br>Shavit<br>> menyiratkan satu fenomena 
> ironis dalam tradisi politik AS. Betapa<br>> mayoritas rakyat di negara adikuasa 
> yang begitu hebat kekuatan <br>militernya,<br>> ternyata tidak berdaya menghadapi 
> cengkeraman kelompok minoritas <br>neo-kon<br>> yang didominasi Yahudi. <br>> <br>> 
> Michel Lind, seorang penulis AS, mengungkapkan, bahwa impian <br>kelompok<br>>
> 
>  n
>  eo-kon untuk menciptakan sebuah "imperium Amerika" sebenarnya <br>ditentang<br>> 
> oleh sebagian besar elite perumus kebijakan luar negeri AS dan <br>mayoritas<br>> 
> rakyat AS. Lind juga menyebut, bahwa koalisi Bush-Sharon juga <br>berkaitan<br>> 
> dengan keyakinan, bukan karena faktor kebijakan. Itu bisa dilihat <br>dari<br>> 
> latar belakang Bush yang berasal dari keluarga Kristen <br>fundamentalis. Kata<br>> 
> Lind: "There is little doubt that the bonding between George W. <br>Bush and<br>> 
> Ariel Sharon was based on conviction, not expedience. Like the <br>Christian<br>> 
> Zionist base of the Republican Party, George W. Bush was a devout <br>Southern<br>> 
> fundamentalist." <br>> <br>> Cengkeraman atau pembajakan kelompok neo-kon terhadap 
> politik AS<br>> sebenarnya meresahkan banyak umat manusia. Mereka sedang 
> <br>menjalankan satu<br>> skenario besar "Perang Global", dengan menempatkan Islam 
> sebagai <br>musuh<br>> utama peradaban dunia. Dalam bukunya, nting Islam as The New 
> <br>EnemyKuala<br>> Lumpur: Crescent News: 2003), Abdulhay Y. Zalloum, juga 
> memberikan<br>> gambaran tentang peran dan skenario kelompok neo-kon dalam 
> <br>membentuk "Tata<br>> Dunia Baru" pasca Perang Dingin. "The New World Order", 
> simpulnya, <br>adalah<br>> rekayasa hegemoni sebuah "American Empire". Itu 
> dibuktikan dengan <br>berbagai<br>> dokumen yang disusun oleh tokoh-tokoh kelompok 
> ini, seperti <br>Rancangan<br>> Pertahanan yang disusun oleh Paul Wolfowitz 
> berkaitan dengan Tata <br>Dunia<br>> Baru, bahwa tujuan utama AS dalam politik 
> internasional Tata Dunia <br>Baru<br>> adalah mencegah munculnya rival baru bagi AS. 
> (Our first objective <br>is to<br>> prevent the reemergence of new rival). <br>> 
> <br>> Para intelektual neo-kon, seperti Samuel P. Huntington dan Bernard 
> <br>Lewis,<br>> kemudian merumuskan rancangan tata politik internasional berbasis 
> <br>pada<br>> teori "clash of civilizations". Lewis, yang anaknya aktif dalam 
> <br>kelompok<br>> lobi Yahudi di AS (AIPAC) �adalah orang pertama yang mempopulerkan 
> <br>wacana<br>> clash of civilizations
> 
> , melalui artikelnya berjudul "The Roots of <br>Muslim<br>> Rage" (Akar-akar 
> kemarahan Muslim) di jurnal Atlantic Monthly, <br>September<br>> 1990. Artikel ini 
> merupakan persiapan untuk menentukan siapa "musuh <br>baru"<br>> Barat pasca Perang 
> Dingin. Dari sinilah kemudian skenario untuk <br>menunjuk<br>> "Islam" sebagai musuh 
> atau rival utama Barat ditentukan. Sebelumnya,<br>> banyak buku tentang Islam dan 
> Barat yang ditulis Lewis, seperti <br>buku "The<br>> Arabs in History" (1950), "The 
> Emergence of Modern Turkey" (1961),<br>> "Semites and Anti-Semites" (1986), "The 
> Jews of Islam" <br>(1984), "Islam and<br>> The West" (1993). Buku Lewis "What Went 
> Wrong" (2003), dikritik oleh<br>> Michel Colin Piper sebagai buku yang secara keji 
> menyerang sejarah <br>Arab<br>> dan kaum Muslim. Bukunya "The Crisis of Islam" 
> (2004) juga <br>merupakan buku<br>> yang memberikan begitu banyak justifikasi 
> terhadap kebijakan Barat <br>dan<br>> Israel terhadap dunia dan kaum Muslim. Gagasan 
> Lewis ini kemudian<br>> dipopulerkan oleh Huntington melalui bukunya "The Clash of 
> <br>Civilization<br>> and the Remaking of World Order" (1996). <br>> <br>> Sejak 
> awal 1990-an, kelompok neo-kon sebenarnya telah merancang satu<br>> wacana global 
> dengan "ancaman Islam" sebagai agenda utama Barat. <br>Wacana<br>> tentang bahaya 
> fundamentalis Islam digulirkan dengan kencang melalui<br>> berbagai penerbitan, baik 
> buku-buku kajian ilmiah maupun media <br>massa.<br>> Tahun 1995, Sekjen NATO 
> menyatakan, bahwa "political Islam was at <br>least as<br>> dangerous as communism 
> had been to the West." Namun, sekanario<br>> "viktimisasi Islam" itu kurang berjalan 
> lancar. Lalu, terjadilah <br>sebuah<br>> peristiwa besar pada 11 September 2001, 
> yang kemudian mengubah peta<br>> politik dunia, dan berhasil memunculkan "Perang 
> Melawan Terorisme" <br>sebagai<br>> isu utama dalam arena politik internasional. 
> Wacana "Perang Melawan<br>> Terorisme" sebenarnya merupakan wacana yang tidak masuk 
> akal. <br>Sebab, kata<br>> Noam Chosmsky, dalam buku, "9-11", (New York: Seven
> 
>  S
>  tories Press, <br>2001),<br>> "We should not forget that the US itself is a leading 
> terrorist <br>state."<br>> (Kita jangan sampai lupa, bahwa AS adalah negara teroris 
> <br>terkemuka). <br>> <br>> Melalui bukunya ini, Piper berhasil memperjelas apa dan 
> siapa yang<br>> sebenarnya berada di balik isu-isu dan peristiwa penting dalam 
> <br>panggung<br>> politik internasional saat ini. Lebih menarik, ditampilkan juga 
> <br>dalam buku<br>> ini foto-foto para tokoh neo-kon. Dunia Islam perlu menyadari, 
> bahwa<br>> sebuah skenario `Perang Global' (Global War) dengan menjadikan 
> <br>kelompok<br>> Islam sebagai musuh utama, telah dijalankan oleh kelompok neo-kon, 
> <br>dengan<br>> menjadikan Presiden George W. Bush dan politik AS, sebagai 
> kendaraan<br>> mereka. Politik "viktimisasi Islam" (menjadikan Islam sebagai 
> <br>kambing<br>> hitam) merupakan upaya pengalihan dari masalah sebenarnya yang 
> <br>dihadapi<br>> pemerintah AS. Politik ini tidak memberi kesempatan masyarakat AS 
> <br>untuk<br>> secara kritis menilai kegagalan atau kesuksesan pemerintahnya, 
> sebab<br>> mereka senantiasa dijejali dengan berbagai informasi media-media 
> <br>jaringan<br>> neo-kon yang mengisukan akan datangnya serangan teroris Islam. 
> <br>> <br>> Proyek `viktimisasi Islam' ini dijalankan terus sebagai isu politik 
> <br>dengan<br>> mengusung bendera "war against terrorism". Siapa yang tidak mau 
> <br>ikut, akan<br>> dihukum oleh AS. Sebab, kata Bush, pada 20 September 2001: 
> "Every <br>nation<br>> in every region now has a decision to make: Either you are 
> with us, <br>or you<br>> are with the terrorist. From this day forward, any nation 
> that <br>continues<br>> to harbor or support terrorism will be regarded by the 
> United <br>States as a<br>> hostile regime." <br>> <br>> Indonesia, yang merupakan 
> negeri Muslim terbesar di dunia, dengan <br>jumlah<br>> umat Muslim sekitar 190 juta 
> jiwa, sedang dalam `teropong dan <br>pengawalan<br>> ketat' AS dan sekutu-sekutunya, 
> tentu akan dipaksa untuk menerapkan<br>> kebijakan viktimisasi Islam itu. Bagaimana 
> seyogyanya kiat Pres
> 
> iden <br>SBY<br>> menghadapi hal ini? Insya Allah bersambung. (KL,23 September 
> 2004).<br>> <br>> [Non-text portions of this message have been removed]<br>> <br>> 
> <br>> <br>> 
> <br>**********************************************************************<br>*****<br>>
>  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju <br>Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. <br>www.ppiindia.shyper.com<br>> 
> <br>**********************************************************************<br>*****<br>>
>  
> <br>______________________________________________________________________<br>____<br>>
>  Mohon Perhatian:<br>> <br>> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
> (kecuali sbg <br>otokritik)<br>> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg 
> akan dikomentari.<br>> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; <br>> 4. 
> Posting: [EMAIL PROTECTED]<br>> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]<br>> 6. 
> No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]<br>> 7. kembali menerima email: [EMAIL 
> PROTECTED]<br>> <br>> <br>> <br>> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT<br>> <br>> 
> <br>> ---------------------------------<br>> Yahoo! Groups Links<br>> <br>>    To 
> visit your group on the web, go to:<br>> 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/<br>>   <br>>    To unsubscribe from this 
> group, send an email to:<br>> [EMAIL PROTECTED]<br>>   <br>>    Your use of Yahoo! 
> Groups is subject to the Yahoo! Terms of <br>Service. <br>> <br>> <br>>          
> <br>> ---------------------------------<br>> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 
> 100MB kostenlosem Speicher<br>> <br>> [Non-text portions of this message have been 
> removed]<br><br><br><br>------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> --------------------~--> <br>$9.95 domain names from Yahoo!. Register 
> anything.<br>http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM<br>--------------------------------------------------------------------~->
>  
> <br><br>***************************************************************************<br>Be
> 
> rd
> _______________________________________________
> No banners. No pop-ups. No kidding.
> Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com
> 
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
> Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>  
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke