Jangan terlalu terkesima oleh "Pasar." Itu tidak lebih
dari permainan 
para spekulan saham yang melakukan beli jika harga
saham rendah, dan 
menjual jika harga saham naik sambil terus memelototi
monitor 
pergerakan harga saham. Jika perlu, mereka bisa
melakukan rekayasa 
guyur untuk menurunkan harga saham, dan melakukan
goreng untuk 
menaikan harga saham.

Jika presiden "batuk", indeks saham (IHSG) bisa turun
ke 400. Jika 
ada berita baik, bisa naik sampai 700-800. 

Tapi apa iya, IHSG, bisa jadi tolak ukur kesejahteraan
seluruh rakyat 
Indonesia? Berapa banyak sih perusahaan yang go
public? Kemudian 
apakah ketika sebelum perusahaan besar seperti Telkom,
Indosat, Go 
public, perusahaan tsb tidak akan jalan?

Adakah jika IHSG anjlok ke 100, rakyat Indonesia akan
sekarat? Atau 
jika IHSG naik ke 2000, rakyat Indonesia akan makmur
dan pengangguran 
berkurang?

Jadi jangan terkesima oleh "Pasar Spekulan Saham".
Lebih baik kita 
melihat "Pasar Beneran" di mana para ibu rumah tangga
membeli barang 
kebutuhan mereka, apakah tetap terjangkau atau tidak.

--- In [EMAIL PROTECTED], anton john
hartomo 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Opini kompasKamis, 30 September 2004 
> 
> Memahami Rasionalitas Pasar 
> 
> Oleh A Prasetyantoko
> 
> SEBUAH harian terkemuka di Perancis, Le Monde
(21/9/2004), menulis 
bahwa kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu
presiden 
putaran kedua karena dua hal utama. Pertama,
masyarakat sedang 
membutuhkan figur pemimpin yang diharapkan bisa
menjaga keamanan dan 
stabilitas politik. Kedua, terkait dengan yang
pertama, berpotensi 
lebih baik dalam usaha pemulihan ekonomi.
> 
> Tak dapat dimungkiri, seperti halnya Le Monde,
media-media asing 
memiliki persepsi yang cenderung lebih positif
terhadap Yudhoyono. 
Dengan mengutip beberapa komentar dari lapisan
masyarakat-melalui 
wawancara-mereka menyimpulkan bahwa Megawati telah
gagal menjalankan 
kepemimpinan secara efektif sehingga yang terjadi
adalah situasi yang 
jalan di tempat (status quo). Persepsi yang dibangun
media massa 
global ini tentu saja menuntun sikap para investor dan
pelaku pasar 
lainnya dalam menyikapi perkembangan politik di
Indonesia.
> 
> Sudah sejak lama survei-survei yang dilakukan oleh
lembaga 
independen menyatakan bahwa Yudhoyono lebih disukai
pasar (market 
friendly). Dan, benar bahwa pasar langsung beraksi
positif sesaat 
setelah penghitungan hasil pemilu dilakukan. Menjelang
pemilu, Indeks 
Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta sudah
menunjukkan 
gairah positif dengan menembus level 800 poin. Nilai
tukar rupiah 
terhadap dollar Amerika Serikat (AS) juga menguat
hingga di bawah 
level Rp 9.200 per dollar AS.
> 
> Para analis berteriak, pasar semakin dewasa dan
rasional, tidak 
lagi dihantui oleh aksi terorisme, melainkan lebih
melihat ke depan 
dengan mempertimbangkan faktor pemilu presiden yang
telah berjalan 
dengan baik. Melihat kenyataan ini, optimisme segera
merasuk pada 
rasionalitas mereka dengan menyatakan bahwa bursa akan
mencapai titik 
tertinggi dalam sejarah. Namun, optimisme mereka
tersendat setelah 
melihat realitas bahwa beberapa hari setelah pemilu,
lonjakan IHSG 
tidak seperti yang diharapkan. IHSG hanya naik tipis.
> 
> Profesionalisme
> 
> Di tengah berbagai perkembangan sebagai respons
terhadap hasil 
pemilu putaran kedua ini, rasionalitas pasar sebagai
salah satu 
indikator untuk menilai kinerja pemerintah (dan
kabinet) baru 
menempati posisi penting.
> 
> Pertanyaan pertama yang patut kita ajukan, apakah
benar bahwa pasar 
itu bersifat rasional? Hal ini menjadi penting untuk
menilai 
komposisi kabinet yang baru akan diumumkan pada 20
Oktober mendatang. 
Jauh-jauh hari sudah terdengar suara lantang yang
berisi ancaman, 
jika kabinet tidak "ramah terhadap pasar" maka dunia
usaha tidak akan 
bergerak dan pemulihan ekonomi akan terganggu. Namun,
apa sebenarnya 
yang dimaksud dengan kabinet yang ramah terhadap pasar
itu?
> 
> Salah satu ukuran yang sering disampaikan adalah
kriteria 
profesionalisme. Alhasil, rumus yang diusulkan tentang
komposisi 
kabinet mendatang adalah 70 persen profesional, 30
persen politikus. 
Pendeknya, akan lebih baik jika kabinet tidak diisi
oleh para 
politikus yang selama ini aktif berada di belakang tim
sukses para 
calon presiden. Namun, bagaimana pula mengukur
independensi seseorang 
setelah melihat bahwa hampir seluruh 
profesional/akademisi/intelektual berduyun-duyun
menjadi anggota tim 
sukses selama musim kampanye yang lalu?
> 
> Kita berada dalam wilayah abu-abu sebenarnya. Kalau
memang pasar 
membutuhkan kepemimpinan yang mengerti betul soal
ekonomi, 
mengapa "partainya para ekonom" yang dikomandani oleh
ekonom senior, 
Sjahrir, praktis tidak ada yang memilih? Dengan
demikian, masalah 
profesionalisme dan kompetensi sebenarnya adalah
kriteria yang tidak 
bebas nilai karena di dalamnya tersirat sebuah
kepentingan tertentu.
> 
> Yakinkah kita bahwa para akademisi dari kampus,
selama ini dikenal 
polarisasi antara UI dan UGM, ataupun para intelektual
dari lembaga 
riset (seperti CSIS) selalu berdiri pada posisi yang
obyektif? 
Menurut mereka, dengan menggunakan rasionalitasnya,
mereka telah 
berdiri pada posisi yang obyektif dan rasional. Namun
faktanya, 
banyak akademisi dan intelektual, dengan kekuatan
rasionalitasnya, 
telah tergelincir menjadi alat legitimasi dari sebuah
kekuasaan yang 
tengah berkuasa (the ruling power).
> 
> Rasionalitas
> 
> Pertanyaan lebih sistematis yang belum terjawab,
benarkah pasar 
selalu bersikap rasional? Bahkan dalam mazhab ilmu
ekonomi pun, 
persoalan ini tidak terpecahkan. Tetap ada dua aliran
besar yang 
berbeda haluan, yaitu aliran (neo)-klasik yang
meyakini bahwa pasar 
bisa bekerja secara rasional dan efisien
(autoregulator) serta aliran 
(neo)-keynesian yang menyatakan pasar tidak selalu
bisa bekerja 
sendiri.
> 
> Benar, semua ekonom mengakui adanya fenomena
kegagalan pasar 
(market failure), tetapi dua aliran memahaminya secara
berbeda. Bagi 
kaum (neo)-klasik, kegagalan pasar adalah sebuah
risiko, sementara 
bagi penganut (neo)-keynesian kegagalan pasar adalah
esensi. Karena 
itu, jika aliran klasik menolak intervensi pemerintah,
kaum keynesian 
justru menganjurkannya.
> 
> Jika masuk ranah yang lebih mikro, perdebatan soal
rasionalitas 
lebih seru lagi. Dalam tradisi ekonomi mikro, ada
pihak yang 
menyatakan, rasionalitas individu itu sempurna dan
yang lain tidak. 
Herbert A Simon (1980-an), pemenang Nobel Ekonomi,
menyatakan 
rasionalitas seseorang itu dibatasi terutama oleh
pranata-pranata dan 
institusi serta lingkungan eksternal di mana dia hidup
(bounded 
rationality). Sementara Williamson (1990-an)
menyatakan bahwa 
individu itu selalu bersikap oportunis sehingga perlu
dibatasi oleh 
aturan-aturan tertentu.
> 
> Williamson tak percaya, pasar (the market) adalah
mekanisme yang 
paling efisien, maka dia mengusulkan organisasi (the
firm) sebagai 
sarana yang diyakininya mampu mendistribusikan sumber
daya secara 
lebih efisien. Williamson dikenal sebagai pencetus
"teori biaya 
transaksi" (transaction cost theory) dengan menyatakan
bahwa pasar 
membutuhkan biaya transaksi yang lebih tinggi, dalam
mendistribusikan 
sumber daya, ketimbang perusahaan.
> 
> Mereka adalah para peneliti kontemporer yang
sebenarnya mengangkat 
pemikiran yang sudah relatif tua. Misalnya, Akerlof
(1970) menyatakan 
informasi bersifat tidak seimbang (asymmetric). Atau,
Roland Coase 
(1937) sudah mendikotomikan "pasar" dan "perusahaan"
sekaligus 
menekankan pentingnya perusahaan sebagai bentuk
pengorganisasian 
sumber daya yang lebih efisien.
> 
> Stiglitz adalah salah satu ekonom kontemporer yang
menekuni 
masalah "informasi yang tidak seimbang" itu. Pada
tahun 1976, bersama 
R Rothschild, dia menulis mengenai efek informasi yang
tidak seimbang 
terhadap pasar asuransi. Dan pada tahun 1981, bersama
dengan Weiss 
dia menulis mengenai efek asymmetric information
terhadap pasar uang 
dan kredit. Dan akhirnya, pada tahun 2001 bersama
dengan Akerlof, 
Stiglitz menerima hadiah Nobel di bidang ekonomi.
> 
> Berpijak dari pandangan para teoretisi, ada baiknya
jika kita 
berhati-hati dalam menanggapi sikap pasar terhadap
pemerintahan (dan 
kabinet) baru ini. Pasar tidak bergerak sendiri,
banyak faktor yang 
secara sumir berada di dalamnya dengan hukum tertinggi
tetap pada 
usaha untuk menemukan peluang guna mendapatkan
keuntungan sebesar-
besarnya.
> 
> Konsekuensinya, para penggawa di kabinet tidak
selalu harus "pro-
pasar". Karena justru yang amat dibutuhkan saat ini
adalah sebuah 
fondasi yang kuat dari tata pemerintahan yang baik dan
bersih agar 
pasar tidak lagi bisa mendera semena-mena. Bukanlah
pasar yang 
menuntun pemerintahan, tetapi tata kelola sebuah
pemerintahanlah yang 
seharusnya menuntun pasar (governance-led-market), ke
arah yang lebih 
baik tentu saja. Selamat bekerja para anggota kabinet
baru!
> 
> 
> 
> A Prasetyantoko Pengajar di Unika Atma Jaya Jakarta
> 
> 

=====
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.geocities.com/nizaminz


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke