http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=16
i Sabtu, 02 Oktober 2004

Presiden Baru dan Kepemimpinan TNI
Aris Santoso
Pengamat TNI

Terpilihnya SBY sebagai presiden baru, sedikit banyak tentu akan berpengaruh 
pada eselon pimpinan TNI. Perkiraan itu muncul, mengingat SBY sendiri adalah 
figur kuat dalam TNI, baik saat masih aktif dulu, maupun setelah 
purnawirawan. Satu isu yang menarik untuk dicermati adalah, apakah SBY akan 
segera mengadakan pergantian pada pos pimpinan TNI, baik itu Panglima TNI 
maupun Kepala Staf Angkatan (KSAD, KSAU, KSAL).
Selaku Panglima Tertinggi TNI, jelas SBY berkepentingan dalam penyegaran 
formasi pimpinan TNI, agar terbentuk jajaran pimpinan yang solid. Meski TNI 
telah berkomitmen untuk mengambil jarak dengan politik praktis, namun 
dukungan yang solid dari TNI sangat membantu meringankan langkah SBY. TNI 
berjarak dengan politik hanya sebatas pernyataan. Dalam kenyataan di 
lapangan, nuansa politis TNI masih sangat terasa.
Angkatan 1973
Sebagaimana sudah diketahui, SBY adalah lulusan terbaik Akmil tahun 1973. 
Sejak taruna di Magelang, figur SBY sudah menonjol. Dan tetap kuat, hingga 
saat berdinas sebagai perwira reguler. Tak heran, SBY juga didaulat sebagai 
"Kepala Suku" bagi segenap lulusan AKABRI (bukan hanya Akmil) Angkatan 1973. 
Di antara sekian banyak lulusan AKABRI, Angkatan 1973 termasuk generasi yang 
solid. Tentu ini tak lepas dari arahan SBY selaku "Kepala Suku".
Berdasar asumsi, bahwa SBY akan membangun tim yang kuat, bisa jadi SBY lebih 
memprioritaskan rekan seangkatannya di AKABRI, untuk mengisi beberapa pos 
pimpinan TNI, walau tidak secara keseluruhan. Sebenarnya ada pertimbangan 
yang lebih penting, secara kebetulan perwira tinggi (pati) yang kini mejabat 
Panglima TNI, KSAU, dan KSAL, usianya sudah melewati batas pensiun (55 
tahun). Mereka bisa terus menjabat, karena memperoleh Skep perpanjangan 
dinas aktif, yang memang dimungkinkan untuk posisi pati.
Sebagai perwira yang memiliki pengalaman pensiun dini, yaitu saat berusia 51 
tahun (tahun 2000), kemungkinan SBY tidak akan meneruskan kebijakan yang 
telah diambil pendahulunya, soal perpanjangan dinas aktif. Singkatnya, SBY 
akan segera mengganti pejabat TNI, yang usianya sudah di atas 55 tahun. 
Sebagai konseptor dan pemikir saat berdinas aktif dulu, tentu SBY paham 
betul, bahwa satu nilai lebih dari kepemimpinan TNI selama ini, adalah 
lancarnya alih generasi pada level elitenya. Publik selalu terpukau dengan 
munculnya wajah-wajah baru, seolah TNI tidak pernah kekurangan kader 
terbaiknya.
Dalam pandangan SBY, perpanjangan dinas aktif, justru mengganggu "irama" 
alih generasi yang sudah tersistem sejak lama. Pertama, jabatan Panglima 
TNI. Tampaknya kans paling besar ada pada KSAD Jenderal Ryamizard (Akmil 
1973, lahir 21 April 1950). Sementara Panglima TNI Jenderal E Sutarto, 
diproyeksikan mengisi salah satu posisi di kabinet SBY mendatang. Kalau 
dilihat dari segi usia, tentu pada April tahun depan, Ryamizard akan genap 
berusia 55 tahun. Kini Ryamizard seolah berkejaran dengan waktu, kalau tidak 
cepat dipromosikan, ia akan keburu pensiun. Sementara dari tiga kepala staf 
yang ada, hanya Ryamizard yang usianya masih memungkinkan.
Bila benar Jenderal Ryamizard dipromosikan sebagai Panglima TNI, maka posisi 
KSAD, akan segera diisi oleh Wakil KSAD Letjen TNI Djoko Santoso (Akmil 
1975, 8 September 1952). Antara SBY dan Djoko Santoso sudah terjalin 
hubungan erat sejak dulu. Ketika SBY menjabat Kassospol ABRI (1998), SBY 
pula yang menarik Kol Inf Djoko dari Yogya (Danrem 072/PMK), ke Jakarta 
sebagai Waassospol Kassospol. Dengan posisi itu, berarti Kol Djoko berhak 
menyandang pangkat Brigjen. Tentu Letjen Djoko Santoso tak akan melupakan 
"sentuhan" SBY tersebut.
Sedang untuk pos Wakil KSAD, kemungkinan akan diisi Mayjen TNI Agustadi SP 
(Pangdam Jaya, Akmil 1974). Tampaknya mulai ditradisikan, bahwa Pangdam Jaya 
adalah pos "magang" bagi calon pimpinan TNI. Selain ada "benang merah" 
antara SBY dan Agustadi, saat lulus dari Akmil dulu, keduanya adalah lulusan 
terbaik di angkatan masing-masing. Sedang calon yang disiapkan untuk mengisi 
Pangdam Jaya, adalah Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Erwin Sujono (Akmil 
1975, adik ipar SBY). Perwira-perwira yang disebut di atas, kebetulan 
sama-sama dibesarkan di satuan terbaik Kostrad, yaitu Brigif Linud 17/Kujang 
I. SBY dan Ryamizard bahkan sempat memimpin satuan tersebut secara 
bergantian.
Selanjutnya untuk jabatan KSAU, kandidat terkuat adalah Wakil KSAU Marsdya 
TNI Herman Prayitno (AAU 1973, lahir 9 Januari 1951). Marsdya Herman 
Prayitno tampaknya lebih berpeluang, karena pati bintang tiga lain di TNI 
AU, yaitu Kasum TNI Marsdya TNI Wartoyo sudah menjelang pensiun (lahir 28 
Desember 1949). Sementara untuk pos Wakil KSAU, ada dua calon: Asops KSAU 
Marsda TNI Djoko Suyanto (AAU 1973, 2 Desember 1950) dan Aspers KSAU Marsda 
TNI Wresniwiro (AAU 1973, 19 Juli 1951).
Terakhir untuk posisi KSAL. Salah satu pati TNI AL yang memiliki peluang 
adalah Laksdya TNI Djoko Sumaryono (AAL 1973, 14 Juli 1951), yang baru 
beberapa waktu lalu diangkat sebagai Sekretaris Menko Polkam, menggantikan 
Letjen TNI Sudi Silalahi. Meski Laksdya Djoko kini berada di luar struktur 
Mabes TNI, rasanya bukan masalah benar, bila ia akan kembali memakai seragam 
putih-putih pati TNI AL, yang tipikal itu.
SBY sebagai referensi
Mengingat SBY mendapat dukungan yang solid dari TNI, tak heran bila kemudian 
muncul kekhawatiran, tentang potensi otoritarian dari SBY, mengingat SBY 
adalah mantan militer. Kekhawatiran yang sebenarnya sudah muncul sejak SBY 
mulai disebut-sebut sebagai capres. SBY dianggap sebagai "reinkarnasi" 
Soeharto. Jangan-jangan sejarah kelam akan berulang, kira-kira kekhawatiran 
seperti itulah yang ada di benak sebagian masyarakat.
Benarkah sejarah akan berulang? Ada dua alasan, yang bisa dijadikan pijakan 
untuk menepis kekhawatiran itu. Pertama, adalah performa SBY sendiri. 
Mungkinkah orang dengan kapasitas seperti SBY akan terantuk pada kesalahan 
yang sama, dengan mengadopsi otoritarian gaya Jenderal Soeharto.
Kedua, adalah lingkungan yang sudah berubah. Kini aspirasi demokratis adalah 
sesuatu yang riil. Kemudian ada peran media, intelektual independen, dan 
LSM, yang akan terus-menerus memantau dan mengontrol kinerja pemerintahan 
SBY. Fungsi kontrol LSM dalam sistem demokratis tetap dibutuhkan, meski KSAL 
Laksamana Bernard Kent Sondakh pernah menyebut tokoh LSM seperti Munir 
(almarhum), sebagai orang yang tidak ada harganya.
Periode SBY nanti bisa dianggap sebagai eksperimen, tentang sebuah orde yang 
dipegang oleh militer (dan purnawirawan) pasca Soeharto. SBY menjabat 
Presiden, di saat banyak orang masih trauma denga figur militer. Kiranya SBY 
akan memanfaatkan dengan baik momentum sejarah ini, bahwa dia bukanlah figur 
yang dikhawatirkan sebagian orang. Segala tindakan, gaya, strategi, yang 
akan diperagakan SBY dalam mengelola pemerintahan yang demokratis, kelak 
akan dijadikan referensi bagi pati atau purnawirawan lain, yang ingin 
menyusul jejaknya berkiprah di kancah politik praktis.
Kalimat terakhir dari film berlatar perang saudara di Amerika Gone With the 
Wind berbunyi: tomorrow is another day. Maksudnya, walau bagaimanapun masih 
ada harapan. Dalam konteks ini, harapan itu kita berikan pada SBY, seorang 
purnawirawan jenderal TNI yang ingin mengabdi untuk perbaikan rakyatnya. 
Kita berharap "Orde" SBY tidak terantuk pada masalah yang sama, yaitu 
politik (kekuasaan) tentara di masa lalu, yang nyaris tanpa batas. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke