http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=133038
Sabtu, 02 Okt 2004, Mengenang Kekejaman G 30 S/PKI Oleh Hendra Chaniago * Sebelum Orde Baru (Orba) runtuh, akhir September merupakan hari seluruh rakyat Indonesia teringat pada kisah sadis tak berperikemanusiaan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1956 di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan Lubang Buaya. TVRI menayangkan rekaan sejarah Indonesia berdarah tersebut. Di layar televisi itu, diperlihatkan adegan yang membuat bulu roma berdiri, pembantaian orang-orang yang tidak pernah mengerti kenapa mereka dibantai. Pertanyaan yang kali pertama muncul di benak kita, mengapa komunis harus diberantas ke akar-akarnya dari bumi Indonesia? Jawaban yang biasa muncul adalah karena komunis paham yang biadab, anti-Tuhan, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang ada pada Pancasila, sila pertama. Dasar pemikiran yang memberikan peluang kepada kita untuk mengambil kesimpulan bahwa tindakan tersebut harus ditumpas habis karena melanggar hak kodrati manusia dan masyarakat Indonesia untuk hidup damai, sejahtera, dan beradab. Realitas yang terlihat pasca Orba tak pelak menggiring kita untuk memberikan pertanyaan lebih lanjut, di antaranya, bukankah tidak memberikan hak hidup kepada anak keturunan pelaku G 30 S/PKI adalah juga tindak kejahatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah pemerintahan Orba ibarat menjilat ludah sendiri? Bahwa segala bentuk kekejaman harus ditumpas dari bumi Indonesia, kita semua tentu setuju. Namun, menumpas kejahatan dengan kejahatan adalah hal yang tak rasional, bukankah itu menikam diri sendiri. Alih-alih mengadili kejahatan G 30 S/PKI, kita seharusnya mengadili diri sendiri. Mungkin, terkesan tak relevan untuk kembali mengungkit-ungkit kesalahan Orba di zaman reformasi ini. Tapi, tidak ada salahnya jika kita melihat kembali cacat-cacat sejarah agar tidak terulang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah adalah perjalanan dialektika masa lalu, hitam-putih dan baik-buruk ada di dalamnya. Dalam mengadili kejahatan PKI, seharusnya kita mampu menyisihkan mana sisi baik dan buruknya. Sayang, ketakutan pemerintahan Orba terhadap bahaya komunisme di Indonesia membuat kesadaran kritis masyarakat menjadi tumpul untuk memilah-milah mana yang sebenarnya harus disingkirkan dan yang harus dipelihara. Komitmen Orba untuk memberantas bahaya komunisme bisa diterima dengan baik. Tetapi, keputusan untuk melarang dan memberangus semua literatur yang berkaitan dengan komunisme (tentu saja semua pemikiran yang berbau Marxian) juga menutup peluang bagi cendekiawan untuk mengembangkan berbagai perspektif tertentu dalam menganalisis realitas. Padahal, dalam banyak persoalan, perspektif itu masih relevan dengan kenyataan di Indonesia. Tindakan preventif tersebut justru membuat kita menduga lain, menduga pemberangusan semua pemikiran kiri di Indonesia zaman Orba ialah salah satu intrik politik Orba untuk menyembunyikan kelicikan dan kelemahannya. Sebab, sejarah telah mencatat, komunisme sebagai sebuah paham pergerakan radikal telah runtuh seiring dengan runtuhnya Uni Soviet. Kejahatan G 30 S/PKI adalah kejahatan yang berlangsung dalam medan dengan -dengan meminjam Wittgenstein- language game yang sama dengan language game preman pasar. Artinya, kejahatan terjadi dalam medan bahasa yang jelas dan lugas. Dengan demikian, kejahatan yang dilakukan juga bisa dilihat secara lugas. Kekejaman G 30 S/PKI dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti seluruh masyarakat. Akan tetapi, jika kita lihat lebih kritis, ketakutan itu sebenarnya justru berkembang dari ketakutan-ketakutan Orba akan bahaya komunis belaka. Ketakutan-ketakutan Orba tersebut bukan semata-mata ketakutan terhadap bahaya laten komunisme, tetapi lebih kepada ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Orba terus-menerus menjaga citraan semu (virtual image) tersebut -salah satunya dengan cara penayangan film G 30 S/PKI- agar kekuasaannya tetap langgeng. Hal itu, bisa jadi, disebabkan ketakutan Orba yang sangat berlebihan, hingga memaksa mereka untuk menciptakan realitas semu (virtual reality) yang kemudian membentuk kesadaran palsu (pseudo-consciousness) di tengah-tengah masyarakat. Jika kriminal G 30 S/PKI berada pada medan yang nyata dan jelas, kriminal Orba berada dalam medan yang remang-remang dan palsu. Ketakutan di tengah-tengah masyarakat sebenarnya bukan ketakutan yang lahir dari kesadaran sendiri (self consciousness), akan tetapi tumbuh dari kesadaran yang diingini dan diarahkan Orba (pseudo-consciousness). Seandainya benar Orba menciptakan kebenaran palsu adalah karena ketakutan yang berlebihan terhadap bahaya komunisme, ketakutan yang serupa terlihat dalam tubuh pemerintahan pasca Soeharto. Sebagaimana ketakutan Orba yang kemudian cenderung untuk menciptakan realitas palsu di tengah-tengah masyarakat, dan cenderung kurang kritis dalam melihat dan menjustifikasi kesalahan G 30 S/PKI, pemerintahan pasca Soeharto pun mempunyai potensi untuk itu. Jika kemudian kita tidak hati-hati dalam menilai kesalahan dan kekurangan Orba, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada sisi itu pemerintahan pasca Orba akan mengalami hal yang sama, seperti yang dialami pemerintahan Orba. Itulah barangkali salah satu arti pentingnya kita mengenang G 30 S/PKI. * Hendra Chaniago, mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

